Kam. Sep 24th, 2026

Muhammadiyah Sikka

Relawan Muhammadiyah Sikka Siapkan Sekolah Darurat di Barak Pengungsian Mandiri

SIKKA, Bajopos.com | Kepedulian terhadap anak-anak terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka mulai menyentuh barak pengungsian mandiri di depan Kantor Bupati Sikka.

Pada Kamis, 20 Agustus 2026, Team Tangguh Relawan Muhammadiyah Sikka melakukan asesmen lapangan sebagai langkah awal persiapan pembukaan Klaster Pendidikan di lokasi tersebut.

Barak pengungsian mandiri itu dihuni warga yang memilih bertahan di lokasi pengungsian sejak gempa pertama mengguncang wilayah Flores.

Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan pendidikan dan pemulihan psikologis anak-anak menjadi perhatian yang mulai didorong oleh para relawan.

Sebanyak tujuh personel Relawan Muhammadiyah Sikka turun langsung ke lokasi. Sebelum melakukan pendataan terhadap anak-anak usia sekolah, para relawan terlebih dahulu menggelar kegiatan trauma healing dengan mengajak anak-anak bernyanyi bersama dan bermain berbagai permainan.

Suasana yang sebelumnya dipenuhi kekhawatiran akibat bencana perlahan berubah menjadi lebih ceria. Anak-anak diajak bermain dan bernyanyi untuk membantu mengurangi rasa takut serta trauma yang masih mereka rasakan.

Para relawan juga memberikan hadiah kepada anak-anak sebagai bentuk dukungan dan penyemangat.

Darman Eldin mengatakan, berdasarkan asesmen awal, terdapat sekitar 96 jiwa yang berada di pengungsian mandiri tersebut. Mereka terdiri dari anak-anak dan warga dengan jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA.

Menurutnya, pendataan tersebut penting dilakukan untuk mengetahui kebutuhan pendidikan anak-anak selama mereka masih berada di lokasi pengungsian.

“Jumlah pengungsian mandiri sekitar 96 jiwa, dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA,” kata Darman Eldin.

Ia menjelaskan, asesmen yang dilakukan tidak hanya untuk mengetahui jumlah anak sekolah, tetapi juga menjadi dasar dalam menyiapkan program pendidikan darurat yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Darman menyampaikan, setelah dilakukan evaluasi bersama Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sikka, Relawan Muhammadiyah Sikka berencana membuka sekolah darurat di barak pengungsian mandiri tersebut.

“Insyaa Allah dalam waktu dekat, setelah evaluasi bersama Ketua PDM Sikka, Team Relawan Muhammadiyah Sikka akan melakukan sekolah darurat di barak pengungsian mandiri di depan Kantor Bupati Sikka,” ujarnya.

Rencana pembukaan sekolah darurat tersebut diharapkan dapat memberikan ruang belajar bagi anak-anak pengungsi sekaligus menjadi bagian dari proses pemulihan mereka pascabencana.

Di tengah situasi pengungsian yang masih berlangsung, kehadiran relawan tidak hanya dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan logistik, tetapi juga memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak untuk belajar dan memperoleh pendampingan psikososial.

Langkah Relawan Muhammadiyah Sikka ini menjadi upaya penting agar anak-anak yang terdampak gempa tidak kehilangan kesempatan belajar meski harus menjalani kehidupan sementara di barak pengungsian.

Reporter : Faidin

Di Bawah Atap yang Lapuk, Mimpi Siswa Siswi MTs Al Fatah di Kabupaten Sikka  Menunggu Uluran Tangan

SIKKA, BAJOPOS.COM | Bel masuk sekolah tetap berbunyi setiap pagi di MTs Muhammadiyah Al Fatah Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Anak-anak tetap datang mengenakan seragam, membawa buku, dan menyimpan cita-cita yang sama seperti pelajar lainnya. Namun, mereka tidak lagi belajar di ruang kelas yang semestinya.

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Muhammadiyah Al Fatah Nangahale merupakan sekolah swasta yang berada di bawah naungan Yayasan Muhammadiyah.

Sejak berdiri pada tahun 2003, sekolah ini telah menjadi tempat menimba ilmu bagi generasi muda di wilayah Nangahale dan sekitarnya.

Kini, sekolah tersebut menghadapi ujian berat akibat rusaknya dua ruang kelas yang mengganggu proses belajar mengajar.

Sebagian dari mereka kini harus belajar di Musholla, yang merupakan tempat ibadah siswa, siswi, dan para guru, serta di ruang perpustakaan.

Bahkan, ada rombongan belajar yang masih harus duduk di lantai karena dua ruang kelas sekolah mengalami kerusakan berat setelah diterjang angin puting beliung beberapa tahun lalu.

Di balik keterbatasan itu, para guru memilih bertahan. Mereka tidak ingin kondisi bangunan memadamkan semangat belajar anak-anak.

“Tetap semangat, karena di mana pun kita bisa belajar. Tetapi kami kasihan melihat anak-anak yang masih harus belajar dengan duduk di lantai,” tutur salah seorang tenaga pendidik, Ibu Dahlia, kepada wartawan.

Demi keselamatan siswa, bangunan bertingkat yang dinilai membahayakan akhirnya terpaksa dibongkar.

Bantuan dari LazisMu Muhammadiyah telah dimanfaatkan untuk memperbaiki sebagian atap yang rusak.

Namun, kerusakan yang ada masih jauh lebih besar dibanding kemampuan sekolah dan yayasan untuk menanganinya sendiri.

Kini, proses belajar mengajar berlangsung dalam segala keterbatasan. Musholla yang semestinya menjadi tempat ibadah bagi siswa, siswi, dan para guru, bersama ruang perpustakaan, terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang belajar darurat.

Akibatnya, kegiatan belajar mengajar tidak lagi berlangsung senyaman sebelumnya, sementara fungsi kedua ruangan tersebut juga tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Yang paling menyentuh bukanlah bangunan yang rusak, melainkan semangat anak-anak yang tetap hadir setiap hari.

Mereka tidak mengeluh karena harus duduk di lantai. Mereka tetap membuka buku, mendengarkan guru, dan menulis pelajaran dengan harapan sederhana: suatu hari bisa mengubah masa depan.

Karena itulah, pihak sekolah membuka saluran donasi untuk mengajak masyarakat ikut membangun kembali ruang kelas yang layak.

Harapannya bukan sekadar memperbaiki dinding atau memasang atap baru, tetapi mengembalikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak saat belajar.

Poster Open Donasi

Kalimat yang tertulis dalam poster penggalangan dana seolah menggambarkan kondisi mereka hari ini:

“Di bawah atap yang lapuk, ada cita-cita yang tetap menyala.”

Sebuah pengingat bahwa setiap sumbangan, sekecil apa pun, bukan hanya menjadi material bangunan. Lebih dari itu, ia menjadi penyangga harapan bagi anak-anak yang terus berjuang mengejar pendidikan di tengah segala keterbatasan.

Di ruang-ruang belajar yang serba darurat itu, masa depan sedang dipertaruhkan. Di balik dinding yang rapuh dan atap yang menua, tersimpan mimpi-mimpi besar anak-anak Nangahale. Kini, mimpi-mimpi itu menunggu satu hal yang sederhana: kepedulian kita.

Penulis : Faidin