Rab. Sep 23rd, 2026

Masjid Darussalam Waioti

Ketua PDM Sikka: Puasa Bentuk Integritas, Korupsi Bertentangan dengan Iman

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sikka, Moh. Ihsan Wahab, S.HI, M.Pd,. menegaskan bahwa ibadah puasa Ramadan sejatinya membentuk manusia yang berintegritas dan berkeadaban.

Hal itu disampaikannya dalam khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Waioti, Kecamatan Alok Timur, Jumat (20/3/2026).

Menurut Ihsan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan proses pembentukan karakter yang menuntut kejujuran, pengendalian diri, serta tanggung jawab moral dalam kehidupan sehari-hari.

“Puasa membentuk manusia yang berintegritas. Tidak mungkin orang yang benar-benar memahami makna puasa masih melakukan korupsi, karena itu bertentangan dengan iman dan merusak peradaban,” tegasnya.

Ia menjelaskan, selama satu bulan penuh umat Islam dilatih untuk menahan diri bahkan dari hal-hal yang dibolehkan. Latihan ini, kata dia, seharusnya melahirkan kesadaran untuk menjauhi perbuatan yang jelas-jelas dilarang, seperti korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Lebih lanjut, Ihsan menilai praktik korupsi bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan. Tindakan tersebut, menurutnya, merusak sendi-sendi kehidupan sosial dan menghambat kemajuan bangsa.

“Korupsi tidak hanya merugikan negara, tetapi juga menghancurkan kepercayaan publik dan merusak tatanan moral masyarakat. Ini adalah ancaman serius bagi peradaban,” ujarnya.

Dalam khutbahnya, ia juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an secara tegas melarang umat Islam memakan harta orang lain dengan cara batil, termasuk melalui praktik suap dan kecurangan.

Ihsan menambahkan, hasil dari ibadah puasa seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari, seperti kejujuran dalam bekerja, amanah dalam jabatan, serta kepedulian terhadap sesama, terutama kelompok lemah.

“Integritas adalah buah dari ketakwaan. Jika puasa dijalankan dengan benar, maka ia akan melahirkan pribadi yang bersih, jujur, dan bertanggung jawab,” katanya.

Ia pun mengajak seluruh umat Islam, khususnya para pemimpin dan penyelenggara negara, untuk menjadikan momentum Idul Fitri sebagai titik balik memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai keadaban dan integritas.

“Jangan biarkan ibadah kita berhenti di ritual. Jadikan puasa sebagai fondasi membangun bangsa yang bersih dari korupsi dan berkeadaban,” pungkasnya.

Reporter : Faidin

Dari Spirit Ramadhan ke Jihad Keadaban: Pesan Idul Fitri 1447 H di Sikka

SIKKA, BAJOPOS.COM – Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Waioti, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Jumat (20/3/2026), tidak hanya dimaknai sebagai hari kemenangan, tetapi juga sebagai titik awal jihad memperkokoh nilai keadaban bangsa.

Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sikka, Moh. Ihsan Wahab, S.HI., M.Pd., yang mengajak umat Islam untuk melanjutkan spirit Ramadhan dalam kehidupan nyata.

Moh. Ihsan Wahab, S. HI, M. Pd di Momen Idul Fitri 1447 H di Sikka. Doc. Bajopos.com/ Faidin.

Khutbah diawali dengan salam dan puji syukur kepada Allah SWT serta ajakan untuk meningkatkan ketakwaan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِيدَ ضِيَافَةً لِلْأَنَامِ، وَجَعَلَهُ مِنْ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ، حَرَّمَ فِيهِ الصِّيَامَ، وَأَحَلَّ فِيهِ الطَّعَامَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِقُ الْعَالَمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَيْرُ الْأَنَامِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Dalam khutbahnya, disampaikan bahwa Idul Fitri merupakan hari suka cita bagi seluruh umat Islam setelah menjalani proses panjang pembinaan spiritual selama bulan Ramadhan. Proses tersebut, menurutnya, adalah upaya penyadaran kembali akan pentingnya kehidupan ruhaniah yang transendental, yang selama ini sering tertutupi oleh dominasi kehidupan material yang profan.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ia menjelaskan bahwa manusia hidup di bawah ketentuan Allah SWT hanya sementara di bumi. Namun, dalam realitasnya, manusia kerap terjebak dalam “tarikan gravitasi” kehidupan duniawi yang begitu kuat, hingga melupakan asal-usul ruh yang berasal dari Allah SWT.

Suasana Idul Fitri Muhammadiyah di Kabupaten Sikka yang terpusat di Kemesjidan Darussalam Waioti. Doc. Faidin.

Puasa, lanjutnya, menjadi sarana untuk melawan tarikan tersebut. Ibadah ini melatih manusia agar mampu mengangkat derajat dirinya secara spiritual, sedikit demi sedikit mendekati kesadaran ilahiah melalui ketakwaan dan kekhusyukan.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa capaian spiritual selama Ramadhan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru setelah Idul Fitri, umat Islam diuji kembali untuk membuktikan kualitas iman melalui jihad dan kesabaran.

Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرُ اللَّهِ قَرِيبٌ

Dalam konteks kehidupan berbangsa, jihad dimaknai sebagai perjuangan luas untuk mengatasi krisis nilai keadaban yang kini terjadi di berbagai lini kehidupan. Ia menekankan bahwa nilai keadaban seperti keadilan, amanah, kejujuran, sopan santun, serta keberpihakan kepada kelompok lemah merupakan bagian penting dari jihad yang harus diperjuangkan bersama.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Khutbah tersebut juga menyoroti bahwa puasa Ramadhan sejatinya merupakan proses pembentukan karakter yang berkeadaban. Nilai-nilai yang dibangun melalui puasa meliputi keimanan, pengendalian diri, serta kehati-hatian dalam setiap tindakan.

Ibadah puasa melatih manusia untuk menahan diri, bahkan dari hal-hal yang pada dasarnya diperbolehkan. Tujuannya agar manusia lebih mampu menghindari hal-hal yang jelas dilarang, seperti kezaliman, korupsi, ketidakjujuran, serta sikap tidak amanah.

Ia menegaskan bahwa perilaku seperti korupsi tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak kesucian jiwa, menzalimi orang lain, serta menghancurkan peradaban.

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Selain pembentukan karakter, puasa juga mengajarkan empati sosial. Pengalaman menahan lapar dan dahaga selama Ramadhan menjadi sarana untuk merasakan penderitaan kaum miskin dan mereka yang kekurangan.

Momen para pekerja media bersilaturahmi bersama keluarga besar Muhammadiyah di Kabupaten Sikka. Doc. Bajopos.com/Faidin

Dari pengalaman tersebut, diharapkan tumbuh kepedulian untuk membantu sesama, sehingga distribusi kesejahteraan tidak hanya berpusat pada kelompok yang mampu.

اللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Ia menegaskan bahwa keberpihakan kepada kaum lemah akan menghadirkan pertolongan Allah SWT bagi kehidupan bangsa.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Lebih lanjut, khutbah tersebut mengajak umat Islam untuk menjaga kelembutan hati sebagai buah dari proses penyucian jiwa selama Ramadhan. Kelembutan hati ini harus diwujudkan dalam kehidupan sosial melalui sikap saling menghormati, tidak saling menzalimi, serta menghindari konflik yang merusak persatuan.

Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membangun kebersamaan dan memanfaatkan seluruh potensi untuk menciptakan masa depan yang berkeadaban.

Di akhir khutbah, khatib mengajak jamaah untuk memanjatkan doa, memohon ampunan, keberkahan, serta keselamatan bagi umat Islam dan bangsa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَجَمِيعَ عِبَادَاتِنَا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Khutbah ini menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum melanjutkan perjuangan moral untuk membangun bangsa yang berkeadaban.

Penulis : Faidin

Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriyah di Sikka, Ketua PDM Sikka Tekankan Jihad Keadaban Bangsa

SIKKA, BAJOPOS.COM – Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Waioti, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Jumat (20/3/2026), mengangkat tema “Jihad Memperkokoh Nilai Keadaban Bangsa”.

Khutbah yang disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sikka, Moh. Ihsan Wahab, menekankan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan spiritual, tetapi momentum untuk memperkuat nilai-nilai keadaban dalam kehidupan berbangsa.

Dalam pembukaan khutbahnya, khatib mengajak jamaah meningkatkan ketakwaan kepada Allah, seraya mengingatkan bahwa hari raya merupakan anugerah sekaligus ujian bagi umat manusia setelah menjalani ibadah Ramadan.

“Ibadah puasa yang telah kita jalani sejatinya adalah proses penyadaran ruhani, untuk mengangkat manusia dari dominasi kehidupan material menuju kesadaran transendental,” ujar Ihsan di hadapan jamaah.

Menurutnya, manusia kerap terjebak dalam tarikan kehidupan duniawi. Karena itu, puasa hadir sebagai sarana untuk melawan “gravitasi” materialisme, agar manusia kembali menyadari asal-usul spiritualnya dan mendekat kepada Sang Pencipta.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa capaian spiritual selama Ramadan tidak serta-merta menjamin keselamatan tanpa adanya perjuangan nyata. Mengutip pesan Al-Qur’an, ia menegaskan bahwa surga hanya diperuntukkan bagi mereka yang berjihad dan bersabar.

“Jihad tidak semata dimaknai sebagai perjuangan fisik, tetapi mencakup upaya luas dalam memperbaiki kehidupan, termasuk mengatasi krisis keadaban yang kini melanda berbagai lini kehidupan bangsa,” tegasnya.

Ia menyoroti pentingnya penguatan nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, amanah, sopan santun, serta keberpihakan kepada kelompok lemah sebagai bagian dari jihad sosial yang harus diwujudkan.

Lebih lanjut, Ihsan menjelaskan bahwa ibadah puasa mengajarkan pengendalian diri, bahkan terhadap hal-hal yang dibolehkan. Hal ini, kata dia, menjadi latihan untuk menjauhi perbuatan yang diharamkan seperti korupsi, ketidakjujuran, dan kezaliman.

“Puasa membentuk manusia yang berintegritas. Tidak mungkin orang yang benar-benar memahami makna puasa masih melakukan korupsi, karena itu bertentangan dengan iman dan merusak peradaban,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan jamaah tentang larangan memakan harta secara batil, termasuk praktik suap dan penyalahgunaan kekuasaan, yang dinilai menjadi ancaman serius bagi keadaban bangsa.

Selain itu, puasa dinilai mampu menumbuhkan empati sosial. Dengan merasakan lapar dan dahaga, umat Islam diajak untuk peduli terhadap kaum lemah dan tidak mampu.

“Keadaban bangsa akan terbangun jika ada keberpihakan nyata kepada mereka yang lemah. Ketika kita menolong sesama, maka pertolongan Allah akan datang kepada kita,” katanya.

Dalam bagian akhir khutbah, Ihsan mengajak seluruh jamaah untuk menjaga kelembutan hati yang telah ditempa selama Ramadan, serta memperkuat persatuan dan kebersamaan antar sesama anak bangsa.

“Jangan saling menzalimi, jangan merusak kepercayaan. Gunakan seluruh potensi yang ada untuk membangun masa depan bangsa yang berkeadaban,” pesannya.

Khutbah ditutup dengan doa bersama, memohon ampunan, keberkahan, serta keselamatan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Penulis : Faidin