Dibalik Pelaminan Itu Ada Orang-Orang yang Tak Lagi Bisa Kami Peluk
Oleh: Faidin
Jurnalis dan Kakak Kandung Andra
Pernikahan selalu identik dengan kebahagiaan. Di dalamnya ada tawa, doa, pelukan, dan harapan tentang masa depan yang akan dijalani oleh dua insan yang dipersatukan.
Namun bagi saya, Sabtu, 6 Juni 2026, di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, tidak hanya menghadirkan kebahagiaan.
Hari itu, adik kandung saya, Andra, menikah dengan Fitriani.
Sebagai kakak, tentu saya bersyukur dapat menyaksikan langsung prosesi yang sakral tersebut. Saya melihat sendiri bagaimana Andra duduk di hadapan penghulu, mengucapkan ijab kabul dengan lancar, lalu berubah status dari seorang pemuda menjadi seorang suami.
Tepuk tangan bergema. Ucapan selamat berdatangan. Keluarga dan kerabat saling bersalaman. Tidak sedikit yang mengabadikan momen itu dengan telepon genggam mereka.
Namun di tengah keramaian dan kebahagiaan tersebut, pikiran saya justru melayang kepada orang-orang yang tidak lagi hadir.
Saya menyadari bahwa setiap keluarga memiliki cerita kehilangan. Akan tetapi, ada momen-momen tertentu dalam kehidupan yang membuat kehilangan itu terasa kembali nyata. Salah satunya adalah pernikahan.
Karena pada hari pernikahan, keluarga biasanya berkumpul dalam jumlah yang lengkap. Mereka datang untuk menyaksikan satu babak penting dalam perjalanan hidup seseorang. Di situlah kita mulai menyadari siapa saja yang tidak lagi berada di antara kita.
Hari itu, saya melihat pelaminan yang indah. Tetapi saya juga melihat kursi-kursi yang secara batin terasa kosong.
Kosong karena ada orang-orang yang semestinya hadir, namun telah lebih dahulu dipanggil Sang Pencipta.
Yang pertama terlintas dalam pikiran saya adalah ibu kami, almarhumah Munawara.
Beliau telah lama meninggalkan kami.
Waktu memang telah berjalan begitu jauh sejak kepergiannya. Kami tumbuh dewasa. Kami menjalani hidup masing-masing. Kami belajar menerima kenyataan bahwa ada takdir yang tidak bisa ditolak.
Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Kerinduan kepada seorang ibu.
Bagi seorang anak, kehilangan ibu bukanlah kehilangan yang selesai dalam satu atau dua tahun. Kehilangan itu hidup bersama waktu.
Ia muncul dalam berbagai bentuk.
Kadang hadir ketika melihat anak-anak lain dipeluk ibunya.
Kadang hadir saat menghadapi kesulitan hidup.
Dan kadang hadir begitu kuat ketika ada peristiwa besar dalam keluarga.
Pada hari pernikahan Andra, kerinduan itu datang kembali.
Saya membayangkan bagaimana seandainya ibu masih hidup.
Mungkin beliau adalah orang yang paling sibuk sejak pagi.
Mungkin beliau yang memastikan seluruh keluarga telah siap.
Mungkin beliau yang berulang kali menanyakan kebutuhan pengantin.
Mungkin beliau yang paling bahagia melihat anaknya duduk di pelaminan.
Tetapi semua kemungkinan itu berhenti menjadi kenyataan ketika kematian datang lebih dahulu.
Hari itu, Andra menikah tanpa bisa lagi mencium tangan ibunya.
Hari itu, kami berkumpul tanpa kehadiran perempuan yang pernah menjadi pusat kehidupan keluarga kami.
Dan itulah kenyataan yang tidak pernah mudah diterima meskipun telah bertahun-tahun berlalu.
Di sisi lain, keluarga kami juga belum lama menghadapi kehilangan yang lain.
Paman kami, almarhum Al Fatah, telah berpulang.
Kepergiannya masih terasa begitu dekat.
Bahkan suasana duka itu seakan kembali hidup ketika saya menyadari bahwa panggung akad nikah dan resepsi berdiri tepat di depan rumah beliau.
Rumah itu terlihat jelas dari pelaminan.
Pintunya terbuka.
Jendelanya menghadap ke arah lokasi acara.
Sepanjang hari, rumah tersebut seperti menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian pernikahan.
Bagi orang lain, mungkin itu hanya sebuah rumah biasa.
Namun bagi keluarga kami, rumah itu menyimpan banyak cerita.
Al Fatah bukan sekadar paman bagi Andra.
Beliau adalah bagian dari perjalanan yang mengantarkan Andra menuju hari pernikahannya.
Ketika hubungan Andra dan Fitriani mulai dijajaki, beliau ikut hadir.
Ketika keluarga mulai membicarakan masa depan keduanya, beliau ikut memberi pandangan.
Bahkan dalam proses lamaran, beliau menjadi salah satu delegasi keluarga yang datang membawa maksud baik kepada keluarga calon mempelai perempuan.
Beliau ikut membuka jalan menuju pernikahan itu.
Karena itulah terasa begitu ironis ketika hari yang dinantikan akhirnya tiba, tetapi beliau tidak lagi ada untuk menyaksikannya.
Beliau meninggalkan seorang istri, Erni.
Beliau meninggalkan Ainun Syakilah.
Beliau meninggalkan Fadlan yang sedang menempuh pendidikan agama di pondok pesantren.
Dan beliau meninggalkan Faqih yang masih kecil.
Ketika saya memandang rumah itu dari pelaminan, yang terlintas dalam pikiran saya bukan hanya kehilangan seorang anggota keluarga.
Yang terlintas adalah betapa cepatnya kehidupan berubah.
Hari ini seseorang hadir dalam percakapan keluarga.
Besok namanya hanya tinggal kenangan.
Hari ini seseorang ikut merencanakan sebuah kebahagiaan.
Besok ia hanya dikenang dalam kebahagiaan itu.
Pernikahan Andra membuat saya kembali memahami bahwa kehidupan manusia sesungguhnya sangat rapuh.
Kita sering merencanakan banyak hal untuk masa depan.
Kita membayangkan akan berada di suatu tempat pada waktu tertentu.
Kita berjanji akan menyaksikan berbagai peristiwa bersama orang-orang yang kita cintai.
Tetapi pada akhirnya, tidak semua rencana berada dalam kendali manusia.
Ada yang sempat sampai pada tujuan.
Ada yang hanya sempat mengantar sampai di tengah jalan.
Hari itu saya juga teringat kepada almarhum M. Taher Rahima dan almarhumah Jane.
Mereka adalah generasi yang lebih dahulu membangun fondasi keluarga besar kami.
Banyak nilai yang hingga hari ini masih hidup berasal dari mereka.
Tentang kerja keras.
Tentang menjaga silaturahmi.
Tentang pentingnya saling membantu.
Tentang bagaimana keluarga harus tetap berdiri dalam keadaan apa pun.
Mereka memang telah lama tiada.
Namun ketika para cucu dan keluarga besar berkumpul memenuhi pelataran resepsi malam itu, saya merasakan bahwa warisan mereka masih hidup.
Warisan itu bukan berupa harta benda.
Melainkan kebersamaan.
Karena sesungguhnya ukuran keberhasilan sebuah keluarga tidak hanya dilihat dari apa yang mereka miliki.
Tetapi dari bagaimana mereka tetap menjaga hubungan satu sama lain meskipun waktu terus berjalan.
Menjelang malam, pelataran resepsi semakin padat.
Para cucu dan cece dari keluarga besar M. Taher Rahima dan Rajana hadir memeriahkan acara.
Keluarga datang dari berbagai tempat.
Anak-anak berlarian di sekitar panggung.
Para ibu sibuk melayani tamu.
Sementara para tetua duduk mengenang cerita-cerita lama.
Dari kejauhan, suasana itu tampak seperti sebuah pesta keluarga yang penuh kebahagiaan.
Dan memang demikian adanya.
Tetapi jika diperhatikan lebih dalam, ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pesta pernikahan.
Ada rasa syukur karena masih diberi kesempatan berkumpul.
Ada kesadaran bahwa tidak semua anggota keluarga masih dapat hadir.
Ada pemahaman bahwa setiap pertemuan selalu berjalan berdampingan dengan kemungkinan perpisahan.
Mungkin itulah sebabnya saya melihat beberapa anggota keluarga sesekali terdiam.
Mereka tersenyum.
Namun mata mereka tampak menyimpan kenangan.
Karena di setiap keluarga selalu ada orang-orang yang tidak benar-benar pergi.
Mereka tetap hidup melalui cerita yang terus diceritakan.
Melalui nilai-nilai yang diwariskan.
Melalui kebiasaan yang masih dipertahankan.
Melalui doa-doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan.
Pernikahan Andra dan Fitriani pada akhirnya bukan hanya tentang dua insan yang dipersatukan.
Pernikahan itu juga menjadi pengingat tentang perjalanan panjang sebuah keluarga.
Perjalanan yang dipenuhi suka dan duka.
Perjalanan yang menghadirkan kelahiran dan kematian.
Perjalanan yang mempertemukan orang-orang, lalu perlahan memisahkan mereka melalui waktu.
Sebagai kakak, saya tentu berharap Andra dan Fitriani dapat membangun rumah tangga yang bahagia.
Namun lebih dari itu, saya berharap mereka selalu mengingat bahwa kebahagiaan yang mereka rasakan hari ini tidak lahir begitu saja.
Di baliknya ada doa orang tua.
Ada pengorbanan keluarga.
Ada kasih sayang para leluhur.
Dan ada kenangan tentang orang-orang yang telah lebih dahulu pergi.
Karena sesungguhnya, pada hari itu saya merasa pelaminan tidak hanya dihadiri oleh mereka yang tampak oleh mata.
Di pelaminan itu ada cinta seorang ibu yang telah lama tiada.
Ada harapan seorang paman yang tidak sempat menyaksikan akhir perjalanan yang ia bantu mulai.
Ada warisan kakek dan nenek yang masih hidup dalam diri anak-cucu mereka.
Dan ada doa-doa yang terus mengalir dari mereka yang telah pulang kepada Tuhan.
Mereka memang tidak lagi bisa kami peluk.
Tidak lagi bisa kami ajak berbincang.
Tidak lagi bisa kami dudukkan di kursi-kursi kehormatan.
Tetapi pada hari pernikahan Andra, saya percaya mereka tetap hadir dalam cara yang paling sederhana.
Melalui kenangan.
Melalui cinta.
Dan melalui kerinduan yang tidak pernah benar-benar berakhir.
Penulis adalah Jurnalis dan Kakak Kandung Andra
















