Sen. Mei 25th, 2026

Muhasabah

Malam Ke 10 Ramadhan 1447 H: Momentum Rahmat, Muhasabah, dan Penguatan Takwa

SIKKA, Bajopos.com – Ramadhan 1447 Hijriyah/2026 Masehi telah menapaki malam kesepuluh. Fase awal bulan suci yang dikenal sebagai masa rahmat hampir berlalu. Bagi umat Islam, ini bukan sekadar hitungan kalender, tetapi momentum refleksi: sejauh mana puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah telah membentuk kualitas takwa sebagaimana tujuan utama Ramadhan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menjadi fondasi teologis ibadah puasa. Orientasinya jelas: takwa. Maka malam kesepuluh adalah ruang evaluasi, apakah ibadah yang dijalankan telah menggerakkan hati menuju ketundukan dan ketaatan yang lebih dalam kepada Allah.

Ramadhan dan Al-Qur’an: Sumber Cahaya Kehidupan

Ramadhan tidak dapat dipisahkan dari Al-Qur’an. Allah SWT menegaskan:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini memperlihatkan keseimbangan syariat: kewajiban yang tegas, namun penuh kemudahan. Malam kesepuluh menjadi pengingat bahwa hubungan dengan Al-Qur’an bukan hanya tilawah, tetapi juga tadabbur dan pengamalan.

Ulama seperti Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan karena kemuliaan waktu dan turunnya rahmat Allah.

Qiyam Ramadhan dan Janji Pengampunan

Setiap malam Ramadhan adalah peluang pengampunan. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberikan harapan besar. Qiyam Ramadhan—baik dalam bentuk shalat tarawih maupun tahajud—adalah sarana pembersihan dosa. Malam kesepuluh menjadi momen memperkuat komitmen untuk tidak sekadar hadir secara fisik di masjid, tetapi juga menghadirkan hati dalam kekhusyukan.

Allah SWT juga memuji hamba-hamba-Nya yang memanfaatkan malam untuk beristighfar:

كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ۝ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; dan pada akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”
(QS. Adz-Dzariyat: 17–18)

Ayat ini menjadi legitimasi spiritual bagi tradisi bangun sahur dan memperbanyak istighfar. Malam kesepuluh bukan sekadar angka, tetapi panggilan untuk memperpanjang sujud dan memperbanyak doa.

Konsistensi Amal dan Ujian Istiqamah

Dalam dinamika Ramadhan, semangat sering kali tinggi di awal, lalu perlahan menurun. Padahal Rasulullah SAW mengingatkan:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Malam kesepuluh adalah alarm istiqamah. Ia menuntut konsistensi, bukan euforia sesaat. Ramadhan adalah madrasah kesabaran, dan sepuluh malam pertama menjadi fondasi yang menentukan kualitas hari-hari berikutnya.

Spirit Derma dan Kepedulian Sosial

Ramadhan juga bulan kepedulian. Dalam Hadits disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

“Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.”
(HR. Bukhari)

Nilai sosial ini sejalan dengan firman Allah:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ… وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ…

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah… dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan…”
(QS. Al-Baqarah: 177)

Malam kesepuluh menjadi momentum memperluas makna ibadah: dari sajadah menuju kepedulian sosial.

Rahmat yang Tak Boleh Disia-siakan

Ramadhan adalah waktu yang terbatas. Allah mengingatkan tentang nilai waktu dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Malam kesepuluh Ramadhan 1447 H adalah pengingat bahwa waktu berjalan cepat. Ia menjadi saksi kesungguhan atau kelalaian. Jika sepuluh malam pertama belum optimal, pintu rahmat masih terbuka. Jika sudah baik, maka tugas berikutnya adalah menjaga konsistensi hingga akhir Ramadhan.

Semoga malam kesepuluh ini menjadi titik muhasabah, penguat takwa, dan pembuka pintu ampunan, sehingga Ramadhan 1447 H benar-benar melahirkan pribadi-pribadi yang lebih dekat kepada Allah Swt.(Faidin)