Kam. Sep 24th, 2026

Haedar Nashir

Muhammadiyah Berduka, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof Hamim Ilyas Wafat di Yogyakarta

YOGYAKARTA, Bajopos.com | Keluarga besar Muhammadiyah berduka atas wafatnya Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Hamim Ilyas, pada Sabtu (23/5/2026) sekitar pukul 01.40 WIB di RSA UGM.

Kabar wafatnya ulama dan cendekiawan Muslim tersebut meninggalkan duka mendalam bagi warga Muhammadiyah maupun masyarakat luas.

Almarhum sebelumnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama kurang lebih sepuluh hari. Setelah sempat diperbolehkan pulang, kondisi kesehatannya kembali menurun dan dirawat lagi sejak Rabu (20/5).

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan bahwa Muhammadiyah kehilangan sosok ulama yang dikenal alim, teduh, rendah hati, serta memiliki pemikiran yang mencerahkan.

Menurut Haedar, salah satu warisan pemikiran penting almarhum adalah konsep Tauhid Rahamutiyah yang menjadi bagian dari pengembangan Islam Berkemajuan di Muhammadiyah.

“Gagasan yang dipopulerkan Prof. Hamim Ilyas tersebut menempatkan kasih sayang transformatif sebagai inti keimanan dan amal saleh,” ujar Haedar, Sabtu (23/5) dikutip dari Muhammadiyah.or.id.

Tauhid Rahamutiyah sendiri merupakan konsep teologi Islam yang menegaskan bahwa Allah SWT Yang Maha Esa memiliki sifat dasar rahmah atau kasih sayang.

Dalam pandangan tersebut, seluruh ciptaan dan syariat Allah diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan, keadilan sosial, perdamaian, serta kesejahteraan umat manusia.

Karena itu, ajaran Islam tidak hanya berhenti pada tataran ritual dan konseptual, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang membawa manfaat bagi kehidupan masyarakat.

“Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya almarhum. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di jannatun na’im,” ucap Haedar.

Haedar juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat menjenguk almarhum bersama Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta dan Gamping, dr. Komar dan dr. Faisol, pada Kamis (21/5). Saat itu, kondisi Prof. Hamim Ilyas sudah tidak memungkinkan untuk berkomunikasi secara langsung.

“Semua sudah berikhtiar, tetapi Allah telah menentukan ajalnya. Kita mesti melepas beliau dengan ikhlas,” pungkasnya.

Ia turut mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan kesabaran dalam menghadapi musibah tersebut.

Penulis : Faidin | Editor : Redaksi

Muhammadiyah Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026

YOGYAKARTA, BAJOPOS.COM – Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026 Masehi. Penetapan tersebut tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.

Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dengan menggunakan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai pedoman penentuan awal bulan dalam kalender hijriah.

Dalam maklumat tersebut dijelaskan bahwa ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis Kliwon, 30 Ramadan 1447 H, bertepatan dengan 19 Maret 2026 pukul 01:23:28 UTC.

Maklumat itu juga menyebutkan bahwa pada saat matahari terbenam di hari ijtimak, telah ada wilayah di muka bumi yang memenuhi parameter kalender global.

Dalam dokumen tersebut dinyatakan, “Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak terjadi, sebelum pukul 24:00 UTC ada wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan ≥ 5° dan elongasi Bulan ≥ 8°.”

Karena parameter tersebut telah terpenuhi, maka awal bulan Syawal ditetapkan keesokan harinya.

Dalam maklumat itu ditegaskan, “Di seluruh dunia tanggal 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Jumat Legi, 20 Maret 2026 M.”

Maklumat tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, serta Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dan ditetapkan di Yogyakarta pada 22 September 2025.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menyampaikan bahwa maklumat tersebut menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah dalam melaksanakan ibadah pada bulan Ramadan, Idul Fitri, dan hari besar Islam lainnya.

“Demikian maklumat ini disampaikan agar menjadi panduan bagi warga Muhammadiyah dan dilaksanakan sebagaimana mestinya,” demikian tertulis dalam penutup maklumat tersebut.

Dengan penetapan ini, umat Islam khususnya warga Muhammadiyah kini tinggal menghitung hari menuju Hari Raya Idul Fitri 1447 H setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.(Faidin)

Haedar Nashir Tekankan Fondasi Tauhid Murni di Pengkajian Ramadan 1447 H UMT

TANGERANG, Bajopos.com – Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) menjadi pusat konsolidasi ideologi Persyarikatan saat menjadi tuan rumah Pengkajian Ramadan 1447 Hijriah yang digelar Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 24–26 Februari 2026.

Bertempat di Auditorium Lantai 19 UMT, kegiatan ini dihadiri lebih dari 1.000 peserta dari Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah serta civitas akademika Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Banten dan Daerah Khusus Jakarta.

Pengkajian Ramadan tahun ini tidak sekadar menjadi forum kajian rutin menjelang bulan suci, tetapi juga ruang strategis untuk memperteguh arah gerakan Islam berkemajuan di tengah dinamika sosial dan keumatan yang terus berubah.

Rektor UMT, Dr. H. Desri Arwen, M.Pd., menegaskan komitmen kampusnya dalam memperkuat nilai-nilai keislaman berbasis keilmuan dan kaderisasi. Menurutnya, UMT siap menjadi episentrum penguatan akidah sekaligus pengembangan kader Muhammadiyah.

“UMT sebagai kampus unggul siap menjadi pusat penguatan akidah dan pengembangan kader Muhammadiyah,” ujarnya dalam sambutan pembukaan, Selasa (24/2/2026).

Senada dengan itu, Ketua Majelis Pembinaan Kader SDI PP Muhammadiyah, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, M.P.A., menekankan bahwa penguatan akidah merupakan fondasi utama gerakan Muhammadiyah.

Ia mengingatkan bahwa tanpa basis teologis yang kokoh, gerakan dakwah akan kehilangan arah di tengah kompleksitas tantangan zaman.

Sorotan utama kegiatan ini tertuju pada pidato iftitah Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Dalam paparan bertema “Akidah Islam Berkemajuan: Memperluas Paham Tauhid Murni Tinjauan Ideologis, Filosofis, dan Praksis”, Haedar menegaskan pentingnya memperluas pemahaman tauhid secara komprehensif—tidak hanya dalam ranah teologis, tetapi juga dalam praktik kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebangsaan.

Menurutnya, Pengkajian Ramadan harus dimaknai sebagai momentum strategis untuk meneguhkan akidah dan memperluas wawasan keislaman agar gerakan Muhammadiyah tetap relevan dan mencerahkan umat.

“Pengkajian Ramadan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi momentum strategis untuk meneguhkan akidah, memperluas wawasan keislaman, dan memperkuat gerakan dakwah Muhammadiyah agar semakin berkemajuan dan mencerahkan umat,” tegas Haedar.

Dalam rangkaian acara, dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman antara Bank Syariah Nasional dan PP Muhammadiyah yang ditandai dengan penyerahan bantuan tiga unit motor angkut sampah untuk mendukung operasional kampus UMT. Dukungan serupa juga datang dari Sinar Mas yang menyerahkan bantuan mushaf Al-Qur’an sebagai bagian dari penguatan dakwah dan literasi keislaman.

Melalui Pengkajian Ramadan 1447 H ini, Muhammadiyah menegaskan kembali komitmennya pada penguatan tauhid murni sebagai landasan ideologis, filosofis, dan praksis dalam menyongsong Ramadan—serta dalam menapaki peran keumatan dan kebangsaan di era modern.(Faidin)