Rab. Jun 10th, 2026

Lembata

Dinkes Lembata Perkuat Mutu Layanan 12 Puskesmas, Fokus Keselamatan Pasien dan Kepuasan

LEMBATA, Bajopos.com | Upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan terus dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Salah satunya melalui kegiatan Pertemuan Penguatan Mutu Pelayanan Internal Puskesmas yang digelar di Aula Perpustakaan Daerah Gorys Keraf, Senin (18/5/2026).

Kegiatan strategis tersebut dibuka langsung oleh Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, dr. Bernardus Yoseph Beda, M.M, dan dihadiri Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Maria B. K. Beyeng, SKM, serta perwakilan dari 12 puskesmas se-Kabupaten Lembata.

Peserta yang hadir terdiri dari penanggung jawab klaster, ketua maupun sekretaris tim mutu, anggota tim mutu, hingga petugas penginput Indikator Nasional Mutu (INM) dan Insiden Keselamatan Pasien (IKP).

Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan penguatan materi dari narasumber dr. Arjaty W. Daud, MARS, FISQua CERG terkait Kebijakan Mutu Puskesmas dan Manajemen Risiko, serta Apris Isu, SKM, M.Kes yang membawakan materi tentang pencatatan, pelaporan, evaluasi INM, strategi peningkatan kepuasan pasien, hingga evaluasi IKP.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, dr. Bernardus Yoseph Beda, M.M menegaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan langkah penting untuk mengevaluasi sekaligus meningkatkan standar pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas.

Menurutnya, mutu pelayanan kesehatan tidak hanya berbicara soal prosedur administrasi, tetapi juga menyangkut keselamatan pasien, kepatuhan terhadap standar operasional, hingga kualitas pelayanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Pertemuan ini merupakan rapat strategis untuk mengevaluasi dan meningkatkan standar kualitas pelayanan, keselamatan pasien, serta kepatuhan prosedur operasional di fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, peningkatan standar pelayanan bertujuan memastikan seluruh proses pelayanan berjalan sesuai pedoman yang berlaku. Selain itu, evaluasi indikator mutu dilakukan untuk meninjau capaian target Indikator Nasional Mutu seperti kepuasan pasien, kepatuhan kebersihan tangan, hingga keberhasilan pengobatan.

Dalam kesempatan itu, Bernardus juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemateri yang hadir secara langsung maupun daring karena telah mendukung upaya penguatan mutu pelayanan internal puskesmas di Kabupaten Lembata.

“Kami berharap para peserta dapat mengikuti kegiatan dengan serius sehingga dapat memahami sekaligus mengaplikasikan di puskesmas masing-masing. Dengan begitu, pelayanan kesehatan yang bermutu dapat terwujud di 12 puskesmas se-Kabupaten Lembata,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, Maria B. K. Beyeng, SKM menjelaskan bahwa penguatan mutu pelayanan internal merupakan bagian penting dalam sistem pelayanan kesehatan dasar.

“Kegiatan hari ini penguatan mutu pelayanan internal puskesmas. Kalau kita bicara mutu maka ada mutu internal dan eksternal. Hari ini kita bicara mutu internal dan teman-teman di puskesmas melakukan upaya peningkatan mutu,” katanya.

Maria menguraikan, mutu internal di puskesmas meliputi pelaporan indikator nasional mutu, pelaporan insiden keselamatan pasien, hingga penerapan manajemen risiko di lingkungan pelayanan kesehatan.

Sedangkan mutu eksternal berkaitan dengan proses registrasi dan akreditasi puskesmas. Registrasi dilakukan terhadap puskesmas baru yang telah memiliki izin operasional, sementara akreditasi wajib dilakukan setiap lima tahun sesuai regulasi yang berlaku.

Ia menyebutkan, di Kabupaten Lembata terdapat tiga puskesmas yang menjalani akreditasi perdana yakni Puskesmas Pada, Puskesmas Bean, dan Puskesmas Autanapoq. Sementara sembilan puskesmas lainnya menjalani proses re-akreditasi.

“Dengan adanya kegiatan ini kami berharap peningkatan mutu pelayanan di puskesmas semakin baik karena dampaknya langsung dirasakan pasien sebagai pengguna layanan,” ungkapnya.

Maria juga menegaskan bahwa fokus utama kegiatan tersebut berada pada manajemen risiko, pelaporan indikator nasional mutu, serta insiden keselamatan pasien.

Ia mencontohkan, terdapat enam indikator nasional mutu yang menjadi perhatian utama sesuai regulasi, di antaranya kepatuhan kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri, identifikasi pasien, keberhasilan pengobatan pasien tuberkulosis, pelayanan antenatal care bagi ibu hamil, serta tingkat kepuasan pasien.

“Semua indikator itu menjadi tolok ukur penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di puskesmas,” tandasnya.

Reporter : Arsen

Mari Berkurban Bersama Santri Penghafal Al-Qur’an di Lembata

LEMBATA, Bajopos.com – Menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Rumah Qur’an (RQ) Al-Muwahhid di Kelurahan Lewoleba, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam program qurban bersama santri penghafal Al-Qur’an dan masyarakat Muslim di wilayah pedalaman.

Program ini tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga bentuk kepedulian sosial untuk mendukung para santri dalam menghafal Al-Qur’an serta membantu pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat yang membutuhkan.

Panitia menyediakan paket qurban dengan harga terjangkau, yakni sapi mulai dari Rp2.200.000 per orang (patungan 7 orang), serta kambing mulai dari Rp2.500.000 per ekor. Donasi qurban dapat disalurkan melalui rekening BRI 3491-01-055473-53-3 atas nama TPA Al-Muwahhid atau menghubungi panitia di nomor 0812-4656-6772.

Penanggung jawab kegiatan, Ustadz Ibrahim Jamin, menegaskan bahwa program ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai kepedulian umat sekaligus mendukung pendidikan Al-Qur’an di daerah.

“Qurban ini bukan sekadar ibadah tahunan, tetapi juga wujud nyata kepedulian kita terhadap para santri penghafal Al-Qur’an dan saudara-saudara kita di pedalaman. Kami berharap melalui program ini, para santri semakin termotivasi dalam menjaga dan menghafal Kalam Allah,” ujar Ustadz Ibrahim Jamin saat dikonfirmasi Bajopos.com Kamis, 9/4/2026.

Ia juga mengajak masyarakat luas untuk mengambil bagian dalam program tersebut, mengingat masih dibutuhkan partisipasi tujuh orang untuk memenuhi kuota qurban sapi.

“Kesempatan ini terbuka bagi siapa saja yang ingin berbagi keberkahan. Mari salurkan qurban terbaik kita, karena setiap hewan qurban yang disalurkan akan memberikan manfaat besar bagi mereka yang membutuhkan,” tambahnya.

Melalui program “Mari Berkurban”, RQ Al-Muwahhid berharap semangat berbagi dan kepedulian sosial umat Islam terus tumbuh, sekaligus memperkuat syiar Islam di wilayah Lembata dan sekitarnya.

Reporter : Nursan

Editor : Redaksi

Pisang Kepok Nyaris Hilang di Sikka, Petani Tertekan Serangan Penyakit Sejak 2020

SIKKA, BAJOPOS.COM – Serangan penyakit darah pisang atau blood disease bacterium (BDB) yang terjadi sejak 2020 hingga kini terus menghantui petani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Dampaknya tidak hanya menurunkan produksi, tetapi juga membuat pisang kepok—komoditas andalan daerah—nyaris hilang dari peredaran.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh petani dan pedagang. Keterbatasan pasokan dari dalam daerah memaksa mereka mendatangkan pisang dari luar wilayah seperti Kabupaten Flores Timur dan Lembata.

Don, pedagang pisang di Pasar Alok Maumere, mengaku situasi tersebut sangat memukul usaha yang dijalaninya.

“Untuk di Kabupaten Sikka, pisang kepok yang menjadi salah satu andalan ekonomi petani sudah hilang dari peredaran. Kami terpaksa membeli dari luar daerah,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).

Menurut dia, kondisi ini turut meningkatkan beban modal usaha. Untuk mendapatkan pasokan, ia harus mengeluarkan biaya hingga Rp10 juta guna membeli sekitar dua pikap pisang dari luar daerah.

Di tingkat pedagang, harga jual pisang saat ini mencapai sekitar Rp70.000 per tandan. Meski demikian, tingginya permintaan pasar, termasuk untuk pengiriman ke luar daerah seperti Surabaya, belum mampu diimbangi dengan ketersediaan stok.

“Kami kesulitan memenuhi permintaan karena barangnya terbatas,” katanya.

Don berharap Dinas Pertanian Kabupaten Sikka segera mengambil langkah konkret untuk memutus rantai penyebaran penyakit tersebut. Ia juga mendorong adanya solusi teknis yang lebih efektif di tingkat petani.

“Harapan kami, pemerintah bisa segera menghadirkan solusi agar penyakit ini bisa dikendalikan dan produksi pisang kembali normal,” ujarnya.

Dampak kelangkaan pisang kepok tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan budaya masyarakat setempat. Di Sikka, pisang menjadi salah satu komponen penting dalam berbagai kegiatan adat, termasuk prosesi perkawinan.

Martinus, warga Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan adat akibat langkanya pisang di daerahnya.

“Untuk urusan adat perkawinan, kami sampai harus membeli pisang dari Flores Timur karena di sini sudah sulit didapat,” tuturnya.

Sejumlah pihak menilai, penanganan penyakit tanaman seperti BDB membutuhkan pendekatan terpadu. Upaya tersebut meliputi pengendalian di tingkat kebun, penggunaan bibit sehat, hingga edukasi kepada petani terkait praktik budidaya yang aman.

Tanpa langkah terkoordinasi, penyebaran penyakit dikhawatirkan akan terus meluas dan memperparah kondisi pertanian lokal.

Hingga kini, para petani di Sikka masih berharap adanya solusi nyata untuk mengakhiri persoalan yang telah berlangsung selama enam tahun tersebut.

Bagi mereka, keberhasilan mengendalikan penyakit ini bukan hanya soal pemulihan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi dan kehidupan sosial masyarakat.

Penulis : Redaksi

Jelang Ramadan, MIN Lembata Jadikan Aksi Bersih Masjid sebagai Media Pendidikan Karakter

LEMBATA, BAJOPOS.COM – Madrasah Ibtidaiyah Negeri Lembata memanfaatkan momentum menjelang Ramadan 1447 Hijriah untuk memperkuat pendidikan karakter peserta didik melalui keterlibatan langsung dalam Program Gerakan Bersama Bersih-Bersih Masjid (Geber BBM) Tahun 2026, Senin (16/2/2026).

Partisipasi ini merupakan bagian dari dukungan terhadap gerakan nasional yang diinisiasi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia dalam rangka penguatan program Masjid Berdaya Berdampak yang dilaksanakan serentak di berbagai daerah.

Berbeda dari sekadar kegiatan seremonial, MIN Lembata menempatkan aksi bersih-bersih sebagai sarana pembelajaran kontekstual.

Seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan turun langsung membersihkan empat masjid di sejumlah desa, yakni Masjid Darul Islah Desa Hoelea I, Masjid Nurul Huda Desa Hoelea II, Masjid Nurul Hak Desa Roma, dan Masjid Namira Desa Leuwayan.

Kegiatan meliputi pembersihan ruang utama masjid, tempat wudu, karpet, mimbar, hingga penataan halaman. Proses tersebut dilaksanakan secara gotong royong bersama masyarakat setempat dengan tertib dan penuh tanggung jawab.

Kepala MIN Lembata, Kasman Said Lamabawa, menegaskan bahwa Geber BBM 2026 menjadi bagian dari strategi madrasah dalam membangun karakter peserta didik.

“Ini bukan hanya soal kebersihan fisik rumah ibadah, tetapi juga pembinaan sikap dan spiritualitas anak-anak. Mereka belajar tanggung jawab, kepedulian, kebersamaan, dan penghormatan terhadap rumah ibadah melalui praktik langsung,” ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan aktif peserta didik dalam kegiatan sosial-keagamaan memperkuat peran madrasah sebagai institusi pendidikan yang hadir dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Pelaksanaan Geber BBM 2026 di MIN Lembata dinilai membawa dampak positif, antara lain meningkatnya kesadaran siswa dalam menjaga kebersihan masjid, tumbuhnya nilai gotong royong dan kerja sama, serta terbangunnya sinergi antara madrasah dan masyarakat desa.

Selain itu, kolaborasi harmonis di tingkat lokal tersebut juga menjadi ruang penguatan moderasi beragama dalam praktik keseharian.

Dengan keterlibatan seluruh warga madrasah, MIN Lembata menunjukkan komitmen mendukung transformasi layanan pendidikan yang berorientasi pada kebermanfaatan, sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama dan semangat Kemenag Berdampak.(Faidin) 

Sambut Ramadhan 1447 H, MTs Negeri 2 Lembata Jadikan Masjid Ruang Pendidikan Karakter

LEMBATA, BAJOPOS.COM – Menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah/2026 Masehi, Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Lembata memanfaatkan momentum Program Gerakan Bersama (Geber) Bersih-Bersih Masjid (BBM) Tahun 2026 sebagai ruang pembelajaran nyata bagi peserta didik.

Program yang digagas oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam tersebut dilaksanakan Senin (16/2/2026) dan menjadi bagian dari gerakan Masjid Berdaya Berdampak. Namun, bagi MTs Negeri 2 Lembata, kegiatan ini tidak sekadar agenda seremonial menyambut Ramadhan.

Kegiatan dibagi ke tiga lokasi, yakni Masjid Babul Hidayah Lamahora, Masjid Nur Salam Wangatoa, dan Masjid YAMP Besar Wangatoa. Pembagian titik ini dirancang agar keterlibatan murid, guru, dan tenaga kependidikan berlangsung merata sekaligus menjangkau lebih banyak rumah ibadah.

Sejak pagi, para murid bersama guru membersihkan ruang utama masjid, tempat wudu, halaman, kaca jendela, hingga menata kembali perlengkapan ibadah. Gotong royong menjadi suasana utama yang terlihat di setiap lokasi.

Kepala MTs Negeri 2 Lembata, Ramlah Budiman, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari strategi pembinaan karakter.

“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan umat. Melalui kegiatan ini, murid belajar tanggung jawab, kerja sama, dan kepedulian sosial secara langsung,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman belajar kontekstual seperti ini memperkuat disiplin dan sikap moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu dinilai penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara sosial dan spiritual.

Melalui Program Geber BBM 2026, madrasah berharap masjid-masjid di lingkungan sekitar semakin bersih dan nyaman, sehingga jamaah dapat menjalankan ibadah Ramadhan, termasuk salat tarawih berjamaah, dengan khusyuk.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan posisi madrasah sebagai institusi pendidikan yang terlibat aktif dalam penguatan layanan keagamaan dan pemberdayaan masyarakat, sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama.(Faidin)