Sen. Mei 25th, 2026

Keamanan Warga Sikka

Hanya Status Saksi, SG Dikejar Berkali-kali. Ada Apa dengan Polres Sikka?

SIKKA, Bajopos.com – Status SG alias Saver dalam kasus pembunuhan remaja perempuan di Desa Rubit menjadi sorotan warga. Meski secara resmi disebut hanya sebagai saksi, fakta di lapangan menunjukkan ia sempat menjadi target pencarian berulang kali oleh aparat.

Melalui rilis resmi pada Jumat (27/2/2026), pihak Polres Sikka menegaskan bahwa baru satu orang yang ditetapkan sebagai tersangka, yakni pria berinisial FRG. Sementara SG disebut “dihadirkan” untuk memberikan keterangan karena diduga mengetahui peristiwa tersebut.

“SG adalah orang yang dihadirkan pihak Polres Sikka untuk memberikan keterangan karena diduga mengetahui peristiwa tersebut. Statusnya masih sebagai saksi,” demikian keterangan Humas Polres Sikka dalam rilis resmi.

Namun, keterangan tersebut memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat Desa Mamai dan Desa Nebe. Warga mengaku menyaksikan langsung upaya pencarian intensif terhadap SG dalam beberapa kesempatan berbeda.

Maria, warga Desa Mamai, menuturkan bahwa sejak Selasa (24/2/2026) pagi, aparat kepolisian mendatangi Kampung Kojablo—kediaman istri SG—dan mengamankan yang bersangkutan untuk dibawa ke Mapolres. Akan tetapi, pada Jumat (27/2/2026) sore menjelang malam, sejumlah anggota Buser bersama Linmas kembali turun melakukan pencarian.

“Kami tanya kenapa polisi cari lagi, mereka sampaikan SG kabur saat dibawa berobat ke rumah sakit, jadi mereka datang kembali cari. Mereka cari di kebun-kebun warga sampai masuk ke dalam hutan,” ungkap Maria, Minggu (1/3/2026).

Pencarian tersebut, menurutnya, berlanjut hingga Sabtu (28/2/2026), namun belum membuahkan hasil. Aktivitas warga pun terganggu karena rasa takut dan cemas.

Sementara itu, Paskalis, warga Desa Nebe, melalui unggahannya di grup diskusi media sosial FPRS, mengungkapkan bahwa upaya pencarian terhadap SG bukan hanya sekali.

Ia menyebut pada Senin (23/2/2026), aparat melakukan penyisiran yang membuat SG bersembunyi di hutan sebelum akhirnya menyerahkan diri pada Selasa pagi. Kemudian, pencarian kembali dilakukan pada Jumat (27/2/2026) dengan alasan melarikan diri dari penjagaan.

“Saksi kok harus dikejar Buser bahkan sudah dua kali dalam dua hari berbeda? Jadi bingung membaca berita medsos,” tulisnya.

Perbedaan antara status resmi sebagai saksi dan tindakan pencarian berulang kali inilah yang memunculkan kebingungan di tengah masyarakat. Warga berharap ada penjelasan yang lebih rinci agar tidak menimbulkan spekulasi liar.

Meski demikian, masyarakat tetap menyatakan harapan agar penanganan kasus oleh Polres Sikka berjalan transparan dan tuntas, sehingga rasa aman dapat kembali pulih di Desa Mamai dan Desa Nebe.(Faidin)