Kam. Sep 24th, 2026

mutu pendidikan

SMAK St. Yosef Tana Ai Didorong Jadi Pusat Pendidikan Katolik Berkualitas

SIKKA, Bajopos.com – Kehadiran gedung baru di SMAK St. Yosef Tana Ai bukan sekadar penambahan ruang belajar. Lebih dari itu, pembangunan tersebut menjadi simbol dorongan serius pemerintah untuk memastikan pendidikan keagamaan di daerah terus bertumbuh dan relevan dengan tantangan zaman.

Momentum ini mengemuka dalam kunjungan Direktur Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI, Albertus Triyatmojo, Selasa (24/2/2026). Ia meninjau langsung gedung yang telah rampung dibangun sekaligus berdialog dengan seluruh unsur sekolah.

Dalam perspektif penguatan mutu, keberadaan fasilitas baru dipandang sebagai fondasi awal. Namun, Albertus menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak berhenti pada bangunan fisik. Infrastruktur, menurutnya, harus berjalan seiring dengan pembelajaran yang terkelola baik serta peningkatan kapasitas dan profesionalitas guru.

“Gedung yang baik harus melahirkan proses belajar yang lebih efektif dan membentuk karakter peserta didik,” tekannya di hadapan para guru dan siswa.

Pembangunan ini menjadi bagian dari strategi Kementerian Agama untuk memperluas akses dan meningkatkan layanan pendidikan keagamaan, khususnya di wilayah Tana Ai. Ruang kelas yang lebih representatif diharapkan menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan kondusif, sehingga siswa dapat berkembang secara akademik maupun spiritual.

Kunjungan tersebut juga diisi dengan dialog terbuka bersama Ketua Yayasan, Kepala Sekolah, guru, dan peserta didik. Forum itu menjadi ruang evaluasi sekaligus penguatan komitmen bersama dalam membangun budaya mutu, disiplin, dan integritas di lingkungan sekolah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Yosef Rangga Kapodo, menyampaikan apresiasi atas perhatian Direktorat Pendidikan Katolik terhadap sekolah-sekolah di daerah. Ia menilai dukungan tersebut memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap eksistensi SMAK St. Yosef Tana Ai sebagai lembaga pendidikan Katolik yang terus berkembang.

Sebagai bagian dari implementasi program prioritas Kementerian Agama, kegiatan ditutup dengan penanaman pohon di lingkungan sekolah. Langkah ini menegaskan bahwa penguatan pendidikan berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Dengan rampungnya gedung baru dan terbangunnya semangat kolaborasi antarunsur sekolah, SMAK St. Yosef Tana Ai diharapkan semakin mantap melahirkan generasi yang berkarakter, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi masyarakat Nian Tana Sikka.(Faidin)

Negara dan Gereja Perkuat Kolaborasi, Dua SMAK di Sikka Diusulkan Berstatus Negeri

SIKKA, Bajopos.com – Upaya memperluas akses pendidikan Katolik bermutu di Kabupaten Sikka memasuki fase baru. Dalam pertemuan di Lepo Bispu, Senin (23/2/2026), Uskup Edwaldus Martinus Sedu bersama Direktur Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI, Albertus Triyatmojo, menyatakan komitmen bersama mendorong alih status dua Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) menjadi sekolah negeri.

Dua sekolah yang diusulkan masuk dalam program tersebut adalah SMAK St. Petrus Kewa Pante dan SMAK St. Benedictus Palu’e. Penegerian ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjawab kebutuhan layanan pendidikan di wilayah kepulauan dan daerah terpencil di Kabupaten Sikka, sekaligus memperkuat mutu pendidikan berbasis iman Katolik.

Direktur Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI menegaskan, kebijakan penegerian bukan sekadar perubahan status administratif. Menurutnya, langkah tersebut mencakup transformasi tata kelola pendidikan, mulai dari pembiayaan yang lebih stabil, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga penguatan sistem manajemen sekolah yang sesuai standar nasional pendidikan.

Dengan status negeri, sekolah akan memperoleh dukungan anggaran yang lebih terjamin, akses program peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan, serta peluang pengembangan sarana dan prasarana. Pemerintah, kata dia, berkomitmen mengawal proses sesuai regulasi dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Gereja sebagai pemangku kepentingan utama. Kesiapan dokumen, kejelasan status aset, dukungan yayasan, serta komitmen bersama menjadi prasyarat agar proses penegerian berjalan tertib tanpa menghilangkan kekhasan pendidikan Katolik.

“Identitas dan nilai iman Katolik harus tetap menjadi ruh dalam penyelenggaraan pendidikan, sekaligus memastikan lahirnya generasi unggul secara akademik dan berintegritas,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Uskup Keuskupan Maumere menyatakan dukungan penuh terhadap rencana tersebut. Ia menilai kehadiran negara dalam memperkuat pelayanan pendidikan Katolik merupakan bentuk kolaborasi yang positif dan konstruktif.

Menurutnya, penegerian membuka peluang bagi Gereja untuk memperluas karya pelayanan melalui sistem pendidikan yang lebih profesional, tertata, dan berdaya saing. Dukungan pastoral dan koordinasi internal Gereja akan terus diperkuat agar seluruh tahapan berjalan lancar serta tetap berlandaskan nilai-nilai iman.

Kolaborasi antara Direktorat Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI, Keuskupan Maumere, pemerintah daerah, dan elemen Gereja diharapkan menjadi fondasi sistem pendidikan Katolik yang lebih kokoh dan berkelanjutan, sekaligus berdampak nyata bagi pengembangan generasi muda di Nian Tana Sikka.(Faidin)