Rab. Sep 23rd, 2026

Muslim

Pererat Silaturahmi, Julie Sutrisno Laiskodat Berbagi Daging Kurban untuk Umat Muslim di Sikka

SIKKA, Bajopos.com | Dalam semangat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah tahun 2026, Anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat berbagi kasih melalui penyaluran daging kurban kepada sejumlah umat Muslim di Kabupaten Sikka, Kamis (28/5/2026).

Pembagian daging kurban tersebut dilakukan oleh Tim Muslim JSL (Julie Sutrisno Laiskodat) Sikka sebagai bentuk kepedulian sosial dan upaya mempererat tali silaturahmi antar rumat beragama di daerah itu.

Tenaga Ahli DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat, Minarni M.Si, dalam penyampaiannya secara virtual mengatakan bahwa momentum Idul Adha menjadi pengingat penting tentang keteladanan, ketaatan, dan pengorbanan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

“Dalam momentum Idul Qurban ini, Ibu Julie ingin berbagi melalui hewan kurban dengan semua saudara di Dapil NTT I, mulai dari Manggarai Barat hingga Lembata dan Alor,” kata Minarni.

Menurutnya, distribusi daging kurban tersebut menjadi wujud nyata kepedulian terhadap sesama, terutama masyarakat yang membutuhkan, sekaligus mengajarkan nilai keikhlasan agar manusia tidak hanya mementingkan diri sendiri.

Ia juga berharap amal ibadah kurban yang ditunaikan Julie Sutrisno Laiskodat diterima oleh Allah SWT dan semangat pengorbanan itu terus menginspirasi berbagai kebaikan di tengah masyarakat.

Ketua Tim Muslim JSL Sikka, Haji Alimudin, mengatakan jaringan Tim Muslim JSL saat ini telah terbentuk dan tersebar di 25 titik di wilayah Kabupaten Sikka.

“Tahun ini umat Muslim di beberapa titik mendapatkan satu ekor sapi kurban dari Bunda Julie, dan insya Allah tahun depan semua titik dapat,” ujar Alimudin.

Sementara itu, Anggota DPRD Sikka, Heriawan, menegaskan bahwa Julie Sutrisno Laiskodat selalu mengajarkan kepada kader Partai NasDem bahwa makna Idul Adha tidak hanya sebatas menyembelih hewan kurban.

Menurutnya, nilai utama dari perayaan kurban adalah bagaimana setiap orang mampu menanggalkan sifat sombong, kikir, dan egois dalam kehidupan sehari-hari.

“Bunda Julie selalu mengajarkan kami agar sifat sombong, kikir, dan egois harus disembelih agar hidup setiap kader NasDem tidak hanya mementingkan diri sendiri,” katanya.

Sejumlah penerima daging kurban turut menyampaikan ucapan terima kasih kepada Julie Sutrisno Laiskodat beserta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pembagian hewan kurban tahun 2026 di Kabupaten Sikka.

Reporter : Faidin

Zulhijah dan Hari Tasyrik: Saat Amal Kecil Bernilai Besar di Hadapan Allah

BULAN ZULHIJAH adalah salah satu musim terbaik bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh. Di bulan inilah gema takbir berkumandang, jutaan umat Islam berkumpul di Tanah Suci menunaikan ibadah haji, dan kaum muslimin di berbagai daerah menyambut Idul Adha dengan ibadah kurban serta mempererat tali persaudaraan.

Namun, kemuliaan Zulhijah sesungguhnya tidak berhenti pada Hari Raya Idul Adha semata. Ada rangkaian hari yang memiliki keutamaan luar biasa, yakni hari-hari tasyrik pada tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Hari-hari ini disebut sebagai hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah, sekaligus momentum memperbanyak amal yang dicintai-Nya.

Allah SWT sendiri memberi isyarat tentang kemuliaan hari-hari tersebut dalam Al-Qur’an:

“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak.” (QS. Al-Hajj: 28)

Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “hari-hari yang telah ditentukan” mencakup hari-hari di bulan Zulhijah, termasuk hari tasyrik yang dipenuhi dengan zikir dan syiar pengagungan kepada Allah.

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:

“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203)

Mayoritas ulama menafsirkan “hari yang berbilang” sebagai hari-hari tasyrik, yakni tiga hari setelah Idul Adha. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan berbagai amal kebaikan pada hari-hari tersebut.

Keutamaan Zulhijah semakin ditegaskan melalui hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah dibanding sepuluh hari pertama Zulhijah.”

Para sahabat bertanya:

“Tidak juga jihad di jalan Allah?”

Rasulullah SAW menjawab:

“Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.” (HR. Bukhari No. 916)

Hadis ini menggambarkan betapa besarnya nilai amal pada hari-hari Zulhijah. Bahkan amal sederhana seperti zikir, sedekah, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, atau menjaga silaturahmi dapat memiliki pahala yang sangat agung apabila dilakukan dengan ikhlas.

Para ulama menjelaskan, keutamaan ini tidak hanya berlaku bagi jamaah haji, tetapi juga bagi umat Islam di seluruh dunia. Mereka yang tidak berhaji tetap memiliki kesempatan besar meraih limpahan pahala dengan memperbanyak ibadah dan rasa syukur.

Karena itu, hari tasyrik tidak dipahami hanya sebagai hari menikmati hidangan kurban. Lebih dari itu, ia adalah simbol kebersamaan, syukur, dan penghambaan kepada Allah.

Di banyak tempat, masyarakat berkumpul menikmati masakan dari daging kambing, sapi, atau unta hasil kurban. Tradisi makan bersama menjadi bagian dari syiar kebahagiaan dan kepedulian sosial dalam Islam.

Rasulullah SAW bersabda:

“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan spiritualitas dari kehidupan sosial. Bahkan aktivitas makan dan berkumpul bersama keluarga dapat bernilai ibadah ketika dilakukan dalam suasana syukur kepada Allah.

Selain itu, sepuluh hari pertama Zulhijah juga identik dengan puasa sunnah, terutama puasa Tarwiyah dan Arafah. Tentang puasa Arafah, Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Imam Muslim:

“Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim No. 1162)

Keutamaan ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah pada bulan Zulhijah. Melalui ibadah yang tampak sederhana, Allah membuka pintu pengampunan dan pahala yang begitu besar bagi hamba-Nya.

Para ulama juga menegaskan bahwa amal saleh pada hari-hari ini tidak terbatas pada ibadah ritual semata. Menjaga lisan, membantu orang tua, berbagi kepada fakir miskin, mempererat persaudaraan, hingga menghindari pertengkaran juga termasuk amal yang dicintai Allah.

Di tengah kehidupan modern yang penuh kesibukan, Zulhijah hadir sebagai pengingat bahwa manusia membutuhkan ruang untuk kembali mendekat kepada Tuhan.

Takbir yang berkumandang bukan hanya syiar lisan, melainkan seruan agar manusia menyadari kebesaran Allah di atas segala urusan dunia.

Karena itu, hari-hari Zulhijah seharusnya tidak dilewati secara biasa. Ia adalah kesempatan tahunan yang sangat berharga. Sebab dalam keyakinan Islam, belum tentu seseorang kembali bertemu dengan Zulhijah berikutnya.

Momentum ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak selalu ditentukan oleh besarnya amal yang tampak di mata manusia. Terkadang, doa yang lirih, sedekah yang sederhana, atau zikir yang tulus justru menjadi sebab datangnya rahmat dan ampunan-Nya.

Maka ketika gema takbir mulai memenuhi langit, sesungguhnya umat Islam sedang diingatkan untuk kembali memperbaiki hati, memperbanyak syukur, dan meneguhkan penghambaan kepada Allah SWT.

Penulis : Faidin