SIKKA, Bajopos.com – Pagi di pesisir Wuring, Kabupaten Sikka, tak selalu diawali dering bel sekolah. Bagi sebagian anak Suku Bajo, hari justru dimulai dengan menarik perahu ke laut, memeriksa jaring, dan berharap hasil tangkapan cukup untuk makan hari itu.
Di komunitas yang hidupnya menyatu dengan laut ini, pendidikan sering kali kalah oleh kebutuhan ekonomi. Anak-anak yang seharusnya duduk di bangku kelas justru tumbuh lebih cepat bersama tanggung jawab yang datang terlalu dini.

Fikri: Dari Bangku SMP ke Geladak Perahu
Fikri masih mengingat jelas mimpinya menjadi nakhoda kapal pelayaran. Namun mimpi itu perlahan memudar setelah ayahnya, Muhammad Saieng, meninggal dunia pada 2016. Sejak itu, ia berhenti sekolah di bangku SMP dan menggantikan peran sang ayah sebagai pencari nafkah.
“Sebenarnya masih ada keinginan saya untuk melanjutkan sekolah, tapi keadaan memaksa,” ujarnya lirih.

Ibunya, Siti Dewi, yang saat itu sakit-sakitan, tak lagi mampu berjualan ikan seperti dulu. Fikri pun memilih turun ke laut. “Saya harus memilih antara sekolah atau membantu keluarga. Saya memilih keluarga,” katanya.
Kini, hari-harinya lebih banyak dihabiskan menyulam jaring dan melaut, bukan membaca buku pelajaran.

Risaldi dan Nazam: Penyesalan yang Disimpan Sendiri
Cerita Fikri berulang pada Risaldi. Setelah ayahnya meninggal pada 2015, ia berhenti sekolah dan fokus mencari ikan demi membiayai adik-adiknya.
“Penyesalan itu pasti ada. Tapi kalau saya tetap sekolah, siapa yang akan menghidupi keluarga?” ungkapnya.

Hal serupa dialami Nazam. Ia meninggalkan bangku SMA untuk membantu ibunya, Nur Bicce, yang berjuang menyekolahkan lima anak setelah sang ayah merantau ke Malaysia.
“Bapak merantau agar kami bisa sekolah. Tapi kalau saya juga terus sekolah, siapa yang bantu ibu?” katanya.
Di pesisir ini, pengorbanan menjadi bagian dari masa tumbuh.

Dinas Pendidikan: Ekonomi dan Pola Pikir
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sikka, Germanus Goleng, saat itu mengakui tingginya angka putus sekolah di wilayah pesisir.
“Secara data, khusus anak suku Bajo memang belum kami klasifikasikan, namun secara umum angka putus sekolah di Sikka sangat tinggi. Dan itu termasuk banyak dari suku Bajo,” katanya.
Menurut Germanus, faktor ekonomi menjadi penyebab utama, diperparah dengan pola pikir yang menganggap bekerja lebih penting daripada sekolah.
“Banyak anak Bajo berpikir, lebih baik melaut dan mendapat uang daripada sekolah,” ujarnya.
Program Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) telah dijalankan, tetapi tantangan akses dan kesadaran masyarakat masih besar, terutama di wilayah Permaan, Nangahure, Wuring, dan Nangahale.

Sekolah Berjuang Menahan Murid Tetap Tinggal
Kepala MIS Muhammadiyah Wuring, Nur Kholis, menyebut setiap tahun sekitar 12 siswa berhenti sekolah. Kebiasaan hidup nomaden mengikuti musim ikan membuat anak-anak kerap menghilang berbulan-bulan.
“Saat ikan di Wuring berkurang, mereka pindah. Anak-anak ikut pindah dan tiba-tiba hilang tanpa izin,” ujarnya.
Ia juga menyoroti minimnya dorongan orang tua. “Saat kami datangi rumahnya, mereka cuma bilang, ‘kalau anaknya nggak mau sekolah, ya sudah’,” katanya.
Nur Kholis menerapkan kebijakan fleksibel agar siswa yang lama absen tetap bisa kembali belajar. Ia berharap ada aturan yang mewajibkan ijazah minimal sebelum menikah untuk mencegah pernikahan dini.

FREN: Pendidikan Bukan Sekadar Biaya
Upaya perubahan juga datang dari Yayasan Flores Children Development (FREN). Ketua Bidang Advokasi FREN, Maria Nona Lensiandi, mengatakan persoalan utama bukan hanya soal biaya, tetapi cara pandang.
“Kami melihat banyak anak Suku Bajo lebih memilih melaut daripada sekolah karena mereka sudah bisa menghasilkan uang. Ini pola pikir yang harus diubah,” ujarnya.
Melalui Layanan Berbasis Komunitas (LBK), FREN melakukan sosialisasi tentang pendidikan, perlindungan anak, hingga kesehatan remaja. Namun keterbatasan dana membuat intervensi mereka belum maksimal.
“Sampai sekarang, pemerintah belum memberikan respons konkret terhadap usulan kami. Jika ada anggaran khusus, kami yakin kasus putus sekolah ini bisa ditekan,” tambah Maria.

DPRD: Laut Selalu Memberi, Sekolah Sering Diabaikan
Anggota DPRD Sikka, Baharudin, menilai persoalan ini berkaitan erat dengan budaya.
“Sejak dulu, masyarakat Suku Bajo percaya bahwa laut akan selalu memberi rezeki, jadi pendidikan sering kali dianggap tidak terlalu penting,” katanya.
Ia menyebut kesadaran pendidikan sempat meningkat pasca-gempa dan tsunami 1992, namun kebiasaan berpindah tempat tetap menjadi kendala besar.
“Banyak orang tua membiarkan anak mereka berhenti sekolah tanpa ada usaha untuk mendorong mereka melanjutkan pendidikan,” tegasnya.

Antara Ombak dan Masa Depan
Di tengah ombak yang tak pernah berhenti, anak-anak Bajo terus tumbuh dalam realitas yang keras. Mereka belajar tentang tanggung jawab sebelum sempat memahami arti cita-cita.
Namun harapan belum sepenuhnya tenggelam.
“Saya hanya ingin adik-adik saya sekolah, agar mereka tidak mengalami apa yang saya alami,” kata Fikri.
Laut mungkin memanggil mereka setiap hari. Tetapi selama masih ada kepedulian, kebijakan yang berpihak, dan kesadaran yang tumbuh, pendidikan tetap bisa menemukan jalannya—bahkan di atas rumah-rumah kayu yang berdiri di atas air.(Faidin)