Rab. Sep 23rd, 2026

Argentina

Angka 19 yang Menghantui Argentina di Pildun 2026, Kebetulan Unik di Balik Gelar Juara Spanyol

SIKKA, BAJOPOS.COM | Sepak bola tak pernah lepas dari cerita-cerita unik. Selain strategi, kualitas pemain, dan drama di lapangan, selalu ada rangkaian kebetulan yang kemudian menjadi bahan perbincangan para penggemar.

Pada final Piala Dunia (Pildun) 2026 antara Spanyol melawan Argentina, satu angka mencuri perhatian: 19.

Bagi sebagian pencinta sepak bola, angka 19 seolah menjadi simbol yang mengiringi perjalanan Spanyol menuju gelar juara dunia. Tentu, ini hanyalah rangkaian kebetulan menarik, bukan faktor yang menentukan hasil pertandingan.

Final berlangsung pada 19 Juli 2026. Di hari itulah Spanyol akhirnya berhasil  merobek gawang dan menumbangkan Argentina dengan skor 1-0 dan merebut trofi Piala Dunia.

Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah sosok bintang muda Spanyol, Lamine Yamal. Pemain berusia 19 tahun itu tampil dengan nomor punggung 19, dan menjadi salah satu pemain paling berpengaruh sepanjang turnamen.

Tanggal pertandingan, usia sang pemain, dan nomor punggungnya sama-sama bertemu pada angka 19.

Di sisi lain, Argentina justru harus mengakhiri impian mempertahankan gelar dunia tepat pada tanggal tersebut. Sang juara bertahan yang datang dengan kepercayaan diri tinggi akhirnya harus mengakui keunggulan generasi baru Spanyol.

Bagi para pecinta statistik, angka 19 menjadi benang merah yang mempercantik cerita final Piala Dunia 2026. Bagi mereka yang menyukai kisah-kisah simbolik dalam olahraga, angka itu mungkin terasa istimewa.

Namun pada akhirnya, kemenangan Spanyol tetap ditentukan oleh kualitas permainan, disiplin taktik, dan kemampuan memanfaatkan peluang di lapangan.

Sepak bola memang sering menghadirkan kebetulan-kebetulan yang sulit dijelaskan. Dan pada final Piala Dunia 2026, angka 19 menjadi salah satu cerita yang akan terus dikenang—bukan karena dianggap membawa kekuatan tertentu, melainkan karena kebetulan-kebetulan unik yang mengiringi lahirnya juara dunia baru.

Penulis : Faidin

Argentina Lolos Dramatis ke 16 Besar! Romero Jadi Pahlawan, Cape Verde Nyaris Ciptakan Kejutan Besar

MIAMI, BAJOPOS.COM | Timnas Argentina dipaksa bekerja ekstra keras untuk mengamankan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia setelah menundukkan Cape Verde dengan skor dramatis 3-2 melalui babak perpanjangan waktu di Miami Stadium.

Kemenangan ini sama sekali tidak diraih dengan mudah. Dua kali unggul, dua kali pula Argentina gagal mempertahankan keunggulannya.

Bahkan, Cape Verde nyaris menciptakan salah satu kejutan terbesar turnamen sebelum akhirnya Cristian Romero muncul sebagai pahlawan kemenangan La Albiceleste.

Cape Verde tampil tanpa rasa takut sejak peluit awal dibunyikan. Mereka langsung memberikan tekanan kepada lini pertahanan Argentina dan memaksa Emiliano Martinez melakukan sejumlah penyelamatan penting pada 10 menit pertama pertandingan.

Setelah sempat berada di bawah tekanan, Argentina mulai menguasai permainan dengan pendekatan yang lebih sabar. Tim asuhan Lionel Scaloni lebih mengandalkan penguasaan bola dan umpan-umpan terukur dibandingkan serangan cepat.

Keunggulan Argentina akhirnya lahir melalui aksi kapten mereka, Lionel Messi. Berawal dari umpan panjang akurat Lisandro Martinez yang membelah pertahanan Cape Verde, Messi mengontrol bola dengan sempurna sebelum menaklukkan penjaga gawang lawan untuk membawa Argentina unggul 1-0 hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, Cape Verde menunjukkan mental luar biasa. Kesalahan koordinasi lini belakang Argentina berhasil dimanfaatkan Deroy Duarte yang melepaskan tembakan akurat ke sudut bawah gawang untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Gol tersebut membuat permainan Argentina berubah. Tim yang biasanya tampil tenang justru mulai kehilangan ritme.

Kesalahan demi kesalahan muncul, sementara kiper Cape Verde, Vozinha, tampil gemilang dengan menggagalkan sejumlah peluang emas Messi, termasuk dalam duel satu lawan satu dan tendangan bebas di penghujung waktu normal.

Pertandingan pun harus berlanjut ke babak tambahan

Argentina kembali memimpin melalui gol spektakuler Lisandro Martinez yang melepaskan tendangan keras ke atap gawang. Namun, Cape Verde kembali menunjukkan semangat pantang menyerah. Sidny Lopes Cabral mencetak gol penyama lewat tembakan keras dari sudut sempit yang membuat skor berubah menjadi 2-2.

Saat pertandingan tampak akan menuju adu penalti, Lionel Messi kembali menunjukkan perannya sebagai pembeda. Tendangan sudutnya mengarah tepat ke kepala Cristian Romero yang menyundul bola tanpa mampu dihalau penjaga gawang Cape Verde.

Gol Romero menjadi penentu kemenangan 3-2 sekaligus memastikan Argentina melangkah ke babak 16 besar

Meski lolos, penampilan Argentina meninggalkan sejumlah pekerjaan rumah. Lini pertahanan beberapa kali kehilangan konsentrasi, sementara lini tengah kesulitan mengendalikan permainan ketika mendapat tekanan tinggi dari Cape Verde.

Sebaliknya, Cape Verde menuai banyak pujian. Tim yang berstatus nonunggulan itu tampil disiplin, berani menyerang, dan dua kali berhasil bangkit dari ketertinggalan. Meski gagal lolos, performa mereka menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing dengan salah satu kandidat juara dunia.

Dalam penilaian pemain, Lionel Messi mendapat nilai 8/10 berkat satu gol dan satu assist yang menjadi penentu kemenangan Argentina. Cristian Romero juga memperoleh nilai 8/10 setelah tampil kokoh di lini belakang sekaligus mencetak gol kemenangan.

Sementara itu, Enzo Fernandez menjadi pemain dengan nilai terendah (4/10) akibat penampilan yang dinilai kurang maksimal, terutama dalam mengawal gol penyama kedudukan Cape Verde.

Kemenangan dramatis ini menjaga asa Argentina untuk terus berburu gelar juara dunia. Namun, jika ingin melangkah lebih jauh, Lionel Scaloni harus segera membenahi rapuhnya lini pertahanan yang hampir saja membuat mimpi La Albiceleste berakhir lebih cepat.

Reporter : Faidin

Lionel Messi dan Bab Keenam yang Tak Pernah Ditulis Siapa Pun di Piala Dunia

SIKKA, BAJOPOS.COM | Di sebuah stadion di Kansas City, Amerika Serikat, Rabu (17/6/2026) pagi WIB, Lionel Messi tidak sekadar berjalan memasuki lapangan. Ia melangkah masuk ke dalam sejarah yang belum pernah disentuh pemain mana pun sebelumnya.

Saat memimpin Argentina menghadapi Aljazair pada laga pembuka Piala Dunia 2026, Messi resmi menjadi pesepak bola pertama yang tampil di enam edisi Piala Dunia berbeda. Sebuah pencapaian yang selama puluhan tahun hanya menjadi angan-angan para legenda sepak bola dunia.

Dari remaja kurus berusia 18 tahun yang menjalani debut di Jerman pada 2006 hingga menjadi kapten juara dunia Argentina, perjalanan Messi kini membentang melintasi dua dekade dan enam generasi turnamen sepak bola terbesar di planet ini.

Rekor tersebut terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan penampilan ke-200 Messi bersama Tim Nasional Argentina. Sebuah angka yang menggambarkan konsistensi luar biasa seorang pemain yang tetap bertahan di level tertinggi ketika banyak rival dan rekan seangkatannya telah lama meninggalkan panggung internasional.

Sebelum laga melawan Aljazair, Messi sejajar dengan lima nama besar yang pernah tampil dalam lima edisi Piala Dunia, yakni Cristiano Ronaldo, Antonio Carbajal, Rafael Márquez, Andrés Guardado, dan Lothar Matthäus. Kini, kapten Argentina itu berdiri sendirian di puncak.

Perjalanan itu dimulai pada Piala Dunia 2006 di Jerman. Kala itu Messi muda langsung mencuri perhatian dengan mencetak gol saat Argentina menghancurkan Serbia dan Montenegro 6-0. Tak banyak yang menyangka bahwa dua puluh tahun kemudian, pemain yang sama masih mengenakan seragam Albiceleste di panggung yang sama.

Sejak debut tersebut, Messi tidak pernah absen dari Piala Dunia. Ia tampil pada edisi 2010, 2014, 2018, 2022, dan kini 2026. Rentang waktu yang cukup panjang untuk menyaksikan perubahan generasi, taktik, hingga teknologi sepak bola.

Namun rekor enam Piala Dunia bukan satu-satunya catatan yang dimiliki Messi. Ia juga merupakan pemegang rekor penampilan terbanyak di putaran final Piala Dunia.

Rekor itu dipecahkannya saat Argentina mengalahkan Prancis pada final Piala Dunia 2022 di Qatar, melewati catatan 25 pertandingan milik legenda Jerman, Lothar Matthäus.

Laga kontra Aljazair menjadi pertandingan ke-27 Messi di putaran final Piala Dunia, mempertegas statusnya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah turnamen tersebut.

Meski demikian, rekor enam edisi Piala Dunia berpotensi segera memiliki “teman”. Cristiano Ronaldo dijadwalkan tampil bersama Portugal menghadapi Republik Demokratik Kongo.

Jika dimainkan, Ronaldo juga akan mencatatkan penampilan pada enam edisi Piala Dunia berbeda. Namun sejarah tetap mencatat Messi sebagai orang pertama yang membuka jalan menuju pencapaian tersebut.

Di tengah euforia rekor, ada satu kenyataan yang membuat momen ini terasa emosional. Messi kini berusia 38 tahun. Ia belum memastikan kapan akan mengakhiri karier internasionalnya, tetapi beberapa kali mengisyaratkan bahwa Piala Dunia 2026 kemungkinan menjadi turnamen terakhirnya bersama Argentina.

Jika benar demikian, maka Kansas City bukan hanya menjadi lokasi lahirnya sebuah rekor. Kota itu bisa saja dikenang sebagai tempat dimulainya bab terakhir perjalanan seorang pemain yang selama bertahun-tahun mendefinisikan kehebatan sepak bola modern.

Dan ketika peluit akhir karier itu suatu hari berbunyi, dunia mungkin akan mengenang satu hal sederhana: ada seorang pemain bernama Lionel Messi yang berhasil menghadiri enam Piala Dunia, sesuatu yang selama lebih dari seabad sejarah turnamen itu tak pernah mampu dilakukan siapa pun.

Penulis : Faidin