Kam. Apr 16th, 2026

Maret 2026

Tenda di Halaman Polres Sikka Itu Simbol Tekanan Moral atau Ujian Keterbukaan Institusi?

Oleh : Redaksi

SIKKA, Bajopos.com – Pemandangan tak biasa terlihat di halaman Markas Polres Sikka, Rabu (4/3/2026) sore hingga malam. Sejumlah mahasiswa mendirikan tenda tepat di dalam area institusi penegak hukum tersebut. Langkah ini bukan sekadar teknis berteduh dari hujan, melainkan sarat makna simbolik.

Pemasangan tenda oleh massa aksi dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sikka menjadi penanda perubahan strategi: dari aksi demonstratif satu hari menjadi tekanan berkelanjutan.

Dari Demonstrasi ke “Pendudukan Moral”

Dalam dinamika gerakan mahasiswa, mendirikan tenda di lokasi aksi sering dimaknai sebagai bentuk stay action—bertahan sampai tuntutan mendapat respons. Di halaman Polres Sikka, tenda itu menjadi simbol bahwa mahasiswa tidak lagi sekadar menyampaikan aspirasi, tetapi siap mengawal proses secara langsung.

Langkah tersebut juga dapat dibaca sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap jawaban yang diberikan aparat, khususnya terkait ketidakhadiran Kapolres dalam audiensi. Dengan bertahan di halaman institusi, mahasiswa seolah ingin menyampaikan pesan: persoalan ini tidak selesai dengan klarifikasi lisan semata.

Ujian bagi Institusi

Di sisi lain, keberadaan tenda di dalam halaman Mapolres menghadirkan tantangan tersendiri bagi institusi kepolisian. Mengizinkan massa bertahan menunjukkan pendekatan persuasif dan upaya meredam eskalasi pasca-bentrok. Namun, situasi itu juga menjadi ujian atas konsistensi pengelolaan keamanan dan kewibawaan institusi.

Halaman kantor kepolisian bukan ruang publik biasa. Ketika area tersebut menjadi ruang protes terbuka, maka relasi antara aparat dan masyarakat sedang diuji: sejauh mana ruang dialog diberikan, dan sejauh mana batas otoritas ditegakkan.

Simbol Kepercayaan yang Retak

Pemasangan tenda juga mencerminkan persoalan yang lebih mendasar—soal kepercayaan. Ketika mahasiswa memilih bertahan hingga memasuki malam, bahkan menyatakan akan kembali keesokan paginya, itu menunjukkan bahwa mereka merasa jawaban yang ada belum memadai.

Tenda itu bukan hanya kain dan tiang penyangga. Ia menjadi metafora dari kegigihan, tetapi sekaligus penanda adanya jarak komunikasi antara publik dan aparat penegak hukum.

Antara Tekanan dan Harapan

Meski akhirnya tenda dibongkar menjelang malam, pesan yang ditinggalkan tetap kuat: kasus kematian siswi SMP di Desa Rubit bukan isu sesaat. Ada harapan besar agar proses hukum berjalan transparan dan akuntabel.

Ke depan, langkah-langkah komunikasi terbuka dan penjelasan berbasis data dari kepolisian akan menjadi kunci. Sebab, ketika halaman kantor penegak hukum berubah menjadi ruang bertahan mahasiswa, itu berarti ada tuntutan kejelasan yang belum sepenuhnya terjawab.

Tenda boleh dibongkar. Namun tekanan moral dan sorotan publik terhadap penanganan kasus ini tampaknya belum akan surut dalam waktu dekat.(Faidin)

Demontrasi Mahasiswa Menuntut Keadilan atas Kematian Siswi SMP di Rubit Berujung Bentrok di Depan Polres Sikka

SIKKA, Bajopos.com – Aksi organisasi mahasiswa, yakni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Thomas Morus Cabang Maumere dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sikka berujung bentrok.

Aksi demontrasi yang awalnya dimulai dengan orasi damai, berujung pada ketegangan dan bentrokan fisik di depan Markas Kepolisian Resor Sikka, Rabu (4/3/2026).

Dua organisasi tersebut datang bersama keluarga korban untuk menuntut keadilan atas meninggalnya STN (14), siswi SMP MBC Ohe yang ditemukan tak bernyawa di Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, termasuk kakak korban yang sempat hadir  membersamai aksi siang itu.

Sejak siang hari, massa mulai berkumpul di depan gerbang Mapolres Sikka. Orasi dilakukan secara bergantian, menuntut penyelidikan yang dinilai harus lebih transparan, profesional, dan tanpa kompromi.

Masa aksi memaksa memasuki Polres Sikka dan bertemu Kapolres. Doc. Bajopos.com/Faidin.

PMKRI menjadi kelompok pertama yang mencoba membangun komunikasi dengan aparat. Setelah melalui negosiasi, perwakilan mereka sempat diizinkan masuk ke Polres untuk beraudiensi. Meski mahasiswa diijinkan masuk lalu keluar lagi dan meminta masuk kembali.

Saat diarahkan masuk beraudiens, di dalam ruangan pertemuan itu tidak berlangsung lama. Mahasiswa kembali keluar ke bagian halaman Polres Sikka dan melanjutkan orasi dengan mobil yang turut ikut dimasukkan ke halaman. Mahasiswa keluar kembali beralasan tidak bersedia melanjutkan audiensi jika Kapolres Sikka tidak hadir langsung di ruangan menemui mahasiswa.

Meski sebelumnya, pihak kepolisian menyampaikan bahwa Kapolres sedang berada di luar daerah. Hingga hari itupun mahasiswa bertahan di halaman Polres, menunggu kehadiran pimpinan tertinggi di institusi tersebut.

Masa aksi saling dorong bersama petugas kepolisian memaksa hendak masuk menemui Kapolres. Doc. Bajopos.com/Faidin.

Ketegangan di Gerbang

Situasi mulai memanas saat giliran GMNI Cabang Sikka mengambil alih aksi. Massa mendesak agar diizinkan masuk dan bertemu langsung dengan Kapolres.

Permintaan untuk menghadirkan Kapolres, bahkan meminta Kapolres yang sementara berada di luar daerah di hubungi melalui sambungan video call, namun permintaan itu tidak mendapat respons sesuai harapan mereka mahasiswa.

Akhirnya, larangan masuk ke halaman Mapolres memicu aksi dorong-mendorong di pintu gerbang. Aparat yang berjaga dengan tameng dan pentungan membentuk barikade rapat. Massa mencoba menerobos, sementara polisi mempertahankan formasi.

Di tengah ketegangan, terjadi aksi saling dorong yang berubah menjadi bentrokan fisik. Sebagian mahasiswa mendorong dan menendang tameng petugas, sementara, beberapa aparat terlihat melayangkan pukulan, hingga adu jotos pun tak terhindarkan.

Salah satu titik ketegangan paling mencolok terjadi di depan pintu SPKT Polres Sikka. Seorang pria berbaju biru yang diduga anggota kepolisian terlihat mengejar seorang mahasiswa di tengah kerumunan di luar pintu masuk hingga menggiringnya ke area bagian dalam penjagaan.

Dalam situasi ricuh tersebut, seorang mahasiswa tampak jatuh dan mengalami luka gores cukup panjang di bagian leher.

Masa aksi membakar ban yang sempat menggangu lalu lintas di depan Polres Sikka. Doc. Bajopos.com/Faidin.

Ban Terbakar dan Jalan Raya Terganggu

Sebelum bentrokan pecah, massa sempat membakar ban bekas di jalan raya depan Mapolres. Kepulan asap hitam membuat sejumlah pengendara roda dua memilih berbalik arah, tampak ibu-ibu yang di bonceng berbaju putih dengan bawahan celana hitam panjang seperti pakaian ASN. Namun, ada pula pengendara yang nekat melintas di tengah asap dan kerumunan aksi.

Di sela-sela ketegangan, sempat terjadi saling olok antara mahasiswa dan aparat. Bahasa tubuh dan gestur bernada kelakar terlihat di beberapa momen, meski di sisi lain reaksi serius dari peserta aksi maupun petugas membuat suasana cepat berubah tegang.

Komunikasi di Balik Ketegangan

Menariknya, di balik barikade dan dorong-mendorong, terlihat pula komunikasi intensif antara beberapa mahasiswa dan aparat. Dari kejauhan, tampak percakapan yang disertai saling memegang tangan dan bahu, bahkan sesekali tersenyum dan tertawa. Meski isi pembicaraan tak terdengar jelas, bahasa tubuh keduanya menunjukkan adanya upaya persuasif untuk meredam situasi.

Setelah bentrokan mereda, penjagaan akhirnya mengijinkan. Massa kemudian dipersilakan masuk ke halaman Mapolres Sikka untuk melanjutkan orasi dan menyampaikan pernyataan sikap.

Rencana Menginap di Halaman Polres

Aksi tidak berhenti pada orasi. Mahasiswa bahkan mendirikan tenda di halaman Mapolres Sikka dan berencana bertahan, meski hujan sempat mengguyur lokasi aksi.

Ketua GMNI Sikka, Wilfridus Igo, dalam orasinya menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk keprihatinan sekaligus desakan agar kepolisian bekerja secara profesional dan mendalam.

“Kami menuntut penyelidikan yang jujur, transparan, dan dilakukan dengan telaah hukum yang mendalam agar keadilan bagi korban di Desa Rubit ditegakkan,” teriaknya di tengah kerumunan massa.

Mahasiswa bertahan di halaman Mapolres Sikka, menunggu kepastian untuk bertemu langsung dengan Kapolres sebagai bentuk tanggung jawab moral dan institusional atas penanganan kasus kematian siswi SMP tersebut hingga menjelang malam.

Meski masa pulang dan membongkar tenda kembali, namun dipastikan akan kembali pada besok pagi pukul 06.00, bahkan dalam wawancara terpisah mahasiswa akan menduduki ruangan Kapolres jika Kapolres tidak datang menemui massa. (Faidin)

Sekolah di Sekitar TKP Kematian STN Mendadak Sepi, Warga Mengaku Masih Diliputi Rasa Takut

SIKKA, Bajopos.com – Pasca meninggalnya STN secara tidak wajar di Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, suasana di sejumlah sekolah sekitar lokasi kejadian mendadak berubah drastis. Aktivitas belajar mengajar tak lagi seramai biasanya. Kepanikan dan rasa was-was masih menyelimuti warga.

Pantauan sumber media ini yang merupakan warga Desa Rubit menyebutkan, sejak pagi hingga malam hari kondisi wilayah sekitar masih dalam pengawasan masyarakat. Tidak hanya lingkungan pemukiman, aktivitas sekolah pun turut dipantau.

Sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, salah satu alasan orang tua enggan menyekolahkan anak mereka karena ayah pelaku disebut-sebut masih berkeliaran.

“Alasannya karena bapak pelaku masih berkeliaran, jadi orang tua takut dan belum berani lepas anak-anak mereka ke sekolah,” ujarnya Selasa, 03/03/2026.

Ia menyebutkan, saat ini aktivitas di tingkat SMP mulai kembali berjalan, namun belum sepenuhnya normal. Masih ada siswa yang diliputi ketakutan.

“Sekarang SMP sudah mulai ada aktivitas, tapi masih sepi. Masih ada siswa yang takut ke sekolah. Tidak seperti biasa. Suasananya mencekam,” katanya.

Beberapa siswa bahkan disebut harus diantar langsung oleh orang tua mereka agar berani mengikuti pelajaran.

“Banyak yang harus diantar orang tua dulu baru mau masuk sekolah,” tambahnya.

Sekolah-sekolah yang terlihat sepi berdasarkan pantauan di antaranya SDK Watuwitir, SDK Ohe, dan SMP MBC Ohe. Kondisi serupa juga dirasakan sekolah lain yang berada tidak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP).

Bangkoor Masih Was-Was

Sementara itu, sumber lain dari wilayah Bangkoor mengisahkan hal senada. Ia menyebut warga di daerahnya juga masih dalam kondisi panik. Bahkan, sebagian masyarakat belum berani beraktivitas normal seperti berkebun.

“Kemarin sempat heboh kalau saksi Saverius Gewar (SG) bersembunyi di sekitar Bangkoor. Jadi orang-orang masih takut,” tuturnya.

Menurutnya, para orang tua kini jauh lebih was-was dibanding hari-hari sebelumnya.

“Orang tua lebih was-was sekarang,” kata sumber tersebut.

Ia juga mengirimkan video berdurasi 29 detik yang memperlihatkan kepanikan warga saat melihat kendaraan bermotor melintas di jalan raya.

Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa video tersebut direkam ketika SG dikabarkan menghilang setelah sempat ditemukan warga di Dusun Nebe A.

“Ini video waktu SG menghilang setelah ditemukan warga di Dusun Nebe A. Jadi warga panik dan berdiri di sepanjang jalan,” ungkapnya.

Sumber tersebut yang mengaku sebagai warga Bangkoor juga menambahkan bahwa istri SG diketahui berasal dari Desa Mamai.

“Kebetulan saya warga Bangkoor. Istrinya yang bersangkutan itu warga Desa Mamai. Untuk keluarganya, jujur saya baru tahu juga kalau SG ini istrinya merupakan warga Mamai,” terangnya.

Hingga kini, suasana di sejumlah titik di Kecamatan Hewokloang masih belum sepenuhnya kondusif. Trauma dan ketakutan warga tampak masih membekas, terutama bagi orang tua dan anak-anak sekolah yang terdampak langsung oleh peristiwa tragis tersebut. (Faidin)

Kasus Siswi di Rubit; Nama Saverius Gewar (SG) Tak Tercantum dalam Daftar Resmi. Benarkah Diperiksa?

SIKKA, Bajopos.com – Kejanggalan kembali mencuat dalam press release resmi kepolisian terkait penanganan kasus dugaan persetubuhan dan penganiayaan anak yang mengakibatkan kematian di Kabupaten Sikka. Sorotan publik kini mengarah pada status Saverius Gewar (SG), yang diketahui merupakan ayah dari pelaku.

Dalam dokumen resmi yang disampaikan kepada media, kepolisian melampirkan daftar nama para saksi yang telah dimintai keterangan. Namun, nama Saverius Gewar tidak tercantum dalam deretan nama-nama saksi tersebut.

Padahal, dalam bagian kronologis kejadian, Saverius Gewar secara jelas disebut hadir bersama anggota keluarga lainnya, ia menghadiri acara adat di rumah seorang warga di Watudenak, Kecamatan Hewokloang, pada Jumat, 20 Februari 2026 sekitar pukul 15.00 WITA, dan baru kembali sekitar pukul 22.00 WITA.

Kehadiran ayah pelaku dalam rangkaian peristiwa yang dimuat dalam kronologi resmi menunjukkan bahwa ia termasuk pihak yang memiliki pengetahuan tentang keberadaan keluarga pada waktu yang berdekatan dengan kejadian. Namun, secara administratif, namanya tidak tercantum dalam daftar saksi yang dipublikasikan.

Di sisi lain, berkembang penyebutan bahwa Saverius Gewar disebut sebagai saksi, bahkan sempat disebut sebagai saksi kunci. Versi kepolisian menyatakan yang bersangkutan berstatus saksi. Akan tetapi, fakta bahwa namanya tidak ada dalam daftar saksi resmi menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi data kepolisian yang disampaikan kepada publik.

Sebagai ayah dari pelaku, posisi Saverius Gewar tentu memiliki relevansi penting dalam konstruksi perkara, baik dalam konteks alibi keluarga maupun dalam penelusuran fakta sebelum dan sesudah kejadian. Karena itu, ketiadaan namanya dalam daftar saksi yang dirilis memunculkan tanda tanya.

Publik kini menanti klarifikasi tegas dari aparat penegak hukum: apakah Saverius Gewar telah diperiksa sebagai saksi dalam kapasitas resmi, ataukah terdapat alasan tertentu sehingga namanya tidak dicantumkan dalam daftar saksi yang disampaikan ke media.

Transparansi dalam penanganan perkara menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat, terlebih dalam kasus yang menyangkut anak dan menyita perhatian luas warga Kabupaten Sikka.(Faidin)

Perintah Sang Ayah di Balik Pelarian FRG, Benarkah Ada Peran Lain dalam Kasus STN?

SIKKA, Bajopos.com – Motif pelarian FRG (16), tersangka pembunuhan siswi SMP berinisial STN (14) di Desa Rubit, Kabupaten Sikka, sebelumnya mulai terkuak. Dalam konferensi pers di Mapolres Sikka, Senin (2/3/2026), penyidik mengungkap fakta baru yang memantik sorotan publik: tersangka kabur ke Kabupaten Ende atas perintah ayah kandungnya sendiri, SG (47).

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Aiptu I Nengah Redi, PS Kanit Pidum Satreskrim Polres Sikka. Ia menegaskan bahwa detail keterlibatan SG masih dalam proses penyidikan.

“Pelaku ke Ende karena disuruh oleh bapaknya (SG). Detailnya masih dalam proses penyidikan,” ujar Aiptu I Nengah Redi.

Kronologi Versi Penyidik

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai media, keterangan resmi kepolisian atas peristiwa tragis itu terjadi pada Jumat (20/2/2026). Korban STN mendatangi rumah tersangka untuk mengambil gitar. Namun di dalam rumah, tepatnya di dapur, tersangka disebut melakukan kekerasan seksual sebelum menganiaya korban hingga tewas.

Setelah itu, jasad korban disebut diseret ke Kali Watuwogat, lalu kemudian disembunyikan di bawah tumpukan kayu serta bambu guna menghilangkan jejak.

Kasus ini terungkap setelah keluarga mengetahui kejadian tersebut. Dalam situasi itulah, menurut penyidik, SG diduga menyuruh anaknya melarikan diri ke Kabupaten Ende.

Dilepas Sebagai Saksi, Publik Bertanya

Meski namanya disebut dalam satu rangkaian pelarian tersangka, SG sebelumnya telah diperiksa dan dilepaskan oleh penyidik dengan status sebagai saksi. Keputusan itu memicu tanda tanya dan reaksi keras dari keluarga korban.

Ibu korban, Maria Yohana Nona, sembari menangis mempertanyakan keseriusan penanganan perkara. Ia bahkan meminta atensi kasus kematian putri si matawayangnya itu hingga ke tingkat Polda NTT dan Mabes Polri.

Bagi keluarga, persoalan bukan hanya pada pelarian tersangka, tetapi kemustahilan kronologi kematian anaknya hingga terseret jauh dari TKP pembunuhan awal, sehingga disinyalir besar kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat.

Dugaan Pelaku Lain Berbekal Analisis Logika Fisik

Yohana mencurigai adanya bantuan dalam proses pemindahan jasad. Korban diketahui memiliki berat badan sekitar 54 kilogram dengan tinggi 160 sentimeter.

“Tidak mungkin sendiri. Anak saya beratnya 54 kilo,” ujarnya lirih sembari keheranan.

Pernyataan ini menjadi titik krusial. Secara fisik, menyeret jasad sejauh tertentu menuju Kali dan menutupinya dengan kayu serta bambu membutuhkan tenaga dan waktu. Apakah seorang remaja 16 tahun mampu melakukannya sendiri tanpa diketahui warga sekitar? Menurutnya sangat jauh dari jangkauan akal sehat. Atau ada pihak lain yang membantu, baik sebelum maupun sesudah jasad dipindahkan?

Hingga kini, penyidik menyatakan masih mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain, termasuk sejauh mana peran SG dalam membantu pelarian anaknya.

Antara Fakta Hukum dan Tekanan Publik

Secara hukum, status SG masih sebagai saksi. Namun fakta bahwa tersangka disebut kabur atas perintah ayahnya membuka ruang dugaan potensi perintangan penyidikan jika terbukti secara hukum.

Di sisi lain, kepolisian menegaskan proses hukum berjalan profesional dan sesuai prosedur. Publik di Kabupaten Sikka kini menunggu konsistensi penyidik: apakah akan ada pendalaman lebih jauh terhadap dugaan keterlibatan pihak lain, ataukah perkara ini akan berhenti pada satu tersangka.

Kasus kematian STN bukan sekadar perkara kriminal biasa. Ia telah berubah menjadi ujian transparansi dan ketegasan aparat penegak hukum dalam mengungkap seluruh mata rantai peristiwa—dari dugaan kekerasan seksual, pembunuhan, pemindahan jasad, hingga pelarian tersangka yang disebut diinisiasi sang ayah.

Sorotan kini mengarah pada satu pertanyaan besar: apakah seluruh fakta sudah terungkap, atau masih ada bagian cerita yang belum dibuka ke publik? Lalu Kapan? (Faidin)

Dugaan Pelaku Lain Menguat, Ketimpangan Fisik dan Lokasi Penemuan Jasad. Dikerjakan Seorang Anak Kecil?

SIKKA, Bajopos.com – Kasus meninggalnya STN (14), siswi SMP MBC Ohe di Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, NTT, terus menyisakan tanda tanya. Di tengah proses hukum yang berjalan, keluarga korban mulai menyoroti kemungkinan adanya pelaku lain di balik tragedi tersebut.

Ayah korban, Herman Yoseph, secara terbuka mengungkapkan kecurigaannya bahwa jasad putrinya tidak mungkin dipindahkan seorang diri oleh tersangka yang telah ditetapkan polisi.

Ia menduga, ada pihak lain yang turut membantu memindahkan tubuh korban dari rumah pelaku hingga ke Kali Watuwogat.

“Bodi anak saya lebih besar, lebih tinggi dari si laki-laki itu (pelaku), lagaknya seperti laki-laki,” ujarnya dengan nada tegas.

Pemindahan Jasad dan Perbandingan Fisik Tak Logis Pekerjaan Satu Orang Anak

Menurut keterangan keluarga, STN memiliki berat badan sekitar 54 kilogram dengan tinggi badan 160 sentimeter. Secara fisik, kata pihak keluarga, korban tampak lebih besar dibandingkan tersangka FRG yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Sikka.

Keluarga mempertanyakan logika pemindahan jasad tersebut. Jika benar tubuh korban dipindahkan dari rumah pelaku menuju kali, maka jarak dan kondisi medan menjadi faktor penting yang dinilai sulit dilakukan seorang diri, terlebih jika memperhitungkan perbedaan postur tubuh.

STN diketahui merupakan anak ketiga dari pasangan Maria Yohana Nona dan Herman Yoseph. Ia adalah satu-satunya anak perempuan di keluarga tersebut dan menetap bersama orang tuanya di Kampung Romanduru, Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang.

Sejauh ini, aparat kepolisian telah menetapkan FRG sebagai tersangka dalam kasus meninggalnya remaja tersebut.

Namun, perkembangan lain turut menyedot perhatian publik. SG, yang disebut sebagai ayah tersangka dan berstatus saksi dalam kasus ini, sempat dikabarkan menghilang dan disebut-sebut diburu sejak Minggu, 1 Maret 2026.

Pihak Polres Sikka sebelumnya menegaskan bahwa SG tidak kabur dan proses hukum tetap berjalan sesuai prosedur.

Kendati demikian, isu mengenai keberadaan saksi kunci itu semakin memperkuat kecurigaan sebagian pihak bahwa ada peran lain yang belum sepenuhnya terungkap.

Sejumlah warga di sekitar lokasi kejadian juga berharap penyidik dapat mendalami kemungkinan adanya keterlibatan lebih dari satu orang.

Selain aspek fisik, analisis forensik, jejak di lokasi, serta rekonstruksi kejadian dinilai menjadi kunci untuk menjawab dugaan tersebut.(Faidin)

Ibunda Korban Kecewa, Minta Kasus Pembunuhan Anaknya Diusut Tuntas dan Siap Bawa ke Polda

SIKKA, Bajopos.com – Di tengah klarifikasi resmi Polres Sikka terkait isu dugaan SG melarikan diri, suara kekecewaan justru datang dari pihak keluarga korban. Ibu dari STN (14), remaja putri kelas II SMP MBC Ohe yang menjadi korban pembunuhan di Kecamatan Hewokloang, mengaku tidak puas dengan penanganan kasus tersebut.

Sebelumnya, melalui Kasat Reskrim Iptu Reinhard Dionisius Siga dan Kasi Humas Ipda Leonardus Tunga, kepolisian menegaskan bahwa SG tidak melarikan diri dan hingga kini masih berstatus saksi. Polisi juga menyebut proses hukum berjalan sesuai prinsip pro justitia dan tetap menghormati hak asasi manusia.

Namun bagi keluarga, penanganan kasus STN belum menjawab kegelisahan yang mereka rasakan.

Ibu almarhumah STN, Maria Yohanan Nona, Mama Noni sapaannya di kediamannya menyebut berbagai ketidakpuasannya atas penangan kasus yang menyebabkan kehilangan buah hatinya itu.

“Saya sebagai ibunya saya kecewa. Saya kecewa dari mulai kinerjanya, mulai dari kepolisian bagian Kewapante, dari Polsek, dari Polres, saya begitu kecewa. Karena untuk penanganan kasus anak saya seperti itu, mungkin karena kami itu miskin, kami orang bodoh,” ujar ibu korban, kepada wartawan.

Ia bahkan menilai ada kesan kasus anaknya tidak ditangani secara serius. Kekecewaan itu semakin memuncak setelah keluarga mendengar kabar bahwa SG yang disebut-sebut sebagai dalang utama justru dilepaskan karena masih berstatus saksi.

“Kemarin kami mendengar sebenarnya dalang utamanya itu dia, terus dilepaskan begitu saja. Saya sampai bilang, kalaupun saya harus ke mana pun, saya harus menuntut kasus anak saya untuk mendapatkan keadilan. Saya ibunya, saya berani. Saya mau anak saya mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya,” tegasnya di dampingi kedua anak laki-lakinya.

STN sendiri sempat menjadi perhatian publik di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, NTT, setelah ditemukan meninggal dunia dalam kasus yang kini masih dalam tahap penyelidikan. SG sebelumnya sempat diperiksa dan bahkan dibawa ke IGD RSU TC Hillers Maumere karena mengeluh sakit saat pemeriksaan.

Bagi Ibu Noni, proses hukum harus memberikan kepastian dan rasa keadilan, bukan sekadar klarifikasi administratif. Ia meminta pemerintah dan aparat penegak hukum bertindak tegas dan transparan.

“Saya punya persepsi, apa yang mereka tanam mereka harus menuai hasilnya. Itu yang saya minta. Untuk semua pihak pemerintah, terkhusus dari kepolisian, saya minta kalau seandainya kepolisian Maumere tidak bisa menangani kasus anak saya dengan serius, saya mohon bantu saya agar saya bisa menaikkan kasus anak saya, mungkin di Polda atau di Metro, pokoknya saya mau keadilan untuk anak saya,” ujarnya dengan nada tegas.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan baru dalam penanganan kasus pembunuhan remaja 14 tahun ini. Di satu sisi, kepolisian menekankan profesionalitas dan independensi dalam proses hukum. Di sisi lain, keluarga korban berharap ada langkah konkret yang menunjukkan komitmen aparat dalam mengungkap siapa yang paling bertanggung jawab atas kematian STN.

Publik kini menunggu kelanjutan penyelidikan, termasuk kepastian status hukum SG serta perkembangan alat bukti yang dikantongi penyidik.(Faidin)

Nasib Ayatollah Ali Khamenei Diselimuti Laporan Berbeda, Media Internasional Ungkap Klaim Korban Jiwa dalam Serangan Teheran

TEHERAN, Bajopos.com – Laporan mengenai nasib Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, masih diselimuti perbedaan informasi setelah serangan udara besar yang diklaim dilakukan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.

Sejumlah media internasional menyebut Khamenei meninggal dunia dalam serangan tersebut, sementara media lain mengutip bantahan dari pejabat Iran yang menyatakan kabar itu belum dapat dipastikan secara independen.

Laporan Media yang Menyatakan Khamenei Tewas

Kantor berita Reuters dalam laporannya menyebut bahwa serangan gabungan yang menargetkan fasilitas strategis di Teheran termasuk kompleks kepemimpinan Iran menyebabkan kematian Ayatollah Ali Khamenei.

Reuters juga melaporkan bahwa selain Khamenei terdapat sejumlah korban jiwa lain di lokasi serangan, termasuk anggota keluarga dekatnya dan beberapa pejabat keamanan, meskipun angka pasti korban tidak dirinci secara terbuka oleh otoritas Iran.

Laporan Associated Press menyatakan bahwa televisi pemerintah Iran mengumumkan wafatnya Khamenei pada usia 86 tahun dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Associated Press mengutip media pemerintah Iran yang menyebut bahwa beberapa anggota keluarga Khamenei berada di lokasi saat serangan terjadi dan turut menjadi korban, namun jumlah resmi korban keluarga tidak dipublikasikan secara rinci.

Sementara itu The Guardian melaporkan klaim dari pejabat Israel yang menyatakan terdapat banyak indikasi bahwa Khamenei tidak lagi hidup setelah kompleks kediamannya menjadi target utama serangan udara.

Media kawasan seperti Middle East Eye menuliskan bahwa sumber regional dan pernyataan pejabat keamanan Israel mengklaim tubuh Khamenei ditemukan di antara reruntuhan lokasi yang dibombardir, namun laporan tersebut juga menyebut belum ada verifikasi independen dari lembaga internasional.

Bantahan dan Versi Pemerintah Iran

Di sisi lain Middle East Eye dan sejumlah media regional melaporkan bahwa pejabat Iran menyebut klaim kematian tersebut sebagai bagian dari perang psikologis.

Menurut laporan Reuters pembaruan selanjutnya menunjukkan bahwa akses informasi dari Teheran sangat terbatas sehingga sulit memverifikasi secara independen siapa saja yang benar benar meninggal dalam serangan itu.

Associated Press juga mencatat bahwa tidak ada konferensi pers langsung dari kantor resmi Pemimpin Tertinggi yang memperlihatkan bukti visual atau keterangan medis terkait kematian tersebut.

Beberapa media mengutip pejabat Kementerian Luar Negeri Iran yang menyatakan struktur pemerintahan tetap berjalan dan proses administrasi negara tidak terganggu, memperkuat narasi bahwa status akhir Khamenei masih belum sepenuhnya transparan.

Korban Lain dalam Serangan

Reuters melaporkan bahwa serangan tersebut juga menewaskan sejumlah pejabat militer tingkat tinggi yang berada di kompleks strategis saat operasi berlangsung.

Associated Press menyebutkan bahwa serangan udara itu memicu korban di beberapa titik lain di Teheran, termasuk personel keamanan dan warga sipil yang berada di sekitar lokasi sasaran militer.

Namun hingga kini tidak ada angka resmi total korban jiwa yang diumumkan pemerintah Iran kepada publik internasional.

Dampak Politik dan Geopolitik

Jika laporan kematian Khamenei terkonfirmasi maka Iran akan memasuki proses suksesi melalui Majelis Ahli yang memiliki kewenangan menunjuk pemimpin tertinggi baru.

Jika kabar tersebut terbukti keliru maka penyebaran informasi kematian berpotensi memperburuk eskalasi militer dan diplomatik di Timur Tengah.

Reuters dan Associated Press melaporkan bahwa sejumlah pemimpin dunia menyerukan penahanan diri serta de eskalasi guna mencegah konflik yang lebih luas.

Profil Singkat

Nama Ayatollah Ali Khamenei
Jabatan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran
Menjabat sejak 1989
Usia 86 tahun

Hingga laporan ini diturunkan informasi mengenai siapa saja yang benar benar meninggal dalam serangan tersebut masih bergantung pada klarifikasi resmi pemerintah Iran serta verifikasi independen media internasional. (Redaksi)

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Wafat, Pemerintah Tetapkan 40 Hari Berkabung

TEHERAN, Bajopos.com – Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran sejak 1989, meninggal dunia pada usia 86 tahun setelah menjadi sasaran serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di kompleks kediamannya di Teheran.

Kabar wafatnya diumumkan melalui media pemerintah Iran dan dilaporkan secara luas oleh media internasional. Kantor berita Reuters dalam laporannya menyebutkan bahwa serangan tersebut menargetkan sejumlah titik strategis di ibu kota Iran, termasuk area yang berkaitan dengan pusat komando negara.

Sementara itu, Associated Press melaporkan bahwa pengumuman resmi kematian Khamenei disampaikan melalui siaran televisi pemerintah Iran, disertai penetapan masa berkabung nasional.

Kronologi Serangan

Menurut laporan Reuters, serangan udara terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026. Pemerintah Amerika Serikat dan Israel menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas dugaan ancaman dari program nuklir dan militer Iran.

Associated Press melaporkan bahwa kompleks kediaman Khamenei menjadi salah satu target utama dalam operasi tersebut.

Media pemerintah Iran menyebutkan bahwa Khamenei tewas bersama sejumlah anggota keluarganya yang berada di lokasi saat serangan berlangsung.

Pernyataan Resmi dan Masa Berkabung

Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan meliburkan aktivitas pemerintahan selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan kepada pemimpin yang telah memimpin negara lebih dari tiga dekade.

Dalam laporan Reuters disebutkan bahwa sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei memiliki kewenangan tertinggi atas angkatan bersenjata, kebijakan luar negeri, dan arah strategis negara. Jabatan tersebut menjadikannya figur paling berpengaruh dalam sistem politik Iran.

Dampak Politik dan Proses Suksesi

Kematian Khamenei menandai berakhirnya era panjang kepemimpinan yang membentuk arah politik Iran modern. Iran kini memasuki proses konstitusional untuk menentukan pengganti melalui Majelis Ahli, lembaga ulama yang berwenang menunjuk Pemimpin Tertinggi baru.

Associated Press menyebutkan bahwa peristiwa ini berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sejumlah negara dilaporkan menyerukan penahanan diri dan de-eskalasi untuk mencegah konflik meluas.

Profil Singkat

Nama: Ayatollah Ali Khamenei
Jabatan: Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran
Periode Kepemimpinan: 1989–2026
Usia: 86 tahun

Khamenei menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989 dan sejak itu memegang kendali atas struktur politik, militer, dan kebijakan luar negeri Iran.(Redaksi) 

Hanya Status Saksi, SG Dikejar Berkali-kali. Ada Apa dengan Polres Sikka?

SIKKA, Bajopos.com – Status SG alias Saver dalam kasus pembunuhan remaja perempuan di Desa Rubit menjadi sorotan warga. Meski secara resmi disebut hanya sebagai saksi, fakta di lapangan menunjukkan ia sempat menjadi target pencarian berulang kali oleh aparat.

Melalui rilis resmi pada Jumat (27/2/2026), pihak Polres Sikka menegaskan bahwa baru satu orang yang ditetapkan sebagai tersangka, yakni pria berinisial FRG. Sementara SG disebut “dihadirkan” untuk memberikan keterangan karena diduga mengetahui peristiwa tersebut.

“SG adalah orang yang dihadirkan pihak Polres Sikka untuk memberikan keterangan karena diduga mengetahui peristiwa tersebut. Statusnya masih sebagai saksi,” demikian keterangan Humas Polres Sikka dalam rilis resmi.

Namun, keterangan tersebut memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat Desa Mamai dan Desa Nebe. Warga mengaku menyaksikan langsung upaya pencarian intensif terhadap SG dalam beberapa kesempatan berbeda.

Maria, warga Desa Mamai, menuturkan bahwa sejak Selasa (24/2/2026) pagi, aparat kepolisian mendatangi Kampung Kojablo—kediaman istri SG—dan mengamankan yang bersangkutan untuk dibawa ke Mapolres. Akan tetapi, pada Jumat (27/2/2026) sore menjelang malam, sejumlah anggota Buser bersama Linmas kembali turun melakukan pencarian.

“Kami tanya kenapa polisi cari lagi, mereka sampaikan SG kabur saat dibawa berobat ke rumah sakit, jadi mereka datang kembali cari. Mereka cari di kebun-kebun warga sampai masuk ke dalam hutan,” ungkap Maria, Minggu (1/3/2026).

Pencarian tersebut, menurutnya, berlanjut hingga Sabtu (28/2/2026), namun belum membuahkan hasil. Aktivitas warga pun terganggu karena rasa takut dan cemas.

Sementara itu, Paskalis, warga Desa Nebe, melalui unggahannya di grup diskusi media sosial FPRS, mengungkapkan bahwa upaya pencarian terhadap SG bukan hanya sekali.

Ia menyebut pada Senin (23/2/2026), aparat melakukan penyisiran yang membuat SG bersembunyi di hutan sebelum akhirnya menyerahkan diri pada Selasa pagi. Kemudian, pencarian kembali dilakukan pada Jumat (27/2/2026) dengan alasan melarikan diri dari penjagaan.

“Saksi kok harus dikejar Buser bahkan sudah dua kali dalam dua hari berbeda? Jadi bingung membaca berita medsos,” tulisnya.

Perbedaan antara status resmi sebagai saksi dan tindakan pencarian berulang kali inilah yang memunculkan kebingungan di tengah masyarakat. Warga berharap ada penjelasan yang lebih rinci agar tidak menimbulkan spekulasi liar.

Meski demikian, masyarakat tetap menyatakan harapan agar penanganan kasus oleh Polres Sikka berjalan transparan dan tuntas, sehingga rasa aman dapat kembali pulih di Desa Mamai dan Desa Nebe.(Faidin)