Kam. Sep 24th, 2026

Nangahale

Tiga Tahun Menahan Sakit, Naufal Berharap Uluran Tangan Pemerintah

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah hiruk-pikuk kehidupan di posko pengungsian Desa Nangahale, Kabupaten Sikka, sebuah kisah tentang seorang anak berusia tiga tahun bernama Naufal Aldani menyentuh hati.

Sejak lahir, Naufal harus berjuang menghadapi masalah serius pada saluran pencernaannya yang membuat dirinya kesulitan buang air besar (BAB).

Kondisi Naufal terungkap ketika Ibu Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena atau yang akrab disapa Ibu Asti Laka Lena, bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, istri Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, mengunjungi Posko Pengungsian Desa Nangahale, Minggu (23/8/2026) siang.

Di tengah suasana pengungsian akibat gempa, perhatian kedua perempuan yang turut mendampingi masyarakat itu tertuju kepada Naufal yang saat itu berada dalam pelukan ibunya, Aida.

Menurut keterangan keluarga, Naufal mengalami kondisi bawaan sejak lahir yang menyebabkan dirinya tidak dapat BAB secara normal.

Keluarga menyebut Naufal pernah mengalami kondisi yang berkaitan dengan Hirschsprung dan dugaan atresia ani, sementara saat ini anak tersebut disebut memiliki lubang anus tetapi tetap mengalami kesulitan berat ketika BAB.

Untuk membantu mengeluarkan kotorannya, Naufal bahkan disebut harus menggunakan alat bantu melalui lubang anus. Kondisi tersebut membuat kehidupan Naufal dan keluarganya jauh dari kehidupan anak-anak seusianya.

Bagi seorang anak berusia tiga tahun, BAB yang seharusnya menjadi proses alami justru menjadi perjuangan yang harus dihadapi berulang kali.

Di balik tubuh kecil Naufal, ada perjuangan panjang yang belum selesai.

Aida, ibu Naufal, mengaku sangat berharap anaknya dapat menjalani operasi sehingga bisa memperoleh kesembuhan dan menjalani kehidupan sebagaimana anak-anak lainnya.

Namun, harapan itu terbentur kondisi ekonomi keluarga.

Aida bersama suaminya belum mampu membiayai penanganan medis yang dibutuhkan Naufal.

Kisah tersebut sontak mengundang keprihatinan Ibu Asti Laka Lena. Ia kemudian memanggil Kepala Desa Nangahale untuk memastikan kondisi yang dialami Naufal serta mengetahui lebih jauh situasi keluarga tersebut.

Sementara itu, Ny. Fista Sambuari Kago menyampaikan akan melakukan koordinasi bersama warga dan pihak terkait guna mencari solusi bagi penanganan Naufal.

Ia bahkan langsung meminta nomor telepon keluarga agar komunikasi dapat dilakukan dengan lebih mudah dalam upaya membantu penanganan medis anak tersebut.

Di hadapan Aida yang memangku Naufal, Ibu Asti dan Ny. Fista memberikan semangat.

Momen itu menjadi harapan baru bagi keluarga kecil tersebut yang selama tiga tahun menghadapi perjuangan panjang tanpa kepastian kapan anak mereka bisa mendapatkan penanganan yang layak.

Pemerintah Diharapkan Hadir

Kisah Naufal bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang sakit. Ini adalah potret keluarga sederhana yang membutuhkan kehadiran negara ketika kemampuan ekonomi tidak mampu menjangkau biaya pengobatan.

Karena itu, pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi diharapkan tidak berhenti pada kunjungan dan pendataan.

Harapan terbesar keluarga Naufal adalah adanya tindakan nyata, mulai dari pemeriksaan medis menyeluruh, rujukan ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis anak atau bedah anak, hingga memastikan kebutuhan operasi dan perawatan lanjutan dapat dipenuhi.

Penanganan kondisi seperti Hirschsprung atau kelainan anorektal membutuhkan pemeriksaan dan penanganan oleh tenaga medis yang kompeten. Diagnosis pasti pun harus ditegakkan oleh dokter melalui pemeriksaan medis, bukan hanya berdasarkan dugaan keluarga.

Di tengah kondisi pengungsian, kebutuhan Naufal menjadi semakin mendesak. Anak itu membutuhkan perhatian khusus agar kondisi kesehatannya tidak semakin memburuk.

Naufal mungkin hanya seorang anak kecil dari sebuah keluarga sederhana di Nangahale.

Namun, perjuangannya mengingatkan bahwa di tengah bencana dan kesulitan hidup, masih ada anak-anak yang membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan hak paling dasar: hidup sehat dan tumbuh sebagaimana anak-anak lainnya.

Kini, harapan itu tertuju kepada pemerintah dan semua pihak yang memiliki kepedulian.

Semoga kunjungan Ibu Asti Laka Lena dan Ny. Fista Sambuari Kago menjadi awal dari jalan panjang menuju kesembuhan Naufal.

Sebab, tidak seharusnya seorang anak berusia tiga tahun terus menanggung sakit hanya karena keluarganya tidak mampu membiayai pengobatan.

Reporter : Faidin

KPA Salurkan Bantuan Sembako untuk Komunitas Adat Soge Natarmage dan Goban Runut di Pengungsian Mandiri

SIKKA, Bajopos.com | Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menyalurkan bantuan sembako bagi komunitas masyarakat adat Soge Natarmage dan Goban Runut yang terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 dan kini masih bertahan di sejumlah titik pengungsian mandiri di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Bantuan tersebut disalurkan melalui Perkumpulan Bantuan Hukum Nusa Tenggara (PBH-Nusra) pada Jumat, 21 Agustus 2026. Penyaluran menyasar warga yang tinggal di tenda-tenda pengungsian mandiri di titik Pedan, Utan Wair, Wairhek, dan Hitohalok.

Adapun bantuan yang disalurkan berupa 1 ton beras, 30 dus mie Sedaap, enam ikat telur ayam atau dua papan, terpal, tikar, lampu energi, serta sejumlah kebutuhan lainnya.

Distribusi bantuan kepada warga terdampak turut dibantu para relawan yang tergabung dalam Gerakan Muda Reforma Agraria Sikka (GEMARA) di Nangahale.

Bantuan tersebut menjadi perhatian bagi warga yang memilih mengungsi secara mandiri setelah gempa kuat yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026.

Selain menghadapi kebutuhan pangan, warga di sejumlah lokasi pengungsian mandiri juga masih mengalami dampak psikologis akibat gempa.

Aloysius Lose (64), warga Desa Natarmage, RT 09/RW 05, yang kini berdomisili di lokasi Perjuangan Nangahale, titik Pedan, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diterima.

Ia mengatakan, bantuan tersebut sangat berarti bagi warga yang bertahan di pengungsian mandiri.

“Kami merasa bersyukur, karena masih ada pihak yang membantu kami di tempat pengungsian mandiri. Kami menyampaikan terima kasih banyak kepada KPA di Jakarta, KPA NTT dan PBH-Nusra yang menghantar bantuan sampai di sini,” tutur Lose.

Sementara itu, Piter Embu Gusi selaku koordinator pelaksana penyaluran bantuan logistik bencana bagi komunitas masyarakat adat Soge Natarmage dan Goban Runut berharap bantuan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga selama masa tanggap darurat.

“Semoga bantuan yang diberikan oleh KPA kepada warga terdampak gempa bumi yang saat ini sedang berdomisili di tenda pengungsian mandiri dapat membantu masyarakat dan kebutuhan pangan selama masa tanggap darurat terpenuhi,” ujarnya.

Di sisi lain, warga pengungsian mandiri berharap pemerintah daerah tidak luput memperhatikan keberadaan mereka. Salah satunya disampaikan Mariani (35), warga Desa Nangahale yang ditemui di titik pengungsian mandiri Pedan.

Mariani mengatakan, warga telah bertahan selama sekitar satu minggu di lokasi tersebut dan berharap pemerintah segera memberikan perhatian serta bantuan.

“Kami berharap agar situasi ini segera berakhir dan kami bisa kembali ke rumah kami masing-masing dan mulai bekerja seperti biasa. Kami juga berharap agar pemerintah setempat bisa memperhatikan kami yang saat ini berada di tenda pengungsian mandiri,” katanya.

Menurut Mariani, hingga saat itu warga di titik Pedan belum menerima bantuan dari pemerintah.

“Sudah satu minggu kami tinggal di tenda pengungsian mandiri, khususnya di titik Pedan. Sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah,” pungkasnya.

Penyaluran bantuan KPA tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kebutuhan warga di lokasi pengungsian mandiri masih menjadi perhatian berbagai pihak.

Warga berharap bantuan tidak hanya datang dari kelompok masyarakat sipil dan organisasi kemanusiaan, tetapi juga mendapat perhatian yang merata dari pemerintah selama masa tanggap darurat.

Reporter : MM

Camat Talibura Akui Pengungsi Mandiri Belum Mendapat Arahan Penanganan, Bantuan Pemerintah Disalurkan Melalui Posko Desa

SIKKA, Bajopos.com | Penanganan warga terdampak gempa bumi di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat sorotan setelah masih adanya keluhan warga yang mengungsi secara mandiri karena belum mendapatkan bantuan pemerintah.

Hal tersebut terungkap dalam wawancara wartawan dengan Camat Talibura, Fransiskus Ismail, di sela-sela pendropingan bantuan dari pihak Telkomsel bersama Lanal Maumere, Kamis (21/8/2026).

Fransiskus menjelaskan, bantuan dari pemerintah melalui Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka telah masuk ke Kecamatan Talibura sejak 17 Agustus 2026 dan kemudian didistribusikan ke seluruh desa.

“Untuk bantuan dari pemerintah melalui Posko BPBD itu sudah masuk per tanggal 17 Agustus kemarin dan sudah kita distribusikan ke semua desa. Hari ini kembali masuk di kantor camat dan kita baru distribusi lagi ke semua desa,” jelasnya.

Menurutnya, bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana. Bantuan tersebut antara lain beras, mi instan, telur, air mineral, obat-obatan hingga perlengkapan bayi.

Fransiskus mengatakan, jumlah bantuan disesuaikan dengan data pengungsi yang disampaikan pemerintah kecamatan kepada BPBD secara by name by address.

“Bantuan itu berupa logistik, beras, mie, telur, air mineral, obat-obatan, perlengkapan bayi, yang disesuaikan dengan jumlah pengungsi yang kita ajukan lewat data yang kita berikan kepada BPBD, by name, by address,” katanya.

3.381 Pengungsi, Nangahale Terbanyak

Camat Talibura menyebutkan, berdasarkan data hingga saat ini terdapat 3.381 pengungsi yang tersebar di lima desa di Kecamatan Talibura.

Jumlah terbesar berada di Desa Nangahale dengan sekitar 2.581 orang.

Namun, di tengah distribusi bantuan tersebut, masih terdapat keluhan dari warga yang memilih mengungsi secara mandiri dan merasa belum mendapatkan perhatian pemerintah.

Menanggapi hal itu, Fransiskus mengakui bahwa pada fase awal bencana, pemerintah menghadapi kendala pendataan karena jumlah warga yang mengungsi belum dapat dipastikan.

“Memang dengan kondisi awal, saat pengungsi mulai datang ke tempat pengungsian, untuk kita mengakomodir secara perorangan itu waktu itu data kita juga belum pasti,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bantuan pemerintah kemudian disalurkan melalui posko-posko yang telah dibentuk di masing-masing desa. Pengelolaan bantuan di lapangan selanjutnya menjadi tanggung jawab koordinator posko.

Pemerintah kecamatan, kata dia, telah mengimbau agar setiap posko membentuk dapur umum secara terpusat sehingga bantuan konsumsi dapat dinikmati secara merata oleh seluruh pengungsi.

Pengungsi Mandiri Belum Mendapat Arahan

Sorotan lainnya menyangkut warga yang mengungsi secara mandiri, baik di halaman rumah, depan bangunan, maupun lokasi lainnya di luar posko resmi.

Fransiskus secara terbuka menyatakan bahwa hingga saat ini pihak Kecamatan Talibura belum mendapatkan arahan lanjutan terkait penanganan kelompok pengungsi mandiri tersebut.

“Yang untuk sementara ini yang kita tangani itu adalah mereka yang berada di tenda-tenda pengungsian. Sementara yang mengungsi mandiri, kita di kecamatan belum mendapatkan arahan lanjutan,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena sejumlah warga terdampak gempa di wilayah Talibura sebelumnya mengeluhkan belum meratanya bantuan, terutama mereka yang memilih melakukan evakuasi secara mandiri.

Kondisi ini menunjukkan masih adanya celah dalam sistem penanganan pengungsi, khususnya dalam memastikan warga yang berada di luar posko resmi tetap terdata dan mendapatkan kebutuhan dasar.

Keamanan dan Kondisi Pengungsi Jadi Tanggung Jawab Koordinator Posko

Terkait keamanan dan kondisi kesehatan warga di lokasi pengungsian, termasuk adanya laporan warga yang digigit ular serta warga yang sakit hingga meninggal dunia, Camat Talibura mengatakan pemerintah telah membentuk koordinator di setiap posko.

Menurutnya, koordinator posko diharapkan dapat mengawasi berbagai persoalan yang muncul di lokasi pengungsian, mulai dari kebersihan, kesehatan hingga keamanan.

“Dengan pengurus posko, koordinator posko ini, kita berharap bahwa segala macam hal yang terjadi di dalam posko itu harus menjadi bagian dari tanggung jawab dan juga dipikirkan oleh teman-teman koordinator posko,” katanya.

Khusus di Desa Nangahale, pemerintah telah membentuk satu posko induk dan empat posko penyangga.

Namun, Fransiskus mengakui bahwa pemerintah kecamatan tidak dapat mengawasi setiap posko secara detail satu per satu.

“Tentunya kami dari pemerintah Kecamatan tidak bisa masuk ke dalam posko itu secara detail satu persatu,” ujarnya.

Karena itu, koordinasi di tingkat posko menjadi sangat penting untuk memastikan persoalan warga segera ditangani dan dilaporkan kepada pemerintah apabila membutuhkan intervensi lebih lanjut.

Pemerintah Diminta Pastikan Bantuan Tidak Berhenti di Posko

Pernyataan Camat Talibura tersebut sekaligus menjadi catatan bagi pemerintah daerah agar mekanisme distribusi bantuan tidak hanya berorientasi pada posko resmi, tetapi juga menjangkau warga yang melakukan evakuasi secara mandiri.

Apalagi, berdasarkan data pemerintah kecamatan, jumlah pengungsi mencapai ribuan orang dengan Desa Nangahale sebagai wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar.

Pemerataan bantuan, pendataan ulang, pemenuhan kebutuhan kesehatan, keamanan serta perlindungan kelompok rentan menjadi pekerjaan penting pemerintah selama masa tanggap darurat.

Di akhir wawancara, Camat Talibura mengajak seluruh pengungsi untuk memanfaatkan bantuan yang telah diberikan secara baik.

Ia juga mengingatkan warga agar secara perlahan mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke rumah apabila kondisi telah memungkinkan, namun tetap mengutamakan kewaspadaan.

“Traumatis itu boleh, tetapi ada waktunya. Saatnya kita harus bersiap-siap untuk pulang ke rumah, tentunya dengan sikap waspada itu menjadi penting,” pungkasnya.

Reporter : Faidin

Di Bawah Atap yang Lapuk, Mimpi Siswa Siswi MTs Al Fatah di Kabupaten Sikka  Menunggu Uluran Tangan

SIKKA, BAJOPOS.COM | Bel masuk sekolah tetap berbunyi setiap pagi di MTs Muhammadiyah Al Fatah Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Anak-anak tetap datang mengenakan seragam, membawa buku, dan menyimpan cita-cita yang sama seperti pelajar lainnya. Namun, mereka tidak lagi belajar di ruang kelas yang semestinya.

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Muhammadiyah Al Fatah Nangahale merupakan sekolah swasta yang berada di bawah naungan Yayasan Muhammadiyah.

Sejak berdiri pada tahun 2003, sekolah ini telah menjadi tempat menimba ilmu bagi generasi muda di wilayah Nangahale dan sekitarnya.

Kini, sekolah tersebut menghadapi ujian berat akibat rusaknya dua ruang kelas yang mengganggu proses belajar mengajar.

Sebagian dari mereka kini harus belajar di Musholla, yang merupakan tempat ibadah siswa, siswi, dan para guru, serta di ruang perpustakaan.

Bahkan, ada rombongan belajar yang masih harus duduk di lantai karena dua ruang kelas sekolah mengalami kerusakan berat setelah diterjang angin puting beliung beberapa tahun lalu.

Di balik keterbatasan itu, para guru memilih bertahan. Mereka tidak ingin kondisi bangunan memadamkan semangat belajar anak-anak.

“Tetap semangat, karena di mana pun kita bisa belajar. Tetapi kami kasihan melihat anak-anak yang masih harus belajar dengan duduk di lantai,” tutur salah seorang tenaga pendidik, Ibu Dahlia, kepada wartawan.

Demi keselamatan siswa, bangunan bertingkat yang dinilai membahayakan akhirnya terpaksa dibongkar.

Bantuan dari LazisMu Muhammadiyah telah dimanfaatkan untuk memperbaiki sebagian atap yang rusak.

Namun, kerusakan yang ada masih jauh lebih besar dibanding kemampuan sekolah dan yayasan untuk menanganinya sendiri.

Kini, proses belajar mengajar berlangsung dalam segala keterbatasan. Musholla yang semestinya menjadi tempat ibadah bagi siswa, siswi, dan para guru, bersama ruang perpustakaan, terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang belajar darurat.

Akibatnya, kegiatan belajar mengajar tidak lagi berlangsung senyaman sebelumnya, sementara fungsi kedua ruangan tersebut juga tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Yang paling menyentuh bukanlah bangunan yang rusak, melainkan semangat anak-anak yang tetap hadir setiap hari.

Mereka tidak mengeluh karena harus duduk di lantai. Mereka tetap membuka buku, mendengarkan guru, dan menulis pelajaran dengan harapan sederhana: suatu hari bisa mengubah masa depan.

Karena itulah, pihak sekolah membuka saluran donasi untuk mengajak masyarakat ikut membangun kembali ruang kelas yang layak.

Harapannya bukan sekadar memperbaiki dinding atau memasang atap baru, tetapi mengembalikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak saat belajar.

Poster Open Donasi

Kalimat yang tertulis dalam poster penggalangan dana seolah menggambarkan kondisi mereka hari ini:

“Di bawah atap yang lapuk, ada cita-cita yang tetap menyala.”

Sebuah pengingat bahwa setiap sumbangan, sekecil apa pun, bukan hanya menjadi material bangunan. Lebih dari itu, ia menjadi penyangga harapan bagi anak-anak yang terus berjuang mengejar pendidikan di tengah segala keterbatasan.

Di ruang-ruang belajar yang serba darurat itu, masa depan sedang dipertaruhkan. Di balik dinding yang rapuh dan atap yang menua, tersimpan mimpi-mimpi besar anak-anak Nangahale. Kini, mimpi-mimpi itu menunggu satu hal yang sederhana: kepedulian kita.

Penulis : Faidin

Dibalik Pelaminan Itu Ada Orang-Orang yang Tak Lagi Bisa Kami Peluk

Oleh: Faidin

Jurnalis dan Kakak Kandung Andra

Pernikahan selalu identik dengan kebahagiaan. Di dalamnya ada tawa, doa, pelukan, dan harapan tentang masa depan yang akan dijalani oleh dua insan yang dipersatukan.

Namun bagi saya, Sabtu, 6 Juni 2026, di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, tidak hanya menghadirkan kebahagiaan.

Hari itu, adik kandung saya, Andra, menikah dengan Fitriani.

Sebagai kakak, tentu saya bersyukur dapat menyaksikan langsung prosesi yang sakral tersebut. Saya melihat sendiri bagaimana Andra duduk di hadapan penghulu, mengucapkan ijab kabul dengan lancar, lalu berubah status dari seorang pemuda menjadi seorang suami.

Tepuk tangan bergema. Ucapan selamat berdatangan. Keluarga dan kerabat saling bersalaman. Tidak sedikit yang mengabadikan momen itu dengan telepon genggam mereka.

Namun di tengah keramaian dan kebahagiaan tersebut, pikiran saya justru melayang kepada orang-orang yang tidak lagi hadir.

Saya menyadari bahwa setiap keluarga memiliki cerita kehilangan. Akan tetapi, ada momen-momen tertentu dalam kehidupan yang membuat kehilangan itu terasa kembali nyata. Salah satunya adalah pernikahan.

Karena pada hari pernikahan, keluarga biasanya berkumpul dalam jumlah yang lengkap. Mereka datang untuk menyaksikan satu babak penting dalam perjalanan hidup seseorang. Di situlah kita mulai menyadari siapa saja yang tidak lagi berada di antara kita.

Hari itu, saya melihat pelaminan yang indah. Tetapi saya juga melihat kursi-kursi yang secara batin terasa kosong.

Kosong karena ada orang-orang yang semestinya hadir, namun telah lebih dahulu dipanggil Sang Pencipta.

Yang pertama terlintas dalam pikiran saya adalah ibu kami, almarhumah Munawara.

Beliau telah lama meninggalkan kami.

Waktu memang telah berjalan begitu jauh sejak kepergiannya. Kami tumbuh dewasa. Kami menjalani hidup masing-masing. Kami belajar menerima kenyataan bahwa ada takdir yang tidak bisa ditolak.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Kerinduan kepada seorang ibu.

Bagi seorang anak, kehilangan ibu bukanlah kehilangan yang selesai dalam satu atau dua tahun. Kehilangan itu hidup bersama waktu.

Ia muncul dalam berbagai bentuk.

Kadang hadir ketika melihat anak-anak lain dipeluk ibunya.

Kadang hadir saat menghadapi kesulitan hidup.

Dan kadang hadir begitu kuat ketika ada peristiwa besar dalam keluarga.

Pada hari pernikahan Andra, kerinduan itu datang kembali.

Saya membayangkan bagaimana seandainya ibu masih hidup.

Mungkin beliau adalah orang yang paling sibuk sejak pagi.

Mungkin beliau yang memastikan seluruh keluarga telah siap.

Mungkin beliau yang berulang kali menanyakan kebutuhan pengantin.

Mungkin beliau yang paling bahagia melihat anaknya duduk di pelaminan.

Tetapi semua kemungkinan itu berhenti menjadi kenyataan ketika kematian datang lebih dahulu.

Hari itu, Andra menikah tanpa bisa lagi mencium tangan ibunya.

Hari itu, kami berkumpul tanpa kehadiran perempuan yang pernah menjadi pusat kehidupan keluarga kami.

Dan itulah kenyataan yang tidak pernah mudah diterima meskipun telah bertahun-tahun berlalu.

Di sisi lain, keluarga kami juga belum lama menghadapi kehilangan yang lain.

Paman kami, almarhum Al Fatah, telah berpulang.

Kepergiannya masih terasa begitu dekat.

Bahkan suasana duka itu seakan kembali hidup ketika saya menyadari bahwa panggung akad nikah dan resepsi berdiri tepat di depan rumah beliau.

Rumah itu terlihat jelas dari pelaminan.

Pintunya terbuka.

Jendelanya menghadap ke arah lokasi acara.

Sepanjang hari, rumah tersebut seperti menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian pernikahan.

Bagi orang lain, mungkin itu hanya sebuah rumah biasa.

Namun bagi keluarga kami, rumah itu menyimpan banyak cerita.

Al Fatah bukan sekadar paman bagi Andra.

Beliau adalah bagian dari perjalanan yang mengantarkan Andra menuju hari pernikahannya.

Ketika hubungan Andra dan Fitriani mulai dijajaki, beliau ikut hadir.

Ketika keluarga mulai membicarakan masa depan keduanya, beliau ikut memberi pandangan.

Bahkan dalam proses lamaran, beliau menjadi salah satu delegasi keluarga yang datang membawa maksud baik kepada keluarga calon mempelai perempuan.

Beliau ikut membuka jalan menuju pernikahan itu.

Karena itulah terasa begitu ironis ketika hari yang dinantikan akhirnya tiba, tetapi beliau tidak lagi ada untuk menyaksikannya.

Beliau meninggalkan seorang istri, Erni.

Beliau meninggalkan Ainun Syakilah.

Beliau meninggalkan Fadlan yang sedang menempuh pendidikan agama di pondok pesantren.

Dan beliau meninggalkan Faqih yang masih kecil.

Ketika saya memandang rumah itu dari pelaminan, yang terlintas dalam pikiran saya bukan hanya kehilangan seorang anggota keluarga.

Yang terlintas adalah betapa cepatnya kehidupan berubah.

Hari ini seseorang hadir dalam percakapan keluarga.

Besok namanya hanya tinggal kenangan.

Hari ini seseorang ikut merencanakan sebuah kebahagiaan.

Besok ia hanya dikenang dalam kebahagiaan itu.

Pernikahan Andra membuat saya kembali memahami bahwa kehidupan manusia sesungguhnya sangat rapuh.

Kita sering merencanakan banyak hal untuk masa depan.

Kita membayangkan akan berada di suatu tempat pada waktu tertentu.

Kita berjanji akan menyaksikan berbagai peristiwa bersama orang-orang yang kita cintai.

Tetapi pada akhirnya, tidak semua rencana berada dalam kendali manusia.

Ada yang sempat sampai pada tujuan.

Ada yang hanya sempat mengantar sampai di tengah jalan.

Hari itu saya juga teringat kepada almarhum M. Taher Rahima dan almarhumah Jane.

Mereka adalah generasi yang lebih dahulu membangun fondasi keluarga besar kami.

Banyak nilai yang hingga hari ini masih hidup berasal dari mereka.

Tentang kerja keras.

Tentang menjaga silaturahmi.

Tentang pentingnya saling membantu.

Tentang bagaimana keluarga harus tetap berdiri dalam keadaan apa pun.

Mereka memang telah lama tiada.

Namun ketika para cucu dan keluarga besar berkumpul memenuhi pelataran resepsi malam itu, saya merasakan bahwa warisan mereka masih hidup.

Warisan itu bukan berupa harta benda.

Melainkan kebersamaan.

Karena sesungguhnya ukuran keberhasilan sebuah keluarga tidak hanya dilihat dari apa yang mereka miliki.

Tetapi dari bagaimana mereka tetap menjaga hubungan satu sama lain meskipun waktu terus berjalan.

Menjelang malam, pelataran resepsi semakin padat.

Para cucu dan cece dari keluarga besar M. Taher Rahima dan Rajana hadir memeriahkan acara.

Keluarga datang dari berbagai tempat.

Anak-anak berlarian di sekitar panggung.

Para ibu sibuk melayani tamu.

Sementara para tetua duduk mengenang cerita-cerita lama.

Dari kejauhan, suasana itu tampak seperti sebuah pesta keluarga yang penuh kebahagiaan.

Dan memang demikian adanya.

Tetapi jika diperhatikan lebih dalam, ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pesta pernikahan.

Ada rasa syukur karena masih diberi kesempatan berkumpul.

Ada kesadaran bahwa tidak semua anggota keluarga masih dapat hadir.

Ada pemahaman bahwa setiap pertemuan selalu berjalan berdampingan dengan kemungkinan perpisahan.

Mungkin itulah sebabnya saya melihat beberapa anggota keluarga sesekali terdiam.

Mereka tersenyum.

Namun mata mereka tampak menyimpan kenangan.

Karena di setiap keluarga selalu ada orang-orang yang tidak benar-benar pergi.

Mereka tetap hidup melalui cerita yang terus diceritakan.

Melalui nilai-nilai yang diwariskan.

Melalui kebiasaan yang masih dipertahankan.

Melalui doa-doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan.

Pernikahan Andra dan Fitriani pada akhirnya bukan hanya tentang dua insan yang dipersatukan.

Pernikahan itu juga menjadi pengingat tentang perjalanan panjang sebuah keluarga.

Perjalanan yang dipenuhi suka dan duka.

Perjalanan yang menghadirkan kelahiran dan kematian.

Perjalanan yang mempertemukan orang-orang, lalu perlahan memisahkan mereka melalui waktu.

Sebagai kakak, saya tentu berharap Andra dan Fitriani dapat membangun rumah tangga yang bahagia.

Namun lebih dari itu, saya berharap mereka selalu mengingat bahwa kebahagiaan yang mereka rasakan hari ini tidak lahir begitu saja.

Di baliknya ada doa orang tua.

Ada pengorbanan keluarga.

Ada kasih sayang para leluhur.

Dan ada kenangan tentang orang-orang yang telah lebih dahulu pergi.

Karena sesungguhnya, pada hari itu saya merasa pelaminan tidak hanya dihadiri oleh mereka yang tampak oleh mata.

Di pelaminan itu ada cinta seorang ibu yang telah lama tiada.

Ada harapan seorang paman yang tidak sempat menyaksikan akhir perjalanan yang ia bantu mulai.

Ada warisan kakek dan nenek yang masih hidup dalam diri anak-cucu mereka.

Dan ada doa-doa yang terus mengalir dari mereka yang telah pulang kepada Tuhan.

Mereka memang tidak lagi bisa kami peluk.

Tidak lagi bisa kami ajak berbincang.

Tidak lagi bisa kami dudukkan di kursi-kursi kehormatan.

Tetapi pada hari pernikahan Andra, saya percaya mereka tetap hadir dalam cara yang paling sederhana.

Melalui kenangan.

Melalui cinta.

Dan melalui kerinduan yang tidak pernah benar-benar berakhir.

Penulis adalah Jurnalis dan Kakak Kandung Andra

Akad dan Kerinduan yang Lama Tersimpan

SIKKA, Bajopos.com | Langit pagi di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (6/6/2026), tampak cerah. Angin laut berembus pelan menyapu perkampungan Suku Bajo yang berdiri di pesisir utara Pulau Flores.

Dari kejauhan terdengar lantunan doa, ucapan syukur, dan gema akad nikah yang mengiringi bersatunya dua insan dalam satu ikatan suci.

Hari itu menjadi hari yang bersejarah bagi Andra dan Fitriani. Namun lebih dari sekadar perayaan pernikahan, hari tersebut juga menjadi pertemuan antara kerinduan, kenangan, dan harapan yang telah lama tersimpan dalam hati keluarga besar kedua mempelai.

Panggung akad nikah berdiri sederhana namun penuh makna. Di sekelilingnya, keluarga, kerabat, dan masyarakat Suku Bajo berkumpul untuk menyaksikan prosesi yang sakral. Wajah-wajah bahagia terlihat di berbagai sudut. Senyum mengembang, doa dipanjatkan, dan ucapan selamat mengalir tanpa henti.

Tarian adat Panca yang masih lestari di kalangan masyarakat Bajo turut menghidupkan suasana. Gerakan para penari yang berpadu dengan irama musik tradisional seakan menjadi bahasa budaya yang menyampaikan pesan tentang kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan rasa syukur atas pertemuan dua insan yang dipersatukan oleh takdir.

Namun di balik seluruh kegembiraan itu, tersimpan kisah yang membuat banyak mata berkaca-kaca.

Andra merupakan anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Takdir Taher dan almarhumah Munawara. Kakak-kakaknya adalah Neni Yanti dan Faidin, sementara adik bungsunya bernama Nur Sadipa.

Bagi sebagian orang, pernikahan adalah momen ketika kedua orang tua mendampingi anak menuju gerbang kehidupan baru. Namun tidak demikian dengan Andra.

Puluhan tahun telah berlalu sejak Munawara dipanggil Sang Pencipta. Kepergian sang ibu meninggalkan ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi dalam kehidupan anak-anaknya.

Sejak saat itu, banyak momen penting yang tidak sempat disaksikannya. Hari kelulusan, berbagai pencapaian hidup, perjalanan panjang menuju kedewasaan, hingga hari pernikahan yang mungkin pernah dibayangkan bersama anak-anaknya.

Karena itu, ketika Andra duduk di hadapan penghulu untuk mengucapkan ijab kabul, banyak anggota keluarga merasakan haru yang sulit disembunyikan. Di tengah kebahagiaan yang hadir, ada satu sosok yang begitu dirindukan.

Sosok seorang ibu.

Sosok yang seharusnya berada di antara keluarga, menyaksikan anaknya mengucapkan janji suci dan memulai kehidupan baru.

Meski demikian, kehidupan selalu menemukan cara untuk menyembuhkan luka.

Setelah kehilangan sosok ibu kandung, keluarga itu tidak berjalan sendiri. Takdir kemudian dipertemukan dengan Jasna yang hadir menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga.

Jasna tidak pernah menggantikan posisi Munawara. Tidak ada seorang pun yang mampu menggantikan seorang ibu di hati anak-anaknya. Namun, ia hadir untuk melanjutkan kasih sayang, merawat kebersamaan, dan membantu keluarga melewati berbagai fase kehidupan.

Dari pernikahan tersebut lahir seorang putri bernama Ummu Fajriyatul Ullum yang kini menempuh pendidikan di MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale.

Kehadiran Ummu melengkapi keluarga yang telah melalui begitu banyak ujian hidup.

Di balik berbagai keterbatasan dan cobaan yang pernah datang, keluarga itu terus bertahan. Mereka belajar menerima kehilangan tanpa membiarkan kesedihan mengalahkan harapan.

Karena itulah, ketika Andra akhirnya mengucapkan ijab kabul dengan lancar, kebahagiaan yang hadir terasa berbeda.

Bukan sekadar karena seorang pemuda telah menemukan pendamping hidupnya, tetapi juga karena keluarga tersebut kembali menyaksikan satu babak penting yang berhasil dilalui bersama.

Setiap lafaz yang diucapkan terdengar jelas.

Dalam hitungan detik, status seorang pemuda berubah menjadi seorang suami.

Suasana haru bercampur syukur menyelimuti seluruh keluarga yang hadir.

Kebahagiaan itu juga diiringi kenangan terhadap orang-orang tercinta yang telah lebih dahulu berpulang.

Selain Munawara, keluarga mengenang almarhum M. Taher Rahima dan almarhumah Jane yang semasa hidup menjadi bagian penting dalam perjalanan keluarga besar tersebut.

Meski telah tiada, nilai-nilai yang mereka wariskan tetap hidup hingga hari ini. Nilai tentang kerja keras, kebersamaan, penghormatan terhadap tradisi, dan keyakinan bahwa setiap ujian selalu mengandung hikmah.

Nilai-nilai itulah yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hari itu, kenangan terhadap mereka yang telah berpulang terasa semakin dekat.

Panggung akad nikah dan resepsi ternyata berdiri tepat di depan rumah almarhum Al Fatah, paman Andra yang belum lama ini meninggal dunia.

Bagi keluarga besar Taher Rahima, nama Al Fatah bukanlah sosok yang asing. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan keluarga dan selalu hadir dalam berbagai urusan kekeluargaan.

Al Fatah meninggalkan seorang istri, Erni, serta tiga orang anak, yakni Ainun Syakilah, Fadlan, dan Faqih.

Fadlan saat ini sedang menempuh pendidikan agama di pondok pesantren, sementara Faqih masih berada di usia kanak-kanak.

Kepergian Al Fatah masih menyisakan luka yang terasa hangat dalam ingatan keluarga.

Terlebih, dalam perjalanan menuju pernikahan Andra dan Fitriani, almarhum memiliki peran yang cukup penting.

Ia sempat menjadi delegasi keluarga saat penjajakan hubungan hingga proses lamaran kedua mempelai. Ia ikut hadir, berbicara, dan mengantarkan langkah awal yang kemudian membawa Andra dan Fitriani menuju pelaminan.

Karena itu, ketika hari pernikahan akhirnya tiba, banyak anggota keluarga yang kembali mengenang sosoknya.

Dari pelataran panggung, rumah almarhum tampak berdiri tepat di sisi kanan pelaminan.

Pintu rumah itu terbuka.

Bagi sebagian orang mungkin itu hanyalah sebuah rumah yang sedang terbuka seperti biasa. Namun bagi keluarga besar, pemandangan itu menghadirkan perasaan yang berbeda.

Seolah rumah itu ikut menjadi saksi atas kebahagiaan yang sedang berlangsung.

Seolah ada kerinduan yang diam-diam mengintip dari balik pintunya.

Di tengah riuh suara tamu dan lantunan musik pernikahan, keluarga mengenang seseorang yang sempat menjadi bagian dari perjalanan cinta kedua mempelai, namun tidak sempat menyaksikan hari bahagia itu hingga selesai.

Kehadirannya memang tidak lagi terlihat di antara para tamu undangan.

Namun jejak langkah, doa, dan kenangan yang ditinggalkannya tetap terasa hidup.

Di sisi lain panggung, Fitriani tampak mendampingi keluarga besarnya dengan penuh kebahagiaan.

Perempuan yang kini resmi menjadi istri Andra itu merupakan anak pertama dari pasangan Junading dan Maya.

Ia memiliki seorang adik bernama Rait yang saat ini menempuh pendidikan di MTs Muhammadiyah Al Fatah Nangahale.

Bagi keluarga Junading dan Maya, hari itu juga menjadi momen yang penuh makna.

Mereka tidak hanya melepas putri pertama menuju kehidupan baru, tetapi juga menyaksikan terbentuknya sebuah keluarga yang diharapkan menjadi sumber keberkahan di masa depan.

Ketika prosesi adat berlangsung, suasana kembali hidup.

Tarian Panca yang ditampilkan masyarakat Bajo menjadi simbol penghormatan terhadap budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Dentingan musik tradisional dan gerakan para penari menghadirkan warna tersendiri dalam pesta pernikahan tersebut.

Tradisi dan agama berjalan berdampingan.

Akad nikah menjadi pengikat yang sah secara syariat, sementara adat menjadi cara masyarakat mengekspresikan rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur.

Bagi masyarakat Bajo di Nangahale, pernikahan bukan hanya urusan dua orang.

Pernikahan adalah pertemuan dua keluarga, penyatuan doa, serta momentum memperkuat ikatan sosial dalam komunitas.

Karena itu, kehadiran warga yang ikut membantu sejak persiapan hingga pelaksanaan acara menjadi pemandangan yang lumrah.

Mereka datang bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar yang turut merasakan kebahagiaan kedua mempelai.

Menjelang malam, suasana resepsi semakin semarak.

Para cucu dan cece dari keluarga besar almarhum M. Taher Rahima dan Rajana turut hadir memeriahkan acara.

Kehadiran mereka melengkapi kebersamaan keluarga besar yang datang dari berbagai generasi untuk menyaksikan hari bahagia kedua mempelai.

Pelataran pentas tampak sesak dipenuhi keluarga, kerabat, dan tamu undangan yang datang silih berganti.

Namun padatnya suasana justru menghadirkan kehangatan tersendiri.

Gelak tawa, percakapan hangat, dan kebersamaan yang terjalin sepanjang malam menjadi gambaran eratnya hubungan kekeluargaan yang terus terjaga.

Anak-anak berlarian di sekitar lokasi acara.

Para ibu sibuk menyiapkan hidangan.

Sementara para tetua duduk berbincang mengenang perjalanan hidup yang telah mereka lalui bersama.

Di tengah keramaian itu terselip rasa syukur yang mendalam karena keluarga besar masih diberi kesempatan berkumpul dalam satu kebahagiaan.

Bagi keluarga besar kedua mempelai, resepsi malam itu bukan sekadar pesta pernikahan.

Momen tersebut menjadi ruang untuk mengenang mereka yang telah lebih dahulu berpulang, sekaligus merayakan hadirnya generasi baru dalam perjalanan keluarga.

Kisah Andra dan keluarganya mengajarkan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan manusia.

Ada kehilangan yang datang tanpa diminta.

Ada air mata yang harus jatuh sebelum kebahagiaan tiba.

Ada kerinduan yang mungkin tidak pernah benar-benar terobati.

Namun pada saat yang sama, Tuhan selalu menghadirkan jalan bagi harapan untuk tumbuh kembali.

Hari pernikahan Andra menjadi bukti bahwa setelah masa-masa sulit, kehidupan tetap menyediakan ruang untuk tersenyum.

Bahwa anak yang pernah tumbuh dengan kehilangan akhirnya dapat berdiri tegak membangun keluarganya sendiri.

Bahwa doa-doa yang dipanjatkan selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar hilang.

Dan bahwa orang-orang yang telah pergi tetap hidup dalam kenangan, dalam nilai-nilai yang diwariskan, serta dalam setiap langkah baik yang diteruskan oleh generasi setelahnya.

Di bawah langit Nangahale yang cerah, Andra dan Fitriani memulai lembaran baru sebagai suami dan istri.

Perjalanan yang tentu tidak selalu mudah, tetapi akan lebih ringan karena dijalani bersama.

Sementara bagi keluarga besar kedua mempelai, hari itu akan selalu dikenang sebagai hari ketika kerinduan, doa, kehilangan, dan kebahagiaan bertemu dalam satu panggung sederhana.

Panggung yang menjadi saksi bahwa cinta dan keluarga mampu melampaui jarak waktu.

Bahkan jarak antara dunia dan mereka yang telah lebih dahulu pulang kepada Sang Pencipta.

Reporter : Faidin

RUMAH ZAKAT Kembali Salurkan 116 Karung Beras Fidyah di Desa Nangahale, Warga Terharu dan Bersyukur

SIKKA, Bajopos.com | Rintik hujan mengguyur Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, tak menyurutkan semangat warga untuk menerima paket bantuan fidyah dari lembaga “Rumah Zakat”.

Pada, Sabtu, 16/5/2026, sebanyak 116 karung paket beras disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan dalam kegiatan sosial yang berlangsung penuh haru dan rasa syukur.

Awalnya, penyaluran bantuan direncanakan berlangsung di Masjid Baitushodiq Nangahale, Blok E, Dusun Nangahale. Namun karena cuaca yang tidak bersahabat, kegiatan kemudian dipindahkan ke rumah salah satu warga agar proses distribusi tetap berjalan lancar.

Meski diguyur hujan, warga tampak tertib mengantre sambil menunggu nama mereka dipanggil satu per satu untuk menerima bantuan secara langsung.

Raut bahagia terlihat jelas di wajah para penerima manfaat yang merasa terbantu dengan hadirnya paket beras fidyah tersebut.

Salah seorang penerima bantuan, Ardie, mengaku sangat bersyukur atas perhatian yang diberikan oleh Rumah Zakat kepada masyarakat kecil di Nangahale.

“Terima kasih kepada Rumah Zakat atas pemberian paket beras untuk kami. Sangat berharga sekali. Semoga Allah memberikan limpahan rezeki serta kesehatan selalu untuk para donatur,” ujarnya dalam Bahasa Bajo yang kemudian diterjemahkan.

Melalui program penyaluran fidyah ini, Rumah Zakat menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan sekaligus menjadi penghubung kebaikan antara para donatur dan penerima manfaat.

Diketahui, Rumah Zakat merupakan Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) yang bergerak dalam pengelolaan dan penyaluran dana zakat, infak, sedekah, serta dana kemanusiaan lainnya.

Lembaga ini menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui empat pilar utama, yakni pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan atau kemanusiaan.

Program pendidikan diwujudkan melalui bantuan beasiswa dan fasilitas belajar, sedangkan sektor ekonomi difokuskan pada bantuan modal usaha dan pelatihan kewirausahaan.

Di bidang kesehatan, Rumah Zakat menghadirkan layanan pemeriksaan gratis, klinik, hingga program perbaikan gizi.

Sementara pada sektor lingkungan dan kemanusiaan, lembaga ini aktif dalam aksi tanggap bencana, pelestarian lingkungan, serta program Desa Berdaya.

Rumah Zakat melalui Person in Charge (PIC) Rumah Zakat, Arifin Latif membagikan paket bantuan. Warga tampak antri. (Doc. Bajopos.com/Faidin).

Person in Charge (PIC) Rumah Zakat, Arifin Latif, mengaku bangga melihat antusiasme masyarakat Desa Nangahale dalam kegiatan penyaluran fidyah tersebut.

“Saya selaku PIC Rumah Zakat merasa bangga dan terharu atas partisipasi penerima manfaat fidyah di Desa Nangahale yang begitu luar biasa antusiasnya atas bantuan ini,” katanya.

Ia menegaskan bahwa dirinya bersama tim akan terus mengabdikan diri demi kemaslahatan umat, termasuk masyarakat Desa Nangahale.

“Harapan kami, semoga para donatur Rumah Zakat juga dapat membantu mendorong pembangunan Masjid Baitushodiq Nangahale dan semoga Allah membalas segala kebaikan para donatur,” lanjutnya.

Ketua Panitia Pembangunan Masjid Baitushodiq Nangahale, Zul Halim, turut menyampaikan apresiasi kepada para donatur Rumah Zakat atas kepedulian mereka terhadap masyarakat di wilayah tersebut.

Ia menyebut, bantuan kali ini merupakan kali kedua yang diberikan Rumah Zakat di Desa Nangahale. Sebelumnya, pada 23 April 2026 lalu, lembaga tersebut juga menyalurkan 38 pasang sepatu untuk anak-anak pelosok negeri di Blok D Desa Nangahale.

“Sekarang Rumah Zakat kembali hadir dengan bantuan paket beras fidyah sebanyak 116 karung. Ini tentu sangat membantu masyarakat kami,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Jumaldi Dakir, mengaku terharu atas kepedulian yang terus diberikan kepada warga.

“Kami merasa bersyukur dengan bantuan ini. Semoga kebaikan ini tidak berhenti sampai di sini dan semoga tim Rumah Zakat tidak putus asa dalam membantu masyarakat,” katanya.

Ia juga menyatakan komitmennya untuk mendukung berbagai program sosial Rumah Zakat di Desa Nangahale.

“Saya selaku tokoh masyarakat akan mendukung program dari Rumah Zakat di desa kami, yaitu Desa Nangahale,” tandasnya.

Reporter : Faidin

Pembangunan Masjid Baitusshodiq Nangahale Jadi Simbol Gotong Royong Umat

SIKKA, BAJOPOS.COM – Semangat gotong royong dan nilai-nilai keagamaan terus hidup di tengah masyarakat Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Hal itu tercermin dari perjuangan panjang panitia dan umat dalam menyelesaikan pembangunan Masjid Baitusshodiq yang telah berlangsung lebih dari delapan tahun.

Di tengah keterbatasan, panitia tak berhenti bergerak. Mereka menyambangi rumah-rumah warga, melintasi blok-bkok, lorong, kampung, hingga desa-desa sekitar untuk mengajak partisipasi umat.

Upaya ini menjadi cerminan kuatnya budaya solidaritas dan kepedulian sosial yang menjadi bagian dari jati diri bangsa.

Renovasi masjid dilakukan karena bangunan sebelumnya tidak lagi mampu menampung jumlah jemaah yang terus meningkat, terutama pada momentum hari-hari besar keagamaan.

Kehadiran masjid yang lebih representatif dinilai penting, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan moral dan persatuan umat.

Namun, perjalanan pembangunan tidaklah mudah. Keterbatasan anggaran membuat proses pengerjaan berjalan bertahap dan hingga kini masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Panitia pun mengajak umat di seluruh penjuru negeri untuk turut ambil bagian. Selain sebagai wujud kepedulian sosial, kontribusi dalam pembangunan rumah ibadah juga diyakini sebagai investasi spiritual yang bernilai jangka panjang.

“Amal jariyah seperti pembangunan masjid adalah warisan kebaikan yang tidak terputus. Pahalanya terus mengalir, menjadi cahaya bagi pemberinya, bahkan setelah kehidupan di dunia berakhir,” demikian pesan yang disampaikan panitia.

Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih, para jemaah Masjid Baitusshodiq secara konsisten memanjatkan doa bagi para donatur.

Setiap hari Jumat, doa-doa khusus dipersembahkan, tidak hanya bagi para penyumbang, tetapi juga bagi keluarga mereka yang telah berpulang.

Harapan dipanjatkan agar setiap amal yang diberikan menjadi penolong di akhirat, serta menghadirkan ketenangan dan keberkahan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Nilai ini memperkuat makna bahwa pembangunan masjid bukan sekadar proyek fisik, melainkan juga ikhtiar bersama dalam merajut hubungan spiritual lintas generasi.

Masjid Baitusshodiq Nangahale. (Doc. Panitia)

Masjid Baitusshodiq berlokasi di Jalan Nasional Maumere–Larantuka, Blok E No.14, RT/RW 007/002, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT 86183.

Untuk informasi dan konfirmasi bantuan, masyarakat dapat menghubungi Sunardin, SH, selaku Ketua Bidang Usaha Dana di nomor 0822 1304 5359.

Pembangunan ini diharapkan menjadi bukti bahwa nilai religiusitas dan semangat persatuan tetap menjadi fondasi kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi generasi yang akan datang.

Reporter : Faidin

Delapan Tahun “Telanjang”, Masjid Baitusshodiq Nangahale Menanti Kepedulian Umat

Oleh : Faidin

Ada yang tak pernah berhenti di Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur di wilayah timur Negeri ini, meski waktu telah berjalan delapan tahun lamanya: Adzan yang terus berkumandang dari Masjid Baitusshodiq.

Di balik suara panggilan suci itu, ada kenyataan yang tak bisa ditutup-tutupi. Masjid ini masih berdiri dalam keadaan “telanjang”.

Sebutan yang mungkin terasa keras, tetapi itulah realitas yang ada—bangunan yang belum rampung, fasilitas yang jauh dari layak, dan kondisi fisik yang belum mencerminkan kemuliaan sebuah rumah ibadah.

Namun, di sanalah umat tetap bersujud.

Di lantai yang mungkin belum sepenuhnya nyaman, di bawah atap yang belum sepenuhnya melindungi, di ruang yang sederhana, warga tetap datang. Mereka tidak menunggu masjid itu sempurna untuk beribadah.

Mereka datang dengan kesederhanaan, dengan iman, dengan keyakinan bahwa rumah Allah tetaplah rumah Allah, dalam kondisi apa pun.

Tetapi, apakah kita akan membiarkan kondisi ini terus berlangsung?

Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Dalam kurun waktu itu, generasi anak-anak telah tumbuh, remaja menjadi dewasa, dan banyak perubahan terjadi di berbagai tempat.

Masjid-masjid lain berdiri megah, direnovasi, bahkan dilengkapi fasilitas modern. Sementara itu, Masjid Baitusshodiq masih bertahan dalam kondisi yang sama—menunggu.

Menunggu siapa?

Menunggu kita.

Ini bukan sekadar persoalan pembangunan fisik. Ini adalah cermin dari sejauh mana kepedulian kita sebagai umat. Apakah kita benar-benar merasakan bahwa masjid adalah tanggung jawab bersama? Ataukah kita tanpa sadar membiarkannya menjadi beban segelintir orang saja?

Fakta di lapangan menunjukkan, masyarakat setempat bukan tidak berbuat. Mereka sudah berusaha. Mereka sudah memberi, sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Namun, keterbatasan ekonomi membuat langkah mereka tidak bisa melaju sejauh yang diharapkan.

Mereka tidak berhenti. Tetapi mereka juga tidak bisa berjalan sendiri.

Di titik inilah, suara hati kita diuji.

Kita hidup di zaman di mana berbagi menjadi sangat mudah. Dalam hitungan detik, bantuan bisa dikirim ke berbagai penjuru negeri.

Kita sering tergerak oleh berbagai peristiwa besar—bencana alam, krisis kemanusiaan, atau isu-isu nasional. Kita menunjukkan empati, kita berdonasi, kita peduli.

Namun terkadang, yang dekat justru luput dari perhatian.

Masjid Baitusshodiq Nangahale bukan cerita jauh. Ia nyata. Ia ada. Ia berdiri, menunggu sentuhan tangan-tangan yang peduli.

Bayangkan seorang anak kecil yang belajar mengaji di dalam masjid itu. Duduk di lantai yang sederhana, dengan fasilitas seadanya, tetapi dengan semangat yang besar.

Bayangkan seorang orang tua yang tetap datang untuk shalat berjamaah, meski kondisi bangunan belum layak. Bayangkan doa-doa yang dipanjatkan di dalamnya—doa tentang rezeki, tentang kesehatan, tentang masa depan.

Semua itu terjadi di dalam sebuah masjid yang belum selesai dibangun.

Lalu, di mana kita?

Sering kali kita berpikir bahwa kontribusi harus besar agar berarti. Kita menunggu memiliki lebih banyak untuk bisa memberi. Padahal, sejarah umat ini justru dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan bersama-sama.

Satu orang memberi sedikit. Yang lain ikut menambahkan. Lalu bertambah lagi. Hingga akhirnya, yang kecil itu menjadi besar.

Masjid Baitusshodiq tidak membutuhkan keajaiban. Ia membutuhkan kebersamaan.

Ia membutuhkan kita untuk berhenti sejenak, melihat, dan bertanya pada diri sendiri: apakah kita ingin menjadi bagian dari perubahan ini?

Keutamaan membangun masjid bukanlah hal baru. Ia sering kita dengar, sering kita baca. Namun mungkin, kita jarang dihadapkan pada kesempatan yang begitu nyata di depan mata kita sendiri.

Ini bukan tentang membangun dari nol. Ini tentang melanjutkan yang sudah ada. Ini tentang menyempurnakan apa yang sudah dimulai oleh saudara-saudara kita di Nangahale.

Delapan tahun penantian adalah waktu yang panjang. Terlalu panjang jika harus terus dibiarkan. Setiap hari yang berlalu tanpa perubahan adalah kesempatan yang hilang—kesempatan untuk berbuat, untuk berbagi, untuk menanam amal jariyah.

Kita tidak pernah tahu amal mana yang akan menyelamatkan kita. Bisa jadi bukan yang besar, tetapi yang ikhlas. Bisa jadi bukan yang terlihat, tetapi yang terus mengalir.

Dan membantu menyelesaikan sebuah masjid—tempat di mana ibadah akan terus berlangsung—adalah salah satu bentuk amal yang tidak pernah terputus.

Opini ini bukan untuk menyalahkan. Ini adalah panggilan. Panggilan yang lahir dari kenyataan yang ada, dari fakta yang tidak bisa diabaikan, dan dari harapan yang masih menyala.

Harapan bahwa umat ini masih peduli.
Harapan bahwa masih ada tangan-tangan yang tergerak.

Harapan bahwa Masjid Baitusshodiq tidak akan terus “telanjang” di tahun-tahun yang akan datang.

Kita tidak harus menunggu orang lain memulai. Kita bisa menjadi bagian dari awal itu.

Mungkin bukan kita yang menyelesaikan semuanya. Tetapi setidaknya, kita menjadi bagian dari perjalanan itu.

Bagi para dermawan, pembaca yang budiman, dan siapa saja yang hatinya tergerak untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan Masjid Baitusshodiq Nangahale, uluran tangan Anda sangat berarti.

Kontribusi dapat disalurkan dengan menghubungi Ketua Panitia Pembangunan: Sunardin, SH.

Tidak ada bantuan yang terlalu kecil. Tidak ada niat baik yang sia-sia.

Karena pada akhirnya, ketika masjid itu berdiri kokoh nanti—ketika lantainya telah rapi, atapnya telah sempurna, dan jamaahnya semakin banyak—akan ada bagian kecil dari kita di dalamnya.

Dalam setiap sujud.
Dalam setiap doa.
Dalam setiap ayat yang dilantunkan.

Delapan tahun sudah cukup menjadi cerita. Kini saatnya kita menulis akhir yang berbeda.

Bukan lagi tentang masjid yang “telanjang”.
Tetapi tentang umat yang bangkit, bersatu, dan saling menguatkan.

Penulis adalah Wartawan media BAJOPOS.COM

Tangis Para Janda yang Tumpah: Andaikan Suamiku Masih Hidup

SIKKA, BAJOPOS.COM – Idul Fitri seharusnya menjadi hari paling membahagiakan. Hari ketika pelukan menjadi lebih hangat, tawa terdengar lebih lepas, dan rumah-rumah dipenuhi rasa syukur.

Namun, Sabtu pagi (21/3/2026) di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, kebahagiaan itu berubah menjadi lautan haru.

Tangis tak lagi bisa ditahan, terutama ketika khutbah Idul Fitri yang disampaikan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. menyentuh satu luka yang paling dalam: kehilangan.

“Wahai para janda… andaikan suamimu masih hidup…”

Kalimat itu terdengar pelan, tetapi menghantam keras. Seolah membuka pintu kenangan yang selama ini berusaha ditutup.

Di antara ribuan jamaah, ada perempuan-perempuan yang berdiri tegar. Wajah mereka rapi, pakaian mereka indah. Namun di balik itu, ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh siapa pun.

Hari raya yang dulu mereka sambut bersama pasangan, kini harus dijalani sendiri.

Tak ada lagi sosok yang membangunkan sahur. Tak ada lagi tangan yang menggenggam saat berangkat salat. Tak ada lagi suara yang menyapa di pagi hari raya.

Yang tersisa hanyalah kenangan—dan penyesalan yang datang terlambat.

Dalam khutbahnya, Alifuddin menggambarkan perasaan yang mungkin tak pernah terucap oleh banyak janda.

“Jika suamiku masih ada, aku akan bahagia bersama anak-anakku…”

Kalimat yang tampak sederhana, tetapi menyayat dalam. Karena di baliknya, ada rindu yang tidak akan pernah terjawab. Ada harapan yang tidak mungkin terulang.

Hari itu, banyak yang tak kuasa menahan air mata.

Beberapa jamaah menutup wajah dengan kedua tangan. Ada yang menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar. Tangis tidak lagi disembunyikan.

Bukan hanya para janda yang menangis. Mereka yang masih memiliki pasangan pun ikut larut. Karena di saat yang sama, muncul kesadaran yang menyesakkan: Bahwa suatu hari, kehilangan itu bisa datang kepada siapa saja.

Khutbah itu tidak hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga penyesalan.

Penyesalan bagi mereka yang mungkin selama ini masih memiliki pasangan, tetapi belum sepenuhnya menghargai kebersamaan.

Penyesalan bagi mereka yang pernah menyakiti, mengabaikan, atau menunda kasih sayang—hingga waktu tak lagi memberi kesempatan.

“Kenapa aku tidak lebih baik dulu…?”

Pertanyaan itu seolah bergema di dalam hati banyak orang.

Namun semua itu datang ketika waktu tidak bisa diputar kembali.

Idul Fitri yang seharusnya menjadi momen berkumpul, justru menjadi saat paling sunyi bagi sebagian orang. Di rumah-rumah, ada kursi yang kosong. Ada tempat tidur yang tak lagi terisi. Ada suara yang tak lagi terdengar.

Dan di dalam hati, ada rindu yang terus hidup. Rindu yang tidak bisa dipeluk. Rindu yang hanya bisa dipanjatkan lewat doa. Tangis yang mengguyur pagi itu bukan sekadar emosi sesaat.

Ia adalah cermin kehidupan. Bahwa kehilangan bukan cerita orang lain—melainkan sesuatu yang pasti akan datang. Bahwa setiap kebersamaan memiliki batas waktu.

Dan bahwa yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan itu sendiri, tetapi penyesalan yang datang setelahnya.

Di Lapangan Marannu pagi itu, Idul Fitri tidak hanya menghadirkan kebahagiaan.

Ia menghadirkan kesadaran yang dalam—untuk lebih menghargai yang masih ada,
untuk lebih mencintai sebelum terlambat,
dan untuk tidak menunggu kehilangan baru menyadari arti kebersamaan.

Sebab bagi mereka yang telah kehilangan, satu kalimat akan terus hidup dalam hati:

“Andaikan suamiku masih hidup…”

Dan kalimat itu, hari itu, benar-benar mengguyur air mata.

Reporter : Faidin

Personel Polsek Waigete dan Koramil Talibura Amankan Sholat Idul Fitri di Lapangan Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, berlangsung aman dan kondusif pada Sabtu, 21 Maret 2026 pagi.

Sejak pagi hari, ribuan jamaah dari berbagai kemasjidan di wilayah Kecamatan Talibura memadati lokasi untuk menunaikan ibadah Sholat Idul Fitri secara berjamaah. Kehadiran umat Muslim dari berbagai desa tersebut mencerminkan tingginya semangat kebersamaan dalam merayakan hari kemenangan.

Dalam pelaksanaannya, pengamanan dilakukan secara maksimal oleh personel dari Polsek Waigete dan Koramil Talibura yang tampak antusias menjalankan tugas di lapangan.

Kapolsek Waigete, Iptu I Wayan Artawan, S.H turut hadir dan memimpin langsung pengamanan guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa gangguan.

Kehadiran aparat keamanan memberikan rasa aman dan nyaman bagi para jamaah yang mengikuti ibadah.

Petugas gabungan terlihat melakukan pengaturan arus lalu lintas, penataan parkir kendaraan, serta pengawasan di sekitar lokasi guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan. Koordinasi antara aparat kepolisian dan TNI berjalan baik sehingga situasi tetap terkendali.

Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Baitusshodiq Nangahale, Damsik Raja Ado Pehan, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aparat keamanan yang telah mendukung kelancaran kegiatan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak Polsek Waigete dan Koramil Talibura yang telah membantu melakukan pengamanan sehingga pelaksanaan Sholat Idul Fitri dapat berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif. Kehadiran ribuan jamaah hari ini juga menunjukkan kuatnya kebersamaan umat di wilayah Talibura,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini tidak terlepas dari kerja sama semua pihak, baik panitia, aparat keamanan, maupun masyarakat.

“Semoga momentum Idul Fitri ini semakin mempererat tali silaturahmi dan persatuan di tengah masyarakat,” tambahnya.

Dengan sinergi antara aparat keamanan, panitia, dan masyarakat, pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Nangahale tahun ini berjalan dengan tertib, aman, dan penuh kekhusyukan.

Reporter : Faidin

Tangis Pecah di Lapangan Marannu, Ketika Khutbah Idul Fitri Menggugah Luka, Rindu, dan Penyesalan

SIKKA, BAJOPOS.COM – Pagi itu, Sabtu, 21 Maret 2026, langit di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, tampak cerah. Hamparan Lapangan Marannu dipenuhi umat Muslim yang datang dengan pakaian terbaik mereka. Senyum, pelukan, dan ucapan maaf bersahutan, menandai hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.

Namun, suasana haru perlahan menyelimuti ketika khutbah Idul Fitri dimulai.

Di atas mimbar sederhana, KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. berdiri dengan suara lantang. Tak sekadar menyampaikan khutbah, ia seperti sedang membuka satu per satu lembaran hati para jamaah. Kalimat demi kalimat yang keluar dari lisannya menggema, bukan hanya di lapangan, tetapi jauh menembus relung jiwa.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilham…”

Takbir yang dilantunkan berulang itu awalnya terdengar seperti biasa. Namun perlahan berubah menjadi getaran yang mengoyak perasaan. Beberapa jamaah mulai menunduk. Ada yang mengusap mata. Tangis pertama pecah—pelan, lalu menular.

Khutbah itu tidak hanya bicara tentang kemenangan. Ia justru mengingatkan tentang kehilangan.

Tentang waktu yang mungkin tak akan kembali.

Tentang Ramadan yang telah pergi—dan belum tentu bisa ditemui lagi.

“Tidak ada jaminan kita akan bertemu Ramadan tahun depan,” ucap sang khatib dengan suara bergetar. Kalimat itu seperti menghantam kesadaran banyak orang. Di antara ribuan jamaah, mungkin ada yang diam-diam bertanya dalam hati: ini Ramadan terakhirku atau bukan?

Suasana semakin sunyi. Angin pagi seolah ikut berhenti.

Dalam khutbahnya, Alifuddin mengajak jamaah menoleh ke belakang—bukan secara fisik, tetapi batin. Ia menggambarkan sebuah kenyataan yang tak bisa dihindari: kematian.

“Di belakang sana adalah rumah kita yang sebenarnya,” katanya.

Sebagian jamaah tak kuasa menahan air mata. Bayangan tentang kubur, tentang orang tua yang telah tiada, tentang keluarga yang sudah lebih dulu pergi, hadir tanpa diundang.

Ia lalu bertanya, seakan langsung kepada setiap hati:

“Di mana ibumu hari ini?”

Kalimat sederhana itu justru paling menyayat.

Bagi mereka yang masih memiliki ibu, pertanyaan itu menjadi pengingat yang menyesakkan. Bagi yang telah kehilangan, luka lama kembali terbuka. Isak tangis pun terdengar lebih jelas di beberapa sudut lapangan.

“Ibu yang mengandung kita sembilan bulan, yang mempertaruhkan nyawa… di mana dia sekarang?” lanjutnya.

Tak sedikit jamaah yang menunduk lebih dalam. Ada yang memejamkan mata. Ada pula yang tak lagi mampu menyembunyikan tangisnya.

Khutbah itu juga menghadirkan kisah menyentuh tentang seorang anak kecil di hari raya—seorang gadis yatim yang menangis di bawah pohon, sementara orang lain bergembira.

“Ayahku telah tiada… ibuku menikah lagi… aku diusir dari rumah,” kisah itu dilantunkan dengan suara lirih.

Cerita itu seperti cermin. Di tengah gemuruh takbir dan kebahagiaan, ternyata masih ada luka-luka yang tersembunyi. Ada anak-anak yang merayakan Idul Fitri tanpa pelukan ayah. Tanpa kasih ibu.

Beberapa jamaah terlihat menutup wajah mereka. Tangis tak lagi bisa dibendung.

Tak berhenti di situ, khutbah juga menyinggung kehidupan yang sering kali terasa penuh, namun sebenarnya kosong dari keberkahan.

“Kerja siang malam, tapi Allah cabut keberkahannya,” ucapnya tegas.

Hening kembali menyelimuti.

Kalimat itu seperti menampar realitas banyak orang—tentang rezeki yang terasa sempit, rumah tangga yang gelisah, hidup yang kehilangan arah. Bukan karena kurang usaha, tetapi karena ada yang hilang: kedekatan dengan Allah.

“Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu.”

Pesan itu sederhana, tetapi terasa berat bagi yang menyadari betapa seringnya lalai.

Di penghujung khutbah, suara sang khatib melemah. Ia tak lagi hanya berbicara—ia berdoa. Doa panjang yang dipanjatkan dengan penuh harap.

“Ya Allah, jika nama kami ada dalam daftar penghuni neraka, hapuskanlah…”

Doa itu menggema. Di bawah terik matahari pagi, ribuan tangan terangkat. Bibir bergetar. Air mata mengalir tanpa suara.

Ia menyebut satu per satu: ibu, ayah, istri, suami, anak-anak, sahabat—semua dimohonkan ampunan. Bahkan mereka yang telah berada di alam kubur.

“Ya Allah, di belakang kami ada kubur ibu kami… ampuni mereka…”

Kalimat itu membuat tangis pecah lebih keras. Tak sedikit jamaah yang tersedu, mengingat orang-orang tercinta yang telah pergi dan tak akan pernah kembali.

Hari itu, Idul Fitri di Lapangan Marannu bukan hanya tentang kemenangan. Ia menjadi ruang perenungan yang dalam—tentang hidup yang sementara, tentang kematian yang pasti, dan tentang cinta yang sering terlambat disadari.

Ketika khutbah berakhir, jamaah tak langsung beranjak. Beberapa masih duduk, menenangkan diri. Sebagian saling berpelukan lebih lama dari biasanya.

Seolah mereka sadar, waktu bersama orang-orang tercinta tidak akan selamanya ada.

Di tengah gema takbir yang perlahan mereda, satu pesan tertinggal kuat di hati:

Bahwa Idul Fitri bukan sekadar kembali suci.

Tetapi juga tentang kembali—sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Reporter : Faidin

KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi Besok Khutbah Idul Fitri di Lapangan Marannu Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Umat Muslim di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, akan melaksanakan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Sabtu, 21 Maret 2026 pagi di Lapangan Marannu.

Menjelang pelaksanaan hari raya tersebut, penceramah kondang KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc dijadwalkan akan mengisi khutbah Idul Fitri dan kehadirannya menjadi perhatian besar masyarakat. Hingga kini, umat Muslim di wilayah sekitar, termasuk panitia penyelenggara, tengah antusias menunggu kedatangan pengkhotbah tersebut yang berdasarkan informasi yang diterima media ini masih dalam perjalanan menuju Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Kehadiran ulama tersebut diperkirakan akan menjadi magnet tersendiri yang menarik ribuan jamaah dari berbagai wilayah di Kecamatan Talibura dan sekitarnya untuk memadati Lapangan Marannu.

Khutbah Idul Fitri nantinya akan disampaikan langsung oleh KH. Alifuddin Al-Ayyubi yang dikenal luas sebagai ulama dengan gaya dakwah yang sejuk, namun dilantunkan dengan suara khas yang tegas sehingga mampu menghidupkan suasana di tengah jamaah. Karakter penyampaian tersebut dinilai mampu menyentuh hati sekaligus membangkitkan semangat spiritual umat dalam merayakan hari kemenangan.

Pelaksanaan sholat dijadwalkan dimulai pukul 07.00 WITA hingga selesai. Panitia telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari penataan lokasi lapangan, pengaturan saf jamaah, hingga koordinasi dengan aparat keamanan guna memastikan kegiatan berjalan tertib dan lancar.

Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Baitusshodiq Nangahale, Damsik Raja Ado Pehan, menyampaikan bahwa kehadiran ulama kondang tersebut merupakan bentuk keseriusan panitia dalam memberikan pelayanan terbaik bagi umat Muslim di Nangahale.

“Kami merasa bersyukur karena tahun ini masyarakat Nangahale dapat melaksanakan Sholat Idul Fitri bersama ulama yang memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman dakwah yang luas. Ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kebersamaan umat,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk memanfaatkan momen Idul Fitri sebagai sarana mempererat tali silaturahmi dan memperkuat persatuan di tengah kehidupan sosial.

“Kami mengimbau jamaah untuk datang lebih awal, menjaga ketertiban, serta bersama-sama menciptakan suasana ibadah yang khusyuk dan penuh kekhidmatan,” tambahnya.

Momentum Idul Fitri ini tidak hanya menjadi penanda berakhirnya ibadah puasa Ramadhan, tetapi juga sebagai titik awal untuk membangun kehidupan yang lebih baik, baik secara spiritual maupun sosial di tengah masyarakat.

Dengan kehadiran KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi dan dukungan penuh dari masyarakat, pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Lapangan Marannu Nangahale diharapkan berlangsung aman, lancar, dan memberikan kesan mendalam bagi seluruh jamaah yang hadir.

Reporter : Faidin

Pembunuhan Siswa SMP di Rubit, SG Diduga Kabur di Bonceng Warga Nangahale, Terlihat di Terminal Lokaria

SIKKA, Bajopos.com – Informasi mengenai pelarian SG, terduga pelaku pembunuhan siswa SMP di Desa Rubit, kian mengerucut. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku melihat SG berada di kawasan Terminal Lokaria, Kecamatan Kangae, pada Jumat (27/2/2026) sekitar pukul 16.00 WITA.

Menurut keterangan warga tersebut, SG terlihat dalam kondisi fisik lemah. Ia berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat, mengenakan celana pendek hitam dan kaos cokelat. Kehadirannya di area terminal sempat memicu kepanikan sejumlah tukang ojek dan sopir angkutan yang tengah mangkal.

“Tadi sore jam 4.00 dia sempat tanya ojek dulu baru. Kami lihat dia, kami lari karena takut,” ungkap salah satu warga yang berada di lokasi.

Warga itu memastikan bahwa orang yang mereka lihat benar adalah SG. “Kami di sana lihat dan kami pastikan itu SG. Ojek dan sopir-sopir juga tahu karena kami satu kampung. Makanya kami lari dan takut, kok ini orang bisa kabur,” tambahnya.

Dari informasi yang dihimpun, SG kemudian berhasil menghentikan seorang tukang ojek dan meminta diantar ke wilayah Nebe. Tukang ojek tak mengetahui bahwa penumpang (SG) terduga pelaku yang tengah menjadi sorotan, tukang ojek tersebut langsung memboncengnya meninggalkan Terminal Lokaria.

Belakangan diketahui, pengemudi ojek yang membonceng SG disebut-sebut merupakan warga Nangahale. Informasi ini dengan cepat menyebar dan sampai ke telinga keluarga korban di Desa Rubit yang saat itu tengah melaksanakan ibadah malam terakhir untuk almarhum STN.

Kabar tersebut sontak memicu emosi keluarga dan warga. Situasi di kampung menjadi mencekam setelah informasi pelarian itu beredar luas.

“Keluarga marah besar. Di kampung tadi sementara sembahyang malam terakhir, lalu dengar kabar dia (SG) sudah heboh di luar. Akhirnya perwakilan keluarga dan dua orang pelapor kasus langsung bergerak ke Polres malam ini untuk minta penjelasan,” ujar sumber yang sama.

Keluarga korban kemudian mendatangi Mapolres Sikka menggunakan satu mobil dan beberapa sepeda motor pada Jumat malam. Mereka mendesak aparat kepolisian untuk segera bergerak ke arah Nebe, yang diduga menjadi tujuan SG bersama tukang ojek yang memboncengnya.

Selain itu, keluarga juga meminta polisi memeriksa rekaman CCTV di sekitar Terminal Lokaria, termasuk di perusahaan yang berada di samping area terminal, guna memastikan arah pelarian.

“Yang bonceng itu orang Nangahale, warga di sana kenal semua. Polisi harus profesional, jangan sampai saksi kunci ini hilang jejak,” tegas salah satu perwakilan warga.

Hingga berita ini diturunkan, Kapolres Sikka melalui Kasi Humas belum memberikan keterangan resmi terkait kabar pelarian tersebut. Pihak kepolisian justru merilis penetapan tersangka dalam kasus kematian STN, sementara desakan publik agar aparat segera menangkap kembali SG terus menguat.(Faidin)