Sab. Mei 30th, 2026

Julie Sutrisno Laiskodat dalam Refleksi Idul Adha, “Mengikis Ego dan Menyembelih Sifat Buruk”

Penyerahan hewan kurban dari anggota DPR RI, Julie Sutrisno Laiskodat di kemasjidan Attaqwa Witihama.

FLORES TIMUR, Bajopos.com | Gema takbir Idul Adha berkumandang di seluruh penjuru tanah Lamaholot, Kabupaten Flores Timur, Rabu (27/5/2026).

Dari mushala ke mushala dan masjid ke masjid, suara takbir saling bersahutan menghadirkan suasana religius yang penuh haru dan kebersamaan.

Di tengah lantunan kalimat tauhid itu, umat Muslim dari berbagai kalangan larut dalam suka cita hari raya kurban. Anak-anak, orang tua, kaum muda, hingga para lansia menyambut Idul Adha dengan hati penuh syukur dan pengharapan.

Momentum sakral tersebut juga diwarnai dengan penyerahan hewan kurban dari Anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat kepada Takmir Masjid Attaqwa Witihama melalui perwakilannya.

Bantuan satu ekor sapi itu kemudian diterima langsung oleh panitia pemotongan hewan kurban tahun 2026.

Bagi Julie Sutrisno Laiskodat, Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan atau seremoni penyembelihan hewan kurban.

Lebih dari itu, Idul Adha merupakan refleksi spiritual tentang bagaimana manusia belajar mengikis ego dan menyembelih sifat-sifat buruk dalam dirinya.

“Hari Raya Idul Adha adalah momentum bertemunya dua peristiwa besar dalam Islam, yakni Ibadah Haji dan Ibadah Kurban. Keduanya mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan dan kepatuhan kepada Allah SWT,” ujar Julie.

Ia menuturkan, kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang diperintahkan menyembelih putranya sendri yaitu Nabi Ismail Alaihissalam (sebelum akhirnya diangkat menjadi nabi) menjadi simbol ketundukan totalitas seorang hamba kepada Tuhan.

Ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam menunjukkan ketaatan dan keikhlasan kala itu, Allah SWT kemudian menggantikan Nabi Ismail dengan seekor kambing jantan sebagai bentuk kasih sayang dan penghargaan atas pengorbanan tersebut.

Julie Sutrisno Laiskodat pun berpandangan bahwa nilai terbesar dari Idul Adha sesungguhnya bukan terletak pada darah hewan kurban, melainkan pada ketulusan hati manusia dalam berbagi dan mengorbankan kepentingan pribadi demi sesama dan semata-mata hanya mengharap pembalasan di akhirat dari Tuhan.

“Momentum Idul Adha adalah tindakan nyata untuk menyadarkan diri kita bahwa kepedulian harus terus dibangun agar dapat memberi manfaat bagi sesama,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa Idul Adha menjadi ruang introspeksi diri bagi umat manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun hubungan sosial dengan sesama manusia.

Di sisi lain, ritual ibadah haji yang berlangsung bersamaan dengan Idul Adha juga memperlihatkan besarnya kerinduan umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Meski harus menunggu bertahun-tahun demi kuota keberangkatan, jutaan umat Muslim tetap berharap bisa menunaikan ibadah ke Tanah Suci sebelum ajal menjemput.

Semangat pengorbanan dan ketulusan itulah yang menurut Julie harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari, terlebih di tengah situasi sosial yang kerap dipenuhi egoisme, perpecahan dan hilangnya rasa peduli.

“Semoga Allah menjadikan setiap helaan napas umat-Nya sebagai bukti cinta, pengabdian dan pengorbanan kepada sesama,” tutupnya.

Reporter : Faidin

Berita Populer