Rab. Sep 23rd, 2026

LAZISMU

Gempa M7,7 Guncang Flores, Warga Unimof Tunda Seluruh Kegiatan dan Siapkan Respons Kemanusiaan

Maumere, Bajopos.com | Universitas Muhammadiyah Maumere (Unimof) mengambil langkah cepat menyikapi gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026) dini hari.

Deputi Universitas Muhammadiyah Maumere (Unimof), Dr. Daniel Fernandes, mengimbau seluruh keluarga besar kampus, mulai dari dosen, tenaga kependidikan (tendik), mahasiswa, hingga seluruh civitas akademika, untuk tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul gempa kuat yang pusatnya berada di wilayah laut sekitar Kabupaten Nagekeo dan dirasakan di sejumlah daerah di Pulau Flores.

“Terutama kepada keluarga besar civitas akademika Unimof, para dosen, tenaga pendidik, civitas akademika dan semuanya, karena tadi pagi terjadi gempa bumi di bagian utara Flores. Informasinya pusat gempa berada di Mbay, Kabupaten Nagekeo,” ujar Daniel.

Sebagai bentuk kehati-hatian, seluruh kegiatan yang telah diagendakan Unimof pada Sabtu (15/8) ditunda sementara.

Termasuk rapat maupun kegiatan kampus lainnya. Sementara untuk agenda peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, pihak Unimof masih akan melihat perkembangan kondisi hingga beberapa hari ke depan.

Menurut Daniel, keputusan tersebut diambil karena gempa yang cukup besar masih menyisakan rasa takut di tengah masyarakat, termasuk keluarga besar Unimof.

“Untuk hari ini yang berkaitan dengan acara-acara dan rapat di Universitas Muhammadiyah Maumere sementara ditunda dulu. Untuk 17 Agustus, kita lihat perkembangan sampai besok,” katanya.

Ia berharap seluruh civitas akademika Unimof maupun masyarakat di sekitar kampus berada dalam kondisi aman dan tidak mengalami dampak serius akibat gempa.

Gedung Kampus Unimof Terdampak

Gempa tersebut juga menyebabkan kerusakan pada salah satu bangunan di lingkungan Unimof.

Bangunan Gedung Amin Rais lantai tiga dilaporkan mengalami kerusakan berat hingga bagian bangunan roboh. Kondisi tersebut menjadi perhatian pihak kampus dan memperkuat langkah Unimof untuk sementara membatasi aktivitas di lingkungan kampus demi keselamatan seluruh warga universitas.

Di tengah situasi tersebut, Unimof juga terus mengikuti perkembangan kondisi korban dan dampak gempa di wilayah Kabupaten Sikka, khususnya di Pelabuhan Lorena Maumere.

Sejumlah korban yang terdampak di pelabuhan dilaporkan mendapatkan perawatan di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD dr. TC Hillers Maumere.

Tiga korban yang masih dalam penanganan medis antara lain Vinsensius Asten (59), penumpang dari Makassar menuju Kupang, yang terjatuh dari tangga kapal dan masuk ke laut. Korban dilaporkan masih dalam kondisi syok dan mengalami pusing.

Korban kedua, Hasmini, warga Wuring yang datang dari Makassar, juga terjatuh ke laut dan sempat tidak sadarkan diri. Saat mendapat perawatan, korban masih menggunakan oksigen dan belum sepenuhnya sadar.

Sementara Helen Vanianti (21), asal Tanawawo yang datang dari Kalimantan, dilaporkan dalam kondisi syok, pusing dan mual.

Selain korban luka, terdapat pula laporan dua orang meninggal dunia akibat insiden yang terjadi di kawasan pelabuhan.

Korban pertama adalah Maria Diana Meliani (54), warga Jalan Kimang Buleng, Kota Uneng. Ia dilaporkan menjadi korban runtuhan bangunan ketika penumpang turun dari kapal. Maria diketahui hendak melakukan perjalanan menuju Kupang dan berada di terminal keberangkatan.

Korban kedua adalah Bernadus Muda (66), warga Jalan Pelawang-Sangkulirang, penumpang dari Adonara menuju Kalimantan. Ia dilaporkan meninggal dunia akibat serangan jantung ketika berusaha menyelamatkan diri saat gempa terjadi.

Muhammadiyah Aktifkan Respons Kemanusiaan

Tidak hanya mengambil langkah di lingkungan kampus, Unimof juga berada dalam bagian dari jaringan Muhammadiyah yang mulai mengaktifkan respons kemanusiaan terhadap bencana gempa bumi di NTT.

Melalui Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) bersama LAZISMU dalam Program Indonesia Siaga, Muhammadiyah melakukan koordinasi dengan pimpinan Muhammadiyah di wilayah terdampak, BPBD, BNPB, jejaring kebencanaan nasional serta berbagai pihak terkait.

Berdasarkan informasi MDMC-LAZISMU, gempa bumi yang terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 04.58.23 WIB memiliki magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.

Episenter gempa berada pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT atau sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT.

Gempa tersebut juga diikuti peringatan tsunami di sejumlah wilayah.

Guncangan gempa tercatat mencapai intensitas VII MMI di Aesesa, Nagekeo, Riung, Ngada dan Kota Mbay. Intensitas VI MMI dirasakan di Wolowae, Kabupaten Nagekeo dan Kota Bajawa, sementara skala V MMI dirasakan di Kota Ende, Borong dan Ruteng.

Dalam respons awal, MDMC Pusat telah mengirimkan dua orang tim asistensi ke NTT.

Muhammadiyah juga mengaktifkan Pos Koordinasi Wilayah (Poskorwil) sementara di Ende yang berlokasi di Klinik PKU Muhammadiyah Ende. Posko tersebut mencakup enam wilayah kerja, yakni Manggarai Timur, Ende, Manggarai Barat, Sikka, Manggarai dan Nagekeo.

Selain itu, Muhammadiyah mempersiapkan Pos Pelayanan pertama di SMK Muhammadiyah Manggarai Timur, menyiapkan logistik darurat melalui tim MDMC-LAZISMU Jawa Timur, serta mulai memberikan pelayanan kesehatan terbatas melalui tim medis Klinik PKU Muhammadiyah Ende.

Tim medis dari PKU Muhammadiyah Bima dan Muhammadiyah Jawa Timur juga tengah dipersiapkan untuk mendukung penanganan dampak gempa.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa respons Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada penanganan dampak bencana, tetapi juga memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera diidentifikasi dan ditangani.

Bagi Unimof, situasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa institusi pendidikan tidak hanya memiliki tanggung jawab akademik, tetapi juga peran sosial dan kemanusiaan ketika masyarakat menghadapi bencana.

Daniel Fernandes berharap kondisi segera kembali normal dan seluruh keluarga besar Unimof serta masyarakat NTT dapat melewati situasi tersebut dengan aman.

“Kita berharap semuanya aman. Tetapi andaikata masyarakat masih merasa ketakutan, kita akan menunda kegiatan sampai waktunya memungkinkan,” pungkasnya.

Reporter : Faidin

Di Bawah Atap yang Lapuk, Mimpi Siswa Siswi MTs Al Fatah di Kabupaten Sikka  Menunggu Uluran Tangan

SIKKA, BAJOPOS.COM | Bel masuk sekolah tetap berbunyi setiap pagi di MTs Muhammadiyah Al Fatah Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Anak-anak tetap datang mengenakan seragam, membawa buku, dan menyimpan cita-cita yang sama seperti pelajar lainnya. Namun, mereka tidak lagi belajar di ruang kelas yang semestinya.

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Muhammadiyah Al Fatah Nangahale merupakan sekolah swasta yang berada di bawah naungan Yayasan Muhammadiyah.

Sejak berdiri pada tahun 2003, sekolah ini telah menjadi tempat menimba ilmu bagi generasi muda di wilayah Nangahale dan sekitarnya.

Kini, sekolah tersebut menghadapi ujian berat akibat rusaknya dua ruang kelas yang mengganggu proses belajar mengajar.

Sebagian dari mereka kini harus belajar di Musholla, yang merupakan tempat ibadah siswa, siswi, dan para guru, serta di ruang perpustakaan.

Bahkan, ada rombongan belajar yang masih harus duduk di lantai karena dua ruang kelas sekolah mengalami kerusakan berat setelah diterjang angin puting beliung beberapa tahun lalu.

Di balik keterbatasan itu, para guru memilih bertahan. Mereka tidak ingin kondisi bangunan memadamkan semangat belajar anak-anak.

“Tetap semangat, karena di mana pun kita bisa belajar. Tetapi kami kasihan melihat anak-anak yang masih harus belajar dengan duduk di lantai,” tutur salah seorang tenaga pendidik, Ibu Dahlia, kepada wartawan.

Demi keselamatan siswa, bangunan bertingkat yang dinilai membahayakan akhirnya terpaksa dibongkar.

Bantuan dari LazisMu Muhammadiyah telah dimanfaatkan untuk memperbaiki sebagian atap yang rusak.

Namun, kerusakan yang ada masih jauh lebih besar dibanding kemampuan sekolah dan yayasan untuk menanganinya sendiri.

Kini, proses belajar mengajar berlangsung dalam segala keterbatasan. Musholla yang semestinya menjadi tempat ibadah bagi siswa, siswi, dan para guru, bersama ruang perpustakaan, terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang belajar darurat.

Akibatnya, kegiatan belajar mengajar tidak lagi berlangsung senyaman sebelumnya, sementara fungsi kedua ruangan tersebut juga tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Yang paling menyentuh bukanlah bangunan yang rusak, melainkan semangat anak-anak yang tetap hadir setiap hari.

Mereka tidak mengeluh karena harus duduk di lantai. Mereka tetap membuka buku, mendengarkan guru, dan menulis pelajaran dengan harapan sederhana: suatu hari bisa mengubah masa depan.

Karena itulah, pihak sekolah membuka saluran donasi untuk mengajak masyarakat ikut membangun kembali ruang kelas yang layak.

Harapannya bukan sekadar memperbaiki dinding atau memasang atap baru, tetapi mengembalikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak saat belajar.

Poster Open Donasi

Kalimat yang tertulis dalam poster penggalangan dana seolah menggambarkan kondisi mereka hari ini:

“Di bawah atap yang lapuk, ada cita-cita yang tetap menyala.”

Sebuah pengingat bahwa setiap sumbangan, sekecil apa pun, bukan hanya menjadi material bangunan. Lebih dari itu, ia menjadi penyangga harapan bagi anak-anak yang terus berjuang mengejar pendidikan di tengah segala keterbatasan.

Di ruang-ruang belajar yang serba darurat itu, masa depan sedang dipertaruhkan. Di balik dinding yang rapuh dan atap yang menua, tersimpan mimpi-mimpi besar anak-anak Nangahale. Kini, mimpi-mimpi itu menunggu satu hal yang sederhana: kepedulian kita.

Penulis : Faidin

LazisMu Uhamka Salurkan Hewan Kurban untuk MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale

SIKKA, Bajopos.com | Semangat berbagi di momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah kembali ditunjukkan LazisMu Uhamka dengan menyalurkan satu ekor hewan kurban kepada lembaga pendidikan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), yakni MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale melalui Universitas Muhammadiyah Maumere (Unimof).

Hewan kurban tersebut disembelih usai pelaksanaan Sholat Idul Adha, Rabu (27/5/2026), di halaman MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Penyembelihan dilakukan setelah panitia yang dikoordinir Ustadz Haris menyelesaikan pemotongan lima ekor sapi kurban di halaman Masjid An-Nur Nangahale.

Satu ekor sapi bantuan LazisMu Uhamka itu secara khusus diperuntukkan bagi para pelajar di MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale yang saat ini memiliki 130 siswa aktif.

Program kurban LazisMu tersebut menjadi bagian dari komitmen tahunan untuk menjangkau sekolah-sekolah Muhammadiyah di berbagai daerah di Indonesia, terutama wilayah pelosok.

Kepala Madrasah MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale, Yasir, S.Pd, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kepedulian LazisMu terhadap para siswa di sekolah yang dipimpinnya.

“Bantuan hewan kurban ini tentu sangat berarti bagi anak-anak kami dan masyarakat sekitar. Ini menjadi bentuk kepedulian nyata terhadap pendidikan Muhammadiyah di daerah,” ujarnya.

Selain proses penyembelihan, kegiatan tersebut juga mendapat pengawasan kesehatan hewan dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.

Siswa SMK Negeri Talibura jurusan Kesehatan Hewan, Paulinus Vieri Naen, yang ikut melakukan pemeriksaan menjelaskan bahwa tim melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem terhadap hewan kurban.

“Pemeriksaan antemortem dilakukan untuk memastikan hewan layak dipotong, apakah sakit atau tidak. Sedangkan postmortem dilakukan pada organ-organ seperti ginjal, paru-paru, hati, jantung dan limpa,” jelasnya.

Sementara itu, Petugas Pengawas Hewan Kurban Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, drh. Yosephina Leto Lapilia, mengatakan pihaknya memastikan seluruh proses penyembelihan memenuhi standar kesehatan hewan dan keamanan pangan.

“Kami memastikan hewan kurban yang disembelih sesuai prinsip kesejahteraan hewan dan daging yang dihasilkan aman, sehat, utuh, dan halal,” katanya kepada wartawan.

Ia menjelaskan pemeriksaan antemortem telah dilakukan sejak Selasa (26/5/2026) sore terhadap seluruh hewan kurban di wilayah Desa Nangahale dan sekitarnya.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh hewan dalam kondisi sehat dan layak dipotong,” ujarnya.

Menurut Yosephina, pemeriksaan meliputi suhu tubuh hewan, kondisi fisik mulai dari mata, hidung, kulit, hingga pemeriksaan luka dan umur hewan.

“Untuk hewan kurban sapi, rata-rata harus berumur di atas dua tahun dengan bobot sekitar 200 hingga 300 kilogram,” jelasnya.

Ia juga memastikan seluruh sapi kurban yang dipotong berasal dari wilayah Kecamatan Talibura dan tidak didatangkan dari luar daerah.

Dalam kesempatan itu, Yosephina turut mengapresiasi penerapan standar operasional prosedur (SOP) di sejumlah lokasi penyembelihan, khususnya di Masjid An-Nur Nangahale yang dinilai telah memiliki fasilitas cukup baik.

“Di Masjid An-Nur sudah ada kandang jepit, tempat penampungan darah, serta pemisahan lokasi pemotongan, pencincangan, dan pengepakan daging sehingga pengolahan limbah lebih baik dan higienis,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan sterilisasi petugas yang menangani daging kurban.

“Petugas yang memotong harus steril, tidak memakai sandal dan tidak boleh merokok saat menangani daging,” tegasnya.

Kegiatan pemotongan dan pembagian hewan kurban tersebut turut dihadiri Ketua PCM Talibura, Tajudin Obawala, S.Pd., M.Pd, bersama unsur pemerintah desa dan masyarakat setempat.

Reporter : Faidin

(QULTUM) Ramadhan Merupakan Momentum Tajdid Ruhani dan Kesalehan Sosial

Oleh : Ust. Dr. Muhammad Dwi Fajri, M.Pd.I (Dosen Uhamka)

Selamat datang Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan. Inilah bulan yang sangat mulia, yang kehadirannya disambut gegap gempita oleh kaum muslimin dan muslimat seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, kehadiran Ramadhan disambut dengan berbagai aktivitas, di antaranya pengajian tarhib, silaturahim, pawai, bersih-bersih masjid, dan kegiatan sosial lainnya.

Ramadhan adalah tamu agung dengan misi besar yang kerap terabaikan, yakni sebagai momentum pembaruan spiritual dan penguatan kesalehan sosial.

Pertanyaan bagi kita yang telah menunaikan puasa berulang kali adalah, apakah puasa Ramadhan yang selama ini kita jalankan benar-benar menghadirkan peningkatan spiritual dan sosial dalam diri?

Pembaharuan Ruhani

Kehidupan manusia yang sibuk dan sesak dengan keinginan duniawi kerap menyebabkan hati menjadi tertutup. Hati yang diselimuti debu materialisme, egoisme, dan ambisi duniawi membuat manusia lupa pada tujuan hidup yang utama.

Alih-alih menghadirkan kebahagiaan, ambisi duniawi justru sering melahirkan kehampaan dan kelelahan jiwa.

Sebagian orang menumpuk harta dalam jumlah besar, namun tetap merasa kurang dan terus mengejarnya dengan berbagai cara. Ibarat meminum air laut, semakin diminum semakin haus.

Seteguk yang diminum terasa melegakan, tetapi sejatinya hanya menambah dahaga. Kebahagiaan dan ketenangan bukan ditentukan oleh seberapa banyak harta yang berada dalam genggaman, melainkan seberapa lapang hati bersyukur atas nikmat yang diterima.

Ramadhan hadir memberi jeda agar manusia berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia dan menyadari bahwa manusia bukan sekadar entitas jasmaniah yang tampak oleh mata, tetapi juga entitas ruhaniah yang merindukan makna.

Ramadhan menyadarkan untuk menyucikan ruhani sebagai ikhtiar kembali kepada diri sejati yang bebas dari hasad dan kesombongan. Ibadah puasa dan shalat yang dijalankan bukan sekadar rutinitas mekanis, melainkan jalan pencerahan bagi akal budi.

Puasa melatih manusia mengaktifkan akal sebagai pengendali diri agar tidak tunduk pada dorongan perut dan hawa nafsu sebagai simbol kepentingan duniawi.

Dengan akal yang aktif, manusia dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Demikian pula kekhusyukan shalat yang diintensifkan selama Ramadhan diharapkan menjadi jalan penyadaran diri seorang hamba di hadapan Tuhan.

Melalui shalat, berbagai atribut kebesaran duniawi ditanggalkan. Manusia diingatkan bahwa di hadapan Sang Pencipta, ia hanyalah seorang hamba yang kecil, dengan tugas utama menyembah dan menyerahkan seluruh jiwa raga kepada-Nya.

Kesalehan Sosial

Namun bagi seorang muslim, kesalehan di atas sajadah tidaklah cukup. Puasa sebagai lapar yang disengaja menghadirkan dimensi kesalehan sosial. Rasa haus dan lapar yang direncanakan itu bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga melatih empati terhadap sesama, merasakan apa yang diderita orang lain.

Orang yang berpuasa karena perintah agama masih memiliki harapan untuk berbuka saat Magrib dengan berbagai pilihan makanan. Berbeda dengan kaum miskin dan duafa yang merasakan lapar bukan karena pilihan, melainkan karena ketiadaan.

Karena itu, momentum Ramadhan memperkuat radar empati seorang shaaim. Empati tersebut diwujudkan melalui gerakan infak, sedekah, dan zakat, terutama pada penghujung Ramadhan.

Pesan kesalehan sosial ini ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabda-Nya, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun,” (HR. Tirmidzi).

Dalam hadits lain disebutkan, “Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan,’” (HR. At-Tirmidzi).

Kedua hadits tersebut mendorong umat Islam untuk memperkuat tradisi berbagi selama bulan Ramadhan.

Konsekuensi dari kesalehan sosial tidak berhenti pada gerakan personal, tetapi juga terwujud dalam gerakan bersama yang terorganisir melalui lembaga amil zakat milik pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan keagamaan, seperti BAZNAS, LAZISMU, dan LAZISNU.

Ramadhan merupakan bulan titik balik bagi setiap muslim untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dengan syarat melakukan pembaruan ruhiyah dan penguatan kesalehan sosial.

Semoga puasa Ramadhan yang dijalankan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud kesalehan vertikal, serta semakin mendekatkan diri kepada sesama manusia, khususnya kaum miskin dan duafa, sebagai wujud kesalehan horizontal.