Kam. Sep 24th, 2026

Larantuka

Tempurung Kelapa dan Kisah Perempuan Flores Timur Menyalakan Harapan

FLORES TIMUR, BAJOPOS.COM | Di Desa Lamabunga, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, memasak pernah menjadi persoalan yang tidak sederhana.

Kelangkaan minyak tanah membuat harga melambung tinggi, sementara kayu bakar yang selama ini menjadi andalan semakin sulit diperoleh, terutama bagi warga lanjut usia yang sudah tidak lagi mampu mencari kayu ke kebun.

Namun di tengah keterbatasan itu, lahirlah sebuah perubahan besar yang berawal dari sesuatu yang selama ini dianggap limbah: tempurung kelapa.

Melalui pendampingan Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS), limbah kelapa kini menjelma menjadi briket ramah lingkungan yang bukan hanya menggantikan bahan bakar fosil, tetapi juga menjadi sumber pendapatan baru bagi perempuan-perempuan desa.

Transformasi tersebut menjadi bukti bahwa energi bersih bukan sekadar isu lingkungan, melainkan jalan menuju kemandirian ekonomi masyarakat.

Elisabeth Bulu sedang menggoreng kue menggunakan briket kelapa. (Doc. Bajopos.com/MM).

Salah satu yang merasakan langsung manfaatnya adalah Elisabeth Bulu (70).

Di usianya yang tak lagi muda, Elisabeth mengaku dahulu sangat bergantung pada minyak tanah. Ketika minyak langka dan kayu bakar sulit didapat, aktivitas memasak menjadi pekerjaan yang berat.

“Kayu api banyak di kebun, tetapi siapa yang pergi cari. Anak-anak punya kesibukan masing-masing,” tuturnya saat ditemui Wartawan di halaman Rumah Susun Keuskupan Larantuka, Senin (29/6/2026).

Sejak bergabung dalam Komunitas Ina Sayang binaan YPPS pada 2023, kehidupannya perlahan berubah.

Bersama anggota komunitas lainnya, Elisabeth belajar mengolah tempurung kelapa menjadi briket.

“Sejak empat tahun lalu saya bergabung dalam komunitas Ina Sayang dampingan YPPS. Kami membuat briket, kami menggunakannya, sekaligus menjualnya,” ujarnya.

Briket yang dihasilkan terbukti lebih hemat, bersih, serta tidak menghasilkan asap maupun bau seperti kayu bakar.

“Kalau memasak air atau sayur juga lebih cepat,” katanya.

Awalnya, sebagian warga sempat ragu menggunakan briket karena khawatir panasnya merusak peralatan memasak. Namun kekhawatiran itu tidak terbukti.

Kini, justru saat musim hujan ketika kayu bakar sulit didapat dan minyak tanah langka, briket menjadi penyelamat kebutuhan rumah tangga.

Limbah Bernilai Ekonomi

Program yang dijalankan YPPS tidak berhenti pada produksi briket.

Para petani kelapa didampingi mulai dari proses budidaya hingga pengolahan hasil panen menggunakan Rumah Jemur Energi Matahari (REM) untuk menghasilkan kopra premium yang lebih bersih dan berkualitas dibandingkan metode pengasapan tradisional.

Setelah daging kelapa diproses menjadi kopra, tempurungnya tidak lagi dibuang.

Tempurung dibakar menjadi arang, kemudian ditumbuk atau digiling, dicampur tepung kanji sebagai perekat, dicetak menggunakan cetakan khusus, lalu dijemur hingga kering menjadi briket siap pakai.

Dengan sistem tersebut, hampir seluruh bagian kelapa memiliki nilai ekonomi.

Produksi briket komunitas Elisabeth kini mencapai sekitar 300 kilogram setiap tahun dan dipasarkan tidak hanya di Pulau Adonara, tetapi juga ke Larantuka hingga Maumere.

Hasil penjualan tersebut menjadi sumber tambahan penghasilan sekaligus memperkuat kas kelompok.

Perempuan Menjadi Motor Penggerak

Ketua Komunitas Ina Sayang sekaligus Koordinator Desa Lamabunga, Mama Asti, mengatakan pasar sebenarnya telah tersedia, baik untuk kopra premium maupun briket.

Tantangan terbesar justru terletak pada kapasitas produksi.

Jumlah Rumah Jemur Energi Matahari masih terbatas sehingga banyak petani masih mengeringkan kopra dengan cara tradisional menggunakan asap.

Perbedaan harga memang tidak terlalu besar.

Kopra biasa dihargai sekitar Rp9.000 per kilogram, sedangkan kopra premium mencapai sekitar Rp9.500 per kilogram, bergantung pada kondisi pasar.

Sementara untuk briket, permintaan terus meningkat.

“Kami justru kewalahan melakukan promosi. Ke depan kami ingin berkolaborasi dengan anak-anak muda supaya mereka membantu memasarkan produk melalui media sosial,” kata Mama Asti.

Komunitas Ina Sayang sendiri memiliki 23 anggota aktif yang terdiri dari perempuan, lansia hingga penyandang disabilitas.

Selain memproduksi briket dan kopra premium, seluruh anggota juga diwajibkan mengikuti program simpan pinjam komunitas.

Tahun lalu, kas kelompok mencapai Rp32 juta.

Sementara dalam enam bulan pertama tahun ini, tabungan anggota telah menembus Rp20 juta.

Simpan Pinjam dari Uang Anggota Sendiri

Selain energi bersih, YPPS juga memperkuat ekonomi masyarakat melalui program Saving Internal Lending Community (SILC).

Melky Koli Baran, Direktur YPPS Flores Timur. (Doc. Bajopos.com/MM).

Direktur YPPS, Melky Koli Baran, menjelaskan bahwa SILC merupakan sistem literasi keuangan yang terinspirasi dari model yang dikembangkan Caritas Amerika dan disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat Flores Timur.

Menurutnya, mayoritas warga memiliki penghasilan harian yang relatif kecil sehingga sulit menabung di lembaga keuangan formal.

Melalui SILC, anggota menyisihkan tabungan setiap minggu mulai Rp10 ribu hingga maksimal Rp500 ribu.

Batas maksimal tersebut diterapkan agar seluruh anggota memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi.

Setelah memasuki minggu kelima, anggota sudah dapat mengajukan pinjaman dengan bunga lima persen.

Dana yang dikelola sepenuhnya berasal dari anggota, tanpa suntikan dana dari yayasan.

“Seluruh uang itu milik kelompok. Yayasan tidak membantu sepeser pun,” tegas Melky.

Dana tersebut dimanfaatkan untuk membeli aset produktif seperti mesin parut kelapa maupun perlengkapan pesta yang kemudian disewakan kepada masyarakat.

Koperasi Komunitas Tumbuh dari Briket

Keberhasilan serupa juga dirasakan Komunitas Wolosina Watoboki di Desa Bantala, Kecamatan Lewolema.

Regina Azi menunjukan briket yang diolah dari tempurung. (Doc. Bajopos.com/MM).

Bendahara kelompok, Regina Azi, mengatakan keuntungan dari penjualan briket tidak hanya meningkatkan pendapatan anggota, tetapi juga menjadi modal membangun koperasi komunitas.

Saat ini kelompok tersebut memiliki dana simpanan mencapai Rp76 juta pada minggu ke-18 siklus tabungan.

Pada tahun 2025, total akumulasi simpanan anggota yang dibagikan mencapai Rp186 juta.

Anggota kelompok yang berjumlah 20 orang itu rutin memproduksi sekitar 10 kilogram briket per hari.

Permintaan datang dari Kabupaten Sikka, Larantuka hingga sejumlah gereja yang memanfaatkan briket untuk pembakaran dupa.

“Anggota yang memiliki anak sekolah sangat terbantu dengan koperasi ini,” ujar Regina.

Selain dana simpan pinjam, komunitas juga memiliki dana sosial untuk membantu anggota yang sakit maupun menghadapi kebutuhan darurat.

Dari Energi Bersih Menuju Desa Mandiri

Setiap tahun, YPPS menggelar forum diseminasi praktik baik sebagai ruang berbagi pengalaman antar komunitas dampingan.

Forum tersebut menjadi ajang evaluasi sekaligus penyusunan strategi pengembangan program.

“Tahun ini kami mengangkat tema Dari Energi Bersih Menuju Kemandirian Ekonomi,” kata Melky.

Saat ini YPPS mendampingi enam desa di empat kecamatan di Flores Timur.

Ke depan, jangkauan program akan terus diperluas agar semakin banyak masyarakat menikmati manfaat transisi energi berbasis potensi lokal.

Selain tempurung kelapa, YPPS juga tengah mengembangkan pemanfaatan cangkang kemiri sebagai bahan baku briket.

Di sektor hulu, yayasan ini juga memperkuat keberlanjutan komoditas kelapa melalui program penanaman sekitar 3.000 bibit kelapa di berbagai desa dampingan sepanjang tahun lalu.

Menurut Melky, seluruh program tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil sekaligus memperkuat ekonomi keluarga melalui pemanfaatan sumber daya lokal.

“Kita perlu mengembangkan potensi lokal agar tidak terus bergantung pada bahan bakar fosil yang menghasilkan polusi,” ujarnya.

Bagi YPPS, transisi energi bukan hanya soal mengganti bahan bakar. Lebih dari itu, transisi energi menjadi jalan untuk melahirkan desa-desa yang mandiri, tangguh menghadapi perubahan iklim, sekaligus menempatkan perempuan sebagai penggerak utama ekonomi keluarga dan komunitas.

Dari sepotong tempurung kelapa yang dahulu dibuang, kini lahir harapan baru bagi masa depan Flores Timur—lebih hijau, lebih mandiri, dan lebih sejahtera.

Reporter : MM | Editor : Redaksi

Wakil Gubernur NTT Kunker ke Sikka, Hadiri Wisuda Unipa dan Tinjau Sejumlah Lokasi

MAUMERE, Bajopos.com | Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Dr. Drs. Johni Asadoma, M.Hum dijadwalkan melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Sikka pada 8 Mei 2026.

Kunjungan tersebut dirangkai dengan agenda menghadiri Wisuda ke-XXVII Tahun Akademik 2025/2026 Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere serta peninjauan sejumlah lokasi strategis di Kabupaten Sikka.

Berdasarkan rundown kegiatan, Wakil Gubernur NTT bersama rombongan bertolak menuju Bandara Frans Seda Maumere menggunakan Nam Air pada Jumat, 8 Mei 2026 pukul 12.30 Wita dengan estimasi waktu penerbangan sekitar 60 menit.

Setibanya di Maumere, rombongan langsung menuju SPPG Nangameting di Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok untuk melakukan peninjauan.

Setelah itu, rombongan melanjutkan agenda ke NTT Mart dan Kantor UPTD Bapenda Provinsi NTT Wilayah Kabupaten Sikka atau Kantor Samsat Maumere.

Pada malam harinya, Wakil Gubernur NTT dijadwalkan menghadiri jamuan makan malam bersama yang dijamu oleh Wakil Bupati Sikka sebelum kembali ke hotel untuk beristirahat.

Memasuki hari kedua, Sabtu, 9 Mei 2026, rombongan bertolak menuju Kampus Universitas Nusa Nipa Maumere pada pukul 08.45 Wita.

Di kampus tersebut, Wakil Gubernur NTT dijadwalkan menghadiri Wisuda ke-XXVII TA 2025/2026 Universitas Nusa Nipa yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.00 Wita.

Dalam susunan acara wisuda, Wakil Gubernur NTT akan memberikan sambutan di hadapan civitas akademika dan para wisudawan.

Acara wisuda juga diisi dengan pembukaan rapat senat terbuka, orasi rektor, pembacaan SK Rektor, janji wisuda, ikrar alumni hingga penutupan rapat senat terbuka.

Usai menghadiri kegiatan wisuda, rombongan dijadwalkan menuju Bandara Gewayantana Larantuka pada pukul 11.00 hingga 13.30 Wita dengan estimasi waktu tempuh sekitar 2 jam 30 menit.

Selanjutnya rombongan akan bertolak menuju Kupang pada pukul 13.30 hingga 14.30 Wita.

Dalam kunjungan kerja tersebut, Wakil Gubernur NTT turut didampingi sejumlah pejabat di antaranya Vera Christina Sirait Asadoma, BS, M.Sc selaku Staf Ahli TP PKK Provinsi NTT, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT Dr. Drs. Zeth Sony Libing, M.Si, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi NTT Dr. Alfonsus Theodorus, ST, MT, serta beberapa staf pendamping dan pengawal pribadi (Walpri).

Kegiatan disebutkan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai situasi dan kebutuhan di lapangan.

Penulis : Dien

MUI dan FKUB Flores Timur Serukan Harmoni Jelang Semana Santa Larantuka

FLOTIM, BAJOPOS.COM – Menjelang perayaan akbar Semana Santa Larantuka, seruan menjaga kerukunan umat beragama menggema dari tokoh lintas iman di Kabupaten Flores Timur.

Momentum bertemunya sejumlah hari besar keagamaan dinilai sebagai ujian sekaligus peluang memperkuat persaudaraan.

Ketua Dewan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Flores Timur, Bakir Doni Pulo, mengajak seluruh umat Islam untuk menjaga suasana kondusif, khususnya bagi umat Katolik yang akan menjalankan rangkaian Paskah.

“Menjelang Paskah, kami sangat mengharapkan umat Islam menjaga ketenangan bagi saudara-saudara kita yang menjalankan ibadah,” ujarnya kepada wartawan.

Menurutnya, Paskah bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk. Ia menegaskan pentingnya menjaga kedamaian di Larantuka sebagai kota religius yang menjadi tujuan ribuan peziarah setiap tahun.

Senada dengan itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Flores Timur, Petrus Pedo Beke, menyoroti keistimewaan tahun ini, di mana tiga hari besar—Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah—dirayakan dalam waktu yang berdekatan.

“Ini menjadi kebahagiaan sekaligus tanggung jawab bersama. Kita berharap seluruh rangkaian perayaan berjalan damai dan penuh sukacita,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa pekan suci menjadi waktu penuh rahmat bagi umat Katolik, khususnya di lingkungan Keuskupan Larantuka, yang setiap tahun menggelar tradisi devosional yang sarat makna spiritual.

Lebih lanjut, Petrus menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor demi menjamin keamanan dan kelancaran perayaan. FKUB, kata dia, terus bersinergi dengan TNI, Polri, serta pemerintah daerah dalam membangun komunikasi yang intensif.

“Koordinasi harus terus diperkuat, mengingat banyaknya peziarah dari berbagai daerah. Keamanan menjadi kunci utama,” tegasnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan aparat keamanan atas komitmen menjaga stabilitas selama rangkaian hari besar keagamaan berlangsung.

Di tengah keberagaman, Flores Timur kembali menunjukkan wajah toleransi—bahwa perbedaan bukan sekat, melainkan kekuatan untuk merawat harmoni bersama.

Reporter : Arsenius Agung
Editor : Redaksi

KM Tanjung Harapan 3 Tenggelam di Selat Larantuka, Dua Kru Berhasil Dievakuasi

FLORES TIMUR, Bajopos.com – Sebuah kapal motor penyeberangan KM Tanjung Harapan 3 dilaporkan tenggelam di perairan Selat Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Senin (9/3/2026) pagi.

Insiden tersebut bermula setelah kapal dihantam gelombang besar saat berlayar meninggalkan Dermaga Pelni Larantuka. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 08.45 Wita, ketika cuaca di perairan Larantuka dilaporkan memburuk disertai angin kencang dan gelombang tinggi.

Berdasarkan laporan personel Marnit Polairud Flores Timur yang diterima Bajopos.com, kapal dengan ukuran GT 34 itu sebelumnya tengah sandar di Dermaga Pelni Larantuka.

Sekitar pukul 08.10 Wita, angin kencang dan gelombang besar mulai menghantam kawasan dermaga sehingga sejumlah kapal penyeberangan yang sedang sandar berupaya mencari tempat perlindungan.

Dilaporkan, KM Tanjung Harapan 3 kemudian meninggalkan dermaga dan berlayar menuju Pelabuhan Tobilota di Pulau Adonara. Saat kejadian, kapal tersebut belum sempat mengangkut penumpang dan hanya membawa dua unit sepeda motor milik kru kapal.

Namun sekitar pukul 08.45 Wita, kapal tersebut dihantam gelombang besar yang menyebabkan air masuk ke dalam dek kapal hingga akhirnya tenggelam.

Kejadian itu sempat terlihat oleh kru KP Pulau Timor 3016 yang sedang berada di perairan sekitar lokasi. Melalui pengamatan menggunakan teropong dari atas kapal patroli tersebut, kru melihat kondisi darurat yang dialami KM Tanjung Harapan 3.

Ditpolairud Marnit Flotim melakukan evakuasi terhadap korban tenggelamnya KM Tanjung Harapan 3 ke Dermaga Tabilota, Larantuka. 

Personel Dit Polairud Polda NTT melalui Marnit Flores Timur kemudian bergerak cepat menuju lokasi kejadian untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR).

Dalam operasi tersebut, personel Polairud berhasil menyelamatkan dua orang kru kapal yang berada di atas kapal saat kejadian. Keduanya kemudian dievakuasi dalam keadaan selamat dan dibawa ke Dermaga Tobilota, Larantuka, tepatnya di Kantor Syahbandar setempat.

Adapun identitas kru kapal tersebut yakni Kornelis Kopong (54) yang merupakan nahkoda kapal, warga Kelurahan Pante Besar, Flores Timur.

Sementara itu Eman Hayon (24) merupakan anak buah kapal (ABK) yang berasal dari Desa Tobilota, Kecamatan Wotan Ulumado, Flores Timur.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini karena kapal belum sempat mengangkut penumpang saat kejadian.

Operasi evakuasi melibatkan sejumlah unsur kapal patroli dari Direktorat Polisi Air dan Udara (Dit Polairud) Polda NTT, di antaranya KP Pulau Timor 3016, KP Pulau Ndana 3004, KP Pulau Batek 3003, dan KP 2004.

Kegiatan pengamanan dan pemantauan operasi tersebut berada dalam lingkup kerja Dit Polairud Polda NTT yang dipimpin Direktur Polairud Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, S.I.K., M.H.

Sementara itu, di lapangan proses pemantauan dan evakuasi turut didukung personel KP Pulau Timor 3016 yang dikomandoi Bripka Safrudin S. Marweki bersama kru lainnya.

Dalam proses penyelamatan, petugas menggunakan Ship Tender 01 milik KP Pulau Timor 3016 serta kapal patroli KP Pulau Ndana 3004.

Akibat kejadian tersebut, kerugian material diperkirakan mencapai sekitar Rp250 juta. Pihak Polairud hingga kini masih melakukan pendataan serta penyusunan laporan resmi terkait peristiwa tenggelamnya kapal penyeberangan tersebut.

Jurnalis : Faidin
Sumber : Dit Polairud Marnit Flotim