Kam. Sep 24th, 2026

Pertanian Sikka

17 Ibu Petani Woda Mude Terima 800 Kg Benih Padi dari Kementan RI

SIKKA, Bajopos.com | Sebanyak 17 ibu petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Mapan Berdikary, Desa Woda Mude, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, kembali mendapat suntikan semangat untuk menggarap lahan.

Sebanyak 800 kilogram benih padi unggul dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) akhirnya terealisasi dan disalurkan pada tahun 2026 ini.

Benih tersebut merupakan bagian dari program Optimalisasi Lahan (OPLAH) nonrawa tahun 2025 untuk musim tanam (MT) II. Meski programnya ditetapkan pada 2025, bantuan benih tersebut baru terealisasi dan diterima kelompok tani pada 2026, dengan alokasi untuk lahan seluas 20 hektare.

Benih diantar langsung oleh Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Woda Mude, Geby, ke Sekretariat Poktan Mapan Berdikary di RT 002/RW 001, Desa Woda Mude.

Setelah bantuan tiba, pengurus bersama anggota melakukan rapat dan konsolidasi untuk menentukan pembagian benih. Hasil kesepakatan menetapkan setiap anggota memperoleh 45 kilogram.

Poktan Mapan Berdikary sendiri beranggotakan 17 orang yang mayoritas merupakan ibu-ibu petani.

Mereka menjadi bagian dari kekuatan petani di Desa Woda Mude yang tetap bertahan mengolah lahan dan menjaga produktivitas pangan di tengah berbagai tantangan sektor pertanian.

Ketua Poktan Mapan Berdikary, Darman Eldin, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang kembali diterima kelompoknya.

“Alhamdulillah, tiap musim tanam selama dua tahun ini kami mendapatkan benih bantuan dari Kementerian Pertanian untuk meningkatkan hasil panen petani demi menuju swasembada pangan,” ujar Darman kepada Media ini.

Menurutnya, keberlanjutan bantuan benih menjadi dorongan bagi petani untuk terus mengolah lahan dan meningkatkan hasil produksi.

Pembagian benih kali ini turut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Sikka, Diki Raja, yang juga merupakan warga setempat dan berdomisili di Desa Magepanda.

Atas permintaan warga, Diki Raja secara simbolis menyerahkan benih kepada anggota Poktan Mapan Berdikary sebagai bentuk dukungan terhadap para petani di Desa Woda Mude.

Bagi pengurus kelompok, terealisasinya bantuan ini bukan menjadi akhir dari proses. Sebagai bentuk pertanggungjawaban moral sekaligus komitmen terhadap keberlanjutan program, Poktan Mapan Berdikary berencana melaksanakan kembali kegiatan tanam simbolis dan panen simbolis bersama para pemangku kepentingan di Kabupaten Sikka.

Kegiatan serupa sebelumnya telah dilakukan pada tahun lalu.

Meski bersyukur atas terealisasinya bantuan benih, para petani berharap pemerintah tidak berhenti pada pemberian benih.

Darman berharap, ke depan pemerintah juga dapat memberikan dukungan berupa pupuk dan obat-obatan pertanian sehingga petani mendapatkan dukungan yang lebih lengkap dari masa tanam hingga panen.

“Harapan kami, bantuan dari pemerintah jangan hanya benih. Kalau memungkinkan, bantuan pupuk dan obat-obatan juga untuk mendukung penuh para petani di kampung,” harapnya.

Semetara itu, bagi 17 ibu petani Mapan Berdikary, 800 kilogram benih tersebut bukan sekadar bantuan, melainkan modal untuk kembali menanam, memanen, dan menjaga harapan dari kampung agar  ketahanan pangan dapat terus dibangun.

Reporter : Faidin

Pisang Kepok Nyaris Hilang di Sikka, Petani Tertekan Serangan Penyakit Sejak 2020

SIKKA, BAJOPOS.COM – Serangan penyakit darah pisang atau blood disease bacterium (BDB) yang terjadi sejak 2020 hingga kini terus menghantui petani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Dampaknya tidak hanya menurunkan produksi, tetapi juga membuat pisang kepok—komoditas andalan daerah—nyaris hilang dari peredaran.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh petani dan pedagang. Keterbatasan pasokan dari dalam daerah memaksa mereka mendatangkan pisang dari luar wilayah seperti Kabupaten Flores Timur dan Lembata.

Don, pedagang pisang di Pasar Alok Maumere, mengaku situasi tersebut sangat memukul usaha yang dijalaninya.

“Untuk di Kabupaten Sikka, pisang kepok yang menjadi salah satu andalan ekonomi petani sudah hilang dari peredaran. Kami terpaksa membeli dari luar daerah,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).

Menurut dia, kondisi ini turut meningkatkan beban modal usaha. Untuk mendapatkan pasokan, ia harus mengeluarkan biaya hingga Rp10 juta guna membeli sekitar dua pikap pisang dari luar daerah.

Di tingkat pedagang, harga jual pisang saat ini mencapai sekitar Rp70.000 per tandan. Meski demikian, tingginya permintaan pasar, termasuk untuk pengiriman ke luar daerah seperti Surabaya, belum mampu diimbangi dengan ketersediaan stok.

“Kami kesulitan memenuhi permintaan karena barangnya terbatas,” katanya.

Don berharap Dinas Pertanian Kabupaten Sikka segera mengambil langkah konkret untuk memutus rantai penyebaran penyakit tersebut. Ia juga mendorong adanya solusi teknis yang lebih efektif di tingkat petani.

“Harapan kami, pemerintah bisa segera menghadirkan solusi agar penyakit ini bisa dikendalikan dan produksi pisang kembali normal,” ujarnya.

Dampak kelangkaan pisang kepok tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan budaya masyarakat setempat. Di Sikka, pisang menjadi salah satu komponen penting dalam berbagai kegiatan adat, termasuk prosesi perkawinan.

Martinus, warga Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan adat akibat langkanya pisang di daerahnya.

“Untuk urusan adat perkawinan, kami sampai harus membeli pisang dari Flores Timur karena di sini sudah sulit didapat,” tuturnya.

Sejumlah pihak menilai, penanganan penyakit tanaman seperti BDB membutuhkan pendekatan terpadu. Upaya tersebut meliputi pengendalian di tingkat kebun, penggunaan bibit sehat, hingga edukasi kepada petani terkait praktik budidaya yang aman.

Tanpa langkah terkoordinasi, penyebaran penyakit dikhawatirkan akan terus meluas dan memperparah kondisi pertanian lokal.

Hingga kini, para petani di Sikka masih berharap adanya solusi nyata untuk mengakhiri persoalan yang telah berlangsung selama enam tahun tersebut.

Bagi mereka, keberhasilan mengendalikan penyakit ini bukan hanya soal pemulihan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi dan kehidupan sosial masyarakat.

Penulis : Redaksi