SIKKA, Bajopos.com – Memasuki sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadhan, umat Muslim diajak untuk semakin memperbanyak amal dan memohon agar seluruh ibadah diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Pesan itu disampaikan oleh Ustadz Haris dalam kuliah tujuh menit (qultum) usai Sholat Isya menjelang Sholat Tarawih di Masjid An-Nur Nangahale, Selasa (10/3/2026) malam.
Ustadz Haris yang merupakan alumni Pondok Pesantren Dakwah Darul Muhlasin, Kerincing, Payaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mengawali ceramahnya dengan mengingatkan jamaah bahwa Ramadhan kini telah memasuki fase sepuluh malam terakhir.
Menurutnya, momen tersebut harus disyukuri karena tidak semua orang diberi kesempatan untuk sampai pada penghujung Ramadhan.
“Sebentar lagi Ramadhan akan pergi meninggalkan kita. Maka yang pertama harus kita lakukan adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat yang sangat mulia ini, yaitu nikmat amal,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menjelaskan bahwa amal kebaikan merupakan satu-satunya bekal yang akan menemani manusia setelah meninggal dunia. Harta benda, kendaraan, bahkan kekayaan dunia tidak akan ikut masuk ke dalam kubur.
“Motor tidak masuk kubur, duit tidak masuk kubur, pulsa juga tidak masuk kubur. Yang masuk kubur hanyalah amal,” kata Ustadz Haris.
Karena itu, ia mengajak jamaah untuk mensyukuri kesempatan beramal selama Ramadhan dan memohon agar seluruh ibadah diterima oleh Allah.
Harapan Amal yang Makbul
Dalam ceramahnya, Ustadz Haris juga menjelaskan makna diterimanya amal oleh Allah. Ia menyinggung istilah mabrur bagi orang yang menunaikan ibadah haji dan makbul bagi amal lainnya.
Keduanya, menurut dia, memiliki makna yang sama, yaitu amal yang diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ia mengutip doa yang sering dibaca dalam Sholat Tarawih yang memohon agar umat Muslim termasuk golongan orang yang beruntung dan amalnya diterima.
“Ya Allah jadikanlah kami di bulan Ramadhan ini termasuk orang-orang yang beruntung, yang amalnya diterima oleh-Mu,” ujarnya mengutip doa tersebut.
Ia juga mengingatkan agar umat Muslim tidak termasuk golongan orang yang amalnya tertolak.
“Tanda amal yang diterima adalah dimudahkannya seseorang melakukan amal berikutnya,” katanya.
Ia mencontohkan, ketika seseorang mampu menjaga Sholat Dzuhur dengan baik, maka Allah akan memudahkan ia menunaikan Sholat Ashar, kemudian Maghrib, dan seterusnya.
Perubahan Setelah Ramadhan
Ustadz Haris juga menegaskan bahwa tanda diterimanya Ramadhan adalah adanya perubahan dalam diri seseorang setelah bulan suci tersebut berakhir.
Ia memberikan analogi bagi orang yang pulang dari ibadah haji. Jika hajinya mabrur, maka akan terlihat perubahan perilaku setelah kembali ke tanah air.
“Kalau tidak ada perubahan, itu bukan haji mabrur, tapi mabur, terbang saja,” ujarnya disambut senyum jamaah.
Hal yang sama, lanjutnya, juga berlaku bagi Ramadhan. Bila ibadah Ramadhan diterima, maka seseorang akan menjadi pribadi yang lebih baik setelahnya.
Ia mengutip nasihat ulama yang mengingatkan agar umat Islam menjadi hamba yang robbani, yaitu hamba yang berorientasi kepada Allah dalam setiap amalnya, bukan hanya menjadi hamba “Ramadhani” yang semangat beribadah hanya selama bulan Ramadhan.
“Jangan sampai setelah Ramadhan selesai, semangat ibadah juga hilang,” katanya.
Pentingnya Menjaga Lisan
Dalam qultumnya, Ustadz Haris juga mengingatkan jamaah untuk menjaga lisan selama bulan Ramadhan. Menurutnya, ucapan manusia memiliki dampak besar, apalagi ketika di bulan Ramadhan doa-doa lebih mudah dikabulkan.
Ia menjelaskan bahwa para malaikat diperintahkan untuk mengamini doa orang-orang yang berdoa di bulan Ramadhan. Karena itu, kata-kata yang keluar dari mulut harus dijaga.
“Jangan sampai mulut kita mengeluarkan kata-kata kotor, memaki, atau mengutuk orang lain,” katanya.
Ia bahkan menyinggung kebiasaan sebagian orang tua yang marah kepada anak dengan kata-kata kasar. Menurutnya, hal tersebut sebaiknya diganti dengan doa yang baik.
Untuk memperjelas pesan tersebut, ia menceritakan kisah masa kecil Imam Masjidil Haram, Syekh Abdurrahman As-Sudais.
Menurutnya, ketika kecil, As-Sudais dikenal sebagai anak yang sulit diatur. Namun sang ibu tidak memarahinya dengan kata-kata kasar.
Sebaliknya, ibunya justru mendoakan agar kelak ia menjadi imam di masjid besar. Doa itu kemudian benar-benar terwujud ketika As-Sudais menjadi imam di Masjidil Haram.
“Semoga para orang tua bisa meneladani hal itu, mengganti kemarahan dengan doa yang baik untuk anak-anaknya,” ujar Ustadz Haris.
Doa di Penghujung Ramadhan
Menutup qultumnya, Ustadz Haris mengajak jamaah untuk memperbanyak doa di sisa Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi.
Ia menekankan bahwa setiap Muslim perlu memohon secara pribadi kepada Allah agar seluruh ibadah Ramadhan diterima.
“Jangan hanya berharap dari doa imam ketika Tarawih. Kita masing-masing juga harus memohon kepada Allah agar Ramadhan kita diterima,” katanya.
Ia berharap Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang makbul dan membawa perubahan kebaikan bagi setiap Muslim.
“Semoga Allah menerima Ramadhan kita tahun ini dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan berikutnya,” ujarnya menutup ceramah.(Faidin)