Sen. Mei 25th, 2026

Iman

Wagub NTT Lepas Pawai Paskah GAMKI Alor 2026, Tegaskan Semangat Persatuan dan Iman

KALABAHI, Bajopos.com – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma, secara resmi melepas Pawai Paskah yang diselenggarakan oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia Kabupaten Alor Tahun 2026 di Kota Kalabahi, Selasa (13/4/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Paskah yang digelar sebagai wujud penghayatan iman sekaligus kesaksian kasih Kristus di tengah kehidupan masyarakat.

Ribuan peserta dari berbagai denominasi gereja tampak antusias mengikuti prosesi pawai yang dimulai dari jalur Watamelang menuju pusat Kota Kalabahi.

Dalam sambutannya, Johni Asadoma menyampaikan apresiasi atas semangat pemuda Kristen Alor yang dinilai konsisten menjaga nilai persatuan, toleransi, dan iman dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketua DPC GAMKI Kabupaten Alor, Demetrius Mautuka, menegaskan bahwa kegiatan Jalan Sengsara yang dilaksanakan bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan panggilan iman yang hidup.

“Ini adalah bentuk kesaksian iman kami kepada masyarakat. Momentum ini harus dijaga dalam kekhusyukan dan menjadi sarana untuk memperkuat peran kita sebagai pembawa damai,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Paskah GAMKI Alor, Steven Waang Illu, menyampaikan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk aparat keamanan dan seluruh elemen masyarakat.

Ia menambahkan bahwa fragmen Jalan Sengsara yang diperankan para pemuda diharapkan mampu menghadirkan makna teologis yang mendalam bagi masyarakat luas.

Panitia juga mengingatkan seluruh peserta untuk menjaga ketertiban, kesantunan, dan kedamaian selama kegiatan berlangsung, mengingat prosesi ini merupakan bagian dari ibadah yang sakral.

Apresiasi khusus turut diberikan kepada umat Muslim, terutama remaja masjid, yang ikut berperan dalam menjaga keamanan dan kelancaran kegiatan.

Kebersamaan ini dinilai sebagai cerminan nyata kuatnya persaudaraan dan toleransi antarumat beragama di Kabupaten Alor.
Dukungan senada disampaikan Elia Maruli yang mewakili Senior GAMKI Alor.

Ia menegaskan bahwa Paskah merupakan simbol kemenangan kehidupan atas kematian, sekaligus panggilan untuk memperkuat iman dan spiritualitas.

“Semangat yang dibangun adalah damai, bukan keributan. Biarlah kegiatan ini menjadi wadah untuk memuliakan nama Tuhan dan memperkuat persaudaraan,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh pemuda, khususnya kader GAMKI di Kabupaten Alor, untuk terus menjadi teladan dalam menjaga ketertiban, memperkuat persatuan, serta berperan aktif dalam pembangunan daerah.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Alor, Rocky Winaryo, bersama istri Lidya Siawan Winaryo; Kapolres Alor, Nur Azhari; perwakilan Pemerintah Provinsi NTT, Ambrosius Kodo; anggota DPRD Provinsi NTT, Muhammad H. Ansor; Penjabat Sekda Alor, Obeth Bolang; Asisten I Setda Alor, Moh. Ridwan Nampira; serta jajaran Senior GAMKI, termasuk Imanuel E. Blegur dan Lim Chr Odja.

Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh peserta pawai perutusan dari berbagai gereja dan denominasi, yang semakin memperkuat semangat kebersamaan dalam perayaan iman tersebut.

Momentum ini tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga memperkuat solidaritas lintas jemaat serta meneguhkan peran generasi muda sebagai agen perdamaian dan harapan bagi masa depan daerah.

Pemerintah daerah bersama seluruh elemen masyarakat pun menyatakan dukungan penuh sebagai bentuk sinergi dalam menjaga kehidupan sosial yang harmonis dan berlandaskan nilai-nilai kebangsaan.

Reporter : Nursan

Ramadan: Sinkronisasi Iman dan Imun

Oleh: Ikbal Tehuayo

Ramadan bukan sekadar bulan perbaikan iman melalui deretan ibadah ritual—mulai dari salat lima waktu, tarawih, hingga tadarus. Lebih dari itu, Ramadan sejatinya adalah momentum emas untuk memperbaiki imun.

Iman dan imun harus menjadi prioritas selaras di bulan suci ini. Sebab, tanpa imunitas yang prima, tubuh tak lagi mampu menjaga keseimbangan untuk konsisten beribadah.

Sayangnya, saat ini Ramadan sering kali hanya dipandang sebagai bulan “penunda” hawa nafsu di siang hari. Fenomena ini tampak jelas ketika waktu berbuka tiba; mayoritas masyarakat justru menghadirkan pesta pora berbagai jenis makanan. Padahal, berbuka adalah momen untuk memanen berkah, bukan ajang makan “ugal-ugalan”.

Tanpa pengetahuan dalam memilih jenis asupan saat berbuka, kita justru sedang merusak imun secara perlahan. Padahal, esensi berpuasa seharusnya berjalan beriringan dengan prinsip kesehatan.

Ilmuwan asal Jepang, Yoshinori Ohsumi, menyatakan bahwa puasa adalah pemicu alami proses autofagi—sebuah mekanisme di mana tubuh “membersihkan” komponen sel yang rusak dan menggantinya dengan yang baru, sehingga mampu mencegah berbagai penyakit degeneratif.

Namun, bagaimana mungkin proses autofagi ini berjalan optimal jika pilihan makanan saat berbuka tidak sesuai dengan yang dianjurkan?

Ramadan yang seharusnya menjadi bulan regenerasi sistem kekebalan tubuh, kini malah bergeser menjadi bulan “lomba makan” tanpa henti.

Minimnya literasi serta kurangnya edukasi dari mimbar-mimbar ceramah terkait menjaga imunitas, membuat masyarakat kita terjebak pada pandangan sempit: bahwa bulan suci ini hanyalah sekadar menahan lapar dan haus lalu membayarnya dengan makan yang berlebihan saat berbuka.