Ibunda Korban Kecewa, Minta Kasus Pembunuhan Anaknya Diusut Tuntas dan Siap Bawa ke Polda
SIKKA, Bajopos.com – Di tengah klarifikasi resmi Polres Sikka terkait isu dugaan SG melarikan diri, suara kekecewaan justru datang dari pihak keluarga korban. Ibu dari STN (14), remaja putri kelas II SMP MBC Ohe yang menjadi korban pembunuhan di Kecamatan Hewokloang, mengaku tidak puas dengan penanganan kasus tersebut.
Sebelumnya, melalui Kasat Reskrim Iptu Reinhard Dionisius Siga dan Kasi Humas Ipda Leonardus Tunga, kepolisian menegaskan bahwa SG tidak melarikan diri dan hingga kini masih berstatus saksi. Polisi juga menyebut proses hukum berjalan sesuai prinsip pro justitia dan tetap menghormati hak asasi manusia.
Namun bagi keluarga, penanganan kasus STN belum menjawab kegelisahan yang mereka rasakan.
Ibu almarhumah STN, Maria Yohanan Nona, Mama Noni sapaannya di kediamannya menyebut berbagai ketidakpuasannya atas penangan kasus yang menyebabkan kehilangan buah hatinya itu.
“Saya sebagai ibunya saya kecewa. Saya kecewa dari mulai kinerjanya, mulai dari kepolisian bagian Kewapante, dari Polsek, dari Polres, saya begitu kecewa. Karena untuk penanganan kasus anak saya seperti itu, mungkin karena kami itu miskin, kami orang bodoh,” ujar ibu korban, kepada wartawan.
Ia bahkan menilai ada kesan kasus anaknya tidak ditangani secara serius. Kekecewaan itu semakin memuncak setelah keluarga mendengar kabar bahwa SG yang disebut-sebut sebagai dalang utama justru dilepaskan karena masih berstatus saksi.
“Kemarin kami mendengar sebenarnya dalang utamanya itu dia, terus dilepaskan begitu saja. Saya sampai bilang, kalaupun saya harus ke mana pun, saya harus menuntut kasus anak saya untuk mendapatkan keadilan. Saya ibunya, saya berani. Saya mau anak saya mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya,” tegasnya di dampingi kedua anak laki-lakinya.
STN sendiri sempat menjadi perhatian publik di Kabupaten Sikka, Pulau Flores, NTT, setelah ditemukan meninggal dunia dalam kasus yang kini masih dalam tahap penyelidikan. SG sebelumnya sempat diperiksa dan bahkan dibawa ke IGD RSU TC Hillers Maumere karena mengeluh sakit saat pemeriksaan.
Bagi Ibu Noni, proses hukum harus memberikan kepastian dan rasa keadilan, bukan sekadar klarifikasi administratif. Ia meminta pemerintah dan aparat penegak hukum bertindak tegas dan transparan.
“Saya punya persepsi, apa yang mereka tanam mereka harus menuai hasilnya. Itu yang saya minta. Untuk semua pihak pemerintah, terkhusus dari kepolisian, saya minta kalau seandainya kepolisian Maumere tidak bisa menangani kasus anak saya dengan serius, saya mohon bantu saya agar saya bisa menaikkan kasus anak saya, mungkin di Polda atau di Metro, pokoknya saya mau keadilan untuk anak saya,” ujarnya dengan nada tegas.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan baru dalam penanganan kasus pembunuhan remaja 14 tahun ini. Di satu sisi, kepolisian menekankan profesionalitas dan independensi dalam proses hukum. Di sisi lain, keluarga korban berharap ada langkah konkret yang menunjukkan komitmen aparat dalam mengungkap siapa yang paling bertanggung jawab atas kematian STN.
Publik kini menunggu kelanjutan penyelidikan, termasuk kepastian status hukum SG serta perkembangan alat bukti yang dikantongi penyidik.(Faidin)

