Sel. Sep 8th, 2026

Dugaan Persetubuhan Anak di Talibura, Polres Sikka: Keluarga Korban Sudah di Ruang Penyidik

SIKKA, Bajopos.com | Perkara dugaan persetubuhan terhadap anak perempuan berusia 15 tahun di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, kembali memasuki babak baru.

Setelah keluarga korban menyampaikan keterangan bahwa pria berinisial MLI bukan pelaku dan menyebut adanya terduga pelaku lain, penyidik Polres Sikka kini menunggu laporan polisi (LP) baru dari pihak korban atau keluarganya.

Kapolres Sikka melalui Kasi Humas Polres Sikka, Ipda Leonardus Tunga, menegaskan bahwa penyidik tidak dapat begitu saja melakukan serangkaian tindakan penyidikan terhadap dugaan pelaku baru tanpa adanya dasar laporan polisi.

“Dasar untuk penyidik melakukan serangkaian tindakan penyidikan adalah berawal dari Laporan Polisi,” tegas Leonardus, Senin, 7 September 2026 saat dihubungi wartawan.

Pernyataan tersebut sekaligus memperjelas posisi hukum perkara setelah muncul perubahan keterangan dari keluarga korban.

Keluarga Korban Sudah Berada di Ruang Penyidik

Leonardus mengatakan, pihak pelapor yang merupakan keluarga korban saat ini telah berada di ruang penyidik Unit PPA Polres Sikka.

Kehadiran keluarga korban tersebut untuk mendapatkan penjelasan mengenai mekanisme pembuatan laporan polisi baru.

“Saat ini pihak pelapor (keluarga korban) berada di ruangan penyidik PPA Polres Sikka dan lagi dijelaskan tentang mekanisme pembuatan laporan baru,” jelasnya.

Dengan demikian, kepolisian telah membuka ruang bagi pihak korban dan keluarga untuk menyampaikan perkembangan serta membuat laporan baru sesuai prosedur hukum yang berlaku.

Namun hingga informasi tersebut disampaikan, laporan baru tersebut belum dibuat.

Polisi Belum Bisa Bergerak Berdasarkan Informasi Saja

Penegasan polisi ini menjadi penting karena sebelumnya keluarga korban telah menyampaikan adanya perubahan keterangan.

Keluarga menyebut MLI yang sebelumnya dilaporkan sebagai terduga pelaku bukan orang yang melakukan dugaan persetubuhan. Keluarga kemudian menyebut pria lain berinisial J sebagai orang yang diduga melakukan perbuatan tersebut.

Selain itu, keluarga korban juga menyampaikan adanya dugaan ancaman terhadap korban yang disebut menjadi alasan munculnya keterangan awal yang mengarah kepada MLI.

Namun, seluruh informasi tersebut belum secara otomatis menjadi dasar penyidikan terhadap pihak lain.

Polisi membutuhkan laporan resmi sebagai pintu masuk untuk melakukan tindakan penyidikan berikutnya.

Leonardus kembali menekankan bahwa sampai saat ini pihak korban belum membuat laporan polisi baru.

Dengan kata lain, meskipun keluarga korban telah menyampaikan informasi mengenai dugaan pelaku baru, proses hukum terhadap nama yang baru disebut tersebut belum dapat berjalan sebagaimana perkara yang telah dilaporkan sebelumnya.

Menunggu Keputusan Keluarga Korban

Situasi ini membuat perkembangan perkara kini berada pada tahap menunggu langkah pihak keluarga korban.

Keluarga telah berada di Unit PPA Polres Sikka dan mendapatkan penjelasan mengenai mekanisme pembuatan laporan baru. Namun, keputusan untuk membuat laporan baru tetap menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Jika laporan baru dibuat, penyidik memiliki dasar untuk melakukan serangkaian tindakan penyidikan berdasarkan laporan tersebut.

Selanjutnya, keterangan korban, saksi, bukti-bukti dan fakta di lapangan akan menjadi bagian yang harus diuji untuk memastikan apakah dugaan tindak pidana tersebut benar terjadi dan siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban hukum.

Arah Kasus Kini Berubah

Perkembangan ini sekaligus membuat arah kasus dugaan persetubuhan anak di Talibura berubah cukup signifikan.

Sebelumnya, MLI dilaporkan sebagai terduga pelaku dan sempat diamankan polisi. Namun dalam perkembangan berikutnya, keluarga korban mengklarifikasi bahwa MLI bukan pelaku.

Bahkan keluarga korban menyampaikan permintaan maaf kepada MLI dan keluarga besarnya serta menyatakan bahwa MLI tidak bersalah atas dugaan perbuatan tersebut.

Kini muncul nama lain yang disebut oleh keluarga korban sebagai pihak yang diduga melakukan perbuatan tersebut.

Tetapi sampai saat ini, belum ada LP baru yang menjadi dasar bagi penyidik untuk memulai rangkaian penyidikan terhadap dugaan pelaku baru tersebut.

Apa yang Terjadi Setelah LP Dibuat?

Jika laporan baru nantinya dibuat, sejumlah fakta penting tentu perlu kembali didalami penyidik.

Mulai dari keterangan korban, dugaan ancaman yang disebut terjadi sebelum korban memberikan keterangan awal, keberadaan orang-orang di sekitar lokasi yang disebut sebagai TKP, hingga keterangan pemilik rumah dan saksi lainnya.

Polisi juga perlu memastikan setiap perubahan keterangan memiliki dasar dan dapat diuji dengan alat bukti yang sah.

Sebab, kasus yang melibatkan anak membutuhkan kehati-hatian tinggi agar korban tetap terlindungi, sementara proses hukum tetap berjalan secara objektif dan berdasarkan bukti.

Untuk saat ini, posisi perkara cukup jelas: penyidik masih menunggu laporan baru dari pihak korban atau keluarga korban.

Sementara keluarga korban telah berada di Unit PPA Polres Sikka untuk mendapatkan penjelasan mengenai mekanisme pembuatan laporan tersebut.

Bola kini berada di tangan keluarga korban. Setelah laporan baru dibuat, barulah penyidik memiliki dasar untuk menentukan langkah hukum berikutnya.

Reporter : Faidin

Lukas Luwarso Kritik Wawancara BAP dengan Jokowi “Jurnalisme Jangan Terjebak Agenda Setting Kekuasaan”

JAKARTA, Bajopos.com | Wawancara eksklusif tim Bocor Alus Politik (BAP) Tempo dengan mantan Presiden Joko Widodo kembali menjadi bahan perdebatan. Kali ini, sorotan datang dari Lukas Luwarso, seorang aktivis sekaligus jurnalis senior.

Dalam diskusi VOX NUSA PODCAST bertajuk “Membedah Jurnalisme dan Komunikasi Politik Kekuasaan”, mantan ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini mempertanyakan daya kritis wawancara BAP dengan Jokowi.

Ia menilai percakapan tersebut justru lebih banyak memberi ruang kepada Jokowi untuk menjelaskan dan membentuk kembali narasi mengenai dirinya ketimbang menguji secara mendalam berbagai persoalan yang melekat pada masa kekuasaannya.

Wawancara BAP dengan Jokowi sebelumnya memang menjadi perhatian luas. Tim BAP menyebut wawancara dilakukan dalam dua kesempatan, yakni 22 Juli 2026 dan 11 Agustus 2026.

Dalam wawancara utama yang kemudian dipublikasikan, Jokowi berbicara lebih dari satu jam mengenai hubungannya dengan Presiden Prabowo Subianto, manuver politik menuju 2029, serta peran dirinya dan Iriana dalam pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden.

Namun, bagi Lukas, persoalannya bukan sekadar siapa yang diwawancarai atau berapa lama percakapan berlangsung. Persoalan utamanya adalah bagaimana seorang jurnalis menguji narasi orang yang pernah memegang kekuasaan.

“Jurnalisme semestinya tidak berhenti pada menyediakan ruang bagi seorang politikus untuk menjelaskan versinya sendiri. Jurnalisme harus menguji, mengonfrontasi, dan menelusuri kembali klaim-klaim yang disampaikan narasumber,” kata Lukas, Sabtu (5/8/2026).

Dalam wawancara yang berlangsung sekitar 30 menit itu, Lukas berkata bahwa tugas utama jurnalisme adalah menyenangkan orang susah dan mempersoalkan mereka yang sedang atau pernah berkuasa.

Ia melihat adanya pergeseran dari tradisi jurnalistik yang selama ini melekat pada Tempo. Jika tradisi investigasi seharusnya membongkar persoalan di balik kekuasaan, Lukas menilai wawancara BAP dengan Jokowi justru berisiko menjadikan mantan presiden itu sebagai pusat narasi.

Lukas kemudian mempertanyakan mengapa sejumlah klaim Jokowi dalam wawancara tersebut tidak didorong lebih jauh dengan pertanyaan konfrontatif.

Salah satunya berkaitan dengan pencalonan Gibran. Dalam wawancara, Jokowi menjelaskan perannya dalam proses politik yang mengantarkan putranya menjadi calon wakil presiden. Jokowi juga menjawab sejumlah isu mengenai hubungan politiknya dengan Prabowo dan langkah politik menuju Pemilu 2029.

Bagi Lukas, pernyataan semacam itu semestinya tidak berhenti sebagai jawaban seorang mantan presiden.

Klaim seperti tidak adanya “surat sakti” atau tidak adanya perintah langsung, menurut dia, justru membutuhkan pengujian jurnalistik lebih lanjut, seperti apa faktanya, siapa yang terlibat, bagaimana prosesnya berlangsung, dan apa bukti yang dapat menguatkan atau membantah pernyataan tersebut.

Di titik inilah Lukas melihat persoalan mendasar dalam wawancara BAP. Menurut dia, jurnalis tidak cukup hanya bertanya, tetapi juga harus menguji jawaban.

Sebab, ketika seorang mantan presiden berbicara mengenai masa kekuasaannya sendiri, setiap pernyataan memiliki kepentingan politik dan komunikasi yang perlu dibaca secara kritis.

Lukas juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai agenda setting. Menurut dia, wawancara tersebut cenderung mengikuti agenda yang dibawa Jokowi, seperti bagaimana posisi politiknya setelah tidak lagi menjadi presiden, hubungannya dengan Prabowo, kemungkinan manuver menuju 2029, serta berbagai isu politik kontemporer.

Padahal, kata Lukas, masih banyak persoalan pada masa pemerintahan Jokowi yang belum selesai dipertanggungjawabkan secara politik maupun jurnalistik.

Ia mencontohkan polemik ijazah, persoalan dinasti politik, proses pencalonan Gibran, serta berbagai kontroversi kebijakan dan praktik kekuasaan selama dua periode pemerintahan Jokowi.

Terjebak Agenda Setting Jokowi?

Dalam pandangan Lukas, ketika media besar mengikuti isu yang ditentukan oleh seorang mantan penguasa, media berisiko kehilangan posisi sebagai pihak yang menentukan pertanyaan publik.

“Yang terjadi justru agenda setting-nya Jokowi,” demikian inti kritik Lukas dalam diskusi tersebut.

Dengan kata lain, bukan media yang menentukan persoalan apa yang harus dijelaskan oleh mantan presiden, melainkan mantan presiden yang berhasil membawa media masuk ke dalam isu yang ingin ia bicarakan.

Lukas juga membaca wawancara tersebut dari sisi komunikasi politik. Ia mempertanyakan apakah percakapan dengan BAP turut membantu membangun kembali citra Jokowi sebagai sosok sederhana dan merakyat.

Citra “tukang kayu”, orang biasa dari Solo, dan pemimpin yang dekat dengan rakyat menjadi modal komunikasi politik Jokowi pada awal karier politiknya.

Namun, menurut Lukas, citra tersebut kini berhadapan dengan realitas seorang mantan presiden yang memiliki jaringan politik luas, pengaruh terhadap partai, keluarga yang berada di lingkar kekuasaan, serta kepentingan politik menuju 2029.

Dalam konteks itu, ia menggunakan gambaran “Leviathan politik” untuk menunjukkan perubahan skala kekuasaan dan pengaruh Jokowi.

“Wawancara tersebut secara tidak langsung ikut membantu menghidupkan kembali citra lama Jokowi sebagai sosok sederhana, sementara pertanyaan mengenai jejak kekuasaannya justru tidak memperoleh porsi yang sebanding,” ujarnya.

Kritik Lukas pada akhirnya tidak berhenti pada BAP atau Tempo semata. Ia mengarah pada problem yang lebih besar dalam relasi antara media dan kekuasaan.

Media memiliki posisi penting dalam menentukan isu yang menjadi perhatian publik. Karena itu, ketika berhadapan dengan figur yang pernah memiliki kekuasaan sangat besar, media dituntut untuk menjaga jarak kritis.

Jurnalisme, menurut Lukas, bukan sekadar menghadirkan suara seorang tokoh kepada publik. Lebih dari itu, jurnalisme harus menguji suara tersebut.

Dalam kasus wawancara Jokowi, ia melihat adanya risiko ketika media justru ikut mengangkat kembali narasi yang ingin dibangun sang mantan presiden—tentang dirinya, masa lalu kekuasaannya, dan masa depan politiknya.

“Jangan sampai media bukan lagi membongkar agenda kekuasaan, tetapi justru menjadi bagian dari agenda tersebut,” katanya.

Sebab, jika seorang mantan presiden datang membawa agenda politiknya sendiri dan media mengikuti agenda itu tanpa menguji secara menyeluruh persoalan yang mengitarinya, maka yang terjadi bukan lagi sekadar wawancara.

Bisa jadi, seperti yang dipersoalkan Lukas, publik sedang menyaksikan bagaimana kekuasaan menemukan panggung barunya setelah meninggalkan istana.

Reporter : Petrus Fidelis Ngo

Uang dan Perut: Ikatan Abadi yang Menguji Kemanusiaan

Oleh: Ikbal Tehuayo

UANG dan perut ibarat pasangan suami istri yang sudah terikat kuat, selalu terhubung sejak mentari datang menyapa semesta hingga kembali pamit terbenam di petang hari.

Saat fajar mengintip di ufuk timur, ibu-ibu di dapur mulai menghitung-hitung berapa lembar rupiah yang harus pamit dari dompetnya demi perut buah hatinya yang kosong. Saban hari, di kepala kita selalu terjadi konflik tanpa jeda hanya soal perut dan uang.

Perut yang lapar tidak peduli seberapa tebal isi dompet. Ia tak peduli apa jabatan dan pangkatmu. Bila waktunya tiba, kita dipaksa mengisinya.

Hubungan uang dan perut bukan baru kemarin sore. Ia sudah menjadi sejarah yang tertulis lama dalam jejak-jejak kehidupan manusia. Tak ada jeda dalam ragam aktivitas manusia di luar sana: mulai dari juru parkir, ojol, PNS, hingga penjual sembako. Ini merupakan gambaran nyata dari urusan uang dan perut.

Uang dan perut bukanlah urusan sepele. Tak sedikit persoalan manusia berawal di sini. Tak sulit kita temukan data yang menginformasikan runtuhnya rumah tangga di negeri ini yang disebabkan oleh uang dan perut. Banyak kasus yang membuat nyawa melayang, penjarahan, hingga kecurangan semuanya dilakukan demi uang dan perut.

Pada bingkai sejarah, uang dan perut bukan lagi catatan asing. Kerja paksa di bumi Nusantara merupakan gambaran nyata untuk mengumpulkan uang dan mengamankan perut. Great Depression 1929, Global Financial Crisis 2008, dan Covid-19 pada tahun 2020 mengguncang uang dan perut di seluruh dunia. Artinya, sejarah telah menginformasikan kepada kita bahwa uang dan perut adalah dua hal yang tidak bisa diabaikan.

Uang dan perut punya kesaktian menjelma. Ia bisa menjadi putusan hakim yang keliru, putusan KPU yang tidak adil, pembunuhan di jalanan, tindakan pencurian, pembuangan bayi, hingga mengakhiri nyawa sendiri.

Sangat penting kita mempunyai bekal pengetahuan tentang uang dan perut, sebab ini bukan persoalan biasa. Bukan persoalan kelompok orang di wilayah tertentu saja, melainkan persoalan manusia di kolong langit ini, mulai dari Asia, Eropa, Amerika, hingga Afrika.

Lapar tidak mengenal agama tuannya. Tidak peduli miskin atau kaya, tidak peduli pangkat dan jabatan. Ia hanya ingin satu hal: berikan ia makan. Bila tuntutan perut sangat kuat dan tidak bisa dipenuhi karena keterbatasan uang, di sinilah kadang manusia diuji: tetap mempertahankan kemanusiaannya atau terjatuh ke titik kebinatangannya demi bisa mempertahankan hidupnya.

Penulis adalah wartawan Bajopos.com

UPTD PPA Sikka Tak Punya Shelter, Korban Persetubuhan Anak Terancam Kehilangan Ruang Aman

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah penanganan kasus kekerasan terhadap anak, Kabupaten Sikka masih menghadapi persoalan serius: UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) belum memiliki shelter sendiri untuk menampung korban yang membutuhkan tempat perlindungan.

Kondisi itu kembali mencuat dalam penanganan kasus dugaan persetubuhan terhadap seorang anak perempuan berusia 15 tahun di Kecamatan Talibura.

Kepala UPTD PPA Kabupaten Sikka, Yani Yosepha, kepada Bajopos.com, Minggu, 6 September 2026, mengungkapkan bahwa keterbatasan fasilitas menjadi salah satu kendala utama dalam memberikan pendampingan dan perlindungan kepada korban.

“Kami belum memiliki shelter. Saat ini UPTD PPA Kabupaten Sikka menggunakan shelter mitra, namun kuotanya juga penuh sehingga tidak bisa menampung korban lagi,” ungkap Yani saat dikonfirmasi wartawan.

Pernyataan tersebut menunjukkan persoalan yang lebih besar dari sekadar satu kasus. Ketika seorang anak berada dalam situasi yang membutuhkan perlindungan khusus, negara melalui pemerintah daerah seharusnya memiliki ruang aman yang dapat digunakan untuk memastikan korban tidak berada dalam lingkungan yang berpotensi menimbulkan tekanan kembali.

Namun, kondisi di Sikka justru memperlihatkan bahwa UPTD PPA masih bergantung pada fasilitas milik mitra.

Shelter Penuh, Kemana Korban Harus Dibawa?

Persoalan shelter menjadi semakin krusial karena dalam kasus kekerasan terhadap anak, kebutuhan korban tidak berhenti pada pemeriksaan atau pelaporan di kepolisian.

Korban dapat membutuhkan tempat aman, pendampingan psikologis, perlindungan dari tekanan pihak lain, hingga pemulihan dalam lingkungan yang kondusif.

Dalam kasus yang sedang ditangani di Talibura ini, UPTD PPA juga menghadapi kendala karena korban masih berada bersama keluarga.

Yani menyebut kondisi tersebut membuat proses pendampingan menjadi sulit dilakukan secara optimal.

Di sisi lain, kedua orang tua korban disebut telah bercerai dan masing-masing telah memiliki keluarga baru. Korban saat ini tinggal bersama kakek dan pamannya.

Situasi tersebut membuat kebutuhan terhadap tempat perlindungan yang aman menjadi semakin penting.

Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi mendasar: ketika korban membutuhkan tempat aman dan shelter mitra dalam kondisi penuh, ke mana korban harus ditempatkan?

Perlindungan Anak Jangan Bergantung pada Ketersediaan Shelter Mitra

Ketergantungan terhadap shelter mitra menjadi pekerjaan rumah yang tidak kecil bagi Pemerintah Kabupaten Sikka.

Mitra memang dapat membantu pemerintah dalam menyediakan ruang perlindungan. Namun, kebutuhan perlindungan terhadap perempuan dan anak tidak semestinya sepenuhnya bergantung pada ada atau tidaknya kamar kosong di fasilitas milik pihak lain.

Apalagi UPTD PPA merupakan bagian dari sistem perlindungan perempuan dan anak di daerah.

Ketiadaan shelter sendiri berpotensi membuat pilihan penanganan menjadi terbatas ketika ada korban yang membutuhkan tempat tinggal sementara atau perlindungan khusus.

Persoalannya bukan semata-mata soal bangunan.

Shelter merupakan bagian dari ruang aman bagi korban agar anak dapat menjalani proses pendampingan tanpa tekanan dan tanpa harus terus berada dalam situasi yang berpotensi mengganggu pemulihannya.

Kasus Talibura Membuka Persoalan yang Lebih Besar

Kasus dugaan persetubuhan anak di Talibura juga memperlihatkan betapa kompleksnya persoalan perlindungan anak.

Sebelumnya, terjadi perubahan keterangan mengenai orang yang diduga sebagai pelaku. MLI yang sempat dilaporkan dan diamankan kemudian disebut oleh keluarga korban bukan sebagai pelaku. Keluarga korban bahkan telah meminta maaf kepada MLI dan keluarganya.

Dalam perkembangan terbaru, pihak keluarga menyebut adanya pria lain berinisial J sebagai orang yang diduga melakukan perbuatan tersebut. Keluarga juga menyampaikan adanya dugaan ancaman terhadap korban.

Namun, menurut Yani, laporan polisi terhadap terduga pelaku baru tersebut hingga 6 September 2026 belum dibuat oleh pihak keluarga korban.

Situasi seperti ini justru menunjukkan pentingnya pendampingan profesional dan ruang aman bagi korban.

Sebab, setiap perubahan keterangan dalam perkara yang melibatkan anak harus ditangani secara hati-hati. Anak harus dipastikan dapat memberikan keterangan tanpa tekanan, intimidasi maupun pengaruh dari pihak lain.

Pemerintah Daerah Perlu Menjawab

Ketiadaan shelter sendiri bukan persoalan yang seharusnya hanya dibebankan kepada UPTD PPA.

Ini merupakan persoalan kebijakan dan tanggung jawab pemerintah daerah.

Jika pemerintah daerah serius membangun sistem perlindungan perempuan dan anak, maka ketersediaan tempat perlindungan yang layak semestinya menjadi salah satu kebutuhan dasar yang diperhitungkan.

Bukan menunggu sampai terjadi kasus besar, baru kemudian mencari tempat penampungan.

Kasus Talibura setidaknya menjadi alarm bahwa perlindungan anak tidak cukup hanya dengan laporan polisi, pemeriksaan saksi dan proses hukum.

Anak korban membutuhkan tempat yang aman. Ketika tempat aman itu tidak tersedia, maka pertanyaan yang harus dijawab pemerintah bukan lagi mengapa shelter belum ada, tetapi kapan Kabupaten Sikka memiliki shelter sendiri yang benar-benar siap digunakan ketika seorang anak membutuhkan perlindungan?

Sementara, dalam perkara yang menyangkut anak, keterbatasan fasilitas tidak boleh berubah menjadi keterbatasan perlindungan.

Identitas korban dalam pemberitaan ini disamarkan dengan nama “Apel” untuk melindungi privasi dan kepentingan terbaik anak.

Reporter : Faidin

Peringatan Maulid Nabi di Masjid Al-Fatah Makassar, Menterjemahkan Kecintaan Kepada Rasulullah

MAKASSAR, Bajopos.com | Malam itu, Masjid Al-Fatah Hertasning, Makassar, bukan sekadar menjadi tempat berkumpulnya jamaah. Masjid tersebut berubah menjadi ruang untuk kembali mengingat sosok yang akhlaknya menjadi teladan umat: Nabi Muhammad SAW.

Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW digelar Pengurus Masjid Al-Fatah Hertasning, Sabtu (5/9/2026) malam, sekitar pukul 20.07 WITA.

Mengangkat tema “Meneladani Rasulullah SAW: Esensi Maulid dalam Membangun Generasi Berakhlak”, kegiatan berlangsung khidmat dengan dihadiri jamaah dari berbagai kalangan.

Namun, sebelum lantunan ayat suci dan tausiah menggema, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Fatah Hertasning, H. Natsir Barlin, terlebih dahulu menyampaikan pesan yang tak kalah penting.

Ia mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu mengungkap dan menemukan pelaku pencurian yang terjadi beberapa hari sebelumnya di lingkungan masjid.

Apresiasi diberikan kepada pihak kepolisian, media sosial, hingga media elektronik yang turut membantu memberikan informasi kepada masyarakat.

Di hadapan jamaah, Natsir juga mengingatkan agar setiap orang tetap waspada dan menjaga barang bawaan masing-masing.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masjid bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga ruang bersama yang membutuhkan kepedulian dan rasa tanggung jawab seluruh jamaah.

Maulid Bukan Sekadar Tradisi

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Kalam Ilahi yang dipimpin Ustadz Ramadhani, selaku imam Masjid Al-Fatah Hertasning.

Ketua Panitia, Drs. Kusnadi, M.Pd, dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi di Masjid Al-Fatah Hertasning diupayakan terlaksana setiap tahun.

Bukan semata-mata karena tradisi, tetapi sebagai ikhtiar untuk terus menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW.

Kusnadi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan, terutama para donatur yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Ia juga memberikan penghargaan kepada para ibu yang ikut mempersiapkan konsumsi, termasuk kaddo minyak dan telur yang menjadi salah satu ciri khas dalam peringatan Maulid.

Suasana pun sesekali pecah oleh humor Kusnadi ketika menggambarkan keberadaan Remaja Masjid.

“Remaja masjid di sini unik, rata-rata giginya belum tumbuh sempurna,” ujarnya dengan nada bercanda.

Sambutan tersebut ditutup dengan pantun:

“Buah pinang buah pepaya
Akar dan buahnya bisa jadi obat
Selamat datang di Masjid Al-Fatah
Kehadiran Bapak-Ibu buat kami tambah semangat.”

Dari Al-Fatah Menuju Hijrah Hati

Pesan utama malam itu kemudian disampaikan Al-Ustadz Dr. H. Sa’ad Kafrawi, S.H., M.H., C.Med.

Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah tidak berhenti pada kemeriahan Maulid, tetapi menggali makna yang lebih dalam dari peringatan kelahiran Rasulullah SAW.

Ia mengulas makna nama Al-Fatah yang berarti “terbuka”, sementara Muhajirin berarti orang-orang yang berhijrah.

Menurutnya, kedua makna tersebut dapat menjadi simbol perjalanan spiritual manusia.

Hati harus terbuka untuk menerima kebenaran dan siap berhijrah menuju jalan yang diridai Allah SWT.

“Hijrah” dalam konteks itu bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga perubahan sikap, perilaku dan akhlak.

Karena itu, menurut Ustadz Sa’ad, Maulid seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana kita telah meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari?

Ia juga mendorong pengurus masjid memanfaatkan perkembangan teknologi dengan memiliki akun media sosial.

Dengan demikian, ceramah dan berbagai kegiatan keagamaan tidak berhenti di dalam dinding masjid, tetapi dapat menjangkau jamaah yang tidak sempat hadir secara langsung.

Antara Merayakan dan Memperingati

Dalam ceramahnya, Ustadz Sa’ad juga mengajak jamaah memahami perbedaan antara istilah “merayakan” dan “memperingati” Maulid.

Menurutnya, merayakan cenderung memiliki konotasi pesta dan foya-foya, sedangkan memperingati lebih diarahkan kepada upaya mengambil pelajaran dan keteladanan dari kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Ia juga mengingatkan agar perbedaan pandangan mengenai Maulid tidak menjadi alasan untuk saling menyalahkan.

Menurutnya, jangan hanya mengatakan sebuah kegiatan tidak memiliki dalil, sementara pada saat yang sama tidak ada pula dalil yang secara khusus melarangnya.

Terlebih, menurut dia, kegiatan Maulid diisi dengan hal-hal positif seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah makanan dan mempererat silaturahmi, selama pelaksanaannya tidak mengandung kemusyrikan maupun perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Cinta kepada Rasulullah Dibuktikan dengan Berbagi

Pesan paling kuat yang disampaikan Ustadz Sa’ad adalah tentang akhlak Rasulullah SAW dalam memperlakukan sesama.

Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang gemar berbagi dan membalas keburukan dengan kebaikan.

Akhlak tersebut, kata dia, menjadi salah satu kekuatan dakwah Rasulullah. Bukan dengan kebencian, tetapi dengan kasih sayang dan keteladanan.

Dari situlah lahir sebuah pesan sederhana namun mendalam: cinta kepada Rasulullah tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus terlihat dalam perbuatan.

Berbagi kepada sesama, menjaga silaturahmi, memaafkan kesalahan, berbuat baik bahkan kepada orang yang berbuat buruk, merupakan bagian dari upaya meneladani akhlak Nabi.

“Cinta tertinggi adalah berbagi,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam ceramah tersebut.

Akhlak Rasulullah bahkan mampu mengetuk hati banyak orang yang sebelumnya memusuhi beliau. Tidak sedikit orang yang kemudian memeluk Islam dan menjadi sahabat Rasulullah setelah menyaksikan langsung kemuliaan akhlaknya.

Peringatan Maulid di Masjid Al-Fatah Hertasning akhirnya tidak hanya menjadi agenda tahunan.

Ia menjadi sebuah pengingat bahwa kelahiran Rasulullah SAW semestinya menghadirkan kelahiran kembali akhlak mulia dalam diri umat.

Sebab, Maulid akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti pada acara dan seremonial.

Cinta kepada Rasulullah menemukan maknanya ketika akhlak beliau mulai hidup dalam perilaku umatnya.

Penulis : Ikbal Tehuayo

Fakta Baru Kasus Dugaan Persetubuhan Anak di Talibura: Korban Dibawah Ancaman hingga Menyebut MLI

SIKKA, Bajopos.com | Kasus dugaan persetubuhan terhadap anak perempuan berusia 15 tahun di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, memasuki babak baru.

Terjadi perubahan keterangan yang secara langsung mengubah arah perkara. Pria berinisial MLI, yang sebelumnya dilaporkan dan diamankan polisi sebagai terduga pelaku, kini disebut oleh pihak keluarga korban bukan orang yang melakukan perbuatan tersebut.

Fakta baru itu terungkap setelah keluarga kembali meminta keterangan kepada korban. Dalam penjelasan keluarga korban, korban kemudian mengakui bahwa orang yang diduga melakukan persetubuhan tersebut adalah pria lain berinisial J.

Perubahan keterangan tersebut disampaikan langsung oleh pihak keluarga korban dan keluarga MLI saat mendatangi Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sikka), Kamis, 3 September 2026.

Kedua belah pihak keluarga kemudian difasilitasi untuk melakukan mediasi oleh PPA Polres Sikka.

MLI Disebut Bukan Pelaku

Masludin, pihak keluarga MLI, mengatakan pada awalnya keluarganya menerima informasi bahwa MLI diduga sebagai pelaku.

Namun, setelah perkara ditelusuri dan MLI menjalani pemeriksaan, muncul fakta serta keterangan baru yang menurutnya menunjukkan bahwa MLI bukan pelaku sebenarnya.

“Memang awalnya diduga yang melakukan pemerkosaan itu yang berinisial MLI. Tetapi dalam perjalanan telah ditelusuri, diperiksa, ternyata bukan MLI pelakunya. Tetapi orang lain yang tadi sudah disebutkan berinisial J,” ujar Masludin saat ditemui di Unit PPA Polres Sikka, Kamis, 3 September 2026.

Menurut Masludin, kondisi tersebut kemudian mendorong kedua keluarga untuk kembali duduk bersama dan menyelesaikan persoalan yang muncul akibat dugaan salah tuduh terhadap MLI.

“Kita bisa duduk di sini sama-sama untuk melakukan proses pencabutan kasus ini untuk diselesaikan secara keluarga. Dan kita berdamai di sini,” katanya.

Masludin mengatakan, sebelum mediasi dilakukan di Polres Sikka, pihak keluarga MLI juga telah berupaya mendatangi keluarga korban untuk mencari penyelesaian secara kekeluargaan.

Namun, karena kasus tersebut telah diketahui publik, penyelesaian persoalan menjadi lebih kompleks.

Keluarga Korban Minta Maaf

Sementara itu, M. Yasir, paman korban, secara terbuka menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf kepada MLI dan keluarga besarnya.

Yasir mengatakan, awalnya keluarga menerima keterangan dari korban yang menyebut MLI sebagai orang yang melakukan perbuatan tersebut.

Berdasarkan keterangan itu, keluarga kemudian melaporkan perkara tersebut kepada polisi.

Namun, ketika proses pemeriksaan berlangsung di Unit PPA Polres Sikka, MLI disebut tidak mengakui perbuatan yang dituduhkan kepadanya.

Kondisi itu membuat keluarga korban kembali mempertanyakan keterangan awal korban.

“Saya selaku paman kembali ke rumah menanyakan kembali kepada anak saya, ponakan saya. Ternyata di situ korban ini mengaku bahwa pelakunya bukan berinisial MLI,” ujar Yasir.

Menurut Yasir, korban kemudian menyebut pria berinisial J sebagai orang yang diduga melakukan perbuatan tersebut.

Korban di Ancam

Perubahan keterangan tersebut juga disertai pengakuan mengenai alasan korban sebelumnya menyebut nama MLI.

Yasir mengatakan, berdasarkan pengakuan korban kepada dirinya, korban diduga mendapat ancaman dari seseorang yang disebut merupakan teman dari J, yakni berinisial T.

“Kenapa korban ini sampai diduga menuduh orang lain yang melakukannya? Karena menurut si korban dia diancam,” kata Yasir.

Ia bahkan menirukan pengakuan korban mengenai ancaman yang diterimanya.

“Kalau kamu berani mengatakan pelakunya adalah si J maka kami akan memukul kamu, menginjak kamu,” ujar Yasir, menirukan pengakuan korban.

Menurut Yasir, ancaman yang diceritakan korban bukan menggunakan senjata tajam atau benda tertentu.

“Kalau saya tanya kepada si korban ini, dia diancam, diancam berupa bahasa tegas. Kemudian tidak ada barang tajam di situ. Tetapi berupa bahasa tubuh yang mengancam,” jelasnya.

Keterangan tersebut menjadi bagian penting yang perlu didalami lebih lanjut oleh aparat penegak hukum untuk memastikan apakah benar terjadi intimidasi terhadap korban dan bagaimana pengaruhnya terhadap keterangan awal dalam perkara tersebut.

TKP Disebut Berada di Rumah Berinisial L

Dalam perkembangan yang sama, keluarga korban juga menyebut lokasi yang diduga menjadi tempat kejadian perkara.

Menurut Yasir, berdasarkan keterangan terbaru korban, dugaan persetubuhan terjadi di sebuah rumah milik pria berinisial L.

“TKP menurut keterangan dari korban itu di rumahnya bapak yang berinisial L,” ungkap Yasir.

Keluarga korban, kata dia, telah mendatangi pemilik rumah tersebut untuk meminta penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya.

Menurut Yasir, L mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut.

“Dia bilang, saya tidak tahu apa-apa,” ujar Yasir.

Namun, berdasarkan penjelasan yang diterima keluarga korban, L saat kejadian disebut tidak berada di rumah karena sedang mengungsi akibat gempa.

“Ternyata memang beliaunya ini tidak tahu karena beliau ini lagi ngungsi akibat gempa kemarin. Menurut ceritanya itu beliau ini lagi ngungsi di rumah mertuanya,” jelas Yasir.

Rumah Disebut Tetap Terbuka

Keterangan lain yang muncul adalah mengenai kondisi rumah tersebut saat pemiliknya tidak berada di lokasi.

Menurut Yasir, rumah dalam keadaan tidak ditempati oleh pemiliknya. Namun, rumah tersebut disebut tetap dijaga oleh pekerja yang berada di sekitar tempat usaha.

“Rumahnya itu dijaga oleh anak-anak gudang, karyawan pekerja ikan yang kerja di situ,” katanya.

Keterangan ini memunculkan pertanyaan penting yang masih membutuhkan jawaban: siapa saja yang berada di sekitar rumah tersebut pada malam kejadian, siapa yang mengetahui keberadaan korban, dan apakah ada orang lain yang mengetahui atau melihat rangkaian peristiwa tersebut?

Pertanyaan itu menjadi penting karena perubahan keterangan korban kini tidak hanya menyangkut siapa yang diduga melakukan persetubuhan, tetapi juga menyentuh dugaan adanya intimidasi terhadap korban serta keberadaan sejumlah orang di sekitar lokasi.

Dua Keluarga Sepakat Berdamai

Dalam pertemuan di Unit PPA Polres Sikka, keluarga MLI dan keluarga korban kemudian melakukan perdamaian.

Kedua pihak menandatangani surat pernyataan perdamaian dan menyatakan tidak akan melanjutkan persoalan tersebut di kemudian hari dalam konteks persoalan yang telah disepakati untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

Masludin mengatakan, perdamaian tersebut juga berkaitan dengan persoalan dugaan pencemaran nama baik yang muncul akibat tuduhan awal terhadap MLI.

“Kami sudah berdamai untuk dugaan pencemaran nama baik ini. Sudah bersepakat di antara kedua belah pihak keluarga,” katanya.

Sementara Yasir secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada MLI dan keluarganya.

“Sekali lagi, kepada keluarga MLI kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, mohon dimaafkan. Dan sekali lagi kami sampaikan si MLI itu sama sekali tidak bersalah,” tegasnya.

Jangan Gegabah, Periksa dan Crosscheck!

Masludin berharap kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi semua pihak agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan informasi awal.

Menurut dia, setiap informasi, khususnya yang menyangkut anak, harus diperiksa dan dikonfirmasi secara hati-hati.

“Dalam hal seperti ini perlunya kita untuk crosscheck dan tidak gegabah. Sebaiknya perlu juga menanyakan kepada anak-anak kita sehingga tidak terjadi hal-hal yang seperti ini lagi di kemudian hari,” ujarnya.

Perubahan keterangan dalam perkara ini sekaligus menunjukkan pentingnya proses penyelidikan yang menyeluruh.

Sebab, selain memastikan status MLI berdasarkan bukti yang ada, aparat juga perlu mendalami keterangan terbaru mengenai pria berinisial J, dugaan ancaman oleh T, serta siapa saja yang berada di sekitar rumah berinisial L pada malam kejadian.

Redaksi media ini menegaskan, keterangan mengenai J dan T dalam berita ini merupakan keterangan yang disampaikan pihak keluarga korban dan belum dapat dianggap sebagai fakta hukum sebelum diverifikasi dan dibuktikan melalui proses penyelidikan serta penyidikan kepolisian.

Begitu pula dengan pemilik rumah berinisial L maupun orang-orang yang disebut berada di sekitar lokasi. Penyebutan mereka tidak berarti menyatakan adanya keterlibatan dalam tindak pidana.

Kini, bola berada di tangan penyidik untuk mengurai kembali perkara tersebut berdasarkan keterangan terbaru, alat bukti, pemeriksaan saksi, serta fakta-fakta yang ditemukan di lapangan.

Kasus yang semula mengarah kepada MLI kini berubah arah. Pertanyaan besarnya bukan lagi sekadar siapa yang pertama kali diamankan, tetapi siapa sebenarnya pelaku, apakah benar ada intimidasi terhadap korban, dan siapa saja yang mengetahui rangkaian kejadian pada malam tersebut.

Reporter : Faidin

Saat Sujud Sholat, Tas Jamaah Masjid Al-Fatah Hertasning Makassar di Gondol Maling

MAKASSAR, Bajopos.com | Aksi kriminalitas nekat terjadi di tempat ibadah. Seorang jamaah perempuan menjadi korban pencurian tas saat tengah menunaikan ibadah shalat dzuhur di Masjid Al-Fatah Hertasning, Kota Makassar, pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 12.21 WITA.

Berdasarkan rekaman kamera pengawas (CCTV) di lokasi kejadian, pelaku yang telah mengincar targetnya terlihat sempat mengamati korban dari pintu masjid.

Memanfaatkan kelengahan korban yang sedang khusyuk sujud pada rakaat ketiga, pelaku dengan cepat menyelinap masuk dan langsung menggasak tas yang diletakkan di sisi kanan korban.

Salah seorang pengurus Masjid Al-Fatah, Irpan, mengungkapkan bahwa aksi nekat pelaku tidak berhenti sampai di situ. Pelaku juga diduga kuat mengondol alas kaki milik jamaah lain.

“Hal ini terlihat dari rekaman yang memperlihatkan pelaku melarikan diri dengan menggunakan sandal yang bukan miliknya,” ujar Irpan saat dikonfirmasi.

Pasca-kejadian ini, pihak pengurus masjid langsung mengeluarkan imbauan keras demi memperketat keamanan dan mengantisipasi kejadian serupa terulang kembali.

“Saya tekankan kepada setiap jamaah, baik laki-laki maupun perempuan, yang membawa barang berharga saat masuk ke masjid agar lebih berhati-hati menjaga barangnya. Apabila melihat pelaku, segera berteriak agar jamaah yang berada di luar halaman masjid dapat segera bergerak menangkapnya,” tegas Irpan.

Peristiwa ini menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi dan tidak lengah menjaga barang bawaan berharga, bahkan saat berada di dalam lingkungan tempat ibadah.

Reporter : Ikbal Tehuayo

Beri Penguatan Pada Nakes, Ny. Fista; “Jangan Pernah Lelah untuk Melayani”

SIKKA, Bajopos.com | Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, melakukan kunjungan ke tiga Puskesmas di Kabupaten Sikka sekaligus memberikan bantuan kepada para tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas di beberapa fasilitas kesehatan (Faskes), diantaranya; Puskesmas Waipare, Puskesmas Waigete, dan Puskesmas Nita, pada Selasa, 01/09/2026.

Kunjungan ini menjadi bagian dari perhatian dan dukungan terhadap para tenaga kesehatan yang terus menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam situasi pascabencana gempa bumi yang melanda Kabupaten Sikka.

Dalam pertemuan bersama para tenaga kesehatan di masing-masing Puskesmas, Istri Bupati Sikka juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan pengabdian para nakes yang tetap berada di garis terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Menurutnya, tenaga kesehatan memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam situasi bencana ketika kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan meningkat dan kondisi di lapangan membutuhkan kesiapsiagaan serta kerja keras yang lebih besar.

“Terima kasih kepada Bapak dan Ibu tenaga kesehatan yang sudah bekerja dengan penuh dedikasi. Dalam situasi bencana seperti ini, kehadiran tenaga kesehatan sangat dibutuhkan masyarakat. Tetap semangat dan terus memberikan pelayanan yang terbaik,” ungkap Ny. Fista dalam pertemuan tersebut.

Ia juga berpesan agar para tenaga kesehatan tetap memberikan pelayanan dengan sepenuh hati, penuh tanggung jawab, serta senantiasa mengedepankan kepentingan masyarakat.

Ketua Dekranasda Kabupaten Sikka itu juga menegaskan bahwa perhatian dan bantuan yang diberikan bukan sekadar bentuk dukungan material, tetapi juga sebagai wujud kepedulian dan penghargaan terhadap perjuangan para tenaga kesehatan yang terus menjalankan tugas di tengah berbagai tantangan.

“Jangan pernah lelah untuk melayani. Tetaplah memberikan pelayanan dengan hati, dengan penuh tanggung jawab, karena masyarakat sangat membutuhkan Bapak dan Ibu sekalian,” pesannya.

Kunjungan tersebut juga menjadi momentum untuk mendengarkan secara langsung kondisi dan kebutuhan para tenaga kesehatan di lapangan.

Melalui komunikasi dan tatap muka tersebut, diharapkan berbagai tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan dapat menjadi perhatian bersama dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Ny. Fista yang juga Bunda Literasi Kabupaten Sikka berharap semangat pengabdian para tenaga kesehatan tetap terjaga, terutama dalam menghadapi situasi pascabencana.

Ia juga mengajak seluruh jajaran kesehatan untuk terus membangun semangat kebersamaan dan saling mendukung dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat Kabupaten Sikka.

Kunjungan ke tiga Puskesmas tersebut sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sikka bersama TP PKK Kabupaten Sikka untuk terus memberikan perhatian kepada para tenaga kesehatan sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat.

Reporter : Faidin

Adrianus Masuk Tiga Besar Sekda Ende, Usai Ditinggal dari Kursi Sekda Sikka

SIKKA, Bajopos.com | Babak baru karier birokrasi Adrianus Firminus Parera, SE, M.Si, mulai terbuka lebar. Belum genap dua bulan setelah meninggalkan kursi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sikka, nama Adrianus kini kembali mencuat di panggung birokrasi Nusa Tenggara Timur.

Ia masuk dalam tiga besar kandidat yang dinyatakan memenuhi syarat untuk menduduki jabatan Sekda Kabupaten Ende.

Nama Adrianus tercantum bersama Gabriel Dala, S.Sos dan Lambertus Siga Sare, ST, M.Eng dalam hasil akhir Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) Sekda Kabupaten Ende Tahun 2026.

Hasil tersebut ditetapkan melalui Keputusan Panitia Seleksi Nomor KEP.800/2328/PANSEL-JPTPSEKDA/VIII/2026 tertanggal 29 Agustus 2026.

Ketiga nama tersebut disusun berdasarkan abjad, sehingga urutan nama bukan merupakan peringkat hasil seleksi.

Panitia Seleksi menyatakan keputusan tersebut bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Dari Sekda Sikka, Kini Berebut Kursi Sekda Ende

Kemunculan nama Adrianus menjadi menarik karena sebelumnya ia merupakan Sekda Kabupaten Sikka.

Namun, perjalanan itu berubah setelah Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago melakukan mutasi pejabat. Adrianus dilantik sebagai Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik pada Senin (27/7/2026).

Kini, hanya beberapa pekan setelah pergeseran jabatan tersebut, Adrianus justru masuk dalam tiga besar kandidat Sekda Ende.

Situasi ini membuat perjalanan karier birokrat kelahiran NTT tersebut kembali menjadi perhatian.

Pengalaman sebagai Sekda Sikka tentu menjadi bagian dari rekam jejak yang melekat pada dirinya. Tetapi, apakah pengalaman tersebut cukup untuk membawanya kembali ke kursi Sekda—kali ini di Kabupaten Ende? Jawabannya belum. Sebab, tiga besar belum berarti satu nama telah ditetapkan.

Bupati Ende Belum Buka Kartu

Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda pun belum memberikan sinyal mengenai siapa kandidat yang paling berpeluang.

Ia mengatakan hasil seleksi akan terlebih dahulu dilaporkan kepada Menteri Dalam Negeri.

Setelah itu, Pemerintah Kabupaten Ende akan mengusulkan satu dari tiga nama tersebut kepada Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena.

“Pertama dilaporkan dulu ke Mendagri, kemudian akan diusulkan ke Gubernur salah satu nama dari tiga orang itu. Itu dari Pemerintah Kabupaten Ende yang usulkan,” jelasnya.

Bupati mengaku belum memiliki gambaran mengenai siapa yang akan dipilih.

Menurutnya, perlu ada koordinasi dan komunikasi terlebih dahulu sebelum satu nama ditentukan.

Dengan kata lain, tiga kandidat kini masih memiliki peluang yang sama untuk masuk ke tahap berikutnya.

Sekda Bukan Sekadar Jabatan

Bagi Bupati Yosef, memilih Sekda tidak bisa dilakukan sembarangan.

Sekda merupakan posisi strategis dalam roda pemerintahan daerah. Sosok yang menduduki jabatan tersebut harus mampu menjadi penghubung sekaligus penggerak administrasi pemerintahan dalam membantu Bupati dan Wakil Bupati menjalankan berbagai program.

“Inikan tangan kanan kepala daerah, ya. Jadi dia harus bisa membantu kepala daerah,” ujar Yosef dikutip diberbagai media.

Pengalaman pun menjadi salah satu faktor yang akan dipertimbangkan.

“Pengalaman itu penting dan akan jadi pertimbangan,” tegasnya.

Pernyataan tersebut membuat rekam jejak birokrasi menjadi salah satu perhatian dalam proses penentuan calon Sekda Ende.

Di titik inilah pengalaman Adrianus sebagai mantan Sekda Sikka menjadi bagian yang menarik untuk dicermati. Namun, keputusan akhir tetap berada pada mekanisme dan tahapan yang berlaku.

Satu Kursi, Tiga Nama

Kini, tiga nama telah berada di meja Pemerintah Kabupaten Ende.

Adrianus Firminus Parera, Gabriel Dala dan Lambertus Siga Sare. Ketiganya telah dinyatakan memenuhi syarat oleh Panitia Seleksi. Satu nama nantinya akan diusulkan kepada Gubernur NTT untuk proses selanjutnya. Artinya, pertarungan belum selesai.

Adrianus memang telah kembali masuk ke arena perebutan kursi Sekda. Tetapi apakah pengalaman sebagai mantan Sekda Sikka akan menjadi modal kuat untuk menyeberang ke Ende? Atau justru ada kandidat lain yang akan mendapatkan kepercayaan? Untuk saat ini, belum ada jawaban.

Yang pasti, kursi Sekda Ende kini menyisakan tiga nama dan satu keputusan penting yang masih menunggu.

Penulis: Faidin

17 Ibu Petani Woda Mude Terima 800 Kg Benih Padi dari Kementan RI

SIKKA, Bajopos.com | Sebanyak 17 ibu petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Mapan Berdikary, Desa Woda Mude, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, kembali mendapat suntikan semangat untuk menggarap lahan.

Sebanyak 800 kilogram benih padi unggul dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) akhirnya terealisasi dan disalurkan pada tahun 2026 ini.

Benih tersebut merupakan bagian dari program Optimalisasi Lahan (OPLAH) nonrawa tahun 2025 untuk musim tanam (MT) II. Meski programnya ditetapkan pada 2025, bantuan benih tersebut baru terealisasi dan diterima kelompok tani pada 2026, dengan alokasi untuk lahan seluas 20 hektare.

Benih diantar langsung oleh Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Woda Mude, Geby, ke Sekretariat Poktan Mapan Berdikary di RT 002/RW 001, Desa Woda Mude.

Setelah bantuan tiba, pengurus bersama anggota melakukan rapat dan konsolidasi untuk menentukan pembagian benih. Hasil kesepakatan menetapkan setiap anggota memperoleh 45 kilogram.

Poktan Mapan Berdikary sendiri beranggotakan 17 orang yang mayoritas merupakan ibu-ibu petani.

Mereka menjadi bagian dari kekuatan petani di Desa Woda Mude yang tetap bertahan mengolah lahan dan menjaga produktivitas pangan di tengah berbagai tantangan sektor pertanian.

Ketua Poktan Mapan Berdikary, Darman Eldin, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang kembali diterima kelompoknya.

“Alhamdulillah, tiap musim tanam selama dua tahun ini kami mendapatkan benih bantuan dari Kementerian Pertanian untuk meningkatkan hasil panen petani demi menuju swasembada pangan,” ujar Darman kepada Media ini.

Menurutnya, keberlanjutan bantuan benih menjadi dorongan bagi petani untuk terus mengolah lahan dan meningkatkan hasil produksi.

Pembagian benih kali ini turut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Sikka, Diki Raja, yang juga merupakan warga setempat dan berdomisili di Desa Magepanda.

Atas permintaan warga, Diki Raja secara simbolis menyerahkan benih kepada anggota Poktan Mapan Berdikary sebagai bentuk dukungan terhadap para petani di Desa Woda Mude.

Bagi pengurus kelompok, terealisasinya bantuan ini bukan menjadi akhir dari proses. Sebagai bentuk pertanggungjawaban moral sekaligus komitmen terhadap keberlanjutan program, Poktan Mapan Berdikary berencana melaksanakan kembali kegiatan tanam simbolis dan panen simbolis bersama para pemangku kepentingan di Kabupaten Sikka.

Kegiatan serupa sebelumnya telah dilakukan pada tahun lalu.

Meski bersyukur atas terealisasinya bantuan benih, para petani berharap pemerintah tidak berhenti pada pemberian benih.

Darman berharap, ke depan pemerintah juga dapat memberikan dukungan berupa pupuk dan obat-obatan pertanian sehingga petani mendapatkan dukungan yang lebih lengkap dari masa tanam hingga panen.

“Harapan kami, bantuan dari pemerintah jangan hanya benih. Kalau memungkinkan, bantuan pupuk dan obat-obatan juga untuk mendukung penuh para petani di kampung,” harapnya.

Semetara itu, bagi 17 ibu petani Mapan Berdikary, 800 kilogram benih tersebut bukan sekadar bantuan, melainkan modal untuk kembali menanam, memanen, dan menjaga harapan dari kampung agar  ketahanan pangan dapat terus dibangun.

Reporter : Faidin

Tak Hanya Sekolah Butuh Pemulihan, Rasa Aman Anak-anak Harus

SIKKA, Bajopos.com | Ketika bencana berlalu, yang tersisa tidak selalu berupa rumah yang retak, bangunan yang rusak, atau fasilitas umum yang harus diperbaiki.

Pada anak-anak, jejak bencana bisa tersimpan jauh lebih dalam—di balik rasa takut, kecemasan, bahkan keengganan untuk kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Karena itu, bagi Anak-anak usia Sekolah Dasar seperti salah satunya SDI Iligetang, kehadiran Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, di tengah para siswa bukan sekadar agenda kunjungan kepala daerah.

Lebih dari itu, kehadiran tersebut dipandang sebagai pesan bahwa pemulihan pascabencana juga harus menyentuh sisi yang tidak terlihat: psikologis anak-anak.

Bupati Sikka hadir langsung bersama tim dalam kegiatan trauma healing yang menyasar para siswa.

Suasana sekolah pun diarahkan menjadi ruang bagi anak-anak untuk kembali merasa aman, nyaman, bermain, berinteraksi, dan perlahan melepaskan bayang-bayang ketakutan akibat bencana.

Wakil Kepala SDI Iligetang, Maria Yuldensia Kila, mengatakan kehadiran Bupati Sikka memberikan makna tersendiri bagi para siswa maupun tenaga pendidik.

Pernyataan itu disampaikan Maria saat dikonfirmasi awak media usai kegiatan, Senin (31/8/2026).

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Bupati Sikka yang sudah hadir dan memberikan perhatian kepada anak-anak kami. Kegiatan seperti ini sangat membantu anak-anak untuk kembali merasa tenang, nyaman, dan bersemangat,” ujar Maria.

Menurutnya, setelah menghadapi situasi bencana, kebutuhan anak tidak berhenti pada makanan, tempat tinggal, maupun fasilitas pendidikan. Ada kebutuhan lain yang sering kali tidak terlihat, yakni rasa aman dan dukungan emosional.

Anak yang terlihat kembali masuk sekolah belum tentu sepenuhnya pulih. Mereka bisa saja masih menyimpan ketakutan, kecemasan, atau pengalaman traumatis yang memengaruhi cara mereka belajar dan berinteraksi.

Di titik inilah sekolah memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.

Guru dituntut tidak hanya mengejar ketertinggalan pelajaran, tetapi juga mampu membaca perubahan perilaku siswa.

Anak yang menjadi lebih pendiam, mudah takut, sulit berkonsentrasi, atau menunjukkan perubahan emosi setelah bencana membutuhkan perhatian dan pendampingan.

“Kami dari pihak sekolah sangat mengapresiasi perhatian Pemerintah Kabupaten Sikka. Anak-anak membutuhkan suasana yang membuat mereka merasa aman dan diperhatikan. Kehadiran Bapak Bupati bersama tim dalam kegiatan ini memberikan semangat baru bagi kami untuk terus mendampingi anak-anak,” katanya.

Bagi SDI Iligetang, trauma healing karena itu bukan sekadar permainan untuk menghibur anak-anak setelah bencana.

Ia menjadi bagian dari proses mengembalikan keberanian anak untuk menjadi anak-anak kembali—bermain tanpa rasa takut, belajar tanpa dihantui kecemasan, serta kembali percaya bahwa sekolah adalah tempat yang aman.

Maria berharap kegiatan pendampingan psikososial tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.

“Kami berharap pendampingan seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Anak-anak membutuhkan proses untuk benar-benar kembali pulih dan siap mengikuti kegiatan belajar seperti biasa,” tambahnya.

Harapan tersebut menjadi penting karena pemulihan pascabencana tidak bisa diukur hanya dari seberapa cepat rumah dibangun kembali atau fasilitas umum diperbaiki.

Ada pula pertanyaan yang lebih mendasar: sudahkah anak-anak kembali merasa aman?

Pemerintah Kabupaten Sikka melalui kegiatan trauma healing di lingkungan pendidikan menunjukkan bahwa jawaban atas pertanyaan tersebut juga menjadi bagian dari agenda pemulihan.

Sebab, membangun kembali sebuah sekolah mungkin membutuhkan material dan tenaga. Namun membangun kembali keberanian seorang anak setelah mengalami bencana membutuhkan waktu, perhatian, pendampingan dan rasa aman yang terus-menerus.

Kehadiran Bupati Sikka di tengah siswa SDI Iligetang akhirnya membawa pesan yang lebih luas: pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali apa yang terlihat.

Yang retak bukan hanya bangunan. Dalam diri sebagian anak, rasa aman pun bisa ikut retak. Dan keduanya sama-sama membutuhkan perhatian untuk dipulihkan.

Reporter : Faidin

Edi Oloan Pasaribu: PAN Bangun Relawan sebagai Mitra Strategis, Perluas Manfaat Program hingga Pelosok Berau

BERAU, Bajopos.com | Partai Amanat Nasional (PAN) terus memperkuat kedekatannya dengan masyarakat melalui pembentukan relawan yang diposisikan sebagai mitra strategis dalam mendistribusikan berbagai program kepada masyarakat hingga ke pelosok daerah.

Hal tersebut disampaikan Edi Oloan Pasaribu, S.T., M.M., dalam kegiatan PAN yang berlangsung di Hotel Cantika, Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, Minggu (30/8/2026).

Edi mengatakan, pembentukan relawan bukan semata-mata untuk menghadapi Pemilu 2029. Menurutnya, relawan dibangun sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan dengan masyarakat sekaligus memastikan berbagai program dapat tersampaikan secara tepat sasaran.

“Spirit yang kami bangun adalah membangun relawan sebagai mitra strategis dalam mendistribusikan program-program yang melekat kepada saya sebagai anggota DPR RI,” ujar Edi.

Ia menjelaskan, salah satu program yang menjadi perhatiannya adalah Program Indonesia Pintar (PIP). Dengan jumlah penerima yang mencapai ratusan ribu, dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu membantu memastikan program tersebut dapat menjangkau masyarakat hingga ke pelosok.

Menurut Edi, tantangan utama dalam pelaksanaan program pemerintah bukan hanya bagaimana program tersebut tersedia, tetapi bagaimana manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.

“Isu yang paling utama adalah pemerataan, makanya keadilan. Kalau kita ingin sampai ke pelosok-pelosok, kampung-kampung yang tidak tersentuh selama ini, kita membutuhkan relawan,” katanya.

Edi menegaskan, keberadaan relawan juga menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan atau trust masyarakat terhadap PAN. Ia ingin politik tidak hanya hadir pada saat momentum pemilu, tetapi mampu memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan.

“Relawan ini tidak hanya berbicara tentang persiapan 2029. Kami membangun trust, kepercayaan dulu. Bagaimana politik itu membantu rakyat dan memberikan dampak yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap, kerja nyata tersebut dapat membuat masyarakat melihat bahwa PAN hadir dan benar-benar menyentuh kebutuhan mereka.

Dalam kesempatan tersebut, Edi juga menyampaikan komitmennya untuk menjadi orang tua asuh bagi anak-anak yang hadir, khususnya dari kalangan relawan. Komitmen tersebut menurutnya merupakan bagian dari perhatian terhadap sektor pendidikan.

Edi menilai pendidikan merupakan investasi penting bagi masa depan. Selain pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan, perluasan akses pendidikan dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Saya tidak hanya janji-janji. Dalam tahun berjalan ini kami akan memberikan beasiswa sampai ratusan ribu penerima,” tegasnya.

Kabupaten Berau disebut menjadi kabupaten terakhir dari rangkaian kunjungan ke 10 kabupaten/kota. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan program agar dapat dirasakan masyarakat di daerah.

Edi juga menekankan bahwa berbagai program yang dijalankan tidak boleh sekadar menjadi kegiatan seremonial. Menurutnya, program harus tepat sasaran, memberikan manfaat nyata, serta memiliki keberlanjutan.

“Program ini harus tepat sasaran dan betul-betul bermanfaat. Perjuangan mereka yang menerima juga akan berkelanjutan, setiap tahun, bahkan sampai anaknya kuliah,” pungkas Edi.

Reporter : Andhy

Di Berau Lama Tak Turun Hujan, Ruang Spiritual Menjadi Solusi Pemerintah dan Warga

BERAU, Bajopos.com | Ketika tanah mulai mengering dan panas semakin menyengat, manusia biasanya mencari jalan untuk bertahan. Tetapi, ketika ikhtiar manusia berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar kuasanya, hanya ada satu hal yang bisa dilakukan: menengadah dan memohon.

Itulah yang terjadi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Minggu, 30 Agustus 2026.

Di tengah kemarau panjang yang belum juga berakhir,  tak hanya masyarakat, Pemerintah Kabupaten Berau, TNI, Polri pun membersamai masyarakat menggelar Shalat Istisqa memohon hujan di Lapangan GOR Pemuda, Tanjung Redeb.

Mereka datang membawa satu harapan yang sama: semoga langit kembali menurunkan air hujan.

Pemandangan ini menarik. Sebab keyakinan terhadap hubungan manusia dengan alam selama ini tidak hanya hidup dalam cerita, tradisi dan kebiasaan masyarakat.

Dalam situasi tertentu, pemerintah pun turut mengambil bagian dalam ruang spiritual yang diyakini masyarakat sebagai bentuk ikhtiar.

Tampak, berbagai para jemaah sholat hari itu dalam suasana kekhusyuan, melaksanakan sholat memohon turun hujan.

Bukan karena pemerintah tidak memiliki cara lain. Bukan pula karena persoalan kemarau dapat diselesaikan hanya dengan doa.

Tetapi, ada kesadaran bahwa menghadapi alam membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan dan perhitungan manusia. Ada ikhtiar yang harus dilakukan, ada lingkungan yang harus dijaga, dan ada doa yang dipanjatkan.

Kemarau panjang di Kabupaten Berau bukan persoalan sederhana. Minimnya curah hujan dan cuaca panas membuat kebutuhan air masyarakat semakin penting untuk diperhatikan.

Pada saat yang sama, lingkungan yang kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu, Shalat Istisqa hari itu seolah menjadi dua pesan sekaligus. Pertama, manusia memohon agar hujan diturunkan. Kedua, manusia diingatkan untuk tidak menjadi penyebab bencana yang lebih besar.

Pemerintah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Sebab, tidak cukup hanya memohon hujan apabila manusia sendiri abai menjaga lingkungan. Doa meminta hujan, sementara tangan tetap harus menjaga bumi. Disitulah makna kebersamaan menjadi penting.

Masyarakat memiliki keyakinan dan cara sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Pemerintah memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk mengambil kebijakan.

Namun, ketika kemarau datang dan ancaman kebakaran membayangi, keduanya bertemu dalam satu kepentingan: menjaga kehidupan.

Lapangan GOR Pemuda akhirnya menjadi saksi bagaimana manusia menghadapi kemarau bukan hanya dengan rasa cemas, tetapi juga dengan harapan. Mereka menengadah kepada langit.

Sementara, bumi dibawah kaki mereka menunggu setetes demi setetes air yang selama ini menjadi sumber kehidupan.

Termasuk Amalan Sunnah

Hujan adalah sebuah peristiwa presipitasi  berwujud cairan yang jatuh ke permukaan bumi. Peristiwa hujan merupakan sesuatu yang tidak asing lagi didengar oleh banyak orang.

Allah SWT berfirman :

(14) وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا
”Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.” (QS. An Naba’ [78] : 14)

Hujan salah satu kekuasaan Allah SWT, Yang Maha Kuasa dan mengatur seluruh alam semesta ini. Hujan juga nikmat dari Allah yang patut untuk disyukuri. Sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk bersyukur dengan membaca do’a di bawah ini;

اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً
“Allahumma shoyyiban naafi’aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].”

Adapun, 3 Amalan Sunnah Ketika Turun Hujan sebagai berikut;

1. Memanjatkan Do’a
Dalam sebuah hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ المَطَرِ
“Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan.”

2. Janganlah Mencela Hujan!
Setiap orang mengetahui bahwasanya hujan merupakan nikmat dari Allah SWT. Namun sangat disayangkan, ketika hujan turun ia merasa aktivitasnya terganggu, muncullah kata-kata celaan “Yaa Allah, kenapa hujan segala sih!”.

Mencela merupakan salah satu yang dilarang oleh Rasulullah SAW, termasuk mencela ketika hujan turun dengan alasan apapun.

3. Dianjurkan Berwudhu Dengan Air Hujan
Rasulullah SAW ketika melihat hujan yang mengalir deras bersabda,

اُخْرُجُوا بِنَا إلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللَّهُ طَهُورًا ، فَنَتَطَهَّرَمِنْهُ وَنَحْمَدَ اللّهَ عَلَيْهِ
Artinya : “Keluarlah bersama kami menuju air yang Allah jadikan sebagai alat untuk bersuci” Lalu kami semua bersuci menggunakan air tersebut dan memuji nikmat Allah.

Entah kapan hujan akan turun. Tetapi pesan dari Shalat Istisqa hari itu jelas: manusia boleh memiliki teknologi, kebijakan dan segala macam cara untuk menghadapi alam, tetapi tetap harus menyadari bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar daripada kemampuan manusia.

Dan ketika langit belum juga turunkan hujan, manusia memilih untuk terlebih dahulu meneteskan air mata dalam doa.

Reporter : Andi

Ketua BM PAN Berau Dukung Program Berkelanjutan untuk Masyarakat dan Ajak Warga Cegah Karhutla

BERAU — Ketua BM PAN Berau menyatakan dukungannya terhadap berbagai program yang dinilai memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya bagi generasi muda di Kabupaten Berau.

Menurutnya, program yang berkaitan dengan pemberdayaan dan beasiswa bagi anak-anak memiliki manfaat jangka panjang sehingga layak untuk terus didorong dan dikembangkan.

“Programnya sangat bagus sekali, kita sangat apresiasi. Kita juga mungkin akan mengadopsi program seperti ini untuk BM PAN Berau karena sangat bermanfaat untuk anak-anak kita ke depannya,” ujarnya.

Ia menilai program berkelanjutan, terutama yang memberikan akses beasiswa bagi anak-anak, dapat menjadi salah satu bentuk dukungan nyata terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di Berau.

“Untuk di Berau, BM PAN pasti selalu support dan selalu mendorong. Yang penting bermanfaat untuk masyarakat Berau pada umumnya,” katanya.

Soroti Karhutla

Selain persoalan pemberdayaan masyarakat, Ketua BM PAN Berau juga menyoroti kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Berau.

Ia mengimbau masyarakat agar mengutamakan keselamatan dan kesehatan, terutama di tengah kondisi bencana dan kualitas udara yang dapat terdampak oleh asap.

“Masyarakat Berau selalu safety health. Ini namanya juga bencana. Jaga kesehatan, utamakan memakai masker, apalagi untuk aktivitas keluar rumah,” pesannya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran yang berpotensi memicu maupun memperluas kebakaran.

Menurutnya, upaya pencegahan harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar.

“Kalau tidak ada kontribusi, lebih baik kita mencegah. Jangan sampai menyebabkan yang lebih luas lagi bencananya. Kita mulai dari diri kita sendiri dulu,” tegasnya.

Ia berharap masyarakat dapat bersama-sama mengambil langkah sederhana untuk mencegah terjadinya kebakaran, termasuk menghindari aktivitas bakar-membakar dan menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal.

“Kalau tidak bisa berkontribusi, setidaknya kita mencegah hal-hal yang lebih kecil di sekitar rumah atau lingkungan kita,” pungkasnya.

Reporter : Andhy

 

Kemarau Makin Mengkhawatirkan, Pemkab Berau Gelar Salat Istisqa

TANJUNG REDEB, BERAU — Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Berau dalam beberapa waktu terakhir mulai berdampak pada kondisi lingkungan. Cuaca panas dan minimnya curah hujan turut meningkatkan risiko terjadinya kebakaran di sejumlah wilayah.

Sebagai bentuk ikhtiar dan doa memohon turunnya hujan, Pemerintah Kabupaten Berau menggelar Salat Istisqa pada Minggu, 30 Agustus 2026, bertempat di Lapangan GOR Pemuda, Tanjung Redeb, Kabupaten Berau.

Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar diberikan hujan yang membawa manfaat serta mengakhiri kondisi kemarau yang berkepanjangan.

Selain berdampak terhadap kebutuhan air masyarakat, kondisi kemarau juga meningkatkan potensi kebakaran lahan dan hutan. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Salat Istisqa diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar bersama, sekaligus mengingatkan masyarakat pentingnya menjaga lingkungan dan menghadapi dampak kemarau secara bersama-sama.

 

Reporter : Andhy

Bak Air Pecah, Rumah Retak di Dobo, Kabupaten Sikka dan Bantuan Pemerintah yang Belum Terasa

SIKKA, Bajopos.com | Gempa bumi bukan hanya meninggalkan retakan pada rumah warga Dusun Dobo, Desa Ian Tena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka.

Guncangan juga memecahkan puluhan bak penampungan air, membuat warga kini menghadapi persoalan baru: kesulitan mendapatkan air bersih.

Di dusun yang dihuni sekitar 33 kepala keluarga dengan 28 rumah itu, jejak gempa masih terlihat jelas. Sejumlah rumah mengalami kerusakan pada bagian dinding. Retakan membuat warga belum berani kembali tidur di dalam rumah karena dihantui kekhawatiran akan gempa susulan.

Sebagian warga akhirnya memilih bertahan di luar rumah dengan perlindungan seadanya.

Rumah warga yang rusak parah dan belum mendapat perhatian pemerintah. (Doc. Aris Halilintar).

Namun, persoalan tidak berhenti pada rumah yang rusak.

Bak-bak penampungan air yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan warga juga pecah akibat guncangan.

Sergius Moa, warga Dobo, mengatakan kerusakan bak air semakin memperparah kondisi warga yang sejak awal memang kesulitan mendapatkan sumber air.

“Bak air ada yang pecah akibat gempa. Sampai sekarang kami masih kesulitan mendapatkan air,” kata Sergius.

Menurutnya, Dusun Dobo memang tidak memiliki mata air. Warga selama ini hanya mengandalkan air hujan atau membeli air menggunakan tangki.

Ketika bak penampungan pecah, persoalan air pun berubah menjadi ancaman serius bagi kebutuhan sehari-hari warga.

“Di sini tidak ada mata air. Kami hanya mengandalkan air hujan dan kalau tidak ada, kami beli dari tangki,” ujarnya.

Bantuan Pemerintah Belum Terasa

Di tengah kondisi tersebut, Sergius mengaku warga Dobo hingga kini belum mendapatkan bantuan dari pemerintah desa maupun Pemerintah Kabupaten Sikka.

Bantuan yang telah diterima warga, kata dia, justru datang dari komunitas Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Caritas.

“Kami sampai sekarang belum mendapat sentuhan dari pemerintah desa maupun kabupaten. Bantuan yang sudah kami terima baru dari komunitas AMAN dan Caritas,” katanya.

Keluhan tersebut menjadi gambaran lain dari kondisi warga terdampak gempa yang berada jauh dari pusat perhatian.

Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan pangan. Mereka membutuhkan air untuk hidup dan tempat yang aman untuk tidur.

Sergius menuturkan, kondisi rumah yang mengalami kerusakan membuat warga masih diliputi ketakutan.

“Rumah batu, seluruh dindingnya pecah. Kami masih takut masuk dan tidur di dalam rumah,” ujar Sergius saat ditemui di kediamannya di Dobo.

Pantauan di lokasi menunjukkan sebagian warga masih memilih tidur dan beraktivitas di luar rumah. Ruang terbuka menjadi pilihan karena dianggap lebih aman dibandingkan kembali ke bangunan yang telah mengalami keretakan.

Kondisi ini membuat persoalan warga Dobo datang berlapis.

Rumah retak menghilangkan rasa aman. Bak air pecah mengganggu akses air. Sementara bantuan pemerintah, menurut pengakuan warga, belum juga mereka rasakan.

Warga tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan.

Mereka hanya membutuhkan air bersih, tempat berlindung yang aman, serta kehadiran pemerintah untuk melihat langsung kondisi mereka.

Bagi warga Dobo, perhatian pemerintah bukan sekadar soal bantuan yang datang dalam bentuk barang.

Lebih dari itu, mereka ingin memastikan bahwa setelah gempa mengguncang rumah-rumah mereka, mereka tidak ikut kehilangan rasa percaya bahwa masih ada pemerintah yang berdiri bersama mereka.

Reporter : Aris Halilintar
Editor : Redaksi

Bukan Sekadar Budaya, Bajau Samah Ingin Warisannya Tetap Hidup di Tengah Zaman

KALIMANTAN SELATAN, Bajopos.com | Laut bukan sekadar tempat mencari nafkah bagi masyarakat Bajau Samah (Bajo Same). Laut adalah bagian dari identitas, sejarah, sekaligus ruang hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pesan itulah yang terasa kuat dalam rangkaian Festival Budaya Saijaan (FBS) 2026 di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Di balik kemeriahan festival, terselip perjuangan untuk memastikan budaya Suku Bajau Samah tidak hanya menjadi tontonan, tetapi tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.

Presiden Perkumpulan Orang Same Bajau Indonesia (POSBI), Erni Bajau, menjadi salah satu sosok yang terus mendorong penguatan identitas masyarakat Bajau Samah.

Bagi Erni, keberadaan masyarakat Bajau yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia merupakan kekayaan yang tidak boleh hilang ditelan zaman.

Dalam Forum Diskusi Budaya Bajau Samah yang menjadi bagian dari FBS 2026, Erni menyoroti sejarah, identitas, pendidikan, hingga masa depan masyarakat Bajau.

Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah bagaimana generasi muda Bajau tetap mengenal akar budaya mereka ketika kehidupan modern semakin kuat memengaruhi pola hidup masyarakat.

Erni juga mengungkapkan bahwa masyarakat Bajau memiliki karakteristik unik. Meski tersebar di berbagai daerah, mereka tetap memiliki ikatan bahasa dan budaya yang kuat.

Bahkan, menurutnya, ketika orang Bajau dari daerah berbeda bertemu, mereka masih dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Bajau.

Hal tersebut menjadi salah satu kekuatan budaya yang ingin terus dijaga POSBI.

Dari Laut, Menjaga Identitas

Festival Budaya Saijaan 2026 mengusung tema “Magic From The Sea, Samah Bajau dalam Bingkai: Merawat Tradisi, Menjaga Laut, Mewariskan Peradaban Maritim Nusantara.”

Tema tersebut bukan sekadar slogan. Bagi masyarakat Bajau Samah, laut merupakan bagian penting dari perjalanan kehidupan mereka. Karena itu, menjaga budaya Bajau juga berarti menjaga hubungan masyarakat dengan laut dan lingkungan yang menjadi ruang hidupnya.

Sejumlah tradisi masyarakat Bajau Samah kemudian ditampilkan dalam festival, termasuk prosesi Selamatan Leut, yang menjadi salah satu acara utama FBS 2026.

Ritual tersebut membawa masyarakat kembali melihat laut bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai ruang yang memiliki nilai adat dan budaya.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Kotabaru melihat kekayaan budaya tersebut sebagai potensi yang dapat memperkuat identitas daerah sekaligus memperkenalkan Kotabaru kepada masyarakat yang lebih luas.

Kabid Pertunjukan, Event Pariwisata dan Ekraf Disparpora Kotabaru, Rudi Nugraha, turut menegaskan pentingnya kekayaan budaya lokal untuk terus diperkenalkan melalui berbagai kegiatan.

Jangan Sampai Budaya Hanya Tinggal Cerita

Yang paling penting dari festival budaya bukan hanya berapa banyak orang yang datang atau seberapa meriah acara digelar.

Lebih jauh, festival menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali warisan leluhur kepada anak-anak muda.

Sebab, ketika generasi muda mulai kehilangan pengetahuan tentang bahasa, adat, kesenian dan sejarah leluhurnya, maka ancaman terbesar terhadap sebuah kebudayaan bukan lagi datang dari luar, tetapi dari hilangnya ingatan di dalam generasi sendiri.

Karena itu, upaya POSBI dan pemerintah daerah mengangkat budaya Bajau Samah menjadi penting.

Bajau Samah tidak sekadar ingin dikenang sebagai masyarakat yang hidup di pesisir. Mereka ingin menunjukkan bahwa di balik laut terdapat sejarah panjang, tradisi, pengetahuan dan peradaban yang layak diwariskan.

Dan dari Kotabaru, pesan itu kembali digaungkan: Budaya tidak cukup hanya dirayakan. Budaya harus dijaga agar tetap hidup.

Forum budaya Bajau Samah dalam FBS 2026 juga menghasilkan Deklarasi Suku Bajau sebagai komitmen untuk menjaga identitas budaya, melestarikan tradisi dan mewariskan peradaban maritim kepada generasi mendatang.

Penulis : Andi

Jusuf Kalla Ke Maumere, “Rumah Tak Hancur, Mengapa Mereka Belum Berani Pulang?”

SIKKA, Bajopos.com | Ada rumah yang hanya retak. Ada yang bahkan masih berdiri kokoh. Namun, bagi sebagian warga terdampak gempa di Kabupaten Sikka, pulang ternyata bukan sekadar soal apakah rumah masih layak ditempati.

Pulang membutuhkan rasa aman. Dan rasa aman itulah yang belum sepenuhnya kembali.

Potret itu terlihat ketika Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI sekaligus Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla (JK), menemui warga yang masih bertahan di Posko Pengungsian Gelora Samador, Jumat (28/8/2026) pagi.

Di hadapan JK, seorang pengungsi mengungkapkan alasan dirinya belum berani kembali ke rumah.

Rumahnya memang hanya mengalami keretakan ringan. Namun setiap kali membayangkan harus tidur kembali di rumah, terutama pada malam hari, rasa cemas muncul.

“Kalau kami pulang sebentar, hati kami masih berdebar-debar. Malam terjadi apa-apa,” ujarnya.

JK kemudian bertanya singkat.

“Takut lagi?”

“Takut lagi, masih,” jawab warga tersebut.

Jawaban itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada trauma yang tidak bisa diukur menggunakan meteran kerusakan bangunan.

Dinding bisa diperiksa. Retakan bisa dihitung. Tetapi rasa takut tidak punya ukuran.

Pengungsi lainnya bahkan mengaku semakin khawatir karena di rumah mereka terdapat anak-anak kecil dan bayi.

“Kalau sampai di rumah kami punya hati sudah deg-deg begitu. Malam… kejadian malam,” katanya.

“Malam kembali lagi?” tanya JK.

“Iya, malam. Apalagi ada cucu, anak-anak kecil semua, bayi-bayi. Yang kami takutkan ini,” jawabnya.

Bukan Tak Mau Pulang, Tapi Belum Berani

Di titik inilah persoalan pengungsian pascagempa menjadi lebih kompleks.

Warga bukan tidak ingin kembali ke rumah. Mereka ingin pulang.

Mereka ingin kembali memasak di dapur sendiri, tidur di kamar sendiri, membuka pintu rumah sendiri dan menjalani kehidupan seperti sebelum gempa.

Tetapi ingatan tentang guncangan membuat malam hari menjadi sesuatu yang menakutkan.

Bagi keluarga yang memiliki bayi dan anak kecil, keputusan untuk pulang bahkan terasa jauh lebih berat.

Sebab, jika gempa kembali terjadi, bukan hanya keselamatan diri yang dipikirkan. Ada anak-anak yang harus diselamatkan.

Karena itu, kepulangan pengungsi seharusnya tidak hanya dilihat dari kondisi fisik bangunan, tetapi juga dari kesiapan mental dan rasa aman penghuninya.

Kata JK, Kehidupan Harus Kembali

JK meminta masyarakat bersabar. Menurut dia, setelah masa tanggap darurat, kehidupan harus perlahan dipulihkan.

“Yang penting untuk sekarang ini harus rehabilitasi dan juga perbaikan kehidupan, kembali pekerjaan nanti pada waktunya. Anak-anak sekolah tentu kembali ke sekolah, perbaikan-perbaikan semuanya,” kata JK.

Ia memastikan PMI terus membantu kebutuhan masyarakat terdampak bencana.

“Palang Merah selalu membantu sejak awal dan juga kebutuhan-kebutuhan sehari-hari, apa-apa yang dibutuhkan. Hari ini ada kapal bantuan di Labuan Bajo, disebarkan ke seluruh daerah Flores,” ujarnya.

Menurut JK, penanganan bencana membutuhkan gotong royong semua pihak.

“Karena bagi kita semua sesama manusia, tentu harus selalu sama-sama membantu,” katanya.

Sembako Diminta, Masa Depan Anak Juga Dipikirkan

Ketika JK bertanya mengenai kebutuhan mendesak warga, jawaban pengungsi terdengar hampir bersamaan.

“Sembako! Sembako, Pak!”

Namun dari tengah kerumunan muncul suara lain.

“Kebutuhan sekolah… Beasiswa buat anak sekolah… Sembako, Pak! Beasiswa.”

Permintaan itu menunjukkan satu hal: warga tidak ingin selamanya hidup dalam situasi darurat.

Mereka ingin kembali berdaya.

Mereka ingin anak-anak kembali sekolah.

Mereka ingin kehidupan ekonomi kembali berjalan.

Dan mereka ingin bantuan yang diterima hari ini menjadi jembatan menuju kehidupan normal, bukan membuat mereka terus bergantung pada posko.

JK pun meminta masyarakat bersabar.

“Karena itu, saya minta kesabaran Ibu-Ibu. Nanti kita selesaikan semuanya bantuan yang ada. Baik tentang materi, tentang pendidikan, dan sebagainya,” katanya.

Dalam suasana yang sebelumnya serius, JK sempat melontarkan candaan. Para pengungsi pun tertawa.

Di tengah ketakutan yang masih tersisa, tawa itu menjadi pengingat bahwa pemulihan bukan hanya tentang membangun kembali rumah.

Pemulihan juga berarti mengembalikan keceriaan.

655 Jiwa Masih Bertahan

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mengatakan jumlah pengungsi di Gelora Samador terus berubah seiring proses pemulangan warga.

“Sampai hari ini sekiranya data terakhir dari tadi malam sampai pagi tadi sisa 600-an, 655 jiwa,” kata Juventus.

Pemerintah terus berkoordinasi dengan BNPB dan BMKG untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar mengenai perkembangan situasi gempa.

Juventus juga meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak jelas sumbernya, terutama kabar yang beredar melalui media sosial.

“Kami berdasarkan arahan dari BNPB, dari BMKG, untuk terus melakukan komunikasi menyampaikan perihal kondisi riil hari ini dan memberikan kekuatan kepada mereka, seluruh masyarakat kami bahwa tidak perlu percaya yang hoaks, informasi-informasi di sosial media dan lain sebagainya yang bisa kemudian menyesatkan,” ujarnya.

Mengobati Luka yang Tak Terlihat

Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis warga.

Menurut Juventus, aktivitas psikososial bagi anak-anak terus dilakukan di lokasi pengungsian dengan melibatkan relawan dari Kementerian Sosial. Pendampingan juga diberikan kepada orang tua.

“Selain kita siapkan kebutuhan makan, minum, dan tidurnya, tetapi aktivitas psikososial untuk anak-anak… kami terus-menerus melakukan pendampingan ini, baik pada anak-anak maupun pada orang tua,” katanya.

Sebab, gempa memang berhenti mengguncang tanah, tetapi rasa takut tidak selalu berhenti pada saat yang sama.

Bagi sebagian warga, suara malam masih mengingatkan mereka pada guncangan.

Bagi orang tua, rumah yang retak masih menyimpan pertanyaan: aman atau tidak jika anak-anak kembali tidur di sana?

Dan bagi mereka yang masih berada di Gelora Samador, bertahan di tenda bukan berarti tidak ingin pulang.

Mereka hanya sedang menunggu satu hal yang paling sederhana, tetapi paling sulit dikembalikan setelah bencana: rasa aman.

Kunjungan JK ke Gelora Samador merupakan bagian dari kunjungan kerjanya ke Kabupaten Sikka setelah bertolak dari Surabaya dan tiba di Bandara Frans Seda, Maumere, Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 09.35 Wita.

Reporter : Faidin

Drama Menit Akhir, Gaza Moru Bungkam Tuan Rumah, Rebut Trofi Budi Artha Mandiri Cup

KALABAHI, Bajopos.com | Drama panas tersaji hingga menit-menit akhir di Stadion Batunirwala, Kamis (27/8/2026) sore. Gaza Moru akhirnya keluar sebagai juara Turnamen Budi Artha Mandiri Cup setelah menaklukkan tuan rumah Budi Artha Mandiri dengan skor tipis 1-0.

Kemenangan tersebut terasa semakin dramatis karena satu-satunya gol baru tercipta ketika pertandingan memasuki menit ke-85.

Hasan Irsyad menjadi pahlawan Gaza Moru setelah sukses mengeksekusi penalti sekaligus memupus harapan tuan rumah mengangkat trofi di hadapan pendukung sendiri.

Sejak peluit pertama dibunyikan, kedua tim langsung terlibat dalam duel ketat. Tidak banyak ruang diberikan kepada lawan.

Budi Artha Mandiri tampil dengan permainan solid dan mengandalkan kemampuan individu, sementara Gaza Moru berusaha membongkar pertahanan tuan rumah melalui kecepatan para pemain sayap, Abiu, Aleo, dan Patris.

Babak pertama berlangsung keras dan alot. Peluang demi peluang belum mampu menghasilkan gol. Kedua tim tampak sama-sama menyadari bahwa satu kesalahan kecil bisa menjadi petaka.

Memasuki babak kedua, tensi pertandingan justru semakin meningkat. Adu fisik dan perebutan bola terjadi hampir di setiap sudut lapangan. Waktu terus berjalan, sementara papan skor masih menunjukkan angka 0-0.

Ketegangan akhirnya pecah pada menit ke-85.

Aleo dijatuhkan Andri Pering di dalam kotak penalti. Wasit Ichal tanpa ragu menunjuk titik putih. Sontak, suasana stadion memanas. Pendukung kedua kubu menanti dengan tegang eksekusi yang bisa menentukan nasib trofi.

Hasan Irsyad maju sebagai algojo Gaza Moru.

Dalam tekanan dan sorotan puluhan pasang mata, Hasan justru tampil tenang. Sepakannya meluncur deras ke pojok kiri atas gawang dan gagal dijangkau kiper Budi Artha Mandiri.

GOOOL! 1-0 untuk Gaza Moru!

Gol tersebut sontak disambut ledakan kegembiraan kubu Gaza Moru. Sebaliknya, tuan rumah berada dalam situasi yang nyaris tak punya pilihan selain menyerang total.

Anak asuh Imang Oang langsung meningkatkan tekanan pada 10 menit terakhir. Pertahanan Gaza Moru digempur habis-habisan. Bola berkali-kali diarahkan ke jantung pertahanan untuk mencari celah menyamakan kedudukan.

Namun Gaza Moru memilih bertahan dengan disiplin. Setiap serangan tuan rumah dipatahkan. Para pemain belakang bekerja keras menjaga keunggulan yang sudah berada di depan mata.

Detik demi detik berlalu.

Hingga akhirnya peluit panjang berbunyi.

Gaza Moru menang 1-0 dan resmi mengangkat trofi Budi Artha Mandiri Cup.

Sementara bagi Budi Artha Mandiri, kekalahan ini menjadi akhir pahit dari perjuangan panjang di hadapan publik sendiri. Trofi yang sudah berada dalam jangkauan akhirnya lepas hanya beberapa menit sebelum pertandingan berakhir.

Bagi Gaza Moru, kemenangan ini bukan sekadar angka 1-0. Ini adalah kemenangan tentang ketenangan, keberanian, dan kemampuan bertahan ketika tekanan berada di titik tertinggi.

Satu penalti. Satu gol. Satu trofi. Gaza Moru keluar sebagai juara.

Reporter : Nursan

Status Pekerja Memanas, Sekretaris FKUI Berau Tantang Disnakertrans Tunjuk Dasar Hukum

BERAU, Bajopos.com | Persoalan status tenaga kerja pengemudi (driver) yang ditetapkan sebagai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) kembali memanas.

Serikat buruh mempertanyakan dasar hukum penetapan tersebut dan menilai pekerjaan yang bersifat tetap semestinya tidak serta-merta dikategorikan sebagai PKWT.

Hal tersebut disampaikan Syamsul Bahri, Sekretaris FKUI Kabupaten Berau, dalam aksi yang digelar pada Kamis (27/8/2026). Ia menantang pihak Dinas Ketenagakerjaan untuk menunjukkan secara jelas dasar hukum yang digunakan dalam menentukan status pekerja tersebut sebagai PKWT.

“Kalau kami salah, dalilnya apa? Pasal berapa, undang-undang yang mana, permen yang mana yang digunakan? Kita uji aturan ini,” tegas Syamsul.

Syamsul juga mempertanyakan adanya surat yang menyebutkan bahwa penetapan status PKWTT merupakan kewenangan pemerintah kabupaten. Menurutnya, jika memang kewenangan tersebut berada di tingkat kabupaten, maka harus ada dasar hukum yang secara jelas mengaturnya.

“Tidak ada aturan satu pun yang menyatakan bahwa penetapan PKWTT itu adalah penetapan kabupaten. Makanya saya bilang, apa yang menjadi pemahaman kami, kita uji. Aturan yang mana kalian pakai,” ujarnya.

Menurut Syamsul, persoalan utama bukan sekadar perbedaan pendapat antara pekerja dan perusahaan, melainkan bagaimana penerapan ketentuan ketenagakerjaan dilakukan secara tepat dan memiliki dasar hukum yang jelas.

Ia menegaskan, pihaknya meminta agar status pekerja driver tersebut dikaji kembali dengan mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, khususnya mengenai batasan pekerjaan yang dapat diperjanjikan melalui PKWT.

Dalam aksi tersebut, Syamsul juga menyampaikan kekecewaannya karena tidak hadirnya perwakilan dari dinas tingkat provinsi. Pihaknya kemudian meminta agar persoalan tersebut dibahas dalam pertemuan lanjutan.

Pertemuan selanjutnya direncanakan berlangsung pada Senin, 31 Agustus 2026, dengan agenda membahas secara khusus status pekerja dan alasan penetapan sebagai PKWT.

“Kalau tidak bisa menjawab, artinya ada kekeliruan dan harus dicabut. Tetapkan sesuai aturan yang berlaku,” kata Syamsul.

Syamsul menegaskan, FKUI Kabupaten Berau akan terus mengawal persoalan tersebut sampai terdapat kejelasan mengenai dasar hukum dan status pekerja.

Ia bahkan menyebut pihaknya membuka kemungkinan melakukan tindakan lanjutan sebagai bentuk protes apabila persoalan tersebut tidak mendapatkan penyelesaian yang jelas.

“Kami bukan menolak aturan. Kami meminta aturan itu ditunjukkan dan diuji bersama. Kalau memang dasar hukumnya jelas, silakan tunjukkan. Kalau tidak sesuai, tentu harus diperbaiki,” pungkas Syamsul Bahri.

Reporter : Andhy