FLORES TIMUR, Bajopos.com | Kamera telah diletakkan. Catatan jurnalistik telah ditutup. Langkah yang selama bertahun-tahun menyusuri jalan, kampung, desa dan berbagai sudut kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur itu akhirnya berhenti.
Namun, bagi keluarga, sahabat dan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya di dunia jurnalistik, perjalanan Ruben Riantoby belum benar-benar berakhir.
Namanya masih tinggal dalam cerita, hidup dalam kenangan. Jejak pengabdiannya tetap menjadi bagian dari perjalanan pers di Nusa Tenggara Timur.
Ruben Riantoby, wartawan senior yang selama bertahun-tahun mengabdikan dirinya di dunia pers, berpulang setelah mengalami kecelakaan tunggal di kawasan Bukit Fatimah, Larantuka, Kabupaten Flores Timur, pada Selasa (29/9/2026) malam.
Tampak, kepergiannya datang begitu cepat. Tidak banyak yang menyangka bahwa perjalanan jurnalistik yang masih dijalaninya akan berakhir dalam sebuah peristiwa yang kemudian membawa duka bagi keluarga, sahabat dan komunitas pers di Nusa Tenggara Timur.
Bagi para wartawan di Kabupaten Sikka, nama Ruben bukanlah nama yang asing. Ia bukan sekadar seseorang yang pernah bekerja sebagai wartawan. Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang jurnalistik di daerah itu.
Ia menjadi salah satu orang yang ikut membangun kebersamaan para wartawan, menggagas semangat jurnalistik melalui wadah yang akhirnya diberi nama Aliansi Wartawan Sikka (AWAS).
Ruben merupakan salah satu pendiri sekaligus Ketua Pertama AWAS.
Posisi itu bukan sekadar jabatan dalam sebuah organisasi. Di dalamnya terdapat sebuah perjalanan, gagasan dan semangat dari para wartawan yang pada masa itu berusaha membangun ruang kebersamaan bagi insan pers di Kabupaten Sikka. Kini, setelah Ruben pergi, perjalanan tersebut dikenang kembali.
Kamera, Catatan hingga Peliputan
Selama bertahun-tahun menjadi wartawan, kehidupan Ruben tidak pernah benar-benar jauh dari aktivitas jurnalistik. Kamera, alat perekam, catatan, narasumber dan berbagai peristiwa di lapangan menjadi bagian dari kesehariannya.
Ia turun ke lapangan, bertemu masyarakat menggali informasi, mendengarkan cerita dan kemudian membawa berbagai peristiwa itu ke ruang pemberitaan agar diketahui publik.
Bagi seorang wartawan, jalan menuju sebuah berita tidak selalu mudah. Ada perjalanan panjang, medan yang tidak selalu nyaman, narasumber yang harus ditemui, informasi yang harus diperiksa dan cerita masyarakat yang harus dipahami sebelum ditulis.
Ruben menjalani bagian-bagian itu puluhan tahun. Tidak hanya hadir ketika sebuah peristiwa besar menjadi perhatian publik. Namun, berbagai aktivitas masyarakat yang membutuhkan perhatian media juga menjadi bagian catatan jurnalistiknya. Pengabdian tersebut kemudian membawanya menjalankan tugas sebagai wartawan senior sekaligus Kontributor TVRI di Kabupaten Sikka.
Namun, yang paling dikenang oleh rekan-rekannya bukan hanya status atau jabatan yang pernah disandangnya. Melainkan semangatnya untuk tetap berada dekat dengan kehidupan masyarakat hingga umurnya yang terhitung sudah menua. Bahkan hingga menjelang akhir hayatnya, semangat jurnalistik itu masih melekat.
Ruben masih aktif melakukan peliputan dan menjalankan aktivitas jurnalistik di sejumlah wilayah Kabupaten Sikka.
Tidak seorang pun menyangka bahwa aktivitas jurnalistik tersebut kelak menjadi bagian dari perjalanan terakhirnya sebagai seorang pewarta.
Di Rumahnya Lahir Sebuah Organisasi Wartawan Berdiri
Di balik perjalanan panjang Ruben sebagai wartawan, ada sebuah cerita yang bagi keluarga besar AWAS memiliki tempat tersendiri. Cerita itu bermula dari sebuah rumah di Kota Uneng.
Ketua AWAS saat ini, Mario Sina mengenang kembali perjumpaannya dengan Ruben sekitar awal Februari 2014.
Ketika itu, kata Mario almarhum masih berada di penghujung masa kuliah di Universitas Nusa Nipa dan menjadi kontributor Flores Pos.
Bersama sejumlah wartawan muda lainnya, ia diajak bergabung oleh para senior yang tengah menginisiasi pembentukan organisasi wartawan di Kabupaten Sikka.
Rumah almarhum Ruben Riantoby jadi salah satu tempat penting dalam proses tersebut dan hingga akhirnya terselenggaranya pertemuan perdana di rumah almarhum Ruben Riantoby.
Di sana, wartawan muda dan senior duduk bersama berdiskusi, bertukar pikiran dan membicarakan gagasan tentang bagaimana membangun sebuah organisasi wartawan di Kabupaten Sikka.
Dari berbagai pertemuan dan proses tersebut, tepat pada 14 Februari 2014, Aliansi Wartawan Sikka akhirnya resmi dideklarasikan.
Ruben kemudian dipercaya menjadi Ketua Pertama AWAS. Bagi para wartawan muda kala itu, Ruben bukan hanya seorang ketua.
Bahkan lebih dari itu, ia dikenang sebagai sosok senior yang dipanggil dengan sebutan Bapa Ruben.
“Bagi kami yang masih muda, beliau bukan hanya ketua. Beliau adalah seorang bapa, tempat bertanya dan tempat belajar,” ungkap Ketua AWAS dalam sambutannya saat prosesi pemakaman.
Kalimat itu menggambarkan bagaimana sosok Ruben tidak hanya dikenang melalui organisasi yang pernah dipimpinnya, tetapi juga melalui hubungan antarmanusia yang dibangunnya bersama generasi wartawan setelahnya.
Kini, ketika berbagai regenerasi dan kepemimpinan AWAS berdiri meneruskan organisasi tersebut, ada kesadaran bahwa sebagian fondasi organisasi itu pernah diletakkan oleh Ruben bersama para senior lainnya.
“Ketika saya berdiri sebagai Ketua AWAS, saya sadar bahwa saya sedang melanjutkan organisasi yang salah satu fondasinya diletakkan oleh Bapa Ruben,” katanya.
“Karena itu, kepergian Ruben bukan hanya kehilangan seorang senior. Bagi keluarga besar AWAS, kepergian itu juga seperti kehilangan salah satu bagian dari sejarah organisasi,” lanjutnya.
Jurnalistik Bukan Sekadar Menulis Berita
Ada hal lain yang dikenang dari Ruben. Bagi dirinya, jurnalistik tidak semata-mata tentang menulis berita, mengambil gambar atau mengejar sebuah peristiwa. Ada keberanian, ada kebenaran dan ada kemanusiaan.
Dalam sejumlah kegiatan liputan bersama di desa-desa dan wilayah terpencil Kabupaten Sikka, Ruben disebut tidak terburu-buru meninggalkan lokasi setelah memperoleh bahan berita. Ia lebih banyak duduk, mendengarkan dan berusaha memahami.
Selain itu pula, masyarakat yang ditemuinya tidak hanya dipandang sebagai sumber informasi, tetapi sebagai manusia dengan kehidupan, persoalan dan cerita yang perlu di dengar.
“Bagi Bapa Ruben, wartawan harus melihat sendiri, mendengar sendiri dan memahami keadaan warga sebelum menulis. Terutama mereka yang kecil dan sering tidak memiliki suara,” ungkap Ketua AWAS.
Prinsip itu menjadi salah satu warisan yang terus dikenang oleh generasi wartawan muda yang pernah mengenalnya.
Sebab di tengah pekerjaan jurnalistik yang sering kali berpacu dengan waktu, ada pesan sederhana yang ditinggalkan Ruben: seorang wartawan harus terlebih dahulu melihat, mendengar dan memahami sebelum menyampaikan sebuah cerita kepada publik.
Pensiun dan Kesederhanaan
Perjalanan Ruben di dunia jurnalistik akhirnya memasuki masa pensiun pada 2023. Namun, pensiun dari pekerjaan jurnalistik tidak membuat hidupnya berhenti dari aktivitas. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mengurus tanaman, memelihara ternak babi dan ayam, menjalani hari-hari dengan kehidupan yang sederhana.
Ada pula kebiasaan kecil yang kini justru terasa begitu berarti bagi orang-orang yang pernah datang bertamu ke rumahnya.
Para tamu sering kali pulang tidak dengan tangan kosong. Buah-buahan seperti mangga atau pisang dari rumah Ruben menjadi bagian dari kenangan sederhana tersebut. Tidak ada kemewahan dalam cerita itu. Hanya sebuah rumah, tanaman, ternak dan buah-buahan yang diberikan kepada orang yang datang.
Tetapi, justru kenangan-kenangan sederhana seperti itulah yang sering kali menjadi sesuatu yang paling sulit dilupakan ketika seseorang telah pergi.
Kini, rumah itu tentu masih berdiri, tanaman mungkin masih tumbuh, pohon-pohon masih memberikan keteduhan. Namun, sosok yang selama ini menyambut tamu dan berbagi hasil kebunnya telah tiada.
Kabar Duka dari Larantuka
Selasa malam, 29 September 2026, kabar tentang kecelakaan yang dialami Ruben membawa duka.
Ruben meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal di kawasan Bukit Fatimah, Larantuka, Kabupaten Flores Timur.
Kabar tersebut kemudian menyebar dan membawa kesedihan bagi keluarga, sahabat serta komunitas jurnalistik di Nusa Tenggara Timur.
Bagi rekan-rekan wartawan yang selama bertahun-tahun mengenalnya, kepergian itu terasa begitu mendadak.
Seseorang yang selama ini dikenal sebagai bagian dari perjalanan pers di daerah itu kini harus meninggalkan dunia yang telah lama menjadi bagian dari hidupnya.
Tetapi kepergian seseorang tidak serta-merta menghapus apa yang telah ia lakukan. Karya jurnalistik Ruben tetap menjadi bagian dari perjalanan pers di Kabupaten Sikka.
Demikian pula dengan AWAS. Organisasi itu akan terus berjalan, sementara nama Ruben akan tetap dikenang sebagai salah satu tokoh yang ikut meletakkan fondasinya.
Ketika Ingatan Membawa pada Sosok Pewarta Lain
Kisah tentang kepergian Ruben juga mengingatkan pada sosok pewarta lain yang pernah menjalankan tugas jurnalistik di Kabupaten Sikka: Gabriel Langga, wartawan Media Indonesia yang akrab disapa Angga.
Dalam catatan yang ada, perjalanan Angga juga menyisakan sebuah cerita tentang impian yang terhenti.
Angga disebut tengah menjalani perjalanan menuju impiannya untuk menyelesaikan pendidikan strata dua atau S2. Namun, impian tersebut tidak sempat diselesaikannya.
Wartawan Media Indonesia yang bertugas di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur itu diperkirakan meninggal pada Selasa (13/6) malam di salah satu hotel di kawasan Rungkut Kidul, Surabaya, Jawa Timur.
Jenazahnya baru ditemukan pada Rabu (14/6) pukul 23.30 WIB.
Kisah Angga menghadirkan sisi lain dari kehidupan seorang wartawan.
Di balik tugas mencari berita, mendatangi narasumber dan menjalankan pekerjaan jurnalistik, seorang pewarta juga memiliki kehidupan, keluarga dan impian yang ingin dicapai. Angga memiliki impian untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang S2. Perjalanan menuju impian itu kemudian terhenti.
Dan kini, ketika Ruben kembali berpulang, ingatan terhadap para pewarta yang telah lebih dahulu pergi kembali terasa.
Mereka datang dari perjalanan yang berbeda. Mereka menjalani tugas dan kehidupan dengan cerita masing-masing.
Namun, ada satu hal yang mempertemukan mereka: dunia jurnalistik. Dunia yang menuntut seseorang untuk berjalan, mencari informasi, mendengarkan masyarakat dan menyampaikan cerita kepada publik.
Dua Nama, Dua Perjalanan, Satu Dunia yang Ditinggalkan
Ruben dan Angga berada dalam generasi dan perjalanan yang berbeda.
Ruben dikenal sebagai salah satu senior yang ikut meletakkan fondasi organisasi wartawan di Kabupaten Sikka.
Angga dikenang sebagai wartawan Media Indonesia yang bertugas di Sikka dan masih menyimpan impian untuk menyelesaikan pendidikan S2.
Keduanya memiliki jalan hidup masing-masing. Namun, kepergian mereka meninggalkan satu pesan yang sama tentang rapuhnya waktu dalam kehidupan seorang manusia.
Seorang wartawan dapat berangkat menjalankan tugas seperti hari-hari sebelumnya.
Tetapi tidak seorang pun tahu kapan perjalanan itu akan menjadi perjalanan terakhir.
Bagi Ruben, aktivitas jurnalistik di lapangan hingga menjelang akhir hayatnya menjadi bagian dari cerita terakhir seorang pewarta.
Bagi Angga, perjalanan mengejar pendidikan S2 yang diharapkan menjadi bagian dari masa depannya harus terhenti.
Di situlah kehidupan seorang manusia terasa begitu sederhana sekaligus penuh makna. Ada pekerjaan yang belum selesai, impian yang belum tercapai, cerita yang belum sempat ditulis, dan ada orang-orang yang akhirnya hanya bisa mengenang.
Di Tanah Kelahiran, Perjalanan Itu Ditutup
Kamis, 1 Oktober 2026, jenazah Ruben Riantoby dimakamkan di kampung halamannya. Di tanah kelahirannya di Adonara, Kecamatan Luba Kolit, Desa Lambunga, Kabupaten Flores Timur, keluarga, kerabat, sahabat dan orang-orang yang mengenalnya mengantarkan sang pewarta menuju tempat peristirahatan terakhir.
Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman.
Di hadapan keluarga almarhum, para imam, tokoh agama, tokoh masyarakat, rekan-rekan jurnalis serta sahabat, penghormatan terakhir diberikan kepada sosok yang selama hidupnya telah mengabdikan diri di dunia pers.
Di tempat itu pula, perjalanan panjang Ruben sebagai seorang wartawan seolah ditutup.
Jalan yang pernah dilaluinya, kamera yang pernah dibawanya, catatan yang pernah ditulisnya, narasumber yang pernah ditemuinya, masyarakat yang pernah di dengarnya.
Semuanya kini menjadi bagian dari kenangan.
Namun, sejarah tidak berhenti hanya karena seseorang telah pergi.
Nama Ruben tetap tinggal dalam perjalanan AWAS.
Tetap hidup dalam ingatan para wartawan muda yang pernah belajar kepadanya.
Tetap dikenang oleh mereka yang pernah duduk bersamanya, berdiskusi tentang berita, berbagi informasi dan menjalani perjalanan jurnalistik. Dan bagi keluarga, Ruben adalah bagian dari kehidupan yang tidak tergantikan.
Ketua AWAS, Mario Sina pun dalam sambutannya menyampaikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama ini mereka panggil Bapa Ruben.
“Terima kasih, Bapa Ruben. Terima kasih untuk kebersamaan, nasihat dan cerita-cerita. Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari perjalanan kami sebagai wartawan muda dan telah ikut menanamkan fondasi AWAS,” ungkapnya.
Kalimat itu menjadi salah satu penutup dari perjalanan seorang senior yang selama bertahun-tahun telah berjalan bersama dunia jurnalistik.
“Selamat jalan, senior kami. Selamat jalan, pembina kami.
Selamat jalan, Bapa Ruben Riantoby. Karya dan kebaikanmu akan tetap hidup dalam ingatan kami,” tutupnya.
Penulis : Faidin

