Rab. Sep 23rd, 2026

Fadlan

Dibalik Pelaminan Itu Ada Orang-Orang yang Tak Lagi Bisa Kami Peluk

Oleh: Faidin

Jurnalis dan Kakak Kandung Andra

Pernikahan selalu identik dengan kebahagiaan. Di dalamnya ada tawa, doa, pelukan, dan harapan tentang masa depan yang akan dijalani oleh dua insan yang dipersatukan.

Namun bagi saya, Sabtu, 6 Juni 2026, di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, tidak hanya menghadirkan kebahagiaan.

Hari itu, adik kandung saya, Andra, menikah dengan Fitriani.

Sebagai kakak, tentu saya bersyukur dapat menyaksikan langsung prosesi yang sakral tersebut. Saya melihat sendiri bagaimana Andra duduk di hadapan penghulu, mengucapkan ijab kabul dengan lancar, lalu berubah status dari seorang pemuda menjadi seorang suami.

Tepuk tangan bergema. Ucapan selamat berdatangan. Keluarga dan kerabat saling bersalaman. Tidak sedikit yang mengabadikan momen itu dengan telepon genggam mereka.

Namun di tengah keramaian dan kebahagiaan tersebut, pikiran saya justru melayang kepada orang-orang yang tidak lagi hadir.

Saya menyadari bahwa setiap keluarga memiliki cerita kehilangan. Akan tetapi, ada momen-momen tertentu dalam kehidupan yang membuat kehilangan itu terasa kembali nyata. Salah satunya adalah pernikahan.

Karena pada hari pernikahan, keluarga biasanya berkumpul dalam jumlah yang lengkap. Mereka datang untuk menyaksikan satu babak penting dalam perjalanan hidup seseorang. Di situlah kita mulai menyadari siapa saja yang tidak lagi berada di antara kita.

Hari itu, saya melihat pelaminan yang indah. Tetapi saya juga melihat kursi-kursi yang secara batin terasa kosong.

Kosong karena ada orang-orang yang semestinya hadir, namun telah lebih dahulu dipanggil Sang Pencipta.

Yang pertama terlintas dalam pikiran saya adalah ibu kami, almarhumah Munawara.

Beliau telah lama meninggalkan kami.

Waktu memang telah berjalan begitu jauh sejak kepergiannya. Kami tumbuh dewasa. Kami menjalani hidup masing-masing. Kami belajar menerima kenyataan bahwa ada takdir yang tidak bisa ditolak.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Kerinduan kepada seorang ibu.

Bagi seorang anak, kehilangan ibu bukanlah kehilangan yang selesai dalam satu atau dua tahun. Kehilangan itu hidup bersama waktu.

Ia muncul dalam berbagai bentuk.

Kadang hadir ketika melihat anak-anak lain dipeluk ibunya.

Kadang hadir saat menghadapi kesulitan hidup.

Dan kadang hadir begitu kuat ketika ada peristiwa besar dalam keluarga.

Pada hari pernikahan Andra, kerinduan itu datang kembali.

Saya membayangkan bagaimana seandainya ibu masih hidup.

Mungkin beliau adalah orang yang paling sibuk sejak pagi.

Mungkin beliau yang memastikan seluruh keluarga telah siap.

Mungkin beliau yang berulang kali menanyakan kebutuhan pengantin.

Mungkin beliau yang paling bahagia melihat anaknya duduk di pelaminan.

Tetapi semua kemungkinan itu berhenti menjadi kenyataan ketika kematian datang lebih dahulu.

Hari itu, Andra menikah tanpa bisa lagi mencium tangan ibunya.

Hari itu, kami berkumpul tanpa kehadiran perempuan yang pernah menjadi pusat kehidupan keluarga kami.

Dan itulah kenyataan yang tidak pernah mudah diterima meskipun telah bertahun-tahun berlalu.

Di sisi lain, keluarga kami juga belum lama menghadapi kehilangan yang lain.

Paman kami, almarhum Al Fatah, telah berpulang.

Kepergiannya masih terasa begitu dekat.

Bahkan suasana duka itu seakan kembali hidup ketika saya menyadari bahwa panggung akad nikah dan resepsi berdiri tepat di depan rumah beliau.

Rumah itu terlihat jelas dari pelaminan.

Pintunya terbuka.

Jendelanya menghadap ke arah lokasi acara.

Sepanjang hari, rumah tersebut seperti menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian pernikahan.

Bagi orang lain, mungkin itu hanya sebuah rumah biasa.

Namun bagi keluarga kami, rumah itu menyimpan banyak cerita.

Al Fatah bukan sekadar paman bagi Andra.

Beliau adalah bagian dari perjalanan yang mengantarkan Andra menuju hari pernikahannya.

Ketika hubungan Andra dan Fitriani mulai dijajaki, beliau ikut hadir.

Ketika keluarga mulai membicarakan masa depan keduanya, beliau ikut memberi pandangan.

Bahkan dalam proses lamaran, beliau menjadi salah satu delegasi keluarga yang datang membawa maksud baik kepada keluarga calon mempelai perempuan.

Beliau ikut membuka jalan menuju pernikahan itu.

Karena itulah terasa begitu ironis ketika hari yang dinantikan akhirnya tiba, tetapi beliau tidak lagi ada untuk menyaksikannya.

Beliau meninggalkan seorang istri, Erni.

Beliau meninggalkan Ainun Syakilah.

Beliau meninggalkan Fadlan yang sedang menempuh pendidikan agama di pondok pesantren.

Dan beliau meninggalkan Faqih yang masih kecil.

Ketika saya memandang rumah itu dari pelaminan, yang terlintas dalam pikiran saya bukan hanya kehilangan seorang anggota keluarga.

Yang terlintas adalah betapa cepatnya kehidupan berubah.

Hari ini seseorang hadir dalam percakapan keluarga.

Besok namanya hanya tinggal kenangan.

Hari ini seseorang ikut merencanakan sebuah kebahagiaan.

Besok ia hanya dikenang dalam kebahagiaan itu.

Pernikahan Andra membuat saya kembali memahami bahwa kehidupan manusia sesungguhnya sangat rapuh.

Kita sering merencanakan banyak hal untuk masa depan.

Kita membayangkan akan berada di suatu tempat pada waktu tertentu.

Kita berjanji akan menyaksikan berbagai peristiwa bersama orang-orang yang kita cintai.

Tetapi pada akhirnya, tidak semua rencana berada dalam kendali manusia.

Ada yang sempat sampai pada tujuan.

Ada yang hanya sempat mengantar sampai di tengah jalan.

Hari itu saya juga teringat kepada almarhum M. Taher Rahima dan almarhumah Jane.

Mereka adalah generasi yang lebih dahulu membangun fondasi keluarga besar kami.

Banyak nilai yang hingga hari ini masih hidup berasal dari mereka.

Tentang kerja keras.

Tentang menjaga silaturahmi.

Tentang pentingnya saling membantu.

Tentang bagaimana keluarga harus tetap berdiri dalam keadaan apa pun.

Mereka memang telah lama tiada.

Namun ketika para cucu dan keluarga besar berkumpul memenuhi pelataran resepsi malam itu, saya merasakan bahwa warisan mereka masih hidup.

Warisan itu bukan berupa harta benda.

Melainkan kebersamaan.

Karena sesungguhnya ukuran keberhasilan sebuah keluarga tidak hanya dilihat dari apa yang mereka miliki.

Tetapi dari bagaimana mereka tetap menjaga hubungan satu sama lain meskipun waktu terus berjalan.

Menjelang malam, pelataran resepsi semakin padat.

Para cucu dan cece dari keluarga besar M. Taher Rahima dan Rajana hadir memeriahkan acara.

Keluarga datang dari berbagai tempat.

Anak-anak berlarian di sekitar panggung.

Para ibu sibuk melayani tamu.

Sementara para tetua duduk mengenang cerita-cerita lama.

Dari kejauhan, suasana itu tampak seperti sebuah pesta keluarga yang penuh kebahagiaan.

Dan memang demikian adanya.

Tetapi jika diperhatikan lebih dalam, ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pesta pernikahan.

Ada rasa syukur karena masih diberi kesempatan berkumpul.

Ada kesadaran bahwa tidak semua anggota keluarga masih dapat hadir.

Ada pemahaman bahwa setiap pertemuan selalu berjalan berdampingan dengan kemungkinan perpisahan.

Mungkin itulah sebabnya saya melihat beberapa anggota keluarga sesekali terdiam.

Mereka tersenyum.

Namun mata mereka tampak menyimpan kenangan.

Karena di setiap keluarga selalu ada orang-orang yang tidak benar-benar pergi.

Mereka tetap hidup melalui cerita yang terus diceritakan.

Melalui nilai-nilai yang diwariskan.

Melalui kebiasaan yang masih dipertahankan.

Melalui doa-doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan.

Pernikahan Andra dan Fitriani pada akhirnya bukan hanya tentang dua insan yang dipersatukan.

Pernikahan itu juga menjadi pengingat tentang perjalanan panjang sebuah keluarga.

Perjalanan yang dipenuhi suka dan duka.

Perjalanan yang menghadirkan kelahiran dan kematian.

Perjalanan yang mempertemukan orang-orang, lalu perlahan memisahkan mereka melalui waktu.

Sebagai kakak, saya tentu berharap Andra dan Fitriani dapat membangun rumah tangga yang bahagia.

Namun lebih dari itu, saya berharap mereka selalu mengingat bahwa kebahagiaan yang mereka rasakan hari ini tidak lahir begitu saja.

Di baliknya ada doa orang tua.

Ada pengorbanan keluarga.

Ada kasih sayang para leluhur.

Dan ada kenangan tentang orang-orang yang telah lebih dahulu pergi.

Karena sesungguhnya, pada hari itu saya merasa pelaminan tidak hanya dihadiri oleh mereka yang tampak oleh mata.

Di pelaminan itu ada cinta seorang ibu yang telah lama tiada.

Ada harapan seorang paman yang tidak sempat menyaksikan akhir perjalanan yang ia bantu mulai.

Ada warisan kakek dan nenek yang masih hidup dalam diri anak-cucu mereka.

Dan ada doa-doa yang terus mengalir dari mereka yang telah pulang kepada Tuhan.

Mereka memang tidak lagi bisa kami peluk.

Tidak lagi bisa kami ajak berbincang.

Tidak lagi bisa kami dudukkan di kursi-kursi kehormatan.

Tetapi pada hari pernikahan Andra, saya percaya mereka tetap hadir dalam cara yang paling sederhana.

Melalui kenangan.

Melalui cinta.

Dan melalui kerinduan yang tidak pernah benar-benar berakhir.

Penulis adalah Jurnalis dan Kakak Kandung Andra

Akad dan Kerinduan yang Lama Tersimpan

SIKKA, Bajopos.com | Langit pagi di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (6/6/2026), tampak cerah. Angin laut berembus pelan menyapu perkampungan Suku Bajo yang berdiri di pesisir utara Pulau Flores.

Dari kejauhan terdengar lantunan doa, ucapan syukur, dan gema akad nikah yang mengiringi bersatunya dua insan dalam satu ikatan suci.

Hari itu menjadi hari yang bersejarah bagi Andra dan Fitriani. Namun lebih dari sekadar perayaan pernikahan, hari tersebut juga menjadi pertemuan antara kerinduan, kenangan, dan harapan yang telah lama tersimpan dalam hati keluarga besar kedua mempelai.

Panggung akad nikah berdiri sederhana namun penuh makna. Di sekelilingnya, keluarga, kerabat, dan masyarakat Suku Bajo berkumpul untuk menyaksikan prosesi yang sakral. Wajah-wajah bahagia terlihat di berbagai sudut. Senyum mengembang, doa dipanjatkan, dan ucapan selamat mengalir tanpa henti.

Tarian adat Panca yang masih lestari di kalangan masyarakat Bajo turut menghidupkan suasana. Gerakan para penari yang berpadu dengan irama musik tradisional seakan menjadi bahasa budaya yang menyampaikan pesan tentang kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan rasa syukur atas pertemuan dua insan yang dipersatukan oleh takdir.

Namun di balik seluruh kegembiraan itu, tersimpan kisah yang membuat banyak mata berkaca-kaca.

Andra merupakan anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Takdir Taher dan almarhumah Munawara. Kakak-kakaknya adalah Neni Yanti dan Faidin, sementara adik bungsunya bernama Nur Sadipa.

Bagi sebagian orang, pernikahan adalah momen ketika kedua orang tua mendampingi anak menuju gerbang kehidupan baru. Namun tidak demikian dengan Andra.

Puluhan tahun telah berlalu sejak Munawara dipanggil Sang Pencipta. Kepergian sang ibu meninggalkan ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi dalam kehidupan anak-anaknya.

Sejak saat itu, banyak momen penting yang tidak sempat disaksikannya. Hari kelulusan, berbagai pencapaian hidup, perjalanan panjang menuju kedewasaan, hingga hari pernikahan yang mungkin pernah dibayangkan bersama anak-anaknya.

Karena itu, ketika Andra duduk di hadapan penghulu untuk mengucapkan ijab kabul, banyak anggota keluarga merasakan haru yang sulit disembunyikan. Di tengah kebahagiaan yang hadir, ada satu sosok yang begitu dirindukan.

Sosok seorang ibu.

Sosok yang seharusnya berada di antara keluarga, menyaksikan anaknya mengucapkan janji suci dan memulai kehidupan baru.

Meski demikian, kehidupan selalu menemukan cara untuk menyembuhkan luka.

Setelah kehilangan sosok ibu kandung, keluarga itu tidak berjalan sendiri. Takdir kemudian dipertemukan dengan Jasna yang hadir menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga.

Jasna tidak pernah menggantikan posisi Munawara. Tidak ada seorang pun yang mampu menggantikan seorang ibu di hati anak-anaknya. Namun, ia hadir untuk melanjutkan kasih sayang, merawat kebersamaan, dan membantu keluarga melewati berbagai fase kehidupan.

Dari pernikahan tersebut lahir seorang putri bernama Ummu Fajriyatul Ullum yang kini menempuh pendidikan di MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale.

Kehadiran Ummu melengkapi keluarga yang telah melalui begitu banyak ujian hidup.

Di balik berbagai keterbatasan dan cobaan yang pernah datang, keluarga itu terus bertahan. Mereka belajar menerima kehilangan tanpa membiarkan kesedihan mengalahkan harapan.

Karena itulah, ketika Andra akhirnya mengucapkan ijab kabul dengan lancar, kebahagiaan yang hadir terasa berbeda.

Bukan sekadar karena seorang pemuda telah menemukan pendamping hidupnya, tetapi juga karena keluarga tersebut kembali menyaksikan satu babak penting yang berhasil dilalui bersama.

Setiap lafaz yang diucapkan terdengar jelas.

Dalam hitungan detik, status seorang pemuda berubah menjadi seorang suami.

Suasana haru bercampur syukur menyelimuti seluruh keluarga yang hadir.

Kebahagiaan itu juga diiringi kenangan terhadap orang-orang tercinta yang telah lebih dahulu berpulang.

Selain Munawara, keluarga mengenang almarhum M. Taher Rahima dan almarhumah Jane yang semasa hidup menjadi bagian penting dalam perjalanan keluarga besar tersebut.

Meski telah tiada, nilai-nilai yang mereka wariskan tetap hidup hingga hari ini. Nilai tentang kerja keras, kebersamaan, penghormatan terhadap tradisi, dan keyakinan bahwa setiap ujian selalu mengandung hikmah.

Nilai-nilai itulah yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Hari itu, kenangan terhadap mereka yang telah berpulang terasa semakin dekat.

Panggung akad nikah dan resepsi ternyata berdiri tepat di depan rumah almarhum Al Fatah, paman Andra yang belum lama ini meninggal dunia.

Bagi keluarga besar Taher Rahima, nama Al Fatah bukanlah sosok yang asing. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan keluarga dan selalu hadir dalam berbagai urusan kekeluargaan.

Al Fatah meninggalkan seorang istri, Erni, serta tiga orang anak, yakni Ainun Syakilah, Fadlan, dan Faqih.

Fadlan saat ini sedang menempuh pendidikan agama di pondok pesantren, sementara Faqih masih berada di usia kanak-kanak.

Kepergian Al Fatah masih menyisakan luka yang terasa hangat dalam ingatan keluarga.

Terlebih, dalam perjalanan menuju pernikahan Andra dan Fitriani, almarhum memiliki peran yang cukup penting.

Ia sempat menjadi delegasi keluarga saat penjajakan hubungan hingga proses lamaran kedua mempelai. Ia ikut hadir, berbicara, dan mengantarkan langkah awal yang kemudian membawa Andra dan Fitriani menuju pelaminan.

Karena itu, ketika hari pernikahan akhirnya tiba, banyak anggota keluarga yang kembali mengenang sosoknya.

Dari pelataran panggung, rumah almarhum tampak berdiri tepat di sisi kanan pelaminan.

Pintu rumah itu terbuka.

Bagi sebagian orang mungkin itu hanyalah sebuah rumah yang sedang terbuka seperti biasa. Namun bagi keluarga besar, pemandangan itu menghadirkan perasaan yang berbeda.

Seolah rumah itu ikut menjadi saksi atas kebahagiaan yang sedang berlangsung.

Seolah ada kerinduan yang diam-diam mengintip dari balik pintunya.

Di tengah riuh suara tamu dan lantunan musik pernikahan, keluarga mengenang seseorang yang sempat menjadi bagian dari perjalanan cinta kedua mempelai, namun tidak sempat menyaksikan hari bahagia itu hingga selesai.

Kehadirannya memang tidak lagi terlihat di antara para tamu undangan.

Namun jejak langkah, doa, dan kenangan yang ditinggalkannya tetap terasa hidup.

Di sisi lain panggung, Fitriani tampak mendampingi keluarga besarnya dengan penuh kebahagiaan.

Perempuan yang kini resmi menjadi istri Andra itu merupakan anak pertama dari pasangan Junading dan Maya.

Ia memiliki seorang adik bernama Rait yang saat ini menempuh pendidikan di MTs Muhammadiyah Al Fatah Nangahale.

Bagi keluarga Junading dan Maya, hari itu juga menjadi momen yang penuh makna.

Mereka tidak hanya melepas putri pertama menuju kehidupan baru, tetapi juga menyaksikan terbentuknya sebuah keluarga yang diharapkan menjadi sumber keberkahan di masa depan.

Ketika prosesi adat berlangsung, suasana kembali hidup.

Tarian Panca yang ditampilkan masyarakat Bajo menjadi simbol penghormatan terhadap budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Dentingan musik tradisional dan gerakan para penari menghadirkan warna tersendiri dalam pesta pernikahan tersebut.

Tradisi dan agama berjalan berdampingan.

Akad nikah menjadi pengikat yang sah secara syariat, sementara adat menjadi cara masyarakat mengekspresikan rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur.

Bagi masyarakat Bajo di Nangahale, pernikahan bukan hanya urusan dua orang.

Pernikahan adalah pertemuan dua keluarga, penyatuan doa, serta momentum memperkuat ikatan sosial dalam komunitas.

Karena itu, kehadiran warga yang ikut membantu sejak persiapan hingga pelaksanaan acara menjadi pemandangan yang lumrah.

Mereka datang bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar yang turut merasakan kebahagiaan kedua mempelai.

Menjelang malam, suasana resepsi semakin semarak.

Para cucu dan cece dari keluarga besar almarhum M. Taher Rahima dan Rajana turut hadir memeriahkan acara.

Kehadiran mereka melengkapi kebersamaan keluarga besar yang datang dari berbagai generasi untuk menyaksikan hari bahagia kedua mempelai.

Pelataran pentas tampak sesak dipenuhi keluarga, kerabat, dan tamu undangan yang datang silih berganti.

Namun padatnya suasana justru menghadirkan kehangatan tersendiri.

Gelak tawa, percakapan hangat, dan kebersamaan yang terjalin sepanjang malam menjadi gambaran eratnya hubungan kekeluargaan yang terus terjaga.

Anak-anak berlarian di sekitar lokasi acara.

Para ibu sibuk menyiapkan hidangan.

Sementara para tetua duduk berbincang mengenang perjalanan hidup yang telah mereka lalui bersama.

Di tengah keramaian itu terselip rasa syukur yang mendalam karena keluarga besar masih diberi kesempatan berkumpul dalam satu kebahagiaan.

Bagi keluarga besar kedua mempelai, resepsi malam itu bukan sekadar pesta pernikahan.

Momen tersebut menjadi ruang untuk mengenang mereka yang telah lebih dahulu berpulang, sekaligus merayakan hadirnya generasi baru dalam perjalanan keluarga.

Kisah Andra dan keluarganya mengajarkan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan manusia.

Ada kehilangan yang datang tanpa diminta.

Ada air mata yang harus jatuh sebelum kebahagiaan tiba.

Ada kerinduan yang mungkin tidak pernah benar-benar terobati.

Namun pada saat yang sama, Tuhan selalu menghadirkan jalan bagi harapan untuk tumbuh kembali.

Hari pernikahan Andra menjadi bukti bahwa setelah masa-masa sulit, kehidupan tetap menyediakan ruang untuk tersenyum.

Bahwa anak yang pernah tumbuh dengan kehilangan akhirnya dapat berdiri tegak membangun keluarganya sendiri.

Bahwa doa-doa yang dipanjatkan selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar hilang.

Dan bahwa orang-orang yang telah pergi tetap hidup dalam kenangan, dalam nilai-nilai yang diwariskan, serta dalam setiap langkah baik yang diteruskan oleh generasi setelahnya.

Di bawah langit Nangahale yang cerah, Andra dan Fitriani memulai lembaran baru sebagai suami dan istri.

Perjalanan yang tentu tidak selalu mudah, tetapi akan lebih ringan karena dijalani bersama.

Sementara bagi keluarga besar kedua mempelai, hari itu akan selalu dikenang sebagai hari ketika kerinduan, doa, kehilangan, dan kebahagiaan bertemu dalam satu panggung sederhana.

Panggung yang menjadi saksi bahwa cinta dan keluarga mampu melampaui jarak waktu.

Bahkan jarak antara dunia dan mereka yang telah lebih dahulu pulang kepada Sang Pencipta.

Reporter : Faidin