SIKKA, Bajopos.com | Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menyalurkan bantuan sembako bagi komunitas masyarakat adat Soge Natarmage dan Goban Runut yang terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 dan kini masih bertahan di sejumlah titik pengungsian mandiri di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.
Bantuan tersebut disalurkan melalui Perkumpulan Bantuan Hukum Nusa Tenggara (PBH-Nusra) pada Jumat, 21 Agustus 2026. Penyaluran menyasar warga yang tinggal di tenda-tenda pengungsian mandiri di titik Pedan, Utan Wair, Wairhek, dan Hitohalok.
Adapun bantuan yang disalurkan berupa 1 ton beras, 30 dus mie Sedaap, enam ikat telur ayam atau dua papan, terpal, tikar, lampu energi, serta sejumlah kebutuhan lainnya.
Distribusi bantuan kepada warga terdampak turut dibantu para relawan yang tergabung dalam Gerakan Muda Reforma Agraria Sikka (GEMARA) di Nangahale.
Bantuan tersebut menjadi perhatian bagi warga yang memilih mengungsi secara mandiri setelah gempa kuat yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026.
Selain menghadapi kebutuhan pangan, warga di sejumlah lokasi pengungsian mandiri juga masih mengalami dampak psikologis akibat gempa.
Aloysius Lose (64), warga Desa Natarmage, RT 09/RW 05, yang kini berdomisili di lokasi Perjuangan Nangahale, titik Pedan, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diterima.
Ia mengatakan, bantuan tersebut sangat berarti bagi warga yang bertahan di pengungsian mandiri.
“Kami merasa bersyukur, karena masih ada pihak yang membantu kami di tempat pengungsian mandiri. Kami menyampaikan terima kasih banyak kepada KPA di Jakarta, KPA NTT dan PBH-Nusra yang menghantar bantuan sampai di sini,” tutur Lose.
Sementara itu, Piter Embu Gusi selaku koordinator pelaksana penyaluran bantuan logistik bencana bagi komunitas masyarakat adat Soge Natarmage dan Goban Runut berharap bantuan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar warga selama masa tanggap darurat.
“Semoga bantuan yang diberikan oleh KPA kepada warga terdampak gempa bumi yang saat ini sedang berdomisili di tenda pengungsian mandiri dapat membantu masyarakat dan kebutuhan pangan selama masa tanggap darurat terpenuhi,” ujarnya.
Di sisi lain, warga pengungsian mandiri berharap pemerintah daerah tidak luput memperhatikan keberadaan mereka. Salah satunya disampaikan Mariani (35), warga Desa Nangahale yang ditemui di titik pengungsian mandiri Pedan.
Mariani mengatakan, warga telah bertahan selama sekitar satu minggu di lokasi tersebut dan berharap pemerintah segera memberikan perhatian serta bantuan.
“Kami berharap agar situasi ini segera berakhir dan kami bisa kembali ke rumah kami masing-masing dan mulai bekerja seperti biasa. Kami juga berharap agar pemerintah setempat bisa memperhatikan kami yang saat ini berada di tenda pengungsian mandiri,” katanya.
Menurut Mariani, hingga saat itu warga di titik Pedan belum menerima bantuan dari pemerintah.
“Sudah satu minggu kami tinggal di tenda pengungsian mandiri, khususnya di titik Pedan. Sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah,” pungkasnya.
Penyaluran bantuan KPA tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kebutuhan warga di lokasi pengungsian mandiri masih menjadi perhatian berbagai pihak.
Warga berharap bantuan tidak hanya datang dari kelompok masyarakat sipil dan organisasi kemanusiaan, tetapi juga mendapat perhatian yang merata dari pemerintah selama masa tanggap darurat.
Reporter : MM

