Kam. Sep 24th, 2026

Ketahanan Pangan

17 Ibu Petani Woda Mude Terima 800 Kg Benih Padi dari Kementan RI

SIKKA, Bajopos.com | Sebanyak 17 ibu petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Mapan Berdikary, Desa Woda Mude, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, kembali mendapat suntikan semangat untuk menggarap lahan.

Sebanyak 800 kilogram benih padi unggul dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) akhirnya terealisasi dan disalurkan pada tahun 2026 ini.

Benih tersebut merupakan bagian dari program Optimalisasi Lahan (OPLAH) nonrawa tahun 2025 untuk musim tanam (MT) II. Meski programnya ditetapkan pada 2025, bantuan benih tersebut baru terealisasi dan diterima kelompok tani pada 2026, dengan alokasi untuk lahan seluas 20 hektare.

Benih diantar langsung oleh Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Woda Mude, Geby, ke Sekretariat Poktan Mapan Berdikary di RT 002/RW 001, Desa Woda Mude.

Setelah bantuan tiba, pengurus bersama anggota melakukan rapat dan konsolidasi untuk menentukan pembagian benih. Hasil kesepakatan menetapkan setiap anggota memperoleh 45 kilogram.

Poktan Mapan Berdikary sendiri beranggotakan 17 orang yang mayoritas merupakan ibu-ibu petani.

Mereka menjadi bagian dari kekuatan petani di Desa Woda Mude yang tetap bertahan mengolah lahan dan menjaga produktivitas pangan di tengah berbagai tantangan sektor pertanian.

Ketua Poktan Mapan Berdikary, Darman Eldin, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang kembali diterima kelompoknya.

“Alhamdulillah, tiap musim tanam selama dua tahun ini kami mendapatkan benih bantuan dari Kementerian Pertanian untuk meningkatkan hasil panen petani demi menuju swasembada pangan,” ujar Darman kepada Media ini.

Menurutnya, keberlanjutan bantuan benih menjadi dorongan bagi petani untuk terus mengolah lahan dan meningkatkan hasil produksi.

Pembagian benih kali ini turut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Sikka, Diki Raja, yang juga merupakan warga setempat dan berdomisili di Desa Magepanda.

Atas permintaan warga, Diki Raja secara simbolis menyerahkan benih kepada anggota Poktan Mapan Berdikary sebagai bentuk dukungan terhadap para petani di Desa Woda Mude.

Bagi pengurus kelompok, terealisasinya bantuan ini bukan menjadi akhir dari proses. Sebagai bentuk pertanggungjawaban moral sekaligus komitmen terhadap keberlanjutan program, Poktan Mapan Berdikary berencana melaksanakan kembali kegiatan tanam simbolis dan panen simbolis bersama para pemangku kepentingan di Kabupaten Sikka.

Kegiatan serupa sebelumnya telah dilakukan pada tahun lalu.

Meski bersyukur atas terealisasinya bantuan benih, para petani berharap pemerintah tidak berhenti pada pemberian benih.

Darman berharap, ke depan pemerintah juga dapat memberikan dukungan berupa pupuk dan obat-obatan pertanian sehingga petani mendapatkan dukungan yang lebih lengkap dari masa tanam hingga panen.

“Harapan kami, bantuan dari pemerintah jangan hanya benih. Kalau memungkinkan, bantuan pupuk dan obat-obatan juga untuk mendukung penuh para petani di kampung,” harapnya.

Semetara itu, bagi 17 ibu petani Mapan Berdikary, 800 kilogram benih tersebut bukan sekadar bantuan, melainkan modal untuk kembali menanam, memanen, dan menjaga harapan dari kampung agar  ketahanan pangan dapat terus dibangun.

Reporter : Faidin

Tak Sekadar Panen, Ny. Fista Kago Bangkitkan Optimisme Petani Milenial untuk Masa Depan Ketahanan Pangan Sikka

SIKKA, BAJOPOS.COM | Hamparan kebun hortikultura di Desa Lowolabo dan Desa Aebubu, Kecamatan Paga, Selasa (4/8/2026), menjadi saksi bahwa masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga oleh semangat generasi muda yang memilih bertahan dan berkarya di atas tanah sendiri.

Panen bersama yang diikuti Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, bersama Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Pemerintah Kecamatan Paga, Yayasan Bina Tani Sejahtera (YBTS), dan para petani milenial itu menghadirkan pesan kuat: membangun ketahanan pangan harus dimulai dari desa, dari keluarga, dan dari lahirnya petani-petani muda yang siap menjadi penggerak perubahan.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Let’s Grow yang diinisiasi Yayasan Bina Tani Sejahtera. Program ini tidak hanya mengajarkan teknik bercocok tanam melalui Good Agriculture Practice (GAP) atau Praktik Pertanian yang Baik, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan hidup (Life Skills) agar mampu mengelola pertanian secara profesional, produktif, dan berkelanjutan.

Ditengah tantangan perubahan iklim, naiknya biaya produksi, hingga berkurangnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian, kehadiran petani milenial menjadi secercah harapan bagi Kabupaten Sikka.

Mereka membuktikan bahwa pertanian bukan lagi pekerjaan yang identik dengan keterbelakangan, melainkan sektor yang menjanjikan apabila dikelola dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

Dalam sambutannya, Ny. Fista Sambuari Kago menegaskan bahwa petani memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat.

“Petani adalah pahlawan pangan. Di tangan para petanilah kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi. Karena itu, saya mengajak seluruh petani milenial di Desa Lowolabo dan Desa Aebubu untuk terus kompak, saling mendukung, serta terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi baru agar hasil panen semakin berkualitas dan melimpah,” ujarnya.

Menurut Fista, keberhasilan pertanian tidak hanya diukur dari banyaknya hasil panen, tetapi juga dari kemampuan menciptakan keluarga yang mandiri secara pangan dan ekonomi. Ketika petani sejahtera, desa akan tumbuh lebih kuat dan daerah akan memiliki fondasi yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan pangan di masa depan.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Yayasan Bina Tani Sejahtera yang dinilai konsisten mendampingi para pemuda di Kabupaten Sikka agar memiliki keterampilan dan keberanian mengembangkan pertanian hortikultura.

Baginya, kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pendamping, dunia pertanian, dan masyarakat merupakan langkah nyata untuk memperkuat sektor pertanian yang berdaya saing.

“Dengan hadirnya YBTS di Kabupaten Sikka, mari kita jadikan momentum ini untuk terus memperkuat kerja sama, meningkatkan produktivitas pertanian, serta saling mendukung dalam menghadapi berbagai tantangan, baik yang berkaitan dengan teknologi, ketersediaan pupuk, maupun perubahan iklim,” katanya.

Sebagai Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Fista juga menegaskan bahwa PKK akan terus mengambil peran dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pemberdayaan keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama dalam menciptakan masyarakat yang sehat, produktif, dan mandiri.

“PKK akan terus hadir mendampingi masyarakat, termasuk para petani, agar mampu meningkatkan ketahanan pangan keluarga. Ketahanan pangan dimulai dari keluarga yang produktif, mandiri, dan mampu memanfaatkan potensi pertanian yang dimiliki,” tambahnya.

Lebih dari sekadar kegiatan panen, momentum ini menjadi gambaran bahwa regenerasi petani di Kabupaten Sikka mulai menunjukkan arah yang positif.

Ketika anak-anak muda berani kembali ke sektor pertanian dengan bekal ilmu, pendampingan, dan semangat berinovasi, harapan untuk mewujudkan swasembada pangan daerah semakin terbuka.

Panen bersama di Kecamatan Paga pun menjadi simbol sinergi antara Pemerintah Kabupaten Sikka, TP PKK, Dinas Pertanian, Pemerintah Kecamatan Paga, Yayasan Bina Tani Sejahtera, dan para petani milenial dalam membangun pertanian yang maju, tangguh, dan berkelanjutan.

Di balik setiap hasil panen yang dipetik, tersimpan harapan agar semakin banyak generasi muda memilih menjadi petani. Sebab, dari tangan merekalah masa depan ketahanan pangan Kabupaten Sikka akan terus tumbuh, memberi kehidupan bagi keluarga, menggerakkan ekonomi desa, dan menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat di masa mendatang.

Reporter : Faidin

58 Kelompok Tani di Nagekeo Terima Alsintan Modern, Aspirasi Ahmad Yohan Diharapkan Dongkrak Produktivitas Pertanian

NAGEKEO, BAJOPOS.COM | Sebanyak 58 kelompok tani yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menerima bantuan sarana dan prasarana pertanian (Alsintan), Kamis (16/7/2026).

Bantuan yang merupakan aspirasi Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Ahmad Yohan, M.Si., ini diharapkan mampu mempercepat modernisasi pertanian sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

Penyaluran bantuan tersebut difasilitasi oleh Dinas Pertanian Kabupaten Nagekeo dan diserahkan secara langsung oleh Anggota DPRD Kabupaten Nagekeo dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Adimat U.K. Mane Tima, bersama Joshua Aurelius Mona.

Beragam alat pertanian modern disalurkan kepada kelompok tani penerima, mulai dari alat panen hingga peralatan pendukung budidaya yang selama ini menjadi kebutuhan petani dalam meningkatkan efisiensi kerja di lapangan.

Bantuan yang diberikan meliputi satu unit alat panen, dua unit traktor roda empat, tiga unit traktor roda dua, dua unit alat tanam, tiga unit mesin perontok padi (power thresher), 20 unit pompa air, serta 29 unit alat semprot pertanian listrik.

Distribusi bantuan tersebut menyasar kelompok tani di empat kecamatan, yakni Kecamatan Aesesa sebanyak 35 kelompok tani, Kecamatan Aesesa Selatan empat kelompok tani, Kecamatan Wowlowae empat kelompok tani, dan Kecamatan Mauponggo sebanyak lima kelompok tani.

Dalam keterangannya kepada media, Adimat U.K. Mane Tima menegaskan bahwa bantuan Alsintan tersebut merupakan aspirasi langsung dari Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Ahmad Yohan yang diperjuangkan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus memperkuat sektor pertanian di Kabupaten Nagekeo.

“Bantuan Alsintan ini merupakan aspirasi langsung dari Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Bapak Ahmad Yohan dari Fraksi PAN. Kami hanya membantu menyalurkan dan memastikan alat ini sampai tepat kepada kelompok tani yang benar-benar membutuhkan,” ujar Adimat.

Menurutnya, kehadiran alat-alat pertanian modern akan membantu petani mengurangi beban kerja yang selama ini masih banyak mengandalkan tenaga manual.

Selain mempercepat proses pengolahan lahan hingga panen, penggunaan teknologi pertanian juga diyakini mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil panen.

Adimat berharap seluruh kelompok tani penerima dapat memanfaatkan bantuan tersebut secara maksimal serta merawatnya dengan baik agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Kami berharap bantuan ini tidak hanya menjadi barang yang diterima, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya, dirawat bersama, dan mampu membawa perubahan bagi peningkatan hasil panen petani di Nagekeo. Ini baru langkah awal, dan kami akan terus memperjuangkan kebutuhan sarana pertanian lainnya,” katanya.

Bantuan tersebut mendapat sambutan positif dari para petani. Ketua Kelompok Tani Moreng Mose II, Abdul Hafiz, menyampaikan apresiasi kepada Ahmad Yohan yang dinilai telah memberikan perhatian nyata terhadap kebutuhan petani di daerah.

“Terima kasih banyak kepada Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Bapak Ahmad Yohan. Bantuan alat ini sangat kami butuhkan untuk meringankan beban kerja sekaligus mempercepat masa panen kami,” ungkap Abdul Hafiz.

Senada dengan itu, Ketua Kelompok Tani Makmur KM 1 Kiri, Husni Abdullah MT, berharap dukungan terhadap sektor pertanian di Kabupaten Nagekeo terus berlanjut.

Menurutnya, masih banyak lahan pertanian yang membutuhkan sentuhan teknologi modern agar mampu menghasilkan produksi yang lebih tinggi dan memiliki daya saing.

“Kami berharap bantuan seperti ini terus berkelanjutan. Masih banyak lahan pertanian yang membutuhkan dukungan teknologi agar hasil panen semakin maksimal dan pertanian Nagekeo semakin maju serta berdaya saing,” ujarnya.

Penyaluran bantuan Alsintan ini menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui peningkatan mekanisasi pertanian.

Dengan pemanfaatan alat pertanian modern, para petani diharapkan mampu bekerja lebih efektif, meningkatkan produktivitas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di sektor pertanian Kabupaten Nagekeo.

Reporter : Zainudin Abdullah | Editor : Redaksi

BBIS Noekele Bangkitkan Budidaya Air Tawar NTT, Ratusan Kilo Nila Mulai Serbu Pasar Kupang

KUPANG, Bajopos.com | Di tengah dominasi sektor kelautan yang selama ini melekat pada Nusa Tenggara Timur (NTT), Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Noekele justru menunjukkan wajah lain pembangunan perikanan di daerah kepulauan ini.

Dari kolam budidaya air tawar di Kabupaten Kupang, ratusan kilogram ikan nila siap konsumsi mulai mengalir ke pasar dan kolam pemancingan, menandai bangkitnya kembali budidaya ikan konsumsi yang sempat terhenti sejak 2022.

Minggu (11/5/2026), BBIS Noekele yang dikelola Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT resmi memulai penjualan perdana ikan air tawar hasil penebaran benih pada 20 Desember 2025 lalu.

Pada hari pertama, sebanyak 221 kilogram ikan nila berhasil dipasarkan dari total estimasi panen mencapai 400 kilogram.

Hasil produksi tersebut langsung disalurkan kepada konsumen dan pengelola kolam pemancingan di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang, sekaligus menjadi sinyal meningkatnya kebutuhan ikan segar air tawar di wilayah NTT.

Plh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Merry M. Foenay, A.Pi., M.Pi., hadir langsung di lokasi panen bersama Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan PRL Muhammad Saleh Goro, S.Pi., M.Pi., serta jajaran teknis BBIS Noekele.

Menurut Merry, keberhasilan panen dan penjualan perdana ini menjadi bukti bahwa sektor perikanan air tawar di NTT memiliki potensi besar untuk berkembang, meski daerah ini selama ini dikenal sebagai provinsi maritim.

“BBIS Noekele tidak hanya menghasilkan benih unggul, tetapi juga mulai mengambil peran sebagai penyedia ikan konsumsi untuk menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan daerah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengelolaan BBIS Noekele kini diarahkan menggunakan teknologi budidaya modern, mulai dari sistem pengairan yang lebih efektif, efisiensi pakan, hingga penggunaan indukan unggul yang adaptif terhadap kondisi lingkungan lokal.

Melalui penerapan teknologi tersebut, produktivitas budidaya ditargetkan meningkat hingga 40 persen dibanding metode konvensional, dengan tingkat kelangsungan hidup ikan di atas 85 persen.

Tak hanya fokus pada produksi konsumsi, BBIS Noekele juga diproyeksikan menjadi pusat distribusi benih unggul air tawar di NTT. Tahun 2026 ini, balai tersebut menargetkan produksi 500 ribu ekor benih untuk disebarkan ke kabupaten/kota di seluruh wilayah NTT.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan PRL, Muhammad Saleh Goro, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan konsep pengembangan kawasan berbasis pelatihan pembudidaya dan ekowisata terpadu.

“Kami ingin BBIS Noekele menjadi pusat pembinaan masyarakat pembudidaya ikan di desa-desa. Ke depan, kolam pembesaran juga diarahkan menjadi lokasi pemancingan eksklusif yang terintegrasi dengan sektor pertanian dan ekowisata,” katanya.

Menurutnya, teknologi budidaya dan benih bersertifikasi CPIB dari BBIS Noekele akan terus didistribusikan melalui kolaborasi bersama dinas perikanan kabupaten/kota di seluruh NTT agar masyarakat binaan mampu meningkatkan produksi dan pendapatan.

Pemerintah Provinsi NTT sendiri menempatkan sektor budidaya perikanan air tawar sebagai salah satu program prioritas dalam Roadmap Pembangunan Perikanan 2026–2030. Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan ikan dari luar daerah.

Panen dan penjualan perdana tersebut turut disaksikan Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP NTT, A. Andy Amuntoda, S.Pi. Sebagian hasil panen langsung dipasok ke pasar induk Kupang, sementara distribusi benih untuk wilayah Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, dan Malaka dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat melalui program Bioflock Tematik Ditjen Perikanan Budidaya.

Kebangkitan budidaya ikan konsumsi di BBIS Noekele kini menjadi penanda bahwa sektor perikanan darat di NTT mulai bergerak menuju arah baru: bukan sekadar penopang pangan, tetapi juga motor ekonomi masyarakat pedalaman dan pesisir di kawasan timur Indonesia.

Reporter : Faidin

Magepanda Jadi Bukti Nyata Ketahanan Pangan Lokal Menguat di Kabupaten Sikka

SIKKA, Bajopos.com | Magepanda merupakan daerah pelosok di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur yang terus menjawab program nasional, lebih-lebih di era Presiden Prabowo Subianto yang mendorong program ketahanan pangan.

Kecamatan yang satu ini merupakan satu diantara kecamatan yang ada di Kabupaten Sikka yang terus mempertahankan posisinya menjadi lumbung padi di pelosok timur Indonesia.

Baaimana tidak, upaya memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Sikka terus menunjukkan hasil positif.

Hal ini tampak terlihat dalam kegiatan panen simbolis padi yang digelar pada Sabtu (25/4/2026) pagi di Dusun Pemopombo, Desa Woda Mude, Kecamatan Magepanda.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 WITA ini dilaksanakan di lahan milik Kelompok Tani Mapan Berdikari dan dihadiri sejumlah unsur penting, di antaranya Dandim 1603 Sikka, Danlanal Maumere, perwakilan Kapolres Sikka, Kepala Bulog Sikka, jajaran Dinas Pertanian, pemerintah kecamatan hingga desa, serta para petani setempat.

Panen simbolis tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung ketahanan pangan, khususnya melalui penguatan data dan monitoring produksi pertanian di wilayah Kecamatan Magepanda sepanjang tahun 2026.

Hamparan sawah yang menguning bak lautan emas menjadi gambaran keberhasilan petani dalam meningkatkan produktivitas. Padi yang dipanen merupakan varietas unggulan Inpare 32, yang ditanam di atas lahan seluas 3 hektar dan dikelola oleh 18 anggota Kelompok Tani Mapan Berdikari, dengan total hasil panen mencapai sekitar 7,4 ton.

Ketua Kelompok Tani Mapan Berdikari, Darman Eldin, menyampaikan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari penggunaan benih unggulan serta pendampingan intensif dari penyuluh pertanian.

“Panen kali ini membuktikan bahwa penggunaan benih unggulan seperti Inpare 32 memberikan hasil maksimal. Kami sangat terbantu dengan pendampingan penyuluh dan dukungan pemerintah,” ujarnya.

Ia menegaskan, hasil yang dicapai merupakan buah dari kerja keras dan proses panjang, mulai dari pengolahan lahan, pemilihan bibit berkualitas, hingga perawatan tanaman yang dilakukan secara intensif.

Sementara itu, Wakapolsek Alok, IPDA Laurensius Laka, yang mewakili Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, menyatakan kesiapan pihak kepolisian untuk terus bersinergi dalam mendukung ketahanan pangan di wilayah tersebut.

“Kami siap bekerja sama dengan BPP Kecamatan Magepanda dan kelompok tani dalam hal monitoring lapangan melalui peran Bhabinkamtibmas,” ungkapnya.

Kegiatan panen simbolis diawali dengan doa bersama, dilanjutkan sambutan dari Dandim 1603 Sikka, Ketua Kelompok Tani, serta perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.

Momentum ini menjadi penanda penting kebangkitan sektor pertanian lokal, sekaligus memperkuat optimisme bahwa kolaborasi antara petani, pemerintah, dan aparat keamanan mampu mendorong kemandirian pangan di daerah.

Reporter : Faidin

Komisi IV DPR RI Tinjau TN Komodo, Kampung Nelayan Warloka dan Bahas Beberapa Hal Strategis

MANGGARAI BARAT, Bajopos.com | Komisi IV DPR RI melaksanakan kunjungan kerja pada masa reses Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026 di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kunjungan ini mencakup sejumlah agenda strategis, mulai dari sektor pariwisata konservasi hingga pemberdayaan nelayan dan ketahanan pangan nasional.

Rombongan tiba di Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo pada Kamis (23/4/2026) petang. Kedatangan mereka dipimpin langsung oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto dari Fraksi Gerindra, bersama jajaran pimpinan dan anggota komisi.

Rombongan disambut oleh Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, didampingi Wakil Bupati Yulianus Weng, unsur Forkopimda, serta perwakilan instansi vertikal.

Penyambutan dilakukan secara adat dengan pengalungan selendang tenun Manggarai dan penyajian tuak curu sebagai simbol penghormatan.

Salah satu agenda utama dalam kunjungan ini adalah peninjauan langsung ke kawasan Taman Nasional Komodo.

Komisi IV DPR RI akan mendalami kebijakan pembatasan kuota kunjungan wisata yang mulai diberlakukan sejak April 2026, yakni maksimal 1.000 wisatawan per hari.

Kebijakan tersebut ditetapkan oleh Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem dan populasi komodo.

Dengan pembatasan ini, jumlah kunjungan tahunan ditargetkan berada pada kisaran 365.000 hingga 366.108 wisatawan.

Pembatasan kuota dilakukan berdasarkan daya dukung lingkungan yang pada tahun 2025 tercatat telah terlampaui, dengan jumlah kunjungan mencapai 429.509 wisatawan.

Kuota harian tersebut juga dibagi ke dalam zona daratan dan perairan di kawasan konservasi.

Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga, sebelumnya menjelaskan bahwa perhitungan kuota didasarkan pada kapasitas masing-masing pulau, termasuk Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar.

Langkah ini diambil untuk melindungi populasi komodo yang diperkirakan berjumlah sekitar 2.448 ekor agar tidak terganggu oleh aktivitas manusia.

Selain sektor pariwisata, Komisi IV DPR RI juga dijadwalkan meninjau program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Warloka.

Berdasarkan agenda Kementerian Kelautan dan Perikanan, kegiatan tersebut akan berlangsung pada Sabtu (25/4/2026) pagi.

Peninjauan di Kampung Nelayan Merah Putih Warloka akan mencakup penyambutan rombongan, pemaparan safety briefing, peninjauan lokasi, serta dialog informal dengan nelayan setempat.

Program ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir di kawasan prioritas nasional.

Kunjungan ini turut melibatkan jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan, pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga koperasi nelayan.

Direktur Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Mahrus, mewakili Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, mengundang berbagai pihak untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Selain itu, rombongan juga akan meninjau Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog guna memastikan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga serta mendukung program peningkatan produksi dalam negeri.

Dalam rombongan Komisi IV DPR RI turut hadir sejumlah anggota lintas fraksi, antara lain Ahmad Yohan, Edoardus Kaize, Sadarestuwati, Alien Mus, Adrianus Asia Sidot, T.A Khalid, Dwita Ria Gunadi, Rajiv, Rina Sa’adah, Hindun Anisah, Usman Husin, Riyono, serta Herry Dermawan.

Kehadiran para wakil rakyat ini diharapkan mampu menyerap aspirasi masyarakat secara langsung, khususnya terkait pengelolaan kawasan konservasi, kesejahteraan nelayan, serta ketahanan pangan, sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan yang tepat sasaran bagi pembangunan di Manggarai Barat.

Reporter : Faidin