Rab. Sep 16th, 2026

Uang dan Perut: Ikatan Abadi yang Menguji Kemanusiaan

Ikbal Tehuayo

Oleh: Ikbal Tehuayo

UANG dan perut ibarat pasangan suami istri yang sudah terikat kuat, selalu terhubung sejak mentari datang menyapa semesta hingga kembali pamit terbenam di petang hari.

Saat fajar mengintip di ufuk timur, ibu-ibu di dapur mulai menghitung-hitung berapa lembar rupiah yang harus pamit dari dompetnya demi perut buah hatinya yang kosong. Saban hari, di kepala kita selalu terjadi konflik tanpa jeda hanya soal perut dan uang.

Perut yang lapar tidak peduli seberapa tebal isi dompet. Ia tak peduli apa jabatan dan pangkatmu. Bila waktunya tiba, kita dipaksa mengisinya.

Hubungan uang dan perut bukan baru kemarin sore. Ia sudah menjadi sejarah yang tertulis lama dalam jejak-jejak kehidupan manusia. Tak ada jeda dalam ragam aktivitas manusia di luar sana: mulai dari juru parkir, ojol, PNS, hingga penjual sembako. Ini merupakan gambaran nyata dari urusan uang dan perut.

Uang dan perut bukanlah urusan sepele. Tak sedikit persoalan manusia berawal di sini. Tak sulit kita temukan data yang menginformasikan runtuhnya rumah tangga di negeri ini yang disebabkan oleh uang dan perut. Banyak kasus yang membuat nyawa melayang, penjarahan, hingga kecurangan semuanya dilakukan demi uang dan perut.

Pada bingkai sejarah, uang dan perut bukan lagi catatan asing. Kerja paksa di bumi Nusantara merupakan gambaran nyata untuk mengumpulkan uang dan mengamankan perut. Great Depression 1929, Global Financial Crisis 2008, dan Covid-19 pada tahun 2020 mengguncang uang dan perut di seluruh dunia. Artinya, sejarah telah menginformasikan kepada kita bahwa uang dan perut adalah dua hal yang tidak bisa diabaikan.

Uang dan perut punya kesaktian menjelma. Ia bisa menjadi putusan hakim yang keliru, putusan KPU yang tidak adil, pembunuhan di jalanan, tindakan pencurian, pembuangan bayi, hingga mengakhiri nyawa sendiri.

Sangat penting kita mempunyai bekal pengetahuan tentang uang dan perut, sebab ini bukan persoalan biasa. Bukan persoalan kelompok orang di wilayah tertentu saja, melainkan persoalan manusia di kolong langit ini, mulai dari Asia, Eropa, Amerika, hingga Afrika.

Lapar tidak mengenal agama tuannya. Tidak peduli miskin atau kaya, tidak peduli pangkat dan jabatan. Ia hanya ingin satu hal: berikan ia makan. Bila tuntutan perut sangat kuat dan tidak bisa dipenuhi karena keterbatasan uang, di sinilah kadang manusia diuji: tetap mempertahankan kemanusiaannya atau terjatuh ke titik kebinatangannya demi bisa mempertahankan hidupnya.

Penulis adalah wartawan Bajopos.com

By Faidin

Berita Populer