Rab. Jun 10th, 2026

Ustadz Abdul Haris

Sapi Kurban di Kemasjidan An-Nur Nangahale ; PT. Redi 1 Ekor, Jemaah 4 Ekor, BRI 1 dan LazisMu 1

SIKKA, Bajopos.com | Bantuan sejumlah 7 ekor sapi kurban menyisir wilayah Dusun Namandoi, Desa Nangahale, lingkup Kemasjidan An-Nur pada momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Sejumlah hewan kurban itu, merupakan bantuan dari beberapa donatur dan kelompok jemaah dalam lingkup kemasjidan An-Nur Nangahale.

Dari donatur, salah satunya bantuan berasal dari PT Redi yang menyalurkan satu ekor sapi kurban untuk masyarakat di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Sapi bantuan PT Redi tersebut disembelih di depan rumah Ketua PCM Talibura, Tajudin Obawala, S.Pd., M.Pd, sebelum kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Atas bantuan itu, wargapun turut memberi apresiasi dan limpah terima kasih karena dinilai membantu masyarakat sekaligus memperkuat semangat berbagi di Hari Raya Idul Adha.

4 Ekor dari Kelompok Jemaah An-Nur, 1 Ekor dari BRI

Selain bantuan dari PT Redi, pelaksanaan kurban di wilayah Nangahale dan Talibura tahun ini juga melibatkan berbagai pihak, termasuk kelompok jemaah bentukan Ustadz Abdul Haris di Kemasjidan An-Nur Nangahale.

Sehinga, dari jumlah itu, di halaman Masjid An-Nur Nangahale, total lima ekor sapi disembelih dengan rincian yaitu; empat ekor sapi berasal dari kelompok jemaah Kemasjidan An-Nur. Kelompok ini dibentuk dan dikoordinir oleh Ustadz Abdul Haris melalui sistem kelompok kurban dengan pola menabung (Jastip).

Sementara itu, satu ekor sapi lainnya berasal dari bantuan BRI.

Lima ekor sapi tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar Masjid An-Nur Nangahale.

Bantuan dari LazisMu Uhamka

Selain penyembelihan di halaman Masjid An-Nur Nangahale dan bantuan PT Redi tersebut, satu ekor sapi bantuan dari LazisMu UHAMKA juga disembelih di halaman MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale untuk dibagikan kepada para siswa dan siswi sekolah tersebut.

Ustadz Abdul Haris mengatakan sistem menabung diterapkan untuk mempermudah masyarakat mengikuti kurban tanpa merasa terbebani secara ekonomi.

“Dengan sistem menabung, umat tidak merasa berat ketika tiba waktu berkurban. Sedikit demi sedikit dikumpulkan sampai akhirnya bisa membeli sapi bersama kelompok,” ujarnya, Rabu (27/5/2026).

Menurutnya, pola kelompok kurban tersebut terus dibangun agar semangat berkurban masyarakat tetap tumbuh setiap tahun.

Selain mengoordinasikan kelompok kurban, Ustadz Abdul Haris juga membekali para panitia dengan tata cara penyembelihan yang sesuai syariat Islam dan memperhatikan kesehatan hewan.

Para panitia diberikan pemahaman mulai dari teknik melilit tali pada hewan agar tidak menyiksa, cara merebahkan sapi dengan aman, hingga teknik penyembelihan yang cepat dan tepat.

Bahkan, alat penyembelihan yang digunakan berupa parang dan pisau khusus yang didatangkan dari luar negeri dan memang diperuntukkan khusus untuk penyembelihan hewan kurban.

Ustadz Abdul Haris sendiri merupakan alumni Pondok Merinding, Payaman, Magelang, Jawa Tengah. Pengalaman pendidikan pesantren tersebut menjadi dasar dalam membina masyarakat dan panitia kurban agar pelaksanaan penyembelihan tetap memperhatikan syariat, kebersihan, serta kesejahteraan hewan.

Proses penyembelihan hewan kurban di wilayah Nangahale turut mendapat pengawasan kesehatan hewan dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.

Petugas Pengawas Hewan Kurban Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, drh. Yosephina Leto Lapilia, mengatakan pihaknya memastikan seluruh proses penyembelihan memenuhi standar kesehatan hewan dan keamanan pangan.

“Kami memastikan hewan kurban yang disembelih sesuai prinsip kesejahteraan hewan dan daging yang dihasilkan aman, sehat, utuh, dan halal,” katanya kepada wartawan.

Ia juga mengapresiasi penerapan standar operasional prosedur (SOP) di lokasi penyembelihan Masjid An-Nur Nangahale yang dinilai telah memiliki fasilitas cukup baik.

“Di Masjid An-Nur sudah ada kandang jepit, tempat penampungan darah, serta pemisahan lokasi pemotongan, pencincangan, dan pengepakan daging sehingga pengolahan limbah lebih baik dan higienis,” ungkapnya.

Reporter : Faidin

Kelompok Bentukan Ust. Abdul Haris di Kemasjidan An-Nur Sukses Adakan 4 Ekor Sapi Kurban Pakai Jastip Cicilan

SIKKA, Bajopos.com | Semangat berkurban umat Islam di Kemasjidan An-Nur Nangahale, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, terus menunjukkan perkembangan positif dari tahun ke tahun.

Berkat koordinasi dan pembinaan yang dilakukan Ustadz Abdul Haris, internal jemaah Masjid An-Nur tahun ini berhasil menyembelih empat ekor sapi kurban dari total 7 ekor.

Keberhasilan tersebut dinilai tidak terlepas dari skema kelompok kurban dengan pola menabung atau yang disebutnya “Jastip Cicilan” yang diterapkan kepada masyarakat sekitar sejak jauh-jauh hari sebelum Hari Raya Idul Adha tiba.

Sistem tersebut mempermudah umat untuk berkurban tanpa merasa terbebani secara ekonomi.

Ustadz Abdul Haris selaku koordinator panitia kurban mengatakan pola menabung atau jastip cicilan menjadi solusi agar semangat berkurban tetap tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi masyarakat.

“Dengan sistem menabung atau jastip, umat tidak merasa berat ketika tiba waktu berkurban. Kalau serentak memang berat untuk kita berkurban, padahal niat kita sudah ada. Sedikit demi sedikit dikumpulkan sampai tiba masanya kurban ya kita sudah ada tabungan,” ujarnya sebelum membawakan materi khutbah Id, Rabu (27/5/2026).

Ia menjelaskan, kekompakan jemaah menjadi kunci utama keberhasilan pelaksanaan kurban di Masjid An-Nur Nangahale.

Untuk diketahui, total ekoran sapi yang dipotong di halaman Masjid An-Nur Nangahale itu sebanyak lima ekor, dimana  empat ekor berasal dari kelompok jemaah Kemasjidan An-Nur, sedangkan satu ekornya merupakan bantuan dari BRI.

Lima ekor sapi tersebut kemudian disembelih di halaman Masjid An-Nur Nangahale untuk selanjutnya dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Pembekalan Kapasitas Panitia Kurban dari Segi Kesehatan dan Syariat

Keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari perhatian Ustadz Abdul Haris dalam meningkatkan kapasitas panitia penyembelihan hewan kurban.

Ia tidak hanya mengoordinasikan pengumpulan hewan kurban, tetapi juga terus membekali para panitia dengan tata cara penyembelihan yang ramah dari sisi kesehatan hewan maupun sesuai syariat Islam.

Para panitia diberikan pemahaman mulai dari teknik melilit tali pada hewan agar tidak menyiksa, cara merebahkan sapi dengan aman, hingga teknik penyembelihan yang cepat dan tepat.

Bahkan, alat penyembelihan yang digunakan berupa pedang dan pisau khusus_paling tajam, yang didatangkan dari luar negeri dan memang diperuntukkan khusus untuk penyembelihan hewan kurban.

Ketajaman alat pemotong hewan seperti pedang dan pisau tersebut agar hewan yang disembelih tidak merasa sengsara kesakitan dalam waktu yang begitu lama akibat gorokan petugas penyembelih.

Ustadz Abdul Haris sendiri merupakan alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Payaman, Magelang, Jawa Tengah.

Pengalaman pendidikan pesantren tersebut menjadi salah satu dasar dalam membina masyarakat dan panitia kurban agar pelaksanaan penyembelihan tetap memperhatikan nilai syariat, kebersihan, serta kesejahteraan hewan.

Tambahan Sapi Kurban dari Donatur

Selain lima ekor sapi yang dipotong di halaman Masjid An-Nur Nangahale, terdapat tambahan dua ekor sapi kurban lainnya di wilayah tersebut.

Satu ekor sapi bantuan dari LazisMu UHAMKA disembelih dan dibagikan di halaman MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale. Bingkisan sapi kurban ini pembagiannya menyasar para siswa dan siswi aktif di sekolah tersebut.

Sementara, satu ekor sapi lainnya yang berasal dari bantuan PT. Redi disembelih di depan rumah Ketua PCM Talibura, Tajudin Obawala, untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Selain itu, proses penyembelihan hewan kurban di Kemasjidan An-Nur Nangahale juga mendapat pengawasan kesehatan hewan dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.

Siswa SMK Negeri Talibura jurusan Kesehatan Hewan, Paulinus Vieri Naen, yang ikut melakukan pemeriksaan menjelaskan bahwa tim melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem terhadap hewan kurban.

“Pemeriksaan antemortem dilakukan untuk memastikan hewan layak dipotong, apakah sakit atau tidak. Sedangkan postmortem dilakukan pada organ-organ seperti ginjal, paru-paru, hati, jantung dan limpa,” jelasnya.

Sementara itu, Petugas Pengawas Hewan Kurban Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, drh. Yosephina Leto Lapilia, mengatakan pihaknya memastikan seluruh proses penyembelihan memenuhi standar kesehatan hewan dan keamanan pangan.

“Kami memastikan hewan kurban yang disembelih sesuai prinsip kesejahteraan hewan dan daging yang dihasilkan aman, sehat, utuh, dan halal,” katanya kepada wartawan.

Ia menjelaskan pemeriksaan antemortem telah dilakukan sejak Selasa (26/5/2026) sore terhadap seluruh hewan kurban di wilayah Desa Nangahale dan sekitarnya.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh hewan dalam kondisi sehat dan layak dipotong,” ujarnya.

Menurut Yosephina, pemeriksaan meliputi suhu tubuh hewan, kondisi fisik mulai dari mata, hidung, kulit, hingga pemeriksaan luka dan umur hewan.

“Untuk hewan kurban sapi, rata-rata harus berumur di atas dua tahun dengan bobot sekitar 200 hingga 300 kilogram,” jelasnya.

Ia juga memastikan seluruh sapi kurban yang dipotong berasal dari wilayah Kecamatan Talibura dan tidak didatangkan dari luar daerah.

Dalam kesempatan itu, Yosephina turut mengapresiasi penerapan standar operasional prosedur (SOP) di lokasi penyembelihan Masjid An-Nur Nangahale yang dinilai telah memiliki fasilitas cukup baik.

“Di Masjid An-Nur sudah ada kandang jepit, tempat penampungan darah, serta pemisahan lokasi pemotongan, pencincangan, dan pengepakan daging sehingga pengolahan limbah lebih baik dan higienis,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan sterilisasi petugas yang menangani daging kurban.

“Petugas yang memotong harus steril, tidak memakai sandal dan tidak boleh merokok saat menangani daging,” tegasnya.

Kegiatan pemotongan dan pembagian hewan kurban tersebut turut dihadiri Ketua PCM Talibura, Tajudin Obawala, S.Pd., M.Pd, dan masyarakat setempat.

Reporter : Faidin

(QULTUM) Ustadz Abdul Haris Tekankan Pentingnya Niat Dalam Tiap Amal

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ustadz Abdul Haris menegaskan pentingnya niat dalam pelaksanaan puasa Ramadan saat menyampaikan kuliah tujuh menit (qultum) di Masjid An-Nur Nangahale, pada rangkaian salat tarawih awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Rabu, 18/02/2026 usai sholat isya berjama’ah.

Dalam ceramahnya, ia mengawali dengan mengajak jamaah bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk kembali bertemu Ramadan dan melaksanakan salat tarawih.

“Ini semata-mata pertolongan Allah untuk kita. Pilihan Allah untuk kita. Karena ada orang-orang yang tahun lalu masih ikut Ramadan dengan kita, mungkin sekarang sudah tidak ada,” ujarnya.

Ia juga menyinggung salah satu pengisi qultum di masjid tersebut yang telah wafat beberpa hari menjelang Ramadhan ini (almarhum H. Patahere, red). Menurutnya, kematian menjadi pengingat bahwa setiap orang tidak mengetahui kapan akan dipanggil oleh Allah SWT.

Menurut Ustadz Abdul Haris, Almarhum dalam ingatannya sempat menyampaikan persoalan niat puasa, seingatnya di malam ke dua Ramadhan tahun sebelumnya.

Pada kesempatan itu, Ustadz Abdul Haris menyampaikan materi tentang salah satu rukun puasa, yakni niat. Ia menjelaskan bahwa niat merupakan bagian yang tidak boleh ditinggalkan dalam ibadah puasa.

“Kapan kita mulai niat berpuasa? Saat malam tiba. Kapan malam tiba? Saat azan maghrib,” jelasnya di hadapan jamaah.

Ia menegaskan, bagi yang hendak berpuasa keesokan hari, niat sudah bisa dilakukan sejak masuk waktu maghrib. Dalam penjelasannya, ia merujuk pada praktik yang lazim dianut mayoritas umat Islam di Indonesia yang mengikuti Mazhab Syafi’i.

Menurutnya, dalam Mazhab Syafi’i, puasa setiap hari di bulan Ramadan dihitung sebagai amal yang berdiri sendiri, bukan satu rangkaian amal untuk sebulan penuh. Karena itu, setiap hari puasa wajib disertai niat tersendiri.

“Puasa hari pertama, amal sendiri. Hari berikutnya, amal yang lain lagi. Artinya setiap amal wajib satu niat,” tegasnya.

Ia menjelaskan, niat bersama setelah salat tarawih yang kerap dipandu imam merupakan metode untuk memudahkan jamaah agar tidak lupa. Namun, secara prinsip, niat tetap harus dilakukan setiap malam.

Terkait adanya pendapat bahwa cukup satu niat untuk satu bulan penuh, ia menerangkan bahwa hal tersebut merupakan pendapat dalam Mazhab Maliki, bukan Mazhab Syafi’i. Meski demikian, dalam praktik fiqih Syafi’i, dianjurkan pula untuk berniat puasa satu bulan penuh pada malam pertama Ramadan sebagai langkah antisipasi jika suatu malam lupa berniat.

“Ini hanya untuk antisipasi, bukan berarti sudah cukup satu kali niat untuk sebulan,” jelasnya.

Ustadz Abdul Haris juga mempraktikkan lafaz niat puasa satu bulan penuh mengikuti pendapat Imam Malik sebagai bentuk taklid, sekaligus menegaskan kembali bahwa niat harian tetap wajib dilakukan.

Ia menambahkan, niat pada dasarnya dilakukan di dalam hati. Jika tidak sempat mengikuti lafaz bahasa Arab, jamaah dapat berniat dengan bahasa masing-masing, misalnya, “Saya niat puasa Ramadan besok hari.” Menurutnya, lafaz sederhana tersebut sudah mencukupi karena yang terpenting adalah kehendak dalam hati.

Di akhir ceramah, ia berharap Allah SWT memberikan kekuatan kepada seluruh jamaah untuk menjalankan ibadah puasa sesuai ketentuan dan menjadikan Ramadan sebagai jalan meraih ketakwaan.

“Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakan puasa Ramadan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya dan menjadikan kita orang-orang yang bertakwa,” tutupnya.

Reporter : Faidin