Jum. Jul 31st, 2026

Trump Umumkan Tarif Global 10 Persen, Berlaku Maksimal 150 Hari

JAKARTA, Bajopos.com – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, resmi mengumumkan kebijakan tarif impor global sebesar 10 persen sebagai respons atas pembatalan bea darurat oleh Mahkamah Agung AS. Kebijakan tersebut dijadwalkan berlaku paling lama 150 hari atau sekitar lima bulan.

Pengumuman itu disampaikan Trump pada Jumat (20/2). Ia menyatakan kekecewaannya terhadap putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan tarif sebelumnya. Trump menyebut keputusan tersebut sebagai langkah yang “sangat mengecewakan”, sehingga pemerintahannya mengambil opsi baru melalui instrumen hukum yang tersedia.

Tarif 10 persen tersebut diberlakukan berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan AS tahun 1974. Regulasi ini memberikan kewenangan kepada Presiden untuk menetapkan bea masuk hingga 15 persen dalam jangka waktu maksimal 150 hari, terutama dalam kondisi neraca pembayaran yang dianggap bermasalah dan serius.

Mengutip laporan Reuters, Pasal 122 tidak mengharuskan adanya investigasi mendalam atau prosedur administratif yang panjang sebelum kebijakan diterapkan. Artinya, langkah ini dapat diberlakukan secara cepat sebagai respons kebijakan perdagangan.

Selain itu, Trump juga mengumumkan dimulainya investigasi baru berdasarkan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan. Ketentuan ini memungkinkan pemerintah AS menjatuhkan tarif sebagai balasan atas praktik perdagangan luar negeri yang dinilai tidak adil, seperti pencurian kekayaan intelektual maupun pemaksaan transfer teknologi.

Berbeda dengan Pasal 122, penerapan tarif melalui Pasal 301 mensyaratkan proses investigasi yang dapat berlangsung berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun sebelum keputusan final diambil.

Langkah ini mengingatkan pada kebijakan Trump pada masa jabatan pertamanya, ketika ia menggunakan Pasal 301 untuk mengenakan tarif antara 7,5 persen hingga 25 persen terhadap impor dari China senilai sekitar US$370 miliar. Kebijakan tersebut kemudian tetap dipertahankan selama empat tahun pemerintahan Presiden Joe Biden.

Sementara itu, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyatakan bahwa tarif yang diberlakukan berdasarkan Pasal 301 telah terbukti memiliki ketahanan hukum ketika diuji di pengadilan.

Kebijakan tarif global terbaru ini diperkirakan akan memicu respons dari berbagai negara mitra dagang AS serta berpotensi memengaruhi dinamika perdagangan internasional dalam beberapa bulan ke depan.(Red)

(QULTUM) Makna Taqwa dan Tiga Dimensi Kecerdasan Ummat

SIKKA, BAJOPOS.COM – Momentum Ramadhan dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman keagamaan umat. Hal itu terlihat dalam kuliah tujuh menit (Qultum) yang disampaikan Risman di Masjid An-Nur Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Jumat (21/02/2026) usai sholat Isya, menjelang pelaksanaan shalat Tarawih.

Di hadapan jamaah, Risman mengajak umat Islam untuk mensyukuri nikmat kesehatan, kekuatan, serta kesempatan yang masih diberikan Allah SWT sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dan amalan lainnya di bulan suci Ramadhan.

“Sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT karena atas kasih sayang-Nya kita masih dimudahkan menjalankan puasa dan ibadah lainnya. Semoga seluruh amal ibadah kita diridhai hingga akhir hayat,” ujarnya.

Puasa dan Orientasi Ketaqwaan

Dalam tausyiahnya, Risman menyoroti tujuan utama puasa sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui frasa la‘allakum tattaqun (agar kamu bertakwa). Menurutnya, pesan tersebut menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi sarana pembentukan karakter muslim yang bertakwa.

Ia menjelaskan bahwa takwa selama ini sering dimaknai sebagai menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Namun, makna tersebut perlu dipahami secara lebih komprehensif agar berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Agama mengatur dua hubungan besar, yakni hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesamanya. Ketika dua hal ini berjalan seimbang, maka itulah wujud takwa yang sebenarnya,” katanya.

Ilmu, Adab, dan Tradisi Keilmuan

Risman juga menyinggung pentingnya adab dalam menuntut ilmu agama. Ia mengisahkan bagaimana pada masa sahabat, seseorang rela menunggu di depan rumah gurunya dan tertidur hingga esok harinya hanya untuk mempelajari satu hadits. Ketekunan dan penghormatan kepada orang berilmu (guru) menjadi kunci dalam memperoleh keberkahan ilmu.

Menurutnya, ilmu agama saat ini terbuka luas untuk dipelajari, namun tetap membutuhkan kesungguhan dan etika. “Ilmu itu tidak cukup hanya didengar, tetapi perlu keseriusan dan adab dalam mempelajarinya,” ujarnya.

Tiga Dimensi Ketaqwaan

Lebih jauh, Risman menguraikan bahwa ketakwaan dapat dipahami melalui tiga dimensi utama.

Pertama, dimensi intelektual. Umat Islam didorong menggunakan akal untuk memahami ajaran agama, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui seruan agar manusia berpikir. Ilmu menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran beragama yang benar.

Kedua, dimensi spiritual. Ilmu yang harus diwujudkan dalam bentuk amal ibadah. Tanpa pengamalan, ilmu hanya menjadi pengetahuan yang tidak memberi dampak nyata.

Ketiga, dimensi sosial-emosional. Ketakwaan juga tercermin dalam kemampuan menjaga hubungan dengan sesama, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, serta membangun harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

“Ada orang yang berilmu dan rajin beribadah, tetapi kurang menjaga hubungan sosial. Ini menunjukkan bahwa ketakwaannya belum sempurna, yang demikian belumlah cukup,” tegasnya.

Keteladanan Rasulullah

Sebagai ilustrasi, Risman mengangkat kisah Nabi Muhammad SAW yang pernah melihat seorang pemuda keliru dalam melaksanakan shalat. Rasulullah tidak langsung menegur di tengah pelaksanaan shalat, melainkan menunggu hingga selesai, lalu membimbingnya dengan penuh kelembutan.

Pendekatan tersebut, menurutnya, menjadi contoh nyata bagaimana dakwah dijalankan dengan kebijaksanaan, tanpa menyakiti hati.

“Jika ada kesalahan, luruskan dengan cara yang santun, lalu ajarkan. Itulah akhlak Rasulullah,” ujarnya.

Qultum yang berlangsung singkat itu memberi pesan bahwa Ramadhan merupakan momentum membangun ketakwaan secara menyeluruh—tidak hanya dalam aspek ritual, tetapi juga dalam kecerdasan berpikir, kedalaman spiritual, serta kematangan sosial.

Reporter : Faidin

Sahkah Puasa Tetapi Tidak Shalat? Ini Penjelasan Sejumlah Ulama

SIKKA, BAJOPOS.COM – Di tengah masyarakat muslim, masih ditemukan anggapan bahwa puasa dan shalat adalah dua ibadah yang berdiri sendiri. Sebagian orang merasa tetap sah berpuasa meskipun meninggalkan shalat. Padahal, dalam pandangan banyak ulama, meninggalkan shalat memiliki konsekuensi serius terhadap sah atau tidaknya ibadah lainnya, termasuk puasa.

Pertanyaan mengenai hukum berpuasa namun tidak melaksanakan shalat pernah diajukan kepada ulama besar Arab Saudi, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Dalam fatwanya yang termuat dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, beliau menegaskan bahwa puasa orang yang meninggalkan shalat tidak diterima. Alasannya, menurut beliau, meninggalkan shalat termasuk perbuatan kufur yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

Ia berdalil dengan firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 11 yang menegaskan bahwa tanda persaudaraan seagama adalah taubat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Selain itu, ia mengutip hadis riwayat Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim:

“Pembatas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82)

Hadis lain yang diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah juga menegaskan:

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.”

Pendapat bahwa meninggalkan shalat termasuk kekafiran disebut sebagai pandangan mayoritas sahabat Nabi. Seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq, menyatakan bahwa para sahabat tidak menganggap ada amalan yang jika ditinggalkan menyebabkan kekafiran selain shalat.

Hanya Rajin Shalat Saat Ramadhan?

Pertanyaan serupa juga pernah diajukan kepada Al Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta, lembaga fatwa resmi di Arab Saudi. Mereka ditanya tentang seseorang yang hanya rajin shalat dan puasa di bulan Ramadhan, namun meninggalkan shalat setelah Ramadhan berakhir.

Dalam jawabannya, komisi tersebut menegaskan bahwa shalat adalah rukun Islam terpenting setelah dua kalimat syahadat dan wajib bagi setiap muslim. Meninggalkan shalat, baik karena mengingkari kewajibannya maupun karena malas, dinilai sebagai bentuk kekafiran menurut pendapat yang kuat di kalangan ulama.

Mereka kembali mengutip hadits Nabi Muhammad SAW:

“Inti segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi)

Komisi fatwa itu bahkan mengingatkan bahwa beribadah hanya di bulan Ramadhan merupakan bentuk sikap meremehkan agama. Sebagian ulama salaf menyebut, “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah hanya pada bulan Ramadhan saja.”

Fatwa tersebut ditandatangani sejumlah ulama terkemuka, di antaranya Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku ketua komisi saat itu.

Shalat sebagai Tolak Ukur Keislaman

Dalam literatur klasik, perhatian terhadap shalat juga menjadi sorotan para imam mazhab. Ahmad ibn Hanbal pernah menyatakan bahwa siapa saja yang meremehkan shalat berarti telah meremehkan agama. Menurutnya, kadar keislaman seseorang sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu.

Pernyataan para ulama tersebut menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban rutin, melainkan fondasi utama agama. Jika fondasi ini runtuh, maka amalan lain dikhawatirkan tidak bernilai.

Karena itu, para ulama menganjurkan agar setiap muslim menjaga shalatnya sebelum berbicara tentang kesempurnaan ibadah lainnya. Taubat yang tulus, penyesalan atas kelalaian, serta komitmen untuk tidak meninggalkan shalat menjadi langkah awal memperbaiki kualitas keimanan.

Puasa dan shalat bukanlah dua ibadah yang bisa dipisahkan begitu saja. Dalam pandangan banyak ulama, keduanya saling terkait dan menjadi cerminan kesungguhan seorang hamba dalam menjalankan ajaran Islam.(Redaksi)

RAMADHAN Bulan Ibadah dan Ukhuwah

HIKMAH RAMADHAN

Oleh : Ust. Dr. Muhammad Dwi Fajri, M.Pd.I

RAMADHAN bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ruang pendidikan spiritual yang telah ditetapkan sejak tahun kedua Hijrah, tepatnya pada bulan Sya’ban, sebulan sebelum kewajiban puasa dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Penetapan waktu itu memberi pesan penting: ibadah besar membutuhkan persiapan matang, bukan hanya fisik, tetapi juga pemahaman akan makna dan tujuannya.

Dalam praktiknya, puasa sering kali direduksi menjadi rutinitas tahunan. Kita menyaksikan tidak sedikit orang yang mampu menahan makan dan minum, tetapi gagal menjaga lisan dan perilaku.

Padahal, substansi puasa melampaui dimensi biologis. Ia menuntut pengendalian diri secara utuh—menjaga ucapan dari dusta dan ghibah, menahan amarah, serta membangun relasi sosial yang sehat.

Dengan kata lain, puasa memiliki dua poros utama: vertikal kepada Allah (hablumminallah) dan horizontal kepada sesama manusia (hablumminannas).

Ramadhan sebagai Bulan Ibadah

Ramadhan adalah momentum khusus dan terbatas. Khusus karena ia ditujukan bagi orang-orang beriman; terbatas karena hadir hanya sekali dalam setahun.

Di dalamnya terdapat kemuliaan yang tidak dijumpai pada bulan lain, seperti turunnya Al-Qur’an dan kehadiran Lailatul Qadar.

Pesan untuk memaksimalkan ibadah di bulan ini ditegaskan dalam hadis riwayat Muhammad yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Hadits ini bukan sekadar janji pengampunan, tetapi dorongan persuasif agar umat Islam meningkatkan kualitas ibadahnya.

Hadits lain menyebutkan bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu (HR. Bukhari & Muslim).

Secara majazi, ini menggambarkan terbukanya peluang kebaikan dan menyempitnya ruang kemaksiatan. Maka tidak mengherankan jika masjid-masjid lebih ramai, lantunan tadarus menggema, dan semangat sedekah meningkat.

Namun, pertanyaan krusialnya adalah: apakah intensitas ibadah itu berlanjut setelah Ramadhan usai? Jika tidak, maka Ramadhan hanya menjadi euforia spiritual sesaat. Padahal, ia sejatinya adalah titik tolak pembentukan ritme ibadah yang berkelanjutan.

Ramadhan sebagai Bulan Ukhuwah

Islam tidak berdiri hanya pada relasi vertikal. Puasa juga dirancang untuk memperbaiki relasi sosial. Rasulullah SAW mengingatkan: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari). Pesan ini tegas: puasa tanpa penjagaan lisan kehilangan substansinya.

Lisan kerap menjadi sumber konflik. Pepatah “mulutmu harimaumu” menemukan relevansinya di sini. Ucapan yang tidak terkontrol dapat merusak persaudaraan, memicu fitnah, dan memecah belah komunitas. Sebaliknya, lisan yang terjaga menjadi fondasi ukhuwah.

Dimensi sosial Ramadhan juga tampak dalam anjuran berbagi. Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan bahwa sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.

Hadits lain menyatakan bahwa memberi makan orang yang berpuasa mendatangkan pahala setara tanpa mengurangi pahala yang diberi. Spirit berbagi ini memperkuat solidaritas sosial dan mengikis sekat-sekat ekonomi.

Menyatukan Dua Dimensi

Ramadhan hadir untuk menyinergikan dua kekuatan: kedalaman ibadah dan keluasan ukhuwah. Hubungan yang intens dengan Allah melahirkan ketenangan batin. Sementara hubungan harmonis dengan sesama menghadirkan keberkahan sosial. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Jika puasa hanya memperkuat hubungan vertikal tanpa memperbaiki hubungan horizontal, maka ada yang terlewat dari misi besarnya. Sebaliknya, jika ukhuwah tumbuh tanpa landasan spiritual yang kokoh, ia mudah goyah oleh kepentingan sesaat.

Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi bulan evaluasi kolektif. Apakah ibadah kita semakin berkualitas? Apakah lisan kita semakin terjaga? Apakah kepedulian sosial kita meningkat? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah puasa kita sekadar ritual atau benar-benar transformasional.

Olehnya, Ramadhan bukan hanya sekedar sebulan penuh ibadah, tetapi tentang bagaimana membangun karakter yang bertahan sebelas bulan berikutnya.

Dari masjid ke ruang publik juga dari sajadah ke kehidupan sosial, tentu seharusnya Ramadhan menjadi perenungan serta pengajaran bahwa kesalehan pribadi harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial. Disanalah ibadah dan ukhuwah bertemu, dan di sanalah keberkahan menemukan maknanya.

Indonesia Tegaskan Komitmen Rekonstruksi Gaza dalam Forum Board of Peace di Washington

WASHINGTON DC, BAJOPOS.COM – Pemerintah Indonesia menegaskan kesiapan mengambil peran aktif dalam upaya stabilisasi dan rekonstruksi Gaza pada pertemuan perdana Board of Peace yang berlangsung di kompleks United States Institute of Peace, Washington, D.C., 19 Februari 2026.

Forum internasional tersebut secara resmi meluncurkan mekanisme kolaboratif Board of Peace sebagai wadah koordinasi global untuk penanganan kawasan konflik dan pemulihan pasca perang, dengan fokus awal pada situasi di Gaza.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam pidato pembukaan menyatakan Indonesia siap berkontribusi secara finansial, teknis, maupun diplomatik.

Menurutnya, keterlibatan Indonesia sejalan dengan mandat resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa serta konsistensi sikap Indonesia dalam memperjuangkan kemanusiaan dan perdamaian dunia.

“Indonesia memandang pemulihan Gaza sebagai tanggung jawab bersama komunitas internasional,” tegas Prabowo di hadapan para pemimpin dunia yang hadir.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyampaikan dukungan terhadap rencana 20 poin yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai kerangka menuju stabilitas kawasan Timur Tengah.

Ia menilai rencana tersebut membuka peluang strategis untuk mendorong rekonstruksi berkelanjutan, penguatan institusi sipil, serta pemulihan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Gaza.

Prabowo menyebut Indonesia telah mempelajari dan menyepakati garis besar rencana itu sejak awal, serta siap mengawal implementasinya bersama negara-negara anggota Board of Peace.

Sementara itu, Trump menekankan pentingnya sinergi lintas kawasan guna menciptakan masa depan yang lebih aman dan stabil bagi Timur Tengah dan dunia.

Ia menilai pembentukan Board of Peace sebagai langkah strategis karena melibatkan pemimpin berpengaruh dari berbagai kawasan, termasuk Asia dan Timur Tengah.

Pertemuan ini menjadi tonggak awal penguatan koordinasi internasional dalam merespons konflik global. Partisipasi aktif Indonesia dinilai mencerminkan transformasi peran nasional dari kekuatan regional menjadi aktor penting dalam agenda stabilitas dan perdamaian dunia.

Indonesia juga kembali menegaskan komitmennya terhadap solusi jangka panjang bagi Palestina melalui visi Solusi Dua Negara, penegakan hak-hak rakyat Palestina, serta rekonstruksi menyeluruh pasca konflik.(Redaksi)

Trump Soroti Peran Strategis Indonesia, Puji Kepemimpinan Prabowo di Forum Internasional

WASHINGTON DC, BAJOPOS.COM – Posisi Indonesia dalam percaturan global kembali mendapat sorotan pada pertemuan perdana Board of Peace yang digelar di markas United States Institute of Peace, Rabu (19/2/2026). Dalam forum tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka melontarkan pujian kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.

Dalam suasana resmi di Washington, D.C., Trump menilai Prabowo sebagai pemimpin yang kuat dan disegani di kancah internasional. Ia menyebut Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo menunjukkan peran yang semakin diperhitungkan dalam berbagai isu global, khususnya terkait perdamaian.

Menurut Trump, Indonesia kini bukan sekadar negara dengan jumlah penduduk besar, tetapi telah berkembang menjadi kekuatan yang mendapatkan penghormatan luas dari komunitas internasional. Ia juga menyampaikan apresiasi atas langkah dan kebijakan yang dinilai mampu membaca dinamika geopolitik dunia secara tepat.

Pernyataan tersebut sontak menarik perhatian peserta forum internasional yang dihadiri sejumlah pemimpin dan tokoh dunia. Apresiasi terbuka dari Presiden Amerika Serikat itu dinilai sebagai sinyal pengakuan atas meningkatnya posisi tawar Indonesia di panggung global.

Trump turut menegaskan bahwa Indonesia melakukan pekerjaan luar biasa dalam berbagai inisiatif internasional dan menjadi negara yang suaranya diperhitungkan dalam upaya menjaga stabilitas serta perdamaian dunia.

Momentum ini sekaligus mempertegas hubungan strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat, serta mencerminkan semakin kuatnya peran Indonesia sebagai mitra penting dalam percaturan geopolitik internasional.(Redaksi)

Prabowo Soroti Peningkatan Bantuan Gaza, Indonesia Siap Kirim Tim Awal Misi Internasional

WASHINGTON DC, BAJOPOS.COM – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memaparkan perkembangan terbaru situasi kemanusiaan di Gaza dalam keterangan pers di Washington, D.C., Kamis (19/2/2026). Ia menegaskan bahwa distribusi bantuan bagi warga Palestina menunjukkan tren positif dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Presiden, aliran bantuan berupa makanan dan kebutuhan pokok kini berada pada titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut dinilai sebagai hasil dari koordinasi internasional yang semakin solid serta meningkatnya perhatian global terhadap krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.

Kendati demikian, Prabowo mengingatkan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang dan kompleks. Ia menekankan pentingnya konsistensi diplomasi, penguatan stabilitas keamanan, serta pengelolaan bantuan secara hati-hati agar upaya yang telah berjalan tidak terhambat dinamika politik dan keamanan di lapangan.

Dalam kesempatan itu, Presiden kembali menegaskan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina melalui pendekatan Solusi Dua Negara. Ia menyebut skema tersebut sebagai satu-satunya opsi yang realistis untuk menciptakan perdamaian jangka panjang dan berkelanjutan di kawasan.

Lebih lanjut, Prabowo mengungkapkan kesiapan Indonesia untuk terlibat langsung dalam misi internasional bagi Gaza. Pemerintah, kata dia, tengah menyiapkan pengiriman tim pendahulu (advance team) yang direncanakan berangkat dalam satu hingga dua bulan mendatang. Indonesia juga diminta mengisi posisi Deputy Commander dalam struktur misi tersebut, sebuah mandat yang dinilai mencerminkan kepercayaan komunitas internasional terhadap peran dan kapasitas Indonesia.

Pernyataan ini menegaskan komitmen politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, dengan orientasi kuat pada nilai kemanusiaan serta partisipasi aktif dalam mendorong perdamaian yang adil dan stabil di Timur Tengah.(Redaksi)

AS–Indonesia Resmi Teken Perjanjian Dagang Timbal Balik, Era Baru Kemitraan Ekonomi Dimulai

WASHINGTON DC, BAJOPOS.COM – Pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia resmi memasuki babak baru hubungan ekonomi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengesahkan Perjanjian Perdagangan Timbal Balik di Washington, D.C., Kamis (19/2/2026).

Penandatanganan kesepakatan strategis tersebut menandai penguatan kerja sama bilateral yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai perdagangan, tetapi juga pada pembangunan fondasi ekonomi yang dinilai lebih aman dan berkelanjutan bagi kedua negara.

Dalam pertemuan itu, kedua kepala negara menyampaikan komitmen untuk menjalankan seluruh butir perjanjian secara konsisten. Mereka juga mengapresiasi kinerja tim teknis dari masing-masing negara yang dinilai mampu merampungkan proses negosiasi dalam waktu relatif cepat.

Perjanjian ini diproyeksikan membuka ruang baru bagi arus investasi, memperluas akses pasar, serta menciptakan peluang ekonomi yang lebih besar bagi pelaku usaha di kedua negara. Selain itu, kesepakatan tersebut juga diharapkan memberi kontribusi terhadap stabilitas ekonomi global di tengah dinamika perdagangan internasional.

Sebagai tindak lanjut, Trump dan Prabowo telah menginstruksikan jajaran menteri dan pejabat terkait untuk segera menyusun langkah implementasi. Arah kebijakan ini diyakini menjadi pijakan awal bagi fase kemitraan strategis yang lebih erat antara Amerika Serikat dan Indonesia.

Dengan pengesahan perjanjian ini, kedua negara menegaskan kesiapan mereka untuk memperkuat posisi dalam percaturan ekonomi global sekaligus membangun hubungan dagang yang saling menguntungkan dalam jangka panjang.(Redaksi

Presiden Prabowo Tegaskan Efisiensi Anggaran & Reformasi Tata Kelola di Indonesia Economic Outlook 2026

JAKARTA, BAJOPOS.COM – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmen pemerintah dalam melakukan reformasi besar-besaran terhadap pengelolaan keuangan negara dan pemberantasan korupsi.

Hal itu disampaikan dalam pidato di acara Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar di Auditorium Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Dalam sambutannya, Prabowo mengatakan pemerintah telah berhasil melakukan efisiensi anggaran negara lebih dari Rp300 triliun pada tahun pertama masa kepemimpinannya.

Dana yang berhasil dihemat, menurut Presiden, akan dialihkan untuk mendukung program-program produktif yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Penghematan ini bukan sekadar angka administratif. Ini adalah upaya untuk memastikan anggaran negara diprioritaskan pada hal‐hal yang langsung dirasakan rakyat,” ujar Prabowo dalam pidatonya.

Prabowo juga menekankan bahwa pemangkasan belanja yang tidak produktif — seperti perjalanan dinas yang tidak mendesak, seremonial, serta kegiatan yang tidak berdampak — menjadi salah satu langkah utama dalam mencapai efisiensi tersebut.

Selain itu, Presiden menyampaikan bahwa hasil efisiensi juga mendorong keberlanjutan program MBG yang, menurut data pemerintah, telah meningkatkan konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi di level desa dan lapisan paling bawah masyarakat.

Di sisi lain, Prabowo menyoroti pentingnya pengelolaan aset negara secara optimal. Ia menyampaikan apresiasi atas capaian Danantara — lembaga pengelola investasi negara — yang menurut pemerintah telah mencatat hasil efisiensi dan reformasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Pemerintah pun menargetkan peningkatan kinerja aset negara lebih lanjut ke depan.

Pidato ini sekaligus menegaskan arah kebijakan pemerintah yang mengedepankan tata kelola anggaran yang lebih bersih, efisien, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat sebagai bagian dari upaya mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negara maju.(Redaksi)

Iman, Ilmu, dan Amal dalam Pandangan Buya Hamka

Oleh: Muhammad Dwifajri (Dosen Uhamka, Jakarta)

Iman dalam ajaran Islam bukan sekadar pengakuan lisan. Ia adalah pusat keyakinan yang menuntut pembuktian dalam tindakan nyata. Dalam pandangan Buya Hamka, pernyataan “Amantu billâh” (aku beriman kepada Allah) bukan hanya ucapan simbolik, melainkan pengakuan kesadaran bahwa seseorang telah mengenal dan meyakini Allah sepenuh hati.

Pernyataan itu dilanjutkan dengan “wa aslamtu lahu”—aku berserah diri kepada-Nya. Artinya, keimanan tidak berhenti pada keyakinan batin, tetapi berlanjut pada sikap tunduk dan patuh terhadap seluruh perintah dan larangan Allah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Di sinilah iman menjelma menjadi Islam dalam makna yang utuh: kepasrahan total (kaffah) kepada kehendak Ilahi.

Iman dan Amal: Dua Sisi yang Tak Terpisahkan

Hamka menegaskan, hubungan iman dan amal ibarat budi dan perangai. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Iman tanpa amal adalah pengakuan kosong, sementara amal tanpa iman kehilangan kemurnian dan arah.

Menurutnya, amal mencakup kerja, usaha, kegiatan hidup, serta pelaksanaan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Iman yang benar akan melahirkan amal saleh; dan amal saleh menjadi bukti hidupnya iman. Dalam kerangka berpikir Islam, agama tidak bisa dipisahkan dari lima unsur pokok: akidah, amal dan aktivitas hidup, undang-undang, kekuasaan, serta pemerintahan.

Karena itu, akidah yang kuat akan memancarkan amal yang kuat pula. Hamka bahkan menegaskan bahwa tidak pernah dijumpai dalam Al-Qur’an pernyataan iman yang berdiri sendiri tanpa diiringi amal saleh. Semakin kokoh iman seseorang, semakin nyata pula ketaatannya dalam menjalankan perintah agama.

Sebaliknya, iman yang tidak berbuah amal disebut Hamka sebagai “pendustaan jiwa”. Pengakuan tanpa bukti hanya akan melahirkan kehampaan spiritual. Dalam konteks sosial, kondisi ini dapat menggerus makna Islam dalam kehidupan masyarakat. Nama boleh saja Islam, tetapi ruhnya telah hilang.

Pandangan ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Ma’un ayat 1–7, yang menegaskan bahwa pendusta agama adalah mereka yang mengabaikan anak yatim, enggan memberi makan orang miskin, serta lalai dan riya dalam salatnya. Ayat ini menjadi kritik keras terhadap praktik keberagamaan yang berhenti pada ritual, tetapi kosong dari kepedulian sosial.

Rusak dan binasanya hati karena amal dan iman yang tak berpadu ini disandarkan Hamka pada firman Allah S. W.T.

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ – فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ – فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ
الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ ࣖ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria, dan enggan (memberikan) bantuan.” (Q.S Al-Mâûn [107]: 1 – 7)

Bagi Hamka, salat yang tidak melahirkan kepekaan sosial dan keikhlasan hanyalah gerakan tanpa makna. Takbir yang diucapkan dengan lisan tidak bernilai jika hati tidak benar-benar mengagungkan Allah. Inilah bentuk keterputusan antara iman dan amal yang ia kritik tajam.

Ilmu sebagai Fondasi Iman

Selain amal, iman juga memiliki hubungan erat dengan ilmu. Hamka menekankan bahwa iman yang kokoh harus bertumpu pada kesadaran intelektual. Semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin dekat ia kepada Allah.

Akal, menurut Hamka, adalah anugerah yang mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap Sang Pencipta. Ia mengajak manusia merenungi alam: daun yang bergoyang, desir angin, debur ombak. Semua itu menjadi jalan bagi akal dan hati untuk menyadari keberadaan Allah.

Proses pengenalan ini tidak berhenti pada pancaindra, tetapi berlanjut pada perenungan batin. Hati—yang oleh Hamka dimaknai sebagai pusat kesadaran ruhani—akan semakin terang ketika akal digunakan secara jujur dan mendalam. Dari sinilah iman tumbuh sebagai hasil perjalanan intelektual dan spiritual, bukan sekadar warisan turun-temurun.

Hamka bahkan mengutip hadis Nabi yang menyatakan bahwa agama berkaitan erat dengan akal. Maksudnya, keberagamaan yang sehat menuntut kesadaran dan pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan. Iman yang tidak didasari ilmu mudah goyah, karena tidak berakar pada kesadaran pribadi.

Kesatuan yang Integral

Dalam perspektif Hamka, iman, ilmu, dan amal memang berbeda secara konsep, tetapi tidak dapat dipisahkan dalam praktik kehidupan. Ilmu memperkuat iman, iman menggerakkan amal, dan amal menjadi bukti hidupnya iman.

Keimanan yang lahir dari perjalanan akal dan disertai kesediaan untuk tunduk kepada Allah akan menghadirkan kepuasan batin yang mendalam. Sebaliknya, iman yang hanya menjadi slogan tanpa ilmu dan amal akan kehilangan maknanya.

Di tengah tantangan zaman modern, gagasan Hamka ini tetap relevan. Umat tidak cukup hanya bangga dengan identitas keislaman. Yang lebih penting adalah menghadirkan iman yang cerdas, amal yang nyata, dan ilmu yang membimbing keduanya. Sebab, sebagaimana ditegaskan Hamka, kelezatan iman hanya dirasakan oleh mereka yang menggunakan akal dan membuktikan keyakinannya dalam perbuatan.

Penulis : Dosen UHAMKA

Editor : Faidin

(QULTUM) Imam Masjid An-Nur : Ramadhan sebagai Momentum Taubat dan Bekal Akhirat

SIKKA, BAJOPOS.COM – Imam Masjid An-Nur Nangahale, H. Muhammad Badri, mengajak umat Islam untuk memaksimalkan bulan suci Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh. Pesan tersebut disampaikannya saat mengisi kultum (kuliah tujuh menit) dari mimbar Masjid An-Nur Nangahale pada malam salat tarawih. Kamis, 19/02/2026 malam.

Dalam tausiyahnya, H. Muhammad Badri mengawali dengan ungkapan syukur karena masih diberi kesempatan bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Menurutnya, pertemuan dengan Ramadhan adalah bukti kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya.

“Kita patut bersyukur karena tidak semua orang diberi kesempatan bertemu Ramadhan. Maka syukur itu harus dibuktikan dengan mengamalkan apa yang diperintahkan Allah,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia menegaskan, sangat merugi seseorang yang bertemu Ramadhan tetapi tidak memanfaatkannya untuk bertaubat. Setiap manusia, kata dia, pasti akan meninggalkan dunia ini tanpa terkecuali.

“Orang kaya mati, orang miskin mati, pejabat mati, rakyat biasa pun mati. Yang dinilai oleh Allah hanyalah ketakwaan kita,” tegasnya.

Menurutnya, ketakwaan tercermin dari sikap hati-hati dalam menggunakan nikmat Allah, baik berupa harta maupun waktu. Orang yang benar-benar takut kepada Allah akan memanfaatkan keduanya sesuai dengan tuntunan-Nya.

H. Muhammad Badri juga mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk menebus kelalaian di masa lalu. Allah memberikan berbagai amalan dengan pahala berlipat ganda, seperti membaca Al-Qur’an dan bersedekah.

Ia mengutip sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang tidak terputus meski seseorang telah wafat:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Ia menjelaskan, sedekah jariyah adalah amalan yang manfaatnya terus dirasakan, seperti pembangunan masjid atau fasilitas umum. Ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya ketika diamalkan dan diajarkan kembali. Sementara doa anak saleh menjadi penolong bagi orang tua di alam kubur.

“Rugi sekali jika sebelum meninggal kita tidak meninggalkan salah satu dari tiga amalan tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, bahkan para ulama yang memiliki banyak murid tetap merasa takut kepada Allah. Terlebih lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin kemuliaannya, tetap menunjukkan ketundukan dan rasa takut yang luar biasa kepada Allah. Apalagi manusia biasa yang penuh dosa, sudah seharusnya lebih banyak bermuhasabah.

Dalam kesempatan itu, jamaah juga diingatkan agar tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat, sementara ibadah seperti salat tarawih justru diabaikan. Menurutnya, belum tentu seseorang dapat kembali bertemu Ramadhan di tahun berikutnya, bahkan belum tentu mampu menyelesaikan Ramadhan tahun ini.

“Jangan hanya sibuk memperbaiki urusan dunia, sementara akhirat kita abaikan. Dunia akan kita tinggalkan, tetapi amal akan menjadi bekal selamanya,” pesannya.

Menutup kultum, H. Muhammad Badri mengajak jamaah memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya dan memperbanyak amal sebagai persiapan menghadapi kematian.

“Semoga yang benar datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan segala kekurangan berasal dari saya sebagai manusia biasa,” tutupnya.

Reporter : Faidin
Editor : Redaksi

Doa Buka Puasa Ramadhan Sesuai Sunnah, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

BULAN RAMADHAN menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah saat berbuka puasa, setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Berbuka puasa bukan sekadar waktu untuk makan dan minum. Dalam ajaran Islam, waktu tersebut termasuk saat yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa orang yang berpuasa ketika berbuka termasuk doa yang tidak tertolak, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Riwayat Tirmidzi nomor 2449.

Karena itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan waktu berbuka dengan membaca doa sebagai bentuk syukur dan pengharapan pahala dari Allah SWT.

Berikut beberapa pilihan doa berbuka puasa Ramadhan yang dapat diamalkan, sebagaimana tercantum dalam literatur klasik Al-Adzkar karya Imam Nawawi.

Pilihan Doa Berbuka Puasa Berdasarkan Riwayat Hadis

Terdapat beberapa variasi doa berbuka puasa yang bersumber dari riwayat hadis berbeda. Umat Islam dapat memilih salah satu doa yang mudah dihafal dan dipahami maknanya.

1. Doa Berbuka Puasa Riwayat Abu Daud

Doa ini termasuk yang paling populer dan menekankan rasa syukur atas hilangnya dahaga serta harapan akan pahala.

Teks Arab:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Latin:
Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru in syaa Allah.

Artinya:
“Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala, insya Allah.” (HR. Abu Daud)

2. Doa yang Umum Digunakan di Indonesia

Doa ini sangat familiar di tengah masyarakat dan kerap dibaca secara berjamaah.

Teks Arab:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Latin:
Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar raahimin.

Artinya:
“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih.”

3. Doa Syukur atas Pertolongan Allah (Riwayat Ibnu Sunni)

Doa ini berisi pengakuan bahwa kekuatan menjalankan puasa berasal dari pertolongan Allah.

Teks Arab:

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

Latin:
Alhamdulillahilladzi a’aananii fashumtu, wa razaqanii faafthartu.

Artinya:
“Segala puji bagi Allah yang telah menolongku sehingga aku dapat berpuasa, dan yang telah memberiku rezeki sehingga aku dapat berbuka.”

4. Doa Memohon Penerimaan Amal (Riwayat Sahabat Ibnu Abbas)

Doa ini menekankan permohonan agar puasa diterima oleh Allah SWT.

Teks Arab:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Latin:
Allahumma shumnaa wa ‘alaa rizqika aftharnaa, fataqabbal minna innaka antas samii’ul ‘aliim.

Artinya:
“Ya Allah, karena-Mu kami berpuasa, dan dengan rezeki-Mu kami berbuka, maka terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

5. Doa Memohon Ampunan (Riwayat Ibnu Majah)

Waktu berbuka juga menjadi kesempatan untuk memohon ampun atas dosa.

Teks Arab:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي

Latin:
Allahumma inni as’aluka birahmatikallatii wasi’at kulla syai’in an taghfira lii.

Artinya:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.”

Mengamalkan Doa Berbuka Puasa

Mengamalkan doa-doa tersebut tidak harus sekaligus dalam satu waktu. Berikut beberapa langkah agar lebih mudah diterapkan:

Pilih doa yang mudah dihafal agar dapat dibaca dengan khusyuk.

Pahami maknanya sehingga doa tidak sekadar dilafalkan, tetapi dihayati.

Variasikan bacaan agar menambah hafalan doa sunnah.

Manfaatkan waktu menjelang azan Magrib untuk memperbanyak zikir dan doa pribadi.

Berbuka puasa adalah penutup ibadah harian selama Ramadhan. Menyertainya dengan doa menjadi bentuk rasa syukur sekaligus harapan agar ibadah diterima Allah SWT.

Dengan memahami berbagai riwayat doa berbuka puasa, umat Islam memiliki rujukan yang jelas dan dapat mengamalkannya sesuai kemampuan.

Ramadhan; Antara Kewajiban, Kemudahan, dan Pembentukan Manusia Bertaqwa

RAMADHAN selalu datang dengan suasana yang khas: masjid lebih ramai, lantunan ayat suci terdengar di berbagai sudut, dan umat Islam berbondong-bondong memperbaiki diri.

Namun, Ramadan tidak boleh hanya dipahami sebagai rutinitas tahunan yang bersifat seremonial. Ia adalah proyek besar pembentukan manusia bertakwa, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah (2): 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini jelas menegaskan bahwa tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk ketakwaan. Dalam hal ini takwa dipandang sebagai kualitas batin yang tidak bisa direkayasa oleh simbol-simbol keagamaan.

Ia lahir dari latihan panjang mengendalikan diri. Puasa menjadi sarana paling konkret untuk itu. Tidak ada yang tahu seseorang benar-benar berpuasa kecuali dirinya dan Allah. Di situlah kejujuran spiritual ditempa.

Namun menariknya, Islam tidak membangun ketakwaan dengan pendekatan kaku dan memaksa.

QS Al-Baqarah (2): 184 menunjukkan sisi keadilan dan kemanusiaan syariat:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۚ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Di sini kita melihat bahwa puasa memang wajib, tetapi ada ruang keringanan bagi yang sakit atau dalam perjalanan. Bahkan bagi yang berat menjalankannya, ada mekanisme fidyah yaitu dengan memberi makan orang miskin.

Inilah wajah Islam yang penuh empati: kewajiban tetap ada, tetapi manusia tidak dipaksa melampaui batas kemampuannya. Keadilan dan kesetaraan berjalan beriringan.

Lebih jauh lagi, Ramadan dimuliakan bukan semata karena puasanya, melainkan karena turunnya Al-Qur’an.

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah (2): 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Ayat ini menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan petunjuk. Artinya, puasa tanpa interaksi dengan Al-Qur’an berisiko kehilangan ruhnya.

Kita bisa saja menahan lapar, tetapi tanpa membaca dan memahami wahyu, arah perubahan diri menjadi kabur.

Dalam konteks kekinian, Ramadan seharusnya menjadi momentum revolusi literasi Al-Qur’an—bukan sekadar membaca, tetapi juga merenungi dan mengamalkan.

Yang lebih menarik lagi, di tengah rangkaian ayat tentang puasa, Allah menyisipkan ayat tentang doa.

QS Al-Baqarah (2): 186 berbunyi:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Ini bukan kebetulan. Doa adalah inti dari ibadah. Dalam keadaan lapar dan haus, seorang hamba berada pada posisi paling jujur dan paling sadar akan kelemahannya.

Ramadan mengajarkan bahwa Tuhan itu dekat, bukan jauh. Namun kedekatan itu mensyaratkan respons: memenuhi perintah-Nya dan beriman dengan sungguh-sungguh.

Terakhir, QS Al-Baqarah (2): 187 menegaskan keseimbangan hidup:

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ … وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِ …

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak mematikan fitrah manusia. Makan, minum, dan hubungan suami-istri pada malam hari dihalalkan.

Bahkan relasi suami-istri digambarkan sebagai “pakaian” satu sama lain—simbol perlindungan dan kesetaraan. Sehingga inilah bukti bahwa Ramadan bukan ajang menyiksa diri, melainkan latihan menempatkan segala sesuatu pada waktunya.

Sejatinya, Ramadan adalah madrasah tahunan. Ia mendidik kita untuk jujur, disiplin, peduli, dan seimbang.

Jika setelah Ramadan kita tidak menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih dekat kepada Al-Qur’an, mungkin yang berubah hanya jadwal makan kita—bukan karakter kita. Dan di situlah letak tantangan sesungguhnya.

DISARPUS Sikka Percepat Transformasi Digital, Mahasiswa UNIPA Indonesia Kembangkan Website Resmi

SIKKA, BAJOPOS.COM – Upaya transformasi digital di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sikka terus bergerak. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka (DISARPUS) segera meluncurkan website resmi sebagai pusat dokumentasi, publikasi program, serta layanan informasi bagi masyarakat.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, menjelaskan pengembangan platform digital tersebut mendapat dukungan dari dua mahasiswa magang Universitas Nusa Nipa Indonesia (UNIPA) Indonesia, yakni Gery dan Ningsi dari Program Studi Ilmu Komunikasi.

Dalam rilis yang diterima media di Maumere, Kamis (19/02/2026), Very menyebut kehadiran website ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat komunikasi publik yang informatif, transparan, dan mudah diakses masyarakat.

“Kami bersyukur dan sungguh berterima kasih kepada adik Gery dan Ningsi dari Program Studi Ilmu Komunikasi UNIPA Indonesia. Kehadiran mereka terasa sangat tepat, di saat kami membutuhkan platform digital yang representatif, sementara kondisi anggaran sedang mengalami efisiensi,” ujarnya.

Menurutnya, keterbatasan anggaran tidak menjadi hambatan bagi DISARPUS Sikka untuk terus berinovasi. Kolaborasi dengan mahasiswa magang dinilai sebagai solusi kreatif dalam menghadirkan layanan berbasis digital tanpa membebani keuangan daerah.

Selama masa magang, kedua mahasiswa tersebut terlibat aktif dalam perancangan konten website, penyusunan struktur informasi, hingga pengembangan konsep komunikasi digital yang ramah dan mudah dipahami publik. Sinergi ini menjadi contoh konkret kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendorong percepatan digitalisasi layanan.

Very menambahkan, website resmi DISARPUS nantinya memuat informasi layanan perpustakaan, kegiatan literasi, pengelolaan arsip, hingga program-program yang sedang dan akan dijalankan.

“Website ini akan memudahkan masyarakat mengakses berbagai informasi secara cepat dan efisien,” katanya.

Bagi mahasiswa, program magang tersebut tidak sekadar menjadi kewajiban akademik, tetapi juga ruang implementasi ilmu komunikasi dan teknologi informasi dalam dunia kerja nyata. DISARPUS Sikka pun menyampaikan apresiasi kepada Program Studi Ilmu Komunikasi dan seluruh civitas akademika UNIPA Indonesia atas kemitraan yang terjalin.

“Terima kasih Gery dan Ningsi. Terima kasih Program Studi Ilmu Komunikasi dan civitas akademika UNIPA Indonesia. Teruslah berkarya, belajar, dan berani berinovasi. Karya kecil hari ini adalah fondasi besar bagi literasi dan digitalisasi Kabupaten Sikka di masa depan,” tutupnya.(Redaksi) 

DISARPUS Sikka Gandeng PT Gramedia Maumere, Gelar Lomba Literasi Mingguan untuk Pelajar

SIKKA, BAJOPOS.COM – Upaya memperkuat budaya baca dan menggelorakan semangat literasi serta sains di kalangan pelajar terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Sikka. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka (DISARPUS) Kabupaten Sikka bekerja sama dengan PT Gramedia Maumere akan menggelar berbagai lomba literasi yang dilaksanakan secara rutin setiap satu minggu sekali.

Kolaborasi tersebut disampaikan Kepala DISARPUS Kabupaten Sikka, Very Awales, kepada media di Maumere usai rapat koordinasi bersama Pimpinan PT Gramedia Maumere, Tony Albertus, yang berlangsung di ruang kerja Kadis DISARPUS Sikka, Jalan El Tari Maumere, Rabu (18/02/2026).

Menurut Very Awales, kerja sama ini merupakan bagian dari penguatan program Wisata Literasi dan Sains yang selama ini dijalankan DISARPUS Sikka. Dalam paket wisata tersebut, para pelajar akan diajak mengunjungi Gramedia Maumere sebagai pusat literasi dan distribusi buku, kemudian melanjutkan kunjungan ke sejumlah lokasi edukatif, dan berakhir di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Sikka.

“Di DISARPUS Sikka, para pelajar tidak hanya berkunjung dan membaca, tetapi juga akan mengikuti berbagai lomba literasi yang kami selenggarakan secara rutin. Mata lomba yang disiapkan antara lain lomba mewarnai, lomba baca puisi, lomba bercerita, lomba menulis, serta lomba kreatif literasi lainnya yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan peserta,” jelasnya.

Ia menegaskan, kegiatan lomba tersebut dirancang sebagai ruang ekspresi dan aktualisasi kreativitas pelajar. Selain itu, kegiatan ini menjadi strategi membangun minat baca, memperkuat kemampuan literasi dasar, serta menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan sejak usia dini.

Sementara itu, Tony Albertus menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif DISARPUS Sikka. Ia mengapresiasi komitmen Kepala Dinas bersama seluruh jajaran dalam mengembangkan gerakan literasi dan sains di Kabupaten Sikka.

“Kami sangat mendukung langkah DISARPUS Sikka dalam menyalakan api literasi di kalangan pelajar. Gramedia siap berkolaborasi melalui penyediaan buku, ruang literasi, serta program-program edukatif lainnya untuk mendukung generasi muda Sikka yang gemar membaca dan berpikir kritis,” ungkap Tony.

Program lomba mingguan ini diharapkan menjadi agenda berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi pelajar, tetapi juga membangun ekosistem literasi yang kuat melalui sinergi pemerintah, dunia usaha, sekolah, dan masyarakat di Kabupaten Sikka.(Redaksi)

Di Kabupaten Sikka, Oknum PPPK Ditangkap di Lingkungan Kantor Bupati Sikka, Positif Konsumsi Sabu

SIKKA, BAJOPOS.COM – Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Sikka mengungkap kasus dugaan penyalahgunaan narkotika yang melibatkan seorang oknum Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka. Tersangka berinisial DMW ditangkap pada Kamis, 12 Februari 2026, di halaman parkir belakang lingkungan Kantor Bupati Sikka.

Pengungkapan kasus tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Mapolres Sikka, Rabu, 18 Februari 2026.

Kasat Resnarkoba Polres Sikka, Iptu Yakobus K. Sanam menjelaskan, penangkapan bermula dari informasi masyarakat terkait dugaan peredaran narkotika jenis sabu di sekitar Kantor Bupati Sikka.

“Tim melakukan pemantauan intensif selama hampir satu bulan. Berdasarkan informasi yang diterima, akan ada transaksi atau penerimaan paket narkotika di sekitar halaman kantor bupati,” ujar Yakobus.

Setelah menerima laporan, tim Satresnarkoba bergerak melakukan penyisiran dan pemantauan di sejumlah titik. Petugas kemudian melihat seorang pria mengenakan jaket biru yang diduga hendak menerima paket dari seseorang berseragam merah yang diduga kurir jasa penitipan (jastip).

Tersangka kemudian membuntuti kurir tersebut dan membawa paket ke area parkir belakang gedung kantor bupati. Saat berhenti di bawah pohon dan memarkirkan sepeda motornya, petugas langsung melakukan penangkapan.

“Anggota kami langsung mengamankan laki-laki tersebut yang sedang menguasai dan membawa satu buah dos paket,” kata Yakobus.

Saat hendak diamankan, tersangka sempat berusaha menyembunyikan dan menghilangkan barang bukti. Namun upaya itu berhasil digagalkan petugas.

Dari tangan tersangka, polisi menyita satu plastik klip bening yang diduga berisi narkotika jenis sabu, satu unit sepeda motor Honda Vario warna hitam, satu unit telepon genggam merek OPPO A5 warna abu-abu, satu buah dos minuman Ale-Ale, serta empat potong baju anak.

Menurut Yakobus, tersangka mengaku telah dua kali memesan paket sabu melalui jasa penitipan JNT dengan menggunakan alamat kantor dan nama samaran “D”. Barang tersebut disebut dipesan dari seseorang berinisial D yang berada di Makassar.

“Tersangka mengakui barang bukti berupa sabu adalah miliknya dan dipesan dari saudara D yang berada di Makassar,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, DMW dinyatakan positif mengandung methamphetamine dan amphetamine. Motif penggunaan narkotika tersebut, kata Yakobus, untuk kepentingan pribadi.(Faidin) 

(QULTUM) Ustadz Abdul Haris Tekankan Pentingnya Niat Dalam Tiap Amal

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ustadz Abdul Haris menegaskan pentingnya niat dalam pelaksanaan puasa Ramadan saat menyampaikan kuliah tujuh menit (qultum) di Masjid An-Nur Nangahale, pada rangkaian salat tarawih awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Rabu, 18/02/2026 usai sholat isya berjama’ah.

Dalam ceramahnya, ia mengawali dengan mengajak jamaah bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk kembali bertemu Ramadan dan melaksanakan salat tarawih.

“Ini semata-mata pertolongan Allah untuk kita. Pilihan Allah untuk kita. Karena ada orang-orang yang tahun lalu masih ikut Ramadan dengan kita, mungkin sekarang sudah tidak ada,” ujarnya.

Ia juga menyinggung salah satu pengisi qultum di masjid tersebut yang telah wafat beberpa hari menjelang Ramadhan ini (almarhum H. Patahere, red). Menurutnya, kematian menjadi pengingat bahwa setiap orang tidak mengetahui kapan akan dipanggil oleh Allah SWT.

Menurut Ustadz Abdul Haris, Almarhum dalam ingatannya sempat menyampaikan persoalan niat puasa, seingatnya di malam ke dua Ramadhan tahun sebelumnya.

Pada kesempatan itu, Ustadz Abdul Haris menyampaikan materi tentang salah satu rukun puasa, yakni niat. Ia menjelaskan bahwa niat merupakan bagian yang tidak boleh ditinggalkan dalam ibadah puasa.

“Kapan kita mulai niat berpuasa? Saat malam tiba. Kapan malam tiba? Saat azan maghrib,” jelasnya di hadapan jamaah.

Ia menegaskan, bagi yang hendak berpuasa keesokan hari, niat sudah bisa dilakukan sejak masuk waktu maghrib. Dalam penjelasannya, ia merujuk pada praktik yang lazim dianut mayoritas umat Islam di Indonesia yang mengikuti Mazhab Syafi’i.

Menurutnya, dalam Mazhab Syafi’i, puasa setiap hari di bulan Ramadan dihitung sebagai amal yang berdiri sendiri, bukan satu rangkaian amal untuk sebulan penuh. Karena itu, setiap hari puasa wajib disertai niat tersendiri.

“Puasa hari pertama, amal sendiri. Hari berikutnya, amal yang lain lagi. Artinya setiap amal wajib satu niat,” tegasnya.

Ia menjelaskan, niat bersama setelah salat tarawih yang kerap dipandu imam merupakan metode untuk memudahkan jamaah agar tidak lupa. Namun, secara prinsip, niat tetap harus dilakukan setiap malam.

Terkait adanya pendapat bahwa cukup satu niat untuk satu bulan penuh, ia menerangkan bahwa hal tersebut merupakan pendapat dalam Mazhab Maliki, bukan Mazhab Syafi’i. Meski demikian, dalam praktik fiqih Syafi’i, dianjurkan pula untuk berniat puasa satu bulan penuh pada malam pertama Ramadan sebagai langkah antisipasi jika suatu malam lupa berniat.

“Ini hanya untuk antisipasi, bukan berarti sudah cukup satu kali niat untuk sebulan,” jelasnya.

Ustadz Abdul Haris juga mempraktikkan lafaz niat puasa satu bulan penuh mengikuti pendapat Imam Malik sebagai bentuk taklid, sekaligus menegaskan kembali bahwa niat harian tetap wajib dilakukan.

Ia menambahkan, niat pada dasarnya dilakukan di dalam hati. Jika tidak sempat mengikuti lafaz bahasa Arab, jamaah dapat berniat dengan bahasa masing-masing, misalnya, “Saya niat puasa Ramadan besok hari.” Menurutnya, lafaz sederhana tersebut sudah mencukupi karena yang terpenting adalah kehendak dalam hati.

Di akhir ceramah, ia berharap Allah SWT memberikan kekuatan kepada seluruh jamaah untuk menjalankan ibadah puasa sesuai ketentuan dan menjadikan Ramadan sebagai jalan meraih ketakwaan.

“Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakan puasa Ramadan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya dan menjadikan kita orang-orang yang bertakwa,” tutupnya.

Reporter : Faidin

Alumni PMII Alor Resmi Bentuk IKA PMII di Muscab Perdana

ALOR, BAJOPOS.COM – Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Kabupaten Alor resmi terbentuk melalui pelaksanaan Musyawarah Cabang (Muscab) I yang digelar pada Minggu (15/02/2026). Forum perdana ini menjadi langkah awal konsolidasi alumni PMII lintas generasi di Kabupaten Alor sekaligus penegasan eksistensi wadah alumni di tingkat daerah.

Muscab I tersebut dihadiri jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Alor beserta sejumlah badan otonom, antara lain Fatayat NU, Muslimat NU, Gerakan Pemuda Ansor, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, serta Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Kabupaten Alor. Kehadiran unsur NU dan badan otonom tersebut menunjukkan dukungan terhadap pembentukan IKA PMII sebagai bagian dari kekuatan sosial-keagamaan di daerah.

Selain menjadi forum pengambilan keputusan organisasi, Muscab juga dimanfaatkan sebagai ruang silaturahmi dan konsolidasi awal antaralumni PMII. Proses persidangan berlangsung tertib dengan mengedepankan prinsip musyawarah mufakat.

Dalam sidang pleno, Sahabat Abdul Saka terpilih sebagai Formatur Ketua IKA PMII Kabupaten Alor. Pemilihan dilakukan secara aklamasi berdasarkan kesepakatan bersama peserta Muscab.

Jalannya persidangan dipimpin oleh presidium yang terdiri atas Muhammad Fajrian Jong, S.Psi., sebagai ketua presidium, Nasrullah Puas, M.Pd., sebagai sekretaris, serta Irwansyah, S.Pd., sebagai anggota. Forum tersebut juga menghasilkan sejumlah keputusan strategis terkait arah dan struktur awal organisasi.

Dalam sambutan perdananya, Abdul Saka menegaskan bahwa amanah yang diembannya merupakan tanggung jawab kolektif seluruh alumni. “Terpilihnya saya sebagai formatur ketua bukan keberhasilan pribadi, melainkan tanggung jawab kita bersama untuk membesarkan dan menghidupkan IKA PMII di Kabupaten Alor,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembentukan IKA PMII bukan sekadar melengkapi struktur organisasi, melainkan menjadi titik tolak membangun kinerja nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Ia juga mengharapkan pembinaan, kritik, dan saran dari para sesepuh serta seluruh alumni agar organisasi berjalan sesuai nilai-nilai PMII.

Muscab I mengusung tema “Konsolidasi Alumni PMII Alor Memperkuat Solidaritas dan Peran Strategis Alumni di Kabupaten Alor.” Tema tersebut menegaskan komitmen alumni untuk berperan aktif dalam menjawab berbagai persoalan sosial, keumatan, dan kebangsaan di tingkat lokal.

Dengan terselenggaranya Muscab perdana ini, IKA PMII Kabupaten Alor diharapkan menjadi wadah pemersatu alumni sekaligus mitra strategis dalam pembangunan daerah. Forum tersebut menjadi fondasi awal penguatan peran alumni PMII di Kabupaten Alor ke depan.

Penulis : Nursan
Editor : Faidin

Tak Muncul ke Permukaan, Nelayan Pemanah Ikan Berakhir Duka di Perairan Wuring

SIKKA, BAJOPOS.COM – Aktivitas memanah ikan yang biasa dilakukan nelayan pesisir berubah menjadi duka. Setelah sempat hilang selama hampir sehari, Mateus Rohi (42), warga Lorong Ayam, Kilo Dua, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia oleh Tim SAR Gabungan di Perairan Wuring, Maumere, Rabu (18/2/2026) pagi.

Peristiwa bermula pada Selasa (17/2/2026) dini hari. Berdasarkan keterangan pelapor, korban berangkat memanah ikan bersama dua rekannya sekitar pukul 03.00 Wita. Ketiganya menuju Perairan Wuring yang dikenal sebagai salah satu lokasi favorit aktivitas memanah ikan di Maumere.

Sekitar pukul 06.00 Wita, dua rekan korban telah menyelesaikan aktivitas dan naik ke daratan. Namun, Mateus tak kunjung muncul ke permukaan. Keduanya sempat melakukan pencarian awal di sekitar lokasi, tetapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban.

Keluarga yang mendapat kabar tersebut langsung melakukan pencarian mandiri. Upaya itu belum membuahkan hasil hingga akhirnya kejadian dilaporkan ke Kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere untuk dilakukan operasi SAR resmi.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere, Fathur Rahman selaku SAR Mission Coordinator (SMC), menjelaskan bahwa begitu menerima laporan, Tim SAR Gabungan langsung dikerahkan pada hari pertama.

“Sejak informasi diterima, kami langsung melaksanakan operasi SAR. Pencarian hari kedua melibatkan RIB Kantor SAR Maumere, Searider Ditpolairud Polda NTT, rubber boat, serta peralatan selam,” ujarnya.

Memasuki hari kedua pencarian, Rabu (18/2/2026), tim melakukan penyisiran intensif di sekitar lokasi kejadian. Upaya tersebut membuahkan hasil pada pukul 07.10 Wita. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada jarak sekitar 0,59 nautical mile dari titik awal diduga tenggelam, tepatnya di koordinat 08°35’4.97″S – 122°12’0.23″E.

Jenazah kemudian dievakuasi dan dibawa menuju RSUD TC Hillers Maumere untuk penanganan lebih lanjut.(Faidin)

Nyala Obor di Reroroja, Warga Sambut Ramadhan dengan Pesan Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ratusan obor menerangi malam di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur dalam Pawai Obor menyambut bulan suci Ramadhan.

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi tradisi tahunan, tetapi Selasa, 17 Februari malam itu pula merupakan momentum refleksi spiritual bagi masyarakat untuk memaknai kembali arti “cahaya” dalam kehidupan.

Pawai obor tersebut diinisiasi oleh Ustadz H. Al Amin, S.H., M.Pd., Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Amiin Ndete.

Peserta Pawai Obor memasuki lorong-lorong pemukiman warga. 

Dalam tausiyahnya di sela kegiatan, ia menegaskan bahwa obor yang dibawa warga hanyalah simbol dari cahaya yang lebih hakiki.

“Obor ini adalah simbol. Penerang yang sesungguhnya adalah ketika kita kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Barangsiapa berpegang teguh pada keduanya, maka ia tidak akan tersesat selamanya,” ujar Al Amin di hadapan peserta pawai.

Ia mengingatkan, Ramadhan menjadi momentum tepat untuk memperkuat literasi Al-Qur’an serta membangun akhlak sesuai tuntunan sunnah. Menurutnya, banyak persoalan kehidupan muncul karena manusia kehilangan kompas moral, sehingga perlu kembali pada nilai-nilai dasar ajaran Islam.

Suasana semakin khidmat saat rombongan tiba di kawasan Pelabuhan Bongkar Ikan. Di lokasi yang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat itu, Al Amin menyampaikan pesan agar umat Islam tidak berhenti pada kesalehan ritual semata.

“Jadilah pribadi dengan ruang cakrawala yang luas. Milikilah pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni, sehingga keberadaan kita mampu memberikan kontribusi nyata bagi semesta, sebagai wujud Islam rahmatan lil ‘alamin,” tuturnya.

Pesan tersebut disambut antusias peserta, terutama generasi muda yang mengikuti pawai. Kegiatan ini dinilai menjadi media edukasi bahwa menyambut Ramadhan tidak hanya dengan seremoni, tetapi juga dengan semangat transformasi diri.

Pawai obor ditutup dengan doa bersama untuk keberkahan Kabupaten Sikka selama bulan Ramadhan. Warga berharap, cahaya iman yang dinyalakan melalui kegiatan ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, melampaui padamnya api obor di tangan mereka.(Faidin)