Rab. Sep 23rd, 2026

Pascagempa

Pasca Gempa, Polres Sikka dan Mahasiswa Unipa Salurkan Bantuan untuk Santri Pondok Daarul Amiin

SIKKA, Bajopos.com | Kepedulian terhadap keberlanjutan pendidikan anak-anak terdampak gempa ditunjukkan Tim Humas Polres Sikka bersama mahasiswa magang Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere dengan mengunjungi Lembaga Pendidikan Qur’an Pondok Daarul Amiin di Ndete, Desa Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Rabu (16/9/2026).

Kunjungan tersebut diwakili oleh Ridwan dari Tim Humas Polres Sikka bersama sejumlah anggota dan mahasiswa magang Unipa Maumere.

Mereka datang untuk bersilaturahmi sekaligus memberikan bantuan kepada para santri tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Bantuan yang diserahkan berupa perlengkapan alat tulis, seperti buku dan pulpen, kebutuhan ibadah, serta kudapan bagi para santri.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana sederhana dan penuh keakraban. Para santri menyambut kedatangan rombongan dengan antusias.

Bantuan yang diterima diharapkan dapat mendukung kebutuhan belajar dan aktivitas pendidikan mereka di tengah kondisi pondok yang masih melakukan penyesuaian pascagempa.

Selain menyerahkan bantuan, rombongan juga berdialog dengan pengasuh, ustadz, dan ustadzah Pondok Daarul Amiin.

Dalam pertemuan tersebut, pengurus pondok menyampaikan kondisi lingkungan dan fasilitas pendidikan setelah gempa serta berbagai dinamika yang dihadapi dalam menjaga proses pembelajaran agar tetap berlangsung.

Bagi para pengasuh, perhatian dari berbagai pihak menjadi dukungan penting bagi keberlangsungan pendidikan para santri.

Mereka berharap kepedulian terhadap lembaga pendidikan dan anak-anak di wilayah terdampak bencana dapat terus berlanjut.

Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama dan perbincangan antara rombongan, pengurus pondok, serta para santri.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian sosial sekaligus memastikan anak-anak tetap memperoleh dukungan dalam menjalani proses pendidikan setelah bencana.

Pengasuh dan jajaran pengurus Pondok Daarul Amiin menyampaikan terima kasih kepada Tim Humas Polres Sikka dan mahasiswa magang Universitas Nusanipa Maumere atas bantuan serta perhatian yang diberikan kepada para santri.

Reporter : Faidin

Nakes Tetap Melayani Warga di Tengah Gempa, Fista Sambuari Kago Prihatin

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah situasi pascagempa bumi yang masih dirasakan masyarakat, tenaga kesehatan (nakes) tetap berada di garda terdepan memberikan pelayanan dan pertolongan kepada warga terdampak.

Bahkan, dalam menjalankan tugasnya, para nakes harus tetap bekerja meski mereka sendiri turut merasakan dampak bencana.

Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, yang menyalurkan bantuan pascagempa kepada para tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah perbatasan Kabupaten Sikka, Rabu, 26 Agustus 2026.

Bantuan disalurkan ke dua fasilitas pelayanan kesehatan, yakni Puskesmas Tanarawa dan Puskesmas Boganatar, sebagai bentuk kepedulian sekaligus dukungan moril bagi para nakes yang tetap menjalankan tugas di tengah kondisi pascabencana.

“Ini di dua Puskesmas, yakni Puskesmas Tanarawa dan Puskesmas Boganatar,” ujar Ny. Fista Kago.

Menurutnya, perhatian terhadap tenaga kesehatan penting diberikan karena mereka merupakan salah satu kelompok yang berada paling depan ketika masyarakat membutuhkan pertolongan setelah bencana.

Di saat warga membutuhkan pemeriksaan, pengobatan maupun pelayanan kesehatan lainnya, para nakes harus tetap hadir.

Mereka dituntut mengutamakan keselamatan dan kebutuhan masyarakat, bahkan ketika kondisi pribadi dan keluarga mereka sendiri juga tidak luput dari dampak gempa.

Di satu sisi mereka adalah petugas yang harus menolong, tetapi di sisi lain mereka juga merupakan manusia yang bisa saja menjadi korban dan merasakan ketakutan yang sama seperti masyarakat lainnya.

Karena itu, Ny. Fista memberikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan yang tetap bertahan dan setia menjalankan pelayanan di tengah situasi sulit.

“Kita ingin memberikan perhatian kepada para tenaga kesehatan yang terus bekerja dan melayani masyarakat. Semoga bantuan ini dapat sedikit meringankan dan memberikan semangat bagi mereka,” katanya.

Kepedulian tersebut menjadi pesan bahwa dalam penanganan bencana, perhatian tidak hanya diberikan kepada masyarakat yang terdampak, tetapi juga kepada para petugas yang setiap hari berada di garis depan untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi.

Para tenaga kesehatan tidak hanya memberikan obat dan pelayanan medis. Mereka juga menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat tetap mendapatkan rasa aman, pendampingan dan pertolongan ketika kondisi belum sepenuhnya pulih.

Pengabdian para nakes di tengah bencana pun menjadi pengingat bahwa di balik setiap pelayanan yang diterima masyarakat, ada para petugas yang sering kali harus mengesampingkan rasa takut dan kepentingan pribadi demi menjalankan tanggung jawab kemanusiaan.

Pemerintah Kabupaten Sikka bersama unsur terkait terus mendorong agar pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal selama masa pemulihan pascagempa, sekaligus memberikan perhatian kepada para tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam melayani masyarakat terdampak.

Reporter : Faidin

Tetap Mengabarkan, Astra Group Peduli Media, 30 Jurnalis di Sikka Terima Paket Sembako Pasca Gempa

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah situasi sulit pascagempa bumi yang mengguncang Flores, para jurnalis di Kabupaten Sikka tetap berada di garis depan untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang akurat, cepat, dan berimbang.

Di tengah kondisi tersebut, Astra Group menunjukkan kepeduliannya terhadap insan pers dengan menyalurkan bantuan paket sembako kepada 30 jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Rabu (26/8/2026).

Bantuan tersebut disalurkan melalui Divisi Environmental and Social Responsibility (ESR) Astra Korporasi dalam program pilar kemanusiaan Nurani Astra Berbagi (Astra SOS).

Anggota AWAS Sikka Terima bantuan dari ASTRA Group.

Fasilitator Desa Sejahtera Astra Group, Vonny Francis, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk apresiasi sekaligus solidaritas Astra terhadap wartawan yang selama ini menjadi mitra strategis dalam menyampaikan berbagai program perusahaan kepada masyarakat.

“Astra Group menyadari bahwa wartawan itu adalah mitra kami dalam memublikasikan program-program yang Astra Group persembahkan untuk negeri ini melalui program Desa Sejahtera Astra,” ujar Vonny.

Menurutnya, peran wartawan tidak sebatas memberitakan berbagai program pemberdayaan masyarakat, tetapi juga memiliki posisi penting dalam mengedukasi masyarakat sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial.

Kehadiran pers, kata Vonny, sangat membantu dalam memastikan berbagai program pemberdayaan dapat dipahami dan diawasi secara bersama-sama.

“Kehadiran wartawan sering sekali membantu kami untuk mengedukasi masyarakat. Tujuan paling utama adalah bagaimana mengedukasi masyarakat dan juga sekaligus menjadi bagian dari mata masyarakat untuk mengawasi kerja-kerja kami, sekaligus juga memberikan masukan dan pendidikan soal pemberdayaan masyarakat yang benar,” jelasnya.

Vonny juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran korporasi Astra Group, khususnya Divisi ESR, yang telah mendukung pelaksanaan program Nurani Astra Berbagi.

Ia menyebut sejumlah pihak yang turut mendukung program tersebut, di antaranya Pak Boy Kelana, Ibu Diah Suran Febrianti, dan Mbak Yulika.

Apresiasi AWAS

Ketua Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Mario WP Sina, menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Astra Group serta Vonny Francis atas kepedulian yang diberikan kepada para jurnalis di tengah situasi pascabencana.

Menurut Mario, bantuan tersebut tidak sekadar bernilai secara materi, tetapi juga menjadi dukungan moral bagi para wartawan yang tetap menjalankan tugas jurnalistik di tengah kondisi sulit.

“Bantuan paket sembako ini bukan hanya bernilai secara materi, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian dan dukungan moral bagi rekan-rekan media yang di tengah kondisi terdampak bencana tetap berusaha menjalankan tugas jurnalistik, menyampaikan informasi kepada masyarakat, serta mengawal perkembangan penanganan gempa di Kabupaten Sikka,” ungkap Mario.

Ia berharap perhatian Astra Group tersebut dapat membantu meringankan kebutuhan para jurnalis sekaligus menjadi penyemangat bagi insan pers untuk terus menjalankan tugasnya secara profesional.

Bagi AWAS, perhatian tersebut juga menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, jurnalis bukan hanya berada di balik kamera atau komputer, tetapi ikut turun ke lapangan, menyaksikan langsung kondisi masyarakat, dan memastikan suara warga terdampak sampai kepada publik serta para pemangku kepentingan.

Sinergi antara dunia usaha dan insan pers tersebut diharapkan terus terjalin, terutama dalam mengawal proses pemulihan pascagempa, distribusi bantuan, serta pemberdayaan masyarakat di wilayah Flores.

Di tengah upaya masyarakat untuk bangkit dari bencana, kepedulian semacam ini menjadi bagian penting dari semangat gotong royong—bahwa mereka yang terus bekerja menyuarakan kondisi korban bencana juga membutuhkan perhatian dan dukungan.

Reporter : Faidin

Melanie Subono Kembali Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Nagekeo di Desa Tonggurambang

Nagekeo, Bajopos.com | Kepedulian terhadap masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus mengalir. Bantuan kemanusiaan kembali disalurkan oleh Rumah Harapan bersama Melanie Subono dari Jakarta untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak bencana, Rabu (19/8/2026).

Bantuan tersebut disalurkan melalui Koordinator Rumah Harapan di Kabupaten Lembata, Alfian Rayabelen, untuk kemudian diteruskan kepada warga terdampak gempa di sejumlah wilayah Kabupaten Nagekeo, termasuk masyarakat di Desa Tonggurambang.

Bantuan yang diberikan berupa sembako dan kebutuhan dasar, di antaranya beras, telur, mi instan, air mineral serta sejumlah kebutuhan lainnya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan warga di lapangan.

Penyaluran bantuan diprioritaskan bagi warga terdampak yang memiliki alamat dan lokasi yang jelas, terutama masyarakat yang hingga kini belum tersentuh bantuan pemerintah maupun bantuan dari pihak lainnya.

Langkah tersebut dilakukan agar bantuan kemanusiaan benar-benar sampai kepada warga yang paling membutuhkan, khususnya mereka yang masih bertahan dalam kondisi sulit setelah gempa bumi mengguncang wilayah Flores.

Salah seorang warga terdampak, Sarif, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada Melanie Subono dan Rumah Harapan atas kepedulian yang diberikan kepada masyarakat Nagekeo.

“Terima kasih banyak kepada Kak Melanie Subono dan Rumah Harapan yang sudah memberikan bantuan kepada kami. Bantuan beras, telur dan air mineral ini sangat berarti bagi warga yang terdampak gempa,” ungkapnya.

Ucapan terima kasih juga disampaikan Hayat. Ia mengapresiasi perhatian Melanie Subono dan Rumah Harapan yang ikut membantu masyarakat terdampak bencana di Nagekeo.

Menurutnya, bantuan seperti ini sangat dibutuhkan warga, terutama dalam situasi pascabencana ketika sebagian masyarakat masih menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi warga terdampak, bantuan yang datang bukan sekadar sembako untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum. Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi tanda bahwa perhatian dan kepedulian terhadap mereka masih terus mengalir.

Kehadiran Rumah Harapan dan Melanie Subono di tengah situasi pascagempa juga menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan tidak mengenal jarak. Dari Jakarta hingga Nusa Tenggara Timur, kepedulian terus bergerak untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.

Bagi warga Desa Tonggurambang dan masyarakat terdampak lainnya, bantuan tersebut menjadi penguat semangat untuk terus bertahan dan bangkit setelah bencana.

Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian pascagempa, perhatian dari berbagai pihak menjadi pengingat bagi para penyintas bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masa sulit.

Reporter : Zainudin Abdullah
Editor : Faidin

Ny. Fista Sambuari Kago Gandeng Yayasan Seribu Cita Bangsa Salurkan Bantuan Korban Gempa

Sikka, Bajopos.com | Kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka terus ditunjukkan berbagai pihak.

Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka di bawah kepemimpinan Ny. Fista Sambuari Kago, S.H., menggandeng Yayasan Seribu Cita Bangsa (1000 Days Fund) menyalurkan bantuan kepada warga terdampak gempa yang berada di kawasan Eks Pasar Talibura, Kabupaten Sikka.

Penyaluran bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit akibat bencana gempa bumi Flores yang berdampak pada sejumlah wilayah di Kabupaten Sikka.

Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Yayasan Seribu Cita Bangsa atau 1000 Days Fund yang telah menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat Kabupaten Sikka.

Menurut Ny. Fista, dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk membantu masyarakat melewati masa tanggap darurat, terutama bagi warga yang kehilangan tempat tinggal, mengalami kerusakan rumah maupun harus mengungsi akibat gempa bumi.

“TP PKK Kabupaten Sikka sangat mengapresiasi kepedulian dan dukungan dari Yayasan Seribu Cita Bangsa. Bantuan ini menjadi bentuk nyata solidaritas bersama untuk masyarakat yang sedang menghadapi musibah,” ujar Ny. Fista.

Ia mengatakan, aksi sosial tersebut sekaligus menegaskan pentingnya membangun sinergi antara pemerintah daerah, TP PKK, dunia usaha, lembaga sosial dan masyarakat dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan.

Ny. Fista menjelaskan, kolaborasi melalui dukungan sosial maupun skema tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dapat menjadi kekuatan penting dalam mempercepat berbagai program pemberdayaan dan pelayanan kepada masyarakat.

“Dukungan dari berbagai pihak menjadi faktor penting dalam mempercepat realisasi program-program PKK di lapangan, terlebih dalam kondisi seperti sekarang ketika masyarakat kita sedang menghadapi musibah,” katanya.

Selain bantuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, kehadiran TP PKK di lokasi pengungsian juga menjadi bagian dari upaya memberikan penguatan moril kepada warga.

Menurut Ny. Fista, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan berupa kebutuhan dasar, tetapi juga perhatian, pendampingan dan kepedulian dari semua pihak.

TP PKK Kabupaten Sikka, lanjutnya, akan terus mengambil bagian dalam upaya penanganan dampak bencana sesuai dengan kapasitasnya, termasuk melalui kegiatan sosial, pendampingan keluarga dan penguatan kelompok masyarakat.

Ny. Fista berharap kolaborasi seperti yang dilakukan bersama Yayasan Seribu Cita Bangsa dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak masyarakat terdampak gempa yang mendapatkan manfaat dan dukungan.

“Semoga sinergi dan kepedulian seperti ini terus terbangun. Kita ingin memastikan masyarakat Sikka tidak menghadapi musibah ini sendirian. Pemerintah, PKK, lembaga sosial, dunia usaha dan seluruh elemen masyarakat harus bersama-sama hadir dan saling menguatkan,” pungkasnya.

Penyaluran bantuan di Eks Pasar Talibura tersebut menjadi salah satu wujud nyata semangat gotong royong dalam menghadapi bencana. Di tengah kondisi pascagempa, solidaritas dan kolaborasi berbagai pihak diharapkan terus menguat untuk membantu masyarakat Kabupaten Sikka bangkit dan memulihkan kehidupan mereka, katanya.

Reporter : Faidin

Hari Kelima, Pengungsi Gempa di Nangahale, Warga Dusun Namandoi Keluhkan Bantuan Tak Merata “Perangkat Desa Urus Keluarga Saja”

SIKKA, Bajopos.com | Memasuki hari kelima pascagempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, kondisi para pengungsi di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, masih memprihatinkan.

Hingga Rabu, 19 Agustus 2026, para warga terdampak yang mengungsi di sejumlah titik di Desa Nangahale, mengaku belum mendapatkan tenda pengungsian. Mereka masih bertahan dengan perlengkapan seadanya, termasuk terpal yang digunakan sebagai alas maupun pelindung sementara.

Kondisi tersebut paling banyak dikeluhkan warga terdampak asal Dusun Namandoi, Desa Nangahale.

Mereka mempertanyakan pola penyaluran bantuan yang dinilai belum merata, terutama terkait pembagian terpal dan kebutuhan dasar lainnya.

Sejumlah warga bahkan menilai terdapat perlakuan yang tidak adil dalam pendistribusian bantuan kepada para pengungsi.

“Kepala Desa hanya urus keluarganya, perangkat desa lainnya juga sama, hanya urus keluarga masing-masing,” keluh warga kepada media ini.

Keluhan itu muncul karena kebutuhan warga di lokasi pengungsian tidak seluruhnya dapat terpenuhi secara merata.

“Yang kami persoalkan bukan bantuan siapa yang dapat dan siapa yang tidak. Kami hanya ingin pembagian dilakukan secara merata dan  adil karena semua yang mengungsi sama-sama terdampak,” demikian keluhan warga yang dihimpun di lokasi pengungsian.

Ketiadaan tenda menjadi persoalan serius karena para pengungsi harus bertahan selama berhari-hari dalam kondisi terbuka.

Terpal yang tersedia pun sebagian hanya digunakan sebagai alas di tanah, sementara perlindungan yang layak dari panas, hujan, maupun angin masih menjadi kebutuhan mendesak.

Situasi ini semakin memprihatinkan karena kelompok rentan turut berada di tengah pengungsian. Anak-anak dalam jumlah banyak harus menjalani hari-hari mereka di lokasi pengungsian dengan fasilitas terbatas.

Selain anak-anak, terdapat pula penyandang disabilitas yang ikut mengungsi. Kondisi mereka membutuhkan perhatian dan fasilitas khusus agar dapat menjalani masa pengungsian secara aman dan layak.

Kondisi tersebut membuat warga berharap pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pendataan, tetapi juga memastikan bantuan benar-benar sampai kepada seluruh warga yang membutuhkan.

Bagi warga Dusun Namandoi, persoalan tenda bukan sekadar kebutuhan tempat berteduh. Setelah lima hari meninggalkan rumah akibat gempa, mereka membutuhkan kepastian bahwa keselamatan dan kebutuhan dasar seluruh pengungsi diperhatikan secara adil.

Apalagi, trauma akibat gempa masih dirasakan warga. Sebagian memilih tetap bertahan di lokasi pengungsian karena khawatir kembali ke rumah, sementara fasilitas pengungsian yang tersedia belum sepenuhnya mampu memberikan rasa aman.

Warga berharap pemerintah segera turun langsung melihat kondisi pengungsian di Dusun Namandoi dan memastikan tidak ada kelompok pengungsi yang terlewat dalam distribusi bantuan.

“Jangan sampai ada warga yang merasa dianaktirikan. Kami semua korban gempa dan sama-sama membutuhkan bantuan,” ujar warga yang enggan di sebut namanya ditengah kondisi pengungsian yang memasuki hari kelima.

Situasi di Nangahale menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada evakuasi warga. Perlindungan terhadap kelompok rentan, penyediaan tenda yang layak, pemerataan bantuan, serta pengawasan distribusi menjadi bagian penting dari tanggung jawab penanganan pascabencana.

Hingga hari kelima, warga Dusun Namandoi masih menunggu perhatian dan tindakan nyata agar mereka tidak terus bertahan hanya dengan terpal seadanya di tengah kondisi yang serba terbatas.

Reporter : Faidin

Hari Ketiga Mengungsi, 27 Ibu Hamil di Nangahale Masih Tanpa Tenda Pemerintah

Talibura, Bajopos.com | Memasuki hari ketiga pascagempa bumi M7,7, sebanyak 27 ibu hamil masih bertahan bersama ratusan warga lainnya di lokasi pengungsian Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Meski angka ini masih ada yang menyebut bahwa ibu hamil yang berada dalam pengungsian hanya terdapat 4 orang, jumlah lainnya memilih bertahan di kediaman masih-masing.

Ironisnya, hingga hari ini, Senin, 17 Agustus 2026, para pengungsi tersebut belum mendapatkan tenda pengungsian yang disiapkan pemerintah. Warga masih bertahan dengan fasilitas seadanya, sementara terpal digunakan sebagai alas untuk tidur dan beristirahat.

“Ada satu orang Ibu hamil dalam keadaan di infus karena sakit tanpa tenda pengungsian. Kasihan,” ujar warga yang enggan disebut namanya.

Kondisi ini menjadi sorotan serius karena para pengungsi bukan hanya orang dewasa dalam kondisi sehat. Di antara 393 kepala keluarga atau 1.551 jiwa yang mengungsi, terdapat 27 ibu hamil, 75 ibu menyusui, 179 lansia, 90 balita, 603 anak-anak, serta 19 penyandang disabilitas.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Berdasarkan pemutakhiran BMKG, pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

Guncangan kuat itu dirasakan di sejumlah wilayah Flores, termasuk Kabupaten Sikka.

Tiga Hari Bertahan dengan Fasilitas Seadanya

Sejak meninggalkan rumah setelah gempa, warga Nangahale memilih bertahan di lima titik pengungsian yang dianggap lebih aman.

Namun hingga hari ketiga, belum tersedianya tenda pengungsian dari pemerintah membuat warga masih mengandalkan fasilitas yang mereka miliki.

Terpal digunakan sebagai alas tidur dan tempat beristirahat. Kondisi tersebut tentu belum memberikan perlindungan sebagaimana fungsi tenda pengungsian.

Terlebih, warga harus menghadapi kemungkinan panas, hujan, angin, serta kondisi lingkungan lainnya selama berada di lokasi pengungsian.

Situasi menjadi semakin memprihatinkan bagi 27 ibu hamil yang membutuhkan tempat istirahat yang lebih aman dan nyaman.

1.551 Jiwa Tersebar di Lima Titik

Pendataan pengungsian mandiri masyarakat Desa Nangahale mencatat sebanyak 393 KK atau 1.551 jiwa mengungsi.

Jumlah tersebut terdiri atas 762 laki-laki dan 768 perempuan.

Lima titik pengungsian tersebut yakni:

Posko 1 Bukit Tujabao: 21 KK/69 jiwa.
Posko 2 Gereja Nangahale: 17 KK/47 jiwa.
Posko 3 belakang SMK Bagian Timur: 154 KK/610 jiwa.
Posko 4 belakang SMK Bagian Barat: 70 KK/350 jiwa.
Posko 5 belakang SMP 46 Nangahale: 131 KK/475 jiwa.

Posko 3 menjadi lokasi dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 610 jiwa.

Mengapa Tenda Belum Tersedia?

Informasi yang diterima Bajopos.com sebelumnya menyebutkan bahwa salah satu kendala penyaluran tenda adalah rekapitulasi laporan dari Kecamatan Talibura belum diterima BPBD Kabupaten Sikka, sementara laporan dari Desa Nangahale disebut telah dikirimkan.

Jika persoalan tersebut menjadi penyebab belum tersalurkannya tenda hingga hari ketiga, kondisi ini tentu perlu segera mendapat perhatian.

Sebab dalam situasi bencana, proses administrasi dan koordinasi semestinya berjalan cepat mengikuti kebutuhan warga di lapangan.

Apalagi, jumlah pengungsi sudah jelas dan lokasi pengungsian telah diketahui.

Camat Talibura Belum Memberikan Penjelasan

Terkait persoalan tersebut, Camat Talibura belum memberikan penjelasan kepada media ini.

Upaya konfirmasi telah dilakukan, namun nomor telepon Camat Talibura tidak dapat dihubungi.

Karena itu, informasi mengenai kendala pelaporan dari tingkat kecamatan hingga BPBD belum dapat dikonfirmasi langsung kepada pihak kecamatan.

Media ini tetap memberikan ruang kepada Pemerintah Kecamatan Talibura maupun BPBD Kabupaten Sikka untuk menjelaskan kondisi tersebut, termasuk langkah yang sedang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan warga Nangahale.

27 Ibu Hamil Menjadi Sorotan

Kondisi 27 ibu hamil di lokasi pengungsian menjadi bagian yang paling membutuhkan perhatian.

Mereka tidak hanya membutuhkan makanan dan air minum, tetapi juga tempat beristirahat yang layak serta akses terhadap layanan kesehatan.

Dalam kondisi pascabencana, kebutuhan ibu hamil tidak dapat disamakan dengan pengungsi lainnya.

Apabila harus bertahan berhari-hari tanpa tempat perlindungan yang memadai, kondisi tersebut berpotensi menambah beban fisik dan psikologis.

Karena itu, pemerintah diharapkan segera memastikan tersedianya tenda pengungsian atau tempat perlindungan yang layak bagi seluruh warga, terutama kelompok rentan.

10 Rumah Warga Mengalami Kerusakan

Selain persoalan pengungsian, pendataan sementara juga mencatat 10 rumah warga mengalami kerusakan.

Kesepuluh kepala keluarga tersebut yakni Sulman, Tahrip, Nasring, Kasahir, Hamsani, Tahap, Rawine, Risal, Halija, dan Indra.

Enam warga berada di Dusun Namandoi dan empat lainnya berada di Dusun Nangahale.

Data tersebut masih memerlukan verifikasi untuk mengetahui tingkat kerusakan masing-masing rumah dan memastikan apakah bangunan masih layak dihuni.

Trauma Pulau Babi Membuat Warga Memilih Mengungsi

Keputusan warga untuk bertahan di pengungsian juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah bencana Pulau Babi.

Pada 12 Desember 1992, gempa bumi dahsyat disusul tsunami melanda wilayah Flores bagian timur.

Berdasarkan data dalam laporan masyarakat, sebanyak 263 orang meninggal dunia dari sekitar 700 penduduk Pulau Babi.

Warga yang selamat kemudian dipindahkan, termasuk ke Desa Nangahale.

Pengalaman tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat.

Karena itu, ketika gempa M7,7 kembali mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, sebagian warga memilih tidak mengambil risiko dengan tetap berada di rumah.

Mereka membawa keluarga dan memilih bertahan di lokasi yang dianggap lebih aman.

Pemerintah Diminta Segera Hadir

Hari ketiga pengungsian seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk memastikan seluruh kebutuhan dasar warga telah terpenuhi.

Dengan jumlah 1.551 jiwa, pemerintah perlu memastikan ketersediaan tenda atau tempat perlindungan, makanan, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, kebutuhan bayi dan anak-anak, serta perlindungan khusus bagi kelompok rentan.

Khusus 27 ibu hamil, kebutuhan tempat berteduh yang layak tidak semestinya menunggu lebih lama.

Warga telah memilih menyelamatkan diri dari ancaman gempa. Kini mereka membutuhkan pemerintah untuk memastikan bahwa tempat mereka mengungsi juga aman dan layak.

Tiga hari sudah mereka bertahan. Terpal masih menjadi alas. Tenda pemerintah belum tersedia. Dan di antara mereka, 27 ibu hamil masih menunggu tempat perlindungan yang layak.

Persoalannya kini bukan lagi sekadar soal data pengungsi.

Ini tentang seberapa cepat pemerintah hadir ketika warganya sedang membutuhkan perlindungan.

Reporter : Faidin

1.551 Warga Nangahale di Pengungsian Tanpa Tenda Jadi dari Pemerintah, Warga Tidur Pakai Terpal

Talibura, Bajopos.com | Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, membuat ratusan keluarga di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, meninggalkan rumah dan mengungsi ke sejumlah lokasi yang dianggap lebih aman.

Berdasarkan pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berpusat di laut sekitar 30 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

Guncangan kuat tersebut turut dirasakan di Kabupaten Sikka. Di Desa Nangahale, kepanikan warga diperparah oleh pengalaman traumatis masyarakat yang pernah menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami Pulau Babi pada 12 Desember 1992.

Kini, setelah gempa kembali mengguncang Flores, sebanyak 393 kepala keluarga (KK) atau 1.551 jiwa memilih mengungsi secara mandiri dan tersebar di lima titik pengungsian.

Tenda Pengungsian Belum Ada

Namun, di tengah kondisi tersebut, hingga saat ini belum tersedia tenda pengungsian yang disiapkan pemerintah untuk warga di lokasi-lokasi pengungsian tersebut.

Hingga memasuki hati kedua pengungsian pasca gempa, warga terpaksa bertahan dengan fasilitas seadanya. Terpal yang tersedia digunakan terutama sebagai alas untuk tidur dan beristirahat, sementara warga masih membutuhkan tempat perlindungan yang lebih layak untuk menghadapi situasi pascagempa.

393 KK dan 1.551 Jiwa Mengungsi

Berdasarkan pendataan pengungsian mandiri masyarakat Desa Nangahale, terdapat 393 KK atau 1.551 jiwa yang tersebar di lima titik.

Jumlah tersebut terdiri atas 762 laki-laki dan 768 perempuan.

Sementara kelompok rentan yang tercatat meliputi 27 ibu hamil, 75 ibu menyusui, 179 lansia, 90 balita, 603 anak-anak, serta 19 penyandang disabilitas.

Lima titik pengungsian tersebut adalah:

Posko 1 Bukit Tujabao: 21 KK atau 69 jiwa. Posko 2 Gereja Nangahale: 17 KK atau 47 jiwa. Posko 3 belakang SMK Bagian Timur: 154 KK atau 610 jiwa. Posko 4 belakang SMK Bagian Barat: 70 KK atau 350 jiwa. Posko 5 belakang SMP 46 Nangahale: 131 KK atau 475 jiwa.

Posko 3 menjadi lokasi dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 610 jiwa dari 154 KK, disusul Posko 5 dengan 475 jiwa dari 131 KK.

Besarnya jumlah pengungsi tersebut membuat kebutuhan akan tempat perlindungan yang layak menjadi semakin mendesak.

Belum Ada Tenda Pemerintah, Warga Gunakan Terpal sebagai Alas

Kondisi di lokasi pengungsian menjadi sorotan karena warga yang memilih meninggalkan rumah belum mendapatkan tenda pengungsian dari pemerintah.

Warga masih bertahan dengan fasilitas yang tersedia secara mandiri. Terpal digunakan untuk mengalasi tempat mereka tidur dan beristirahat, bukan sebagai tenda pengungsian yang memadai.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena pengungsi tidak hanya terdiri dari orang dewasa. Di antara 1.551 jiwa terdapat 603 anak-anak, 90 balita, 179 lansia, 27 ibu hamil, 75 ibu menyusui, dan 19 penyandang disabilitas.

Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap tempat berteduh yang layak semakin penting, terutama apabila warga harus bertahan di lokasi pengungsian dalam beberapa hari ke depan.

Warga membutuhkan perlindungan dari panas, hujan, angin, serta kondisi lingkungan yang kurang mendukung.

Warga Mengungsi karena Trauma dan Takut Kembali ke Rumah

Keputusan warga untuk mengungsi tidak terlepas dari trauma panjang akibat bencana Pulau Babi.

Pada 12 Desember 1992, gempa bumi dahsyat yang disusul tsunami melanda wilayah Flores bagian timur.

Pulau Babi menjadi salah satu kawasan yang mengalami dampak sangat parah. Berdasarkan data dalam laporan masyarakat, 263 orang meninggal dunia dari sekitar 700 penduduk Pulau Babi.

Pasca bencana, pemerintah mengosongkan Pulau Babi dan warga yang selamat dipindahkan ke sejumlah wilayah, termasuk Desa Nangahale.

Bagi masyarakat yang pernah mengalami langsung tragedi tersebut, gempa pada 15 Agustus 2026 kembali membangkitkan rasa takut.

Guncangan rumah, benda-benda yang bergerak, kepanikan warga, dan kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya bencana susulan membuat masyarakat memilih berada di luar rumah.

Bagi mereka, mengungsi merupakan langkah untuk memastikan keselamatan keluarga.

10 Rumah Warga Terdata Mengalami Kerusakan

Selain menyebabkan warga mengungsi, gempa juga berdampak terhadap rumah warga.

Hasil pendataan sementara mencatat 10 kepala keluarga yang rumahnya terdata mengalami kerusakan.

Mereka adalah Sulman, Tahrip, Nasring, Kasahir, Hamsani, Tahap, Rawine, Risal, Halija, dan Indra.

Enam kepala keluarga pertama berada di Dusun Namandoi, sedangkan empat lainnya berada di Dusun Nangahale.

Data tersebut masih merupakan pendataan awal dan membutuhkan verifikasi lebih lanjut untuk mengetahui tingkat kerusakan setiap bangunan.

Pemeriksaan kelayakan rumah menjadi penting sebelum warga kembali, terutama untuk memastikan bangunan tidak membahayakan keselamatan penghuni.

Bukan Hanya Tenda, Pengungsi Membutuhkan Perlindungan yang Layak

Kondisi pengungsian di Nangahale menunjukkan bahwa kebutuhan warga bukan hanya persoalan logistik.

Ketersediaan tenda pengungsian menjadi salah satu kebutuhan mendesak agar warga memiliki tempat berteduh yang layak.

Terpal yang digunakan sebagai alas memang dapat membantu warga mengurangi kontak langsung dengan tanah, tetapi tidak dapat menggantikan fungsi tenda sebagai tempat perlindungan.

Apalagi, terdapat kelompok rentan dalam jumlah cukup besar.

Ibu hamil membutuhkan tempat istirahat yang aman. Ibu menyusui memerlukan ruang yang lebih nyaman. Lansia membutuhkan perlindungan dari cuaca dan kondisi lingkungan. Balita dan anak-anak juga membutuhkan tempat yang aman selama berada di pengungsian.

Penyandang disabilitas membutuhkan akses dan fasilitas pengungsian yang mudah serta aman.

Pemerintah Diharapkan Segera Hadir di Lima Titik Pengungsian

Dengan jumlah pengungsi mencapai 1.551 jiwa, pemerintah diharapkan segera melakukan penanganan secara menyeluruh di lima lokasi pengungsian.

Selain mendata jumlah warga, pemerintah perlu memastikan tersedianya tenda atau tempat perlindungan yang layak, makanan, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, kebutuhan bayi dan anak-anak, serta kebutuhan khusus kelompok rentan.

Pendataan terhadap 10 rumah yang mengalami kerusakan juga perlu segera diverifikasi.

Tidak kalah penting adalah dukungan psikososial bagi warga, mengingat sebagian masyarakat Nangahale memiliki pengalaman traumatis akibat tsunami Pulau Babi 1992.

Gempa Berhenti, tetapi Warga Masih Bertahan di Pengungsian

Gempa M7,7 yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, telah berlalu. Namun, ketakutan warga Nangahale belum sepenuhnya hilang.

Sebanyak 393 KK atau 1.551 jiwa masih memilih bertahan di lima titik pengungsian.

Di tengah situasi tersebut, belum tersedianya tenda pengungsian dari pemerintah membuat warga harus menggunakan fasilitas seadanya. Terpal digunakan sebagai alas untuk tidur dan beristirahat, sementara kebutuhan terhadap tempat berteduh yang layak masih menjadi perhatian.

Bagi masyarakat Nangahale, persoalan ini bukan hanya tentang tempat tidur.

Ini tentang rasa aman.

Mereka telah meninggalkan rumah karena takut terhadap dampak gempa dan kemungkinan bahaya susulan. Kini mereka membutuhkan kepastian bahwa di tempat pengungsian pun mereka mendapatkan perlindungan yang layak.

Terlebih, di antara mereka terdapat anak-anak, balita, lansia, ibu hamil, ibu menyusui, dan penyandang disabilitas.

Kecamatan Belum Kasih Laporan

Camat Talibura, Fransiskus Ismail, dikonfirmasi media ini belum memberi penjelasan. Nomornya tidak bisa dihubungi.

Meski, media ini mendapat informasi bahwa ketiadaan tenda jadi hingga hari kedua bagi warga pengungsi dari Desa Nangahale tersebut sebab rekapan laporan dari Kecamatan Talibura belum diterima pihak BPBD Kabupaten Sikka. Meski laporan dari desa sudah dikirim.

Gempa mungkin telah berhenti mengguncang tanah, tetapi warga Nangahale masih membutuhkan tempat yang aman untuk beristirahat, memulihkan diri, dan menunggu sampai keadaan benar-benar dinyatakan aman.

Reporter : Faidin