Kam. Sep 24th, 2026

Dakwah Islam

Peringatan Maulid Nabi di Masjid Al-Fatah Makassar, Menterjemahkan Kecintaan Kepada Rasulullah

MAKASSAR, Bajopos.com | Malam itu, Masjid Al-Fatah Hertasning, Makassar, bukan sekadar menjadi tempat berkumpulnya jamaah. Masjid tersebut berubah menjadi ruang untuk kembali mengingat sosok yang akhlaknya menjadi teladan umat: Nabi Muhammad SAW.

Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW digelar Pengurus Masjid Al-Fatah Hertasning, Sabtu (5/9/2026) malam, sekitar pukul 20.07 WITA.

Mengangkat tema “Meneladani Rasulullah SAW: Esensi Maulid dalam Membangun Generasi Berakhlak”, kegiatan berlangsung khidmat dengan dihadiri jamaah dari berbagai kalangan.

Namun, sebelum lantunan ayat suci dan tausiah menggema, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Fatah Hertasning, H. Natsir Barlin, terlebih dahulu menyampaikan pesan yang tak kalah penting.

Ia mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu mengungkap dan menemukan pelaku pencurian yang terjadi beberapa hari sebelumnya di lingkungan masjid.

Apresiasi diberikan kepada pihak kepolisian, media sosial, hingga media elektronik yang turut membantu memberikan informasi kepada masyarakat.

Di hadapan jamaah, Natsir juga mengingatkan agar setiap orang tetap waspada dan menjaga barang bawaan masing-masing.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masjid bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga ruang bersama yang membutuhkan kepedulian dan rasa tanggung jawab seluruh jamaah.

Maulid Bukan Sekadar Tradisi

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Kalam Ilahi yang dipimpin Ustadz Ramadhani, selaku imam Masjid Al-Fatah Hertasning.

Ketua Panitia, Drs. Kusnadi, M.Pd, dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi di Masjid Al-Fatah Hertasning diupayakan terlaksana setiap tahun.

Bukan semata-mata karena tradisi, tetapi sebagai ikhtiar untuk terus menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW.

Kusnadi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan, terutama para donatur yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Ia juga memberikan penghargaan kepada para ibu yang ikut mempersiapkan konsumsi, termasuk kaddo minyak dan telur yang menjadi salah satu ciri khas dalam peringatan Maulid.

Suasana pun sesekali pecah oleh humor Kusnadi ketika menggambarkan keberadaan Remaja Masjid.

“Remaja masjid di sini unik, rata-rata giginya belum tumbuh sempurna,” ujarnya dengan nada bercanda.

Sambutan tersebut ditutup dengan pantun:

“Buah pinang buah pepaya
Akar dan buahnya bisa jadi obat
Selamat datang di Masjid Al-Fatah
Kehadiran Bapak-Ibu buat kami tambah semangat.”

Dari Al-Fatah Menuju Hijrah Hati

Pesan utama malam itu kemudian disampaikan Al-Ustadz Dr. H. Sa’ad Kafrawi, S.H., M.H., C.Med.

Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah tidak berhenti pada kemeriahan Maulid, tetapi menggali makna yang lebih dalam dari peringatan kelahiran Rasulullah SAW.

Ia mengulas makna nama Al-Fatah yang berarti “terbuka”, sementara Muhajirin berarti orang-orang yang berhijrah.

Menurutnya, kedua makna tersebut dapat menjadi simbol perjalanan spiritual manusia.

Hati harus terbuka untuk menerima kebenaran dan siap berhijrah menuju jalan yang diridai Allah SWT.

“Hijrah” dalam konteks itu bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga perubahan sikap, perilaku dan akhlak.

Karena itu, menurut Ustadz Sa’ad, Maulid seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana kita telah meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari?

Ia juga mendorong pengurus masjid memanfaatkan perkembangan teknologi dengan memiliki akun media sosial.

Dengan demikian, ceramah dan berbagai kegiatan keagamaan tidak berhenti di dalam dinding masjid, tetapi dapat menjangkau jamaah yang tidak sempat hadir secara langsung.

Antara Merayakan dan Memperingati

Dalam ceramahnya, Ustadz Sa’ad juga mengajak jamaah memahami perbedaan antara istilah “merayakan” dan “memperingati” Maulid.

Menurutnya, merayakan cenderung memiliki konotasi pesta dan foya-foya, sedangkan memperingati lebih diarahkan kepada upaya mengambil pelajaran dan keteladanan dari kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Ia juga mengingatkan agar perbedaan pandangan mengenai Maulid tidak menjadi alasan untuk saling menyalahkan.

Menurutnya, jangan hanya mengatakan sebuah kegiatan tidak memiliki dalil, sementara pada saat yang sama tidak ada pula dalil yang secara khusus melarangnya.

Terlebih, menurut dia, kegiatan Maulid diisi dengan hal-hal positif seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah makanan dan mempererat silaturahmi, selama pelaksanaannya tidak mengandung kemusyrikan maupun perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Cinta kepada Rasulullah Dibuktikan dengan Berbagi

Pesan paling kuat yang disampaikan Ustadz Sa’ad adalah tentang akhlak Rasulullah SAW dalam memperlakukan sesama.

Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang gemar berbagi dan membalas keburukan dengan kebaikan.

Akhlak tersebut, kata dia, menjadi salah satu kekuatan dakwah Rasulullah. Bukan dengan kebencian, tetapi dengan kasih sayang dan keteladanan.

Dari situlah lahir sebuah pesan sederhana namun mendalam: cinta kepada Rasulullah tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus terlihat dalam perbuatan.

Berbagi kepada sesama, menjaga silaturahmi, memaafkan kesalahan, berbuat baik bahkan kepada orang yang berbuat buruk, merupakan bagian dari upaya meneladani akhlak Nabi.

“Cinta tertinggi adalah berbagi,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam ceramah tersebut.

Akhlak Rasulullah bahkan mampu mengetuk hati banyak orang yang sebelumnya memusuhi beliau. Tidak sedikit orang yang kemudian memeluk Islam dan menjadi sahabat Rasulullah setelah menyaksikan langsung kemuliaan akhlaknya.

Peringatan Maulid di Masjid Al-Fatah Hertasning akhirnya tidak hanya menjadi agenda tahunan.

Ia menjadi sebuah pengingat bahwa kelahiran Rasulullah SAW semestinya menghadirkan kelahiran kembali akhlak mulia dalam diri umat.

Sebab, Maulid akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti pada acara dan seremonial.

Cinta kepada Rasulullah menemukan maknanya ketika akhlak beliau mulai hidup dalam perilaku umatnya.

Penulis : Ikbal Tehuayo

Zulhijah dan Hari Tasyrik: Saat Amal Kecil Bernilai Besar di Hadapan Allah

BULAN ZULHIJAH adalah salah satu musim terbaik bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh. Di bulan inilah gema takbir berkumandang, jutaan umat Islam berkumpul di Tanah Suci menunaikan ibadah haji, dan kaum muslimin di berbagai daerah menyambut Idul Adha dengan ibadah kurban serta mempererat tali persaudaraan.

Namun, kemuliaan Zulhijah sesungguhnya tidak berhenti pada Hari Raya Idul Adha semata. Ada rangkaian hari yang memiliki keutamaan luar biasa, yakni hari-hari tasyrik pada tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Hari-hari ini disebut sebagai hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah, sekaligus momentum memperbanyak amal yang dicintai-Nya.

Allah SWT sendiri memberi isyarat tentang kemuliaan hari-hari tersebut dalam Al-Qur’an:

“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak.” (QS. Al-Hajj: 28)

Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “hari-hari yang telah ditentukan” mencakup hari-hari di bulan Zulhijah, termasuk hari tasyrik yang dipenuhi dengan zikir dan syiar pengagungan kepada Allah.

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:

“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203)

Mayoritas ulama menafsirkan “hari yang berbilang” sebagai hari-hari tasyrik, yakni tiga hari setelah Idul Adha. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan berbagai amal kebaikan pada hari-hari tersebut.

Keutamaan Zulhijah semakin ditegaskan melalui hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah dibanding sepuluh hari pertama Zulhijah.”

Para sahabat bertanya:

“Tidak juga jihad di jalan Allah?”

Rasulullah SAW menjawab:

“Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.” (HR. Bukhari No. 916)

Hadis ini menggambarkan betapa besarnya nilai amal pada hari-hari Zulhijah. Bahkan amal sederhana seperti zikir, sedekah, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, atau menjaga silaturahmi dapat memiliki pahala yang sangat agung apabila dilakukan dengan ikhlas.

Para ulama menjelaskan, keutamaan ini tidak hanya berlaku bagi jamaah haji, tetapi juga bagi umat Islam di seluruh dunia. Mereka yang tidak berhaji tetap memiliki kesempatan besar meraih limpahan pahala dengan memperbanyak ibadah dan rasa syukur.

Karena itu, hari tasyrik tidak dipahami hanya sebagai hari menikmati hidangan kurban. Lebih dari itu, ia adalah simbol kebersamaan, syukur, dan penghambaan kepada Allah.

Di banyak tempat, masyarakat berkumpul menikmati masakan dari daging kambing, sapi, atau unta hasil kurban. Tradisi makan bersama menjadi bagian dari syiar kebahagiaan dan kepedulian sosial dalam Islam.

Rasulullah SAW bersabda:

“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan spiritualitas dari kehidupan sosial. Bahkan aktivitas makan dan berkumpul bersama keluarga dapat bernilai ibadah ketika dilakukan dalam suasana syukur kepada Allah.

Selain itu, sepuluh hari pertama Zulhijah juga identik dengan puasa sunnah, terutama puasa Tarwiyah dan Arafah. Tentang puasa Arafah, Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Imam Muslim:

“Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim No. 1162)

Keutamaan ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah pada bulan Zulhijah. Melalui ibadah yang tampak sederhana, Allah membuka pintu pengampunan dan pahala yang begitu besar bagi hamba-Nya.

Para ulama juga menegaskan bahwa amal saleh pada hari-hari ini tidak terbatas pada ibadah ritual semata. Menjaga lisan, membantu orang tua, berbagi kepada fakir miskin, mempererat persaudaraan, hingga menghindari pertengkaran juga termasuk amal yang dicintai Allah.

Di tengah kehidupan modern yang penuh kesibukan, Zulhijah hadir sebagai pengingat bahwa manusia membutuhkan ruang untuk kembali mendekat kepada Tuhan.

Takbir yang berkumandang bukan hanya syiar lisan, melainkan seruan agar manusia menyadari kebesaran Allah di atas segala urusan dunia.

Karena itu, hari-hari Zulhijah seharusnya tidak dilewati secara biasa. Ia adalah kesempatan tahunan yang sangat berharga. Sebab dalam keyakinan Islam, belum tentu seseorang kembali bertemu dengan Zulhijah berikutnya.

Momentum ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak selalu ditentukan oleh besarnya amal yang tampak di mata manusia. Terkadang, doa yang lirih, sedekah yang sederhana, atau zikir yang tulus justru menjadi sebab datangnya rahmat dan ampunan-Nya.

Maka ketika gema takbir mulai memenuhi langit, sesungguhnya umat Islam sedang diingatkan untuk kembali memperbaiki hati, memperbanyak syukur, dan meneguhkan penghambaan kepada Allah SWT.

Penulis : Faidin

Khutbah ‘Id: Hidup Gelisah Karena Keberkahan Hidup yang Tiada, Materi Bukan Pemicu Utama

SIKKA, BAJOPOS.COM – Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026), tidak hanya menyentuh soal kematian dan amal, tetapi juga menyoroti satu persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: kegelisahan hidup.

Di hadapan ribuan jamaah, KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. menyinggung fenomena yang kerap dialami banyak orang—memiliki harta, pekerjaan, bahkan kehidupan yang terlihat mapan, namun tetap merasa tidak tenang.

“Kerja siang malam, tetapi Allah cabut keberkahannya,” ujarnya dalam khutbah.

Pernyataan itu menggambarkan kondisi yang dinilai semakin umum terjadi, di mana usaha yang dilakukan tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan hidup yang dirasakan.

Menurut Alifuddin, kegelisahan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi atau kurangnya materi, tetapi karena hilangnya keberkahan dalam kehidupan.

Ia menjelaskan, keberkahan bukan hanya soal jumlah, tetapi tentang manfaat dan ketenangan yang dirasakan dari apa yang dimiliki.

“Banyak orang tidak tahu ke mana uangnya habis. Rumah ada, tetapi tidak nyaman. Hidup terasa sempit,” katanya.

Fenomena itu, menurutnya, menjadi tanda bahwa ada yang tidak beres dalam hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam khutbahnya, ia menyebut bahwa salah satu bentuk “musibah” yang bisa menimpa manusia bukan hanya bencana alam, tetapi dicabutnya keberkahan dari kehidupan.

Akibatnya, seseorang tetap merasa gelisah meskipun secara lahiriah terlihat berkecukupan.

“Makan ada, tetapi tidak terasa nikmat. Tidur ada, tetapi tidak nyenyak,” ujarnya.

Alifuddin menegaskan, kegelisahan tersebut berkaitan erat dengan kualitas ibadah, khususnya salat. Ia menyebut, hubungan manusia dengan Allah menjadi kunci utama dalam menghadirkan ketenangan hidup.

“Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu,” tegasnya.

Menurutnya, salat bukan sekadar kewajiban, tetapi menjadi fondasi dalam membangun ketenangan batin. Ketika salat dijaga dengan baik, maka aspek kehidupan lainnya akan ikut membaik.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia sering kali membuat manusia lalai. Kesibukan bekerja, mengejar materi, dan memenuhi kebutuhan hidup membuat banyak orang menjauh dari nilai-nilai spiritual.

Padahal, menurutnya, semakin jauh seseorang dari Allah, semakin besar pula potensi kegelisahan yang dirasakan.

“Hidup seperti tidak punya arah, padahal semua ada,” ujarnya.

Khutbah tersebut juga menjadi refleksi setelah bulan Ramadan. Selama Ramadan, banyak umat Islam yang lebih disiplin dalam beribadah, lebih tenang, dan lebih terkontrol dalam menjalani kehidupan.

Namun setelah Ramadan berlalu, kondisi tersebut sering kali tidak bertahan.

“Ramadan melatih kita untuk tenang. Pertanyaannya, apakah itu kita bawa setelahnya?” kata Alifuddin.

Ia menegaskan, ketenangan hidup bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari kedekatan dengan Allah dan konsistensi dalam menjalankan ibadah.

Tanpa itu, menurutnya, manusia akan terus berada dalam kondisi gelisah, meskipun memiliki segala hal yang diinginkan.

Pesan tentang kegelisahan hidup ini menjadi salah satu bagian penting dalam khutbah Idul Fitri di Nangahale. Selain bersifat reflektif, pesan tersebut juga menjadi kritik terhadap pola hidup masyarakat yang cenderung mengejar materi tanpa diimbangi dengan kekuatan spiritual.

Di akhir khutbah, jamaah diajak untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Allah sebagai jalan keluar dari kegelisahan yang dirasakan.

Sebab, sebagaimana disampaikan dalam khutbah itu, ketenangan bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada keberkahan yang diberikan.

Reporter : Faidin

Khutbah ‘Id: KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi: Dibelakang Kita Ada Kubur

SIKKA, BAJOPOS.COM – Suasana haru menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026).

Di tengah gema takbir dan kebahagiaan hari raya, khutbah yang disampaikan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. justru mengajak jamaah menatap satu kenyataan yang kerap dihindari: kematian.

Dalam khutbahnya, Alifuddin menegaskan bahwa kehidupan dunia hanya bersifat sementara, sementara kubur adalah tempat persinggahan pertama menuju kehidupan akhirat.

“Di belakang kita ada kubur. Itulah rumah kita yang sebenarnya,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah.

Kalimat itu terasa jauh lebih kuat, bukan sekadar kiasan. Dari posisi mimbar tempat ia berdiri, hanya berjarak sekitar tiga meter, tampak jelas jejeran kubur di belakangnya.

Tanah-tanah yang telah mengeras, nisan-nisan yang berdiri sunyi, seolah menjadi saksi bisu atas setiap kata yang diucapkan.

Tampak hari itu, jamaah tak hanya mendengar, tetapi juga melihat langsung arah yang dimaksud.

Suasana yang semula penuh suka cita mendadak berubah. Hening. Beberapa jamaah menunduk. Sebagian lainnya mulai meneteskan air mata.

Untuk menguatkan pesannya, Alifuddin menyampaikan sebuah kisah yang menyentuh tentang seorang anak yatim pada hari raya.

Ia menggambarkan seorang anak perempuan kecil yang menangis sendirian di bawah pohon saat Idul Fitri, sementara orang lain bergembira. Pakaiannya kotor, wajahnya penuh kesedihan.

Ketika ditanya, anak itu mengaku telah kehilangan ayahnya yang gugur dalam perjuangan. Ibunya kemudian menikah lagi, dan ia diusir dari rumah.

“Bagaimana aku tidak menangis? Andaikan ayahku masih hidup, aku pasti tidak seperti ini,” demikian kisah yang disampaikan.

Cerita itu membuat suasana semakin emosional. Di tengah kebahagiaan hari raya, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa tidak semua orang merasakan kebahagiaan yang sama.

Dari kisah itu, Alifuddin mengaitkannya dengan realitas kehidupan dan kematian. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali ke tanah, meninggalkan orang-orang yang dicintai.

Di belakang mimbar itu, jejeran kubur seolah menjadi penegas yang tak terbantahkan. “Kubur adalah tempat pertama dari semua tempat di akhirat, sekaligus tempat terakhir dari kehidupan dunia,” katanya.

Ia menegaskan, apa yang dialami seseorang di alam kubur sangat ditentukan oleh amal selama hidup.

Khutbah tersebut juga mengajak jamaah untuk mengingat orang tua dan keluarga yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Ia mempertanyakan keberadaan ibu dan ayah yang dahulu membesarkan, namun kini telah berada di alam kubur—seperti yang tampak di belakangnya pagi itu.

“Di mana ibumu hari ini? Di mana ayahmu?” ucapnya.

Pertanyaan itu menjadi momen paling menyentuh. Banyak jamaah terlihat menutup wajah, mengingat orang tua yang telah tiada. Tangis pun pecah di beberapa barisan.

Alifuddin juga mengingatkan bahwa kematian datang tanpa peringatan. Tidak ada yang bisa memastikan umur seseorang akan sampai pada Ramadan berikutnya. “Kematian datang tiba-tiba, tanpa bisa ditunda,” tegasnya.

Ia menilai, kesadaran akan kematian seharusnya mendorong manusia untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan memperbanyak amal sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah mati.

Dalam khutbahnya, ia kembali menegaskan pentingnya menjaga kualitas ibadah, terutama salat, sebagai fondasi kehidupan. “Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu,” ujarnya.

Pesan itu disampaikan sebagai solusi atas kegelisahan hidup manusia, sekaligus sebagai bekal menghadapi kehidupan di alam kubur.

Khutbah Idul Fitri di Nangahale hari itu tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga momentum refleksi mendalam bagi umat.

Di tengah kebahagiaan hari raya, jamaah diingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Bahwa di balik tawa dan kebersamaan, ada satu kenyataan yang tidak bisa dihindari.

Bahwa suatu hari nanti, setiap orang akan menyusul mereka yang telah lebih dahulu pergi. Dan pagi itu, pengingat itu tidak jauh—hanya berjarak sekitar tiga meter, tepat di belakang mimbar.

Reporter : Faidin

Kampus Ramadan dan Skripsi Takwa: Pesan Tajam di Balik Khutbah Idul Fitri Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026), tidak hanya berisi ajakan spiritual, tetapi juga kritik tajam terhadap cara umat memaknai Ramadan.

Dalam khutbahnya, KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. mengibaratkan Ramadan sebagai “kampus” tempat umat Islam dididik selama satu bulan penuh. Sementara Idul Fitri disebutnya sebagai momentum “kelulusan”.

“Saudara-saudara sekalian adalah mahasiswa terbaik lulusan kampus Ramadan,” ujarnya di hadapan jamaah.

Namun pernyataan itu tidak berhenti sebagai pujian. Ia justru diikuti pertanyaan mendasar yang menyentuh inti ibadah Ramadan: apakah umat benar-benar lulus dengan nilai takwa?

Alifuddin menjelaskan, selama Ramadan umat Islam menjalani proses pendidikan yang intens. Mulai dari menahan lapar dan dahaga, mengendalikan emosi, hingga memperbanyak ibadah seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah.

Menurutnya, seluruh rangkaian itu bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan proses pembentukan karakter dan integritas keimanan.

“Puasa itu bukan hanya menahan lapar, tetapi membentuk manusia yang bertakwa,” tegasnya.

Ia menambahkan, berbeda dengan pendidikan formal, hasil dari “kampus Ramadan” tidak diumumkan secara terbuka. Penilaian sepenuhnya menjadi hak Allah.

“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang menilainya,” katanya mengutip hadis qudsi.

Lebih jauh, Alifuddin mengingatkan bahwa Idul Fitri bukan akhir dari proses tersebut. Justru setelah Ramadan, setiap Muslim dihadapkan pada “ujian lanjutan” dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengibaratkan hal itu sebagai “skripsi takwa” yang harus dikerjakan sepanjang hidup.

“Skripsi kita adalah takwa sepanjang hayat,” ujarnya.

Menurutnya, indikator keberhasilan Ramadan tidak hanya terlihat selama bulan puasa, tetapi terutama setelahnya. Konsistensi dalam menjaga salat, kedisiplinan beribadah, serta sikap dalam kehidupan sosial menjadi ukuran utama.

Dalam khutbahnya, ia juga menyinggung fenomena yang kerap terjadi di tengah masyarakat, yakni meningkatnya aktivitas ibadah selama Ramadan, namun menurun drastis setelahnya.

Masjid yang sebelumnya penuh, kembali lengang. Aktivitas keagamaan yang semarak, perlahan memudar.

Hal itu dinilai sebagai tanda bahwa nilai-nilai Ramadan belum sepenuhnya tertanam.

“Jangan sampai kita hanya semangat di bulan Ramadan, tetapi kehilangan arah setelahnya,” kata Alifuddin.

Ia menegaskan, takwa bukan konsep yang berhenti pada satu waktu, melainkan harus terus dijaga dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam pekerjaan, keluarga, maupun interaksi sosial.

Menurutnya, konsistensi tersebut menjadi tantangan utama bagi umat Islam setelah melewati Ramadan.

“Kalau setelah Ramadan kita kembali seperti semula, maka perlu dipertanyakan hasil pendidikan kita selama sebulan,” ujarnya.

Khutbah itu juga mengingatkan jamaah bahwa tidak ada jaminan setiap orang akan kembali bertemu Ramadan di tahun berikutnya. Karena itu, momentum Ramadan harus dimanfaatkan secara maksimal sebagai sarana perbaikan diri.

“Tidak ada yang bisa menjamin kita masih hidup untuk Ramadan berikutnya,” katanya.

Pesan tentang “kampus Ramadan” dan “skripsi takwa” menjadi salah satu bagian paling kuat dalam khutbah tersebut. Selain mengandung makna reflektif, pesan itu juga menjadi kritik sosial terhadap pola keberagamaan yang cenderung musiman.

Di akhir khutbah, Alifuddin mengajak jamaah untuk menjaga nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Idul Fitri benar-benar menjadi titik awal perubahan, bukan sekadar perayaan tahunan.

“Pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing, apa hasil Ramadan yang kita dapatkan,” tutupnya.

Reporter : Faidin

Masjid “Telanjang” 8 Tahun: Ketika Umat Sibuk Menghias Diri, Rumah Allah Menunggu Disempurnakan

SIKKA, BAJOPOS.COM – Pagi Idul Fitri, Sabtu, 21 Maret 2026, Lapangan Marannu di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, dipenuhi lautan manusia.

Umat Muslim datang dari berbagai sudut kampung, mengenakan pakaian terbaik mereka. Anak-anak berlarian dengan wajah ceria, orang tua saling bersalaman, dan gema takbir mengalun memenuhi udara.

Hari itu adalah hari kemenangan.

Namun di balik kebahagiaan yang tampak, terselip sebuah kegelisahan yang perlahan dibuka dalam khutbah Idul Fitri oleh KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc.—sebuah kegelisahan tentang rumah Allah yang telah lama “terlupakan”.

“Masjid Nangahale masih telanjang…”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengguncang.

Sejenak, suasana yang semula riuh menjadi hening. Ribuan pasang mata tertuju ke arah mimbar. Sebagian mulai menunduk. Yang lain tampak gelisah. Ada yang diam-diam menyeka air mata.

Masjid yang dimaksud adalah Masjid Baitusshodiq Nangahale—sebuah rumah ibadah yang telah memasuki tahun kedelapan dalam kondisi belum rampung. Direhabilitasi dengan harapan menjadi pusat ibadah yang layak, namun hingga kini pembangunannya tak kunjung selesai.

Delapan tahun.

Waktu yang cukup panjang untuk membangun rumah, menyekolahkan anak, bahkan merubah kehidupan seseorang. Namun bagi masjid itu, delapan tahun adalah penantian yang tak kunjung usai.

Dindingnya belum sepenuhnya berdiri kokoh. Kubah yang diimpikan belum juga menghiasi langit kampung. Ia berdiri dalam diam, seperti tubuh yang belum dipakaikan baju—terbuka, menunggu, dan seolah memanggil.

Di saat yang sama, kehidupan di sekitarnya terus berjalan. Rumah-rumah warga perlahan berubah menjadi lebih baik. Kendaraan baru mulai mengisi halaman. Pakaian-pakaian baru hadir setiap hari raya.

Namun masjid itu tetap sama.

Seolah-olah ia berada di antara prioritas yang terus ditunda.

Dalam khutbahnya, sang khatib tidak hanya menyampaikan pesan—ia menggugah hati.

Ia mengibaratkan masjid itu seakan berbicara kepada umatnya sendiri.

“Jika kalian punya pakaian yang bagus, kenapa kalian biarkan aku telanjang? Jika kalian memiliki yang indah, kenapa aku tidak kalian indahkan?”

Tak ada jawaban.

Hanya keheningan yang menggantung di udara.

Kalimat itu seperti cermin yang dipaksa dihadapkan kepada setiap jamaah. Di hari ketika semua orang berusaha tampil terbaik, ternyata ada satu hal yang justru luput dari perhatian—rumah tempat mereka bersujud.

Khutbah itu kemudian membawa jamaah pada perenungan yang lebih dalam.

Tentang harta, tentang kepemilikan, dan tentang apa yang sebenarnya akan dibawa pulang ketika kehidupan ini berakhir.

“Mobil yang kau punya itu bukan milikmu. Baju yang kau pakai itu bukan milikmu. Yang menjadi milikmu adalah apa yang engkau sedekahkan di jalan Allah.”

Pesan itu menghantam kesadaran.

Di tengah kehidupan yang terus mengejar kenyamanan dunia, manusia sering kali lupa bahwa yang abadi bukanlah apa yang dimiliki, tetapi apa yang diberikan.

Masjid Baitusshodiq yang “telanjang” itu menjadi simbol nyata dari kepedulian yang belum tuntas. Dari iman yang mungkin masih tersimpan di hati, tetapi belum sepenuhnya diwujudkan dalam tindakan nyata.

Tangis mulai terdengar lebih jelas.

Di antara saf-saf jamaah, beberapa orang tak lagi mampu menahan haru. Ada yang menunduk dalam-dalam, ada yang menutup wajah dengan kedua tangan.

Bukan karena mereka tidak tahu.

Tetapi karena mereka baru benar-benar menyadari.

Delapan tahun bukan sekadar angka. Ia adalah pengingat tentang waktu yang terlewat, tentang kesempatan yang mungkin terabaikan, tentang niat baik yang belum menjadi amal.

Khutbah itu tidak berhenti pada teguran.

Ia berlanjut dengan ajakan, bahkan harapan.

Sang khatib mengingatkan bahwa keberkahan hidup tidak selalu diukur dari banyaknya harta, tetapi dari sejauh mana harta itu digunakan di jalan Allah.

Ia mengingatkan tentang sedekah yang tidak akan mengurangi, justru menambah. Tentang janji Allah yang pasti, berbeda dengan janji manusia yang sering tak terwujud.

“Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu.”

Kalimat itu kembali menguatkan—bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal sederhana, dari kesadaran, dari niat yang tulus.

Di penghujung khutbah, suasana semakin haru.

Doa panjang dipanjatkan. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk seluruh umat, untuk orang tua yang telah tiada, untuk keluarga, dan untuk kampung Nangahale.

“Ya Allah, beri kami rezeki agar kami bisa menyelesaikan rumah-Mu ini…”

Ribuan tangan terangkat serempak. Wajah-wajah yang sebelumnya tersenyum kini basah oleh air mata. Bibir bergetar, menyebut nama Allah dengan penuh harap.

Di bawah terik matahari pagi, doa itu terasa begitu tulus.

Ada rasa malu yang tak terucap. Ada penyesalan yang perlahan muncul. Namun di saat yang sama, ada harapan—bahwa semuanya belum terlambat.

Hari itu, Idul Fitri di Nangahale tidak hanya menjadi perayaan kemenangan setelah Ramadan.

Ia berubah menjadi momentum kebangkitan kesadaran.

Tentang sebuah masjid yang telah delapan tahun menunggu untuk disempurnakan.

Tentang umat yang mungkin tidak kekurangan harta, tetapi belum sepenuhnya menghadirkan kepedulian.

Dan tentang satu pertanyaan yang kini tertinggal di hati setiap jamaah:

Apakah kita akan terus menghias diri,
sementara rumah Allah di kampung kita sendiri masih “telanjang”?

Reporter : Faidin

Tangis Pecah di Lapangan Marannu, Ketika Khutbah Idul Fitri Menggugah Luka, Rindu, dan Penyesalan

SIKKA, BAJOPOS.COM – Pagi itu, Sabtu, 21 Maret 2026, langit di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, tampak cerah. Hamparan Lapangan Marannu dipenuhi umat Muslim yang datang dengan pakaian terbaik mereka. Senyum, pelukan, dan ucapan maaf bersahutan, menandai hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.

Namun, suasana haru perlahan menyelimuti ketika khutbah Idul Fitri dimulai.

Di atas mimbar sederhana, KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. berdiri dengan suara lantang. Tak sekadar menyampaikan khutbah, ia seperti sedang membuka satu per satu lembaran hati para jamaah. Kalimat demi kalimat yang keluar dari lisannya menggema, bukan hanya di lapangan, tetapi jauh menembus relung jiwa.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilham…”

Takbir yang dilantunkan berulang itu awalnya terdengar seperti biasa. Namun perlahan berubah menjadi getaran yang mengoyak perasaan. Beberapa jamaah mulai menunduk. Ada yang mengusap mata. Tangis pertama pecah—pelan, lalu menular.

Khutbah itu tidak hanya bicara tentang kemenangan. Ia justru mengingatkan tentang kehilangan.

Tentang waktu yang mungkin tak akan kembali.

Tentang Ramadan yang telah pergi—dan belum tentu bisa ditemui lagi.

“Tidak ada jaminan kita akan bertemu Ramadan tahun depan,” ucap sang khatib dengan suara bergetar. Kalimat itu seperti menghantam kesadaran banyak orang. Di antara ribuan jamaah, mungkin ada yang diam-diam bertanya dalam hati: ini Ramadan terakhirku atau bukan?

Suasana semakin sunyi. Angin pagi seolah ikut berhenti.

Dalam khutbahnya, Alifuddin mengajak jamaah menoleh ke belakang—bukan secara fisik, tetapi batin. Ia menggambarkan sebuah kenyataan yang tak bisa dihindari: kematian.

“Di belakang sana adalah rumah kita yang sebenarnya,” katanya.

Sebagian jamaah tak kuasa menahan air mata. Bayangan tentang kubur, tentang orang tua yang telah tiada, tentang keluarga yang sudah lebih dulu pergi, hadir tanpa diundang.

Ia lalu bertanya, seakan langsung kepada setiap hati:

“Di mana ibumu hari ini?”

Kalimat sederhana itu justru paling menyayat.

Bagi mereka yang masih memiliki ibu, pertanyaan itu menjadi pengingat yang menyesakkan. Bagi yang telah kehilangan, luka lama kembali terbuka. Isak tangis pun terdengar lebih jelas di beberapa sudut lapangan.

“Ibu yang mengandung kita sembilan bulan, yang mempertaruhkan nyawa… di mana dia sekarang?” lanjutnya.

Tak sedikit jamaah yang menunduk lebih dalam. Ada yang memejamkan mata. Ada pula yang tak lagi mampu menyembunyikan tangisnya.

Khutbah itu juga menghadirkan kisah menyentuh tentang seorang anak kecil di hari raya—seorang gadis yatim yang menangis di bawah pohon, sementara orang lain bergembira.

“Ayahku telah tiada… ibuku menikah lagi… aku diusir dari rumah,” kisah itu dilantunkan dengan suara lirih.

Cerita itu seperti cermin. Di tengah gemuruh takbir dan kebahagiaan, ternyata masih ada luka-luka yang tersembunyi. Ada anak-anak yang merayakan Idul Fitri tanpa pelukan ayah. Tanpa kasih ibu.

Beberapa jamaah terlihat menutup wajah mereka. Tangis tak lagi bisa dibendung.

Tak berhenti di situ, khutbah juga menyinggung kehidupan yang sering kali terasa penuh, namun sebenarnya kosong dari keberkahan.

“Kerja siang malam, tapi Allah cabut keberkahannya,” ucapnya tegas.

Hening kembali menyelimuti.

Kalimat itu seperti menampar realitas banyak orang—tentang rezeki yang terasa sempit, rumah tangga yang gelisah, hidup yang kehilangan arah. Bukan karena kurang usaha, tetapi karena ada yang hilang: kedekatan dengan Allah.

“Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu.”

Pesan itu sederhana, tetapi terasa berat bagi yang menyadari betapa seringnya lalai.

Di penghujung khutbah, suara sang khatib melemah. Ia tak lagi hanya berbicara—ia berdoa. Doa panjang yang dipanjatkan dengan penuh harap.

“Ya Allah, jika nama kami ada dalam daftar penghuni neraka, hapuskanlah…”

Doa itu menggema. Di bawah terik matahari pagi, ribuan tangan terangkat. Bibir bergetar. Air mata mengalir tanpa suara.

Ia menyebut satu per satu: ibu, ayah, istri, suami, anak-anak, sahabat—semua dimohonkan ampunan. Bahkan mereka yang telah berada di alam kubur.

“Ya Allah, di belakang kami ada kubur ibu kami… ampuni mereka…”

Kalimat itu membuat tangis pecah lebih keras. Tak sedikit jamaah yang tersedu, mengingat orang-orang tercinta yang telah pergi dan tak akan pernah kembali.

Hari itu, Idul Fitri di Lapangan Marannu bukan hanya tentang kemenangan. Ia menjadi ruang perenungan yang dalam—tentang hidup yang sementara, tentang kematian yang pasti, dan tentang cinta yang sering terlambat disadari.

Ketika khutbah berakhir, jamaah tak langsung beranjak. Beberapa masih duduk, menenangkan diri. Sebagian saling berpelukan lebih lama dari biasanya.

Seolah mereka sadar, waktu bersama orang-orang tercinta tidak akan selamanya ada.

Di tengah gema takbir yang perlahan mereda, satu pesan tertinggal kuat di hati:

Bahwa Idul Fitri bukan sekadar kembali suci.

Tetapi juga tentang kembali—sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Reporter : Faidin