Kam. Sep 24th, 2026

Labuan Bajo

Jusuf Kalla Dijadwalkan Tiba di Maumere 28 Agustus, Tinjau Lokasi Pengungsian Korban Gempa

SIKKA, Bajopos.com | Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK), dijadwalkan mengunjungi Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat, 28 Agustus 2026, untuk meninjau langsung lokasi pengungsian dan kondisi warga terdampak bencana gempa bumi di Maumere.

Agenda kunjungan tersebut diterima media ini dan merupakan bagian dari rangkaian perjalanan JK setelah menghadiri pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Berdasarkan agenda yang diterima, JK dijadwalkan bertolak dari Bandara Juanda, Surabaya, menuju Maumere menggunakan penerbangan pada pukul 07.00 WIB. Pesawat dijadwalkan tiba di Bandara Frans Seda, Maumere, Kabupaten Sikka, sekitar pukul 09.35 WITA.

Setibanya di Maumere, sekitar pukul 10.30 WITA, JK dijadwalkan melakukan peninjauan lokasi pengungsian korban bencana gempa bumi di wilayah Maumere dan sekitarnya.

Namun, dalam agenda yang diterima media ini, lokasi pengungsian yang akan dikunjungi masih belum dicantumkan secara spesifik.

Setelah peninjauan, JK dijadwalkan melaksanakan Salat Jumat pada pukul 11.45 WITA di salah satu masjid yang juga belum disebutkan dalam agenda tersebut.

Selanjutnya, sekitar pukul 14.00 WITA, JK dijadwalkan meninggalkan Maumere melalui Bandara Frans Seda menuju Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Pesawat dijadwalkan tiba di Bandara Komodo, Labuan Bajo, sekitar pukul 14.35 WITA.

Di Labuan Bajo, rangkaian agenda JK akan dilanjutkan dengan peninjauan gudang logistik di Posko PMI pada pukul 15.00 WITA.

Satu jam kemudian, sekitar pukul 16.00 WITA, JK dijadwalkan meninjau lokasi kerusakan serta tempat pengungsian korban gempa bumi di wilayah Kabupaten Manggarai Barat.

Setelah seluruh rangkaian kunjungan selesai, JK dijadwalkan bertolak dari Bandara Komodo menuju Jakarta pada pukul 17.30 WITA dan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma sekitar pukul 18.50 WIB.

Sebelum menuju NTT, JK terlebih dahulu dijadwalkan menghadiri pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Lapangan Untung Suropati, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Kamis malam, 27 Agustus 2026.

Dari Jakarta, JK dijadwalkan berangkat dari Bandara Halim pada pukul 15.00 WIB menuju Bandara Juanda, Surabaya, dan diperkirakan tiba sekitar pukul 16.30 WIB.

Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalur darat menuju Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang. JK dijadwalkan tiba di lokasi sekitar pukul 19.00 WIB untuk menghadiri pembukaan Muktamar NU ke-35.

Usai kegiatan, JK dijadwalkan kembali menuju Surabaya dan beristirahat di Hotel Best Western De Papilio, Jalan Ahmad Yani, Wonocolo, Surabaya.

Kunjungan JK ke Maumere menjadi perhatian di tengah proses pemulihan masyarakat terdampak gempa bumi Flores yang masih membutuhkan penanganan, terutama terkait kondisi pengungsian, kebutuhan dasar, serta dukungan pemulihan pascabencana.

Agenda yang diterima media ini masih mencantumkan beberapa lokasi dengan tanda titik-titik, sehingga lokasi pengungsian dan masjid yang akan dikunjungi JK di Kabupaten Sikka masih menunggu kepastian lebih lanjut.

Reporter : Faidin

Dua WNA Austria Tewas Terjatuh dari Jembatan Gantung Air Terjun Cunca Wulang

MANGGARAI BARAT, Bajopos.com | Dua warga negara asing (WNA) asal Austria dilaporkan meninggal dunia setelah terjatuh dari jembatan gantung di lokasi wisata Air Terjun Cunca Wulang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Minggu (24/5/2026).

Peristiwa nahas tersebut terjadi sekitar pukul 11.30 Wita saat kedua korban sedang berwisata di kawasan air terjun yang berada di wilayah Kecamatan Mbeliling itu.

Kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere melalui Pos SAR Manggarai Barat menerima informasi kejadian dari Kepala Pelaksana BPBD Manggarai Barat terkait kondisi membahayakan manusia di lokasi wisata tersebut.

Kepala Kantor SAR Maumere selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Fathur Rahman, mengatakan berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, kedua korban terjatuh saat melintasi jembatan gantung di area wisata Air Terjun Cunca Wulang.

“Sekitar pukul 11.30 Wita kedua korban melakukan wisata di Air Terjun Cunca Wulang, namun naas saat melintasi jembatan korban terjatuh dan meninggal dunia di lokasi kejadian,” ujar Fathur Rahman.

Sementara itu, informasi dari Korpos, papan penyebrangan patah dan mengakitbatkan kedua korban jatuh.

Mendapat laporan tersebut, Tim SAR Gabungan dari Labuan Bajo langsung dikerahkan menuju lokasi untuk melakukan proses evakuasi.

Setibanya di lokasi kejadian, tim melakukan koordinasi bersama unsur terkait sebelum mengevakuasi kedua korban menuju RSUD Komodo Labuan Bajo.

Kedua korban diketahui bernama Jurgen (55) dan Astrid (57), keduanya merupakan warga negara Austria.

“Tim SAR Gabungan melaksanakan evakuasi kedua WNA menuju RSUD Komodo Labuan Bajo dalam kondisi meninggal dunia,” lanjut Fathur.

Fathur juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam proses penanganan dan evakuasi korban di lokasi kejadian.

“Kami menyampaikan banyak terima kasih kepada seluruh Tim SAR Gabungan yang ada di lokasi kejadian yang telah lebih dulu mengevakuasi korban ke tempat aman,” katanya.

Adapun unsur yang terlibat dalam operasi evakuasi di antaranya masyarakat Desa Wersawe, Camat Mbeliling, Dinas Pariwisata Manggarai Barat, Babinsa Mbeliling, Polsek Sano Nggoang, Satpol PP Manggarai Barat, Polres Manggarai Barat, serta Tim Rescue Pos SAR Manggarai Barat.

Penulis : Faidin

PKB Tegaskan Komitmen Kaderisasi, Muscab Jadi Ajang Konsolidasi

MANGGARAI BARAT, Bajopos.com | Musyawarah Cabang (Muscab) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Manggarai Raya tahun 2026 menegaskan arah baru dalam sistem kaderisasi partai sekaligus memperkuat komitmen politik berbasis kehadiran di tengah masyarakat.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel The Jayakarta, Labuan Bajo, Sabtu (25/4/2026), tidak lagi menjadi arena pemilihan langsung ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC), melainkan forum strategis untuk mengumumkan bakal calon pemimpin partai yang telah melalui proses seleksi ketat dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

Ketua DPC PKB Manggarai Barat, Sewargading SJ Putra, menjelaskan bahwa perubahan mekanisme ini merupakan bagian dari upaya serius partai dalam memastikan kualitas kepemimpinan.

“Tahun ini mekanismenya berubah. Ada tim dari DPP yang melakukan pemetaan kader secara menyeluruh. Hasilnya hanya satu: bakal calon yang dinilai layak memimpin,” ujarnya.

Ia menegaskan, Muscab kini lebih berfungsi sebagai ruang publikasi hasil kerja tim pusat. Para kandidat yang diumumkan masih harus melewati tahapan Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) sebelum ditetapkan secara definitif oleh DPP.

Untuk Manggarai Barat sendiri, terdapat lima nama yang telah masuk radar pusat. Namun keputusan akhir tetap berada di tangan DPP di Jakarta, termasuk penentuan struktur kepengurusan lengkap.

Momentum Muscab ini juga diperkuat dengan kehadiran Ketua DPP PKB Bidang Penguatan Organisasi, Legislatif, dan Eksekutif, Abdul Halim Iskandar atau Gus Halim. Kehadirannya menjadi sinyal kuat keseriusan partai dalam membangun struktur hingga ke daerah.

Dalam arahannya, Gus Halim menekankan pentingnya transformasi kader dari sekadar politisi menjadi pemimpin visioner hingga negarawan.

“Menjadi politisi itu penting, tetapi tidak cukup. Kader PKB harus naik kelas menjadi pemimpin yang mampu mengarahkan, dan pada akhirnya menjadi negarawan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kemenangan politik bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menghadirkan pelayanan nyata bagi masyarakat.

Sorotan lain datang dari kehadiran Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi. Kehadirannya dinilai sebagai bentuk dukungan lintas partai sekaligus mencerminkan stabilitas politik daerah yang kondusif.

Bupati yang akrab disapa Edi Endi itu bahkan memberikan apresiasi atas penyelenggaraan Muscab dan dampaknya bagi daerah, khususnya sektor pariwisata.

“Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut di Labuan Bajo. Kehadiran seluruh keluarga besar PKB menjadi berkah bagi daerah kami,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris DPW PKB NTT, Kaharudin, menegaskan bahwa Muscab harus dimaknai sebagai titik awal penguatan strategi menghadapi kontestasi politik mendatang.

Ia menekankan pentingnya “politik kehadiran” sebagai identitas utama PKB.

“PKB tidak boleh hanya besar secara nama. Kita harus benar-benar hadir di tengah masyarakat, mendengar kebutuhan mereka, dan memberikan solusi nyata,” tegasnya.

Dengan format baru Muscab dan penegasan komitmen kaderisasi, PKB menunjukkan keseriusannya membangun mesin partai yang solid, terukur, dan responsif terhadap kebutuhan rakyat, sekaligus memperkuat posisi politiknya di Manggarai Raya.

Penulis : Faidin
Editor : Redaksi

Komisi IV DPR RI Tinjau TN Komodo, Kampung Nelayan Warloka dan Bahas Beberapa Hal Strategis

MANGGARAI BARAT, Bajopos.com | Komisi IV DPR RI melaksanakan kunjungan kerja pada masa reses Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026 di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kunjungan ini mencakup sejumlah agenda strategis, mulai dari sektor pariwisata konservasi hingga pemberdayaan nelayan dan ketahanan pangan nasional.

Rombongan tiba di Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo pada Kamis (23/4/2026) petang. Kedatangan mereka dipimpin langsung oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto dari Fraksi Gerindra, bersama jajaran pimpinan dan anggota komisi.

Rombongan disambut oleh Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, didampingi Wakil Bupati Yulianus Weng, unsur Forkopimda, serta perwakilan instansi vertikal.

Penyambutan dilakukan secara adat dengan pengalungan selendang tenun Manggarai dan penyajian tuak curu sebagai simbol penghormatan.

Salah satu agenda utama dalam kunjungan ini adalah peninjauan langsung ke kawasan Taman Nasional Komodo.

Komisi IV DPR RI akan mendalami kebijakan pembatasan kuota kunjungan wisata yang mulai diberlakukan sejak April 2026, yakni maksimal 1.000 wisatawan per hari.

Kebijakan tersebut ditetapkan oleh Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem dan populasi komodo.

Dengan pembatasan ini, jumlah kunjungan tahunan ditargetkan berada pada kisaran 365.000 hingga 366.108 wisatawan.

Pembatasan kuota dilakukan berdasarkan daya dukung lingkungan yang pada tahun 2025 tercatat telah terlampaui, dengan jumlah kunjungan mencapai 429.509 wisatawan.

Kuota harian tersebut juga dibagi ke dalam zona daratan dan perairan di kawasan konservasi.

Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga, sebelumnya menjelaskan bahwa perhitungan kuota didasarkan pada kapasitas masing-masing pulau, termasuk Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar.

Langkah ini diambil untuk melindungi populasi komodo yang diperkirakan berjumlah sekitar 2.448 ekor agar tidak terganggu oleh aktivitas manusia.

Selain sektor pariwisata, Komisi IV DPR RI juga dijadwalkan meninjau program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Warloka.

Berdasarkan agenda Kementerian Kelautan dan Perikanan, kegiatan tersebut akan berlangsung pada Sabtu (25/4/2026) pagi.

Peninjauan di Kampung Nelayan Merah Putih Warloka akan mencakup penyambutan rombongan, pemaparan safety briefing, peninjauan lokasi, serta dialog informal dengan nelayan setempat.

Program ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir di kawasan prioritas nasional.

Kunjungan ini turut melibatkan jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan, pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga koperasi nelayan.

Direktur Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Mahrus, mewakili Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, mengundang berbagai pihak untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Selain itu, rombongan juga akan meninjau Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog guna memastikan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga serta mendukung program peningkatan produksi dalam negeri.

Dalam rombongan Komisi IV DPR RI turut hadir sejumlah anggota lintas fraksi, antara lain Ahmad Yohan, Edoardus Kaize, Sadarestuwati, Alien Mus, Adrianus Asia Sidot, T.A Khalid, Dwita Ria Gunadi, Rajiv, Rina Sa’adah, Hindun Anisah, Usman Husin, Riyono, serta Herry Dermawan.

Kehadiran para wakil rakyat ini diharapkan mampu menyerap aspirasi masyarakat secara langsung, khususnya terkait pengelolaan kawasan konservasi, kesejahteraan nelayan, serta ketahanan pangan, sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan yang tepat sasaran bagi pembangunan di Manggarai Barat.

Reporter : Faidin

Suku Bajo, Penjaga Tradisi Bahari Nusantara

SIKKA, Bajopos.com Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan suku dan budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Salah satu kelompok etnik yang memiliki karakter kuat dan keunikan tersendiri adalah Suku Bajo. Komunitas ini dikenal luas sebagai masyarakat bahari yang kehidupannya sangat erat dengan laut.

Suku Bajo tersebar di berbagai wilayah Indonesia bagian timur, terutama di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Mereka juga dikenal dengan sebutan Bajau, Badjaw, Sama, atau Same. Sejak dahulu, Suku Bajo dikenal sebagai bangsa penjelajah lautan. Mereka hidup berpindah-pindah menggunakan perahu dan mengandalkan posisi bintang sebagai penunjuk arah saat berlayar.

Seiring perkembangan zaman, pola hidup nomaden tersebut perlahan berubah. Masyarakat Bajo mulai menetap dan membangun rumah-rumah panggung di atas perairan dangkal sebagai tempat tinggal. Walaupun tidak lagi sepenuhnya hidup di atas perahu, identitas mereka sebagai masyarakat maritim tetap kuat. Mayoritas masyarakat Bajo bekerja sebagai nelayan dan dikenal sangat mahir menyelam.

Dalam perjalanan sejarahnya, Suku Bajo memiliki kisah panjang yang selalu berkaitan dengan laut. Pada masa lalu, sebagian kelompok mereka dikenal sebagai perompak laut yang tangguh. Kemampuan navigasi dan penguasaan perairan Nusantara membuat mereka disegani. Namun, seiring waktu, mereka meninggalkan praktik tersebut dan beralih menjadi nelayan serta pelaut tradisional yang menetap di wilayah pesisir.

Kehidupan sosial masyarakat Bajo sangat bergantung pada hasil laut. Aktivitas sehari-hari mereka diisi dengan memancing, menjaring, hingga memanah ikan menggunakan cara-cara tradisional. Hasil tangkapan biasanya dijual kepada masyarakat di pesisir atau pulau terdekat. Selain menangkap ikan, sebagian masyarakat Bajo kini juga mulai mengembangkan budidaya komoditas bahari seperti lobster, udang, dan ikan kerapu.

Permukiman mereka dikenal unik karena dibangun di atas laut. Rumah adat Suku Bajo disebut lepa-lepa, berupa rumah panggung yang terapung atau berdiri di atas perairan dangkal. Rumah ini terbuat dari kayu tahan air yang diikat dengan tali rotan kuat, sementara lantainya menggunakan bambu yang disusun rapat untuk menjaga keseimbangan. Di dalamnya terdapat ruang tamu, kamar tidur, dapur, serta tempat penyimpanan hasil laut. Rumah bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keluarga dan adat.

Keunikan Suku Bajo juga terlihat dari bahasa dan keseniannya. Bahasa Bajo termasuk dalam rumpun Austronesia dengan beragam dialek. Dalam tradisi budaya, mereka memiliki tarian khas seperti Tari Katreji dan Tari Lariangi yang ditampilkan dalam upacara adat maupun festival lokal. Selain itu, masyarakat Bajo juga dikenal memiliki keahlian dalam membuat perahu tradisional, termasuk kapal phinisi yang kini banyak dimanfaatkan sebagai kapal wisata di Labuan Bajo.

Dalam hal busana adat, Suku Bajo memiliki pakaian tradisional yang mencerminkan identitas maritim mereka. Pakaian adat pria disebut Sarija, terdiri dari sigar (ikat kepala), kamas (baju atasan), saluar (celana), dan bidah (sarung). Sementara itu, pakaian adat perempuan disebut Samara yang terdiri dari Sigada, Kamada, Juada, dan Roktaha. Busana ini umumnya menggunakan warna-warna cerah, dipadukan dengan kain sarung bermotif serta aksesoris sederhana yang disesuaikan dengan acara dan status sosial.

Suku Bajo dapat ditemukan di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Permukiman mereka terdapat di Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah; Kepulauan Sula di Maluku Utara; Pulau Bungin di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat; serta di Kepulauan Wakatobi yang dikenal sebagai salah satu konsentrasi terbesar komunitas Bajo di Indonesia. Ciri khas permukiman tersebut adalah kampung terapung yang selalu berdampingan langsung dengan laut.

Suku Bajo menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat Indonesia mampu hidup berdampingan dengan alam laut secara turun-temurun. Dengan sejarah panjang, kehidupan sosial yang khas, serta kekayaan budaya yang tetap terjaga, Suku Bajo turut memperkaya mozaik keberagaman budaya Indonesia sebagai negara maritim.(Faidin)